Sekar tidak seharusnya hidup lagi.
Di kehidupan sebelumnya, ia dikhianati oleh keluarganya sendiri — didorong dari atap gedung oleh om dan tante-nya. Dan lelaki yang diam-diam mencintainya memilih mengakhiri hidupnya setelah membalas dendamnya.
Tapi takdir memberinya kesempatan kedua.
Sekar terbangun di hari pertama kelas 12 SMA, dengan seluruh memori kehidupan lamanya masih utuh. Kali ini, ia tahu persis siapa yang harus ia lindungi — dan siapa yang harus ia cintai sebelum terlambat.
Kevin Senja Halim. Anak nakal berambut biru dengan anting perak warisan mendiang ibunya. Semua orang menjauhinya. Tapi Sekar tahu satu hal yang tidak diketahui siapa pun: di balik tatapan dinginnya, tersembunyi hati yang sanggup mati demi seseorang.
Masalahnya? Kevin punya rahasia kelam tentang siapa ayahnya — seorang konglomerat yang menginginkan Kevin untuk tujuan yang mengerikan. Dan musuh-musuh dari kehidupan lama Sekar tidak menghilang hanya karena ia terlahir kembali.
Di antara ciuman di bawah hujan, balasan dendam yang memukau, dan cinta yang membakar segalanya — Sekar harus memastikan kali ini, mereka berdua selamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 014
Jebakan Halus
Untuk pertama kalinya sejak mereka pacaran, naluri Kevin dan ketakutan Sekar menunjuk ke arah yang sama.
Sayangnya, Adrian terlalu pandai bersikap wajar.
Keesokan harinya, ia tidak mendekati Sekar secara berlebihan. Ia hanya muncul di tempat yang memang seharusnya ia datangi. Di depan ruang guru untuk menyerahkan daftar tutor. Di papan pengumuman untuk menempel jadwal revisi. Di grup WhatsApp panitia untuk mengirim file latihan.
Semua rapi.
Semua masuk akal.
Justru karena itu, sulit mengatakan ia sedang mengganggu.
Pukul sepuluh pagi, ponsel Sekar bergetar di bawah meja.
Grup Tutor Sebaya
Adrian: Teman-teman, jadwal Rabu sore dipindah ke ruang multimedia. Sekar, kamu bisa bantu cek soal matematika bagian akhir? Katanya kamu paling kuat di situ.
Beberapa detik kemudian, nama-nama lain mulai membalas.
Bisa.
Siap.
Kak Sekar memang jago.
Sekar menatap layar dengan dahi berkerut. Kata-kata Adrian terdengar seperti pujian biasa, tetapi cara ia menandai namanya di grup membuat semua orang melihatnya.
Yola, yang duduk di sebelahnya, melirik. "Dia mention lo terus."
"Aku tahu."
"Mau gue jawab?"
"Jangan."
Sekar mengetik singkat.
Sekar: Aku cek kalau jadwalnya sudah final. Tolong kirim file ke grup saja.
Adrian membalas hampir langsung.
Adrian: Baik. Terima kasih, Sekar. Kamu selalu bisa diandalkan.
Yola menatap layar, lalu wajah Sekar. "Aku nggak suka."
"Aku juga."
Saat makan siang, Kevin membaca pesan itu dari ponsel Sekar.
Ia tidak mengambil ponselnya. Sekar yang menyerahkan, karena ia tidak ingin ada rahasia yang bisa dipelintir orang lain.
Kevin membaca dalam diam. Bryan ikut mencondongkan kepala, tetapi Kevin mendorong wajahnya menjauh dengan satu tangan.
"Menurut lo?" tanya Sekar.
"Dia cari perhatian."
"Tapi semua katanya benar."
"Orang bisa pakai kata benar buat tujuan yang salah."
Bryan mengangguk serius. "Tumben kalimat lo panjang dan masuk akal."
Kevin menatapnya.
Bryan langsung meneguk es teh.
Sore itu, Sekar tetap datang ke ruang multimedia, tetapi tidak sendirian. Yola ikut. Steven ikut dengan alasan ingin mengambil file latihan Bahasa Inggris. Kevin mengantar sampai depan pintu dan menunggu di koridor, bersandar pada dinding dengan wajah yang membuat beberapa siswa tidak berani lewat terlalu dekat.
Adrian melihat rombongan kecil itu dan tersenyum.
"Ramai sekali."
Yola tersenyum balik. "Belajar rame-rame lebih seru."
"Tentu."
Adrian tidak menunjukkan kekecewaan. Ia membuka laptop, membagikan file, menjelaskan format soal. Semua berjalan normal selama hampir empat puluh menit.
Sekar mulai bertanya-tanya apakah ia terlalu curiga.
Lalu listrik di ruang multimedia berkedip.
Proyektor mati sesaat. Beberapa siswa mengeluh. Adrian berdiri.
"Aku cek kabel sebentar."
Ia berjalan ke belakang ruangan, melewati kursi Sekar. Saat kembali, map biru di tangannya terlepas dan kertas-kertas jatuh berserakan di samping kaki Sekar.
"Maaf," katanya cepat.
Sekar refleks menunduk membantu mengambil.
Adrian juga menunduk. Tangannya bergerak ke kertas yang sama dengan tangan Sekar, lalu menyentuh pergelangan Sekar seolah tidak sengaja.
Sekar menarik tangan seketika.
Sentuhan itu ringan, bahkan bisa disebut kecelakaan. Namun mata Adrian yang menatapnya terlalu tenang membuat Sekar tahu itu bukan kebetulan.
"Maaf," Adrian berkata lagi, cukup keras agar orang lain mendengar. "Aku tidak sengaja."
Beberapa siswa menoleh.
Yola langsung berdiri. "Sekar, sini. Biar aku bantu."
Sebelum situasi menjadi lebih jelas, pintu ruang multimedia terbuka.
Kevin masuk.
Ia mungkin mendengar kursi bergeser. Mungkin hanya melihat dari kaca pintu. Apa pun alasannya, wajahnya berubah saat melihat posisi Adrian yang menunduk terlalu dekat dengan Sekar.
"Sekar."
Suara Kevin rendah.
Sekar berdiri. "Aku nggak apa-apa."
Kevin berjalan mendekat. Ia tidak berteriak. Tidak membuat keributan. Ia hanya berdiri di antara Sekar dan Adrian, lalu menatap tangan Adrian.
"Jangan sentuh dia."
Adrian mengangkat kedua tangan, senyumnya tetap sopan. "Aku sudah bilang tidak sengaja."
"Gue cuma bilang jangan ulangi."
Ruangan menjadi hening. Semua siswa melihat mereka.
Steven berbisik pada Yola, "Ini buruk."
Yola menjawab pelan, "Banget."
Adrian menatap Kevin beberapa detik, lalu menurunkan suara sehingga hanya mereka yang dekat bisa mendengar.
"Kamu selalu bereaksi seperti ini?"
Kevin tidak menjawab.
"Aku cuma menjatuhkan map. Kalau kamu membuat keributan setiap kali ada laki-laki di dekat Sekar, orang akan berpikir kamu tidak bisa mengendalikan diri."
Sekar merasakan tangan Kevin mengepal.
Ia segera menggenggam pergelangan Kevin.
"Kev."
Genggaman itu cukup membuat Kevin menoleh padanya. Sekar menggeleng pelan. Jangan.
Kevin menarik napas, lalu melepaskan kepalan tangannya.
"Sekar pulang," katanya.
"Tapi file..."
"Yola bisa kirim."
Yola langsung mengangguk. "Bisa. Aku kirim nanti."
Adrian tersenyum tipis. "Tidak perlu buru-buru. Kita bisa lanjut lain kali."
Kevin menatapnya. "Nggak ada lain kali kalau cuma kalian berdua."
Kalimat itu terdengar keras di ruangan yang sunyi.
Beberapa siswa saling pandang. Sekar bisa membayangkan betapa cepatnya kalimat itu akan berubah bentuk di grup kelas. Kevin melarang Sekar ikut tutor. Kevin cemburu buta. Kevin membuat keributan.
Adrian tidak perlu melakukan banyak hal. Ia hanya perlu berdiri di sana dengan wajah tenang.
Ponsel salah satu siswa berbunyi.
Lalu ponsel lain.
Dalam beberapa detik, grup kelas yang berbeda mulai hidup. Sekar melihat layar Yola menyala karena notifikasi bertubi-tubi.
Grup Kelas 12
Ada apa di ruang multimedia?
Kevin ribut sama Adrian?
Katanya Kevin marah karena Adrian dekat sama Sekar.
Yola langsung mengetik cepat, wajahnya tegang. "Aku luruskan sekarang."
Steven menahan tangannya. "Kalau kamu jawab saat emosional, mereka makin ramai. Kirim fakta pendek."
Yola menarik napas, lalu mengetik ulang.
Yola: Tidak ada ribut. Ada map jatuh, lalu salah paham. Jangan sebar cerita kalau tidak lihat langsung.
Balasan tetap datang.
Tapi ada yang bilang Kevin hampir pukul Adrian.
Adrian baik-baik saja?
Kevin memang dari dulu temperamental.
Sekar membaca satu per satu sampai dadanya terasa sesak. Inilah yang Adrian inginkan. Bukan pukulan. Bukan luka. Cukup satu ruangan hening, satu kalimat Kevin yang terdengar keras, satu ekspresi tenang dari Adrian, lalu semua orang akan menulis cerita sendiri.
Kevin melihat layar itu juga.
Wajahnya tidak berubah, tetapi Sekar merasakan tangannya mendingin.
"Kev," bisiknya.
"Gue nggak apa-apa."
Kalimat itu terlalu cepat. Terlalu kaku.
Saat Sekar dan Kevin keluar dari ruang multimedia, Adrian ikut sampai pintu.
"Kevin," panggilnya pelan.
Kevin berhenti, tetapi tidak menoleh penuh.
Adrian tersenyum dengan suara yang hanya terdengar oleh mereka bertiga. "Orang seperti kamu gampang sekali disalahkan."
Sekar menggigil.
Kevin menatap Adrian.
Kali ini, senyum Adrian tidak lagi terlalu rapi. Ia tampak puas.
Sekar tiba-tiba mengerti, jebakan itu baru saja dimulai.
Dan mereka sudah berdiri di dalamnya.