Farhan, divonis mandul. Agar bisa mempertahankan Marla, Farhan rela membayar adik tirinya Agustin untuk menikahi Marla selagi Marla dan Farhan bercerai sementara.
Sesuai perjanjian Agustin harus menghamili Marla, setelah mengandung dan melahirkan Marla akan dikembalikan ke Farhan.
Awalnya, Agustin setuju karna bayaran. Tapi lambat-laun berangsur berubah pikiran. Agustin malah berubah haluan, dan ingin menjaga keluarga kecilnya. Anaknya dan Marla istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ollane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Farhan dan Agustin?
“Menurutmu …” napas Agustin mendengus letih, ditatapnya kosong langit-langit kamar Rio, “kalau Mbak Marla disuruh memilih antara aku dan Kak Farhan, apakah ada kemungkinan lain dia lebih memilihku?” Rio yang mendengarkan urung menyeruput kopi yang dia buat, diteguknya ludah yang malah terasa pahit.
Sadar dengan apa yang dia katakan itu mustahil, Agustin tertawa. “Ngayal, dah. Mana mungkin Mbak Marla lebih memilih lelaki melarat sepertiku.” Lelaki itu terbahak, merasa konyol dengan khayalan dan harapannya sendiri. “Mbak Marla tentu saja lebih milih Kak Farhan. Pada dasarnya Kak Farhan itu mapan, tampan, dan kaya. Lah, aku?” Meratapi status rendahnya, Agustin terlihat begitu menyesal.
“Hanyalah bocah melarat, yang belum tentu bisa memenuhi semua kebutuhan Mbak Marla.”
“Kamu nyesal jadi miskin, Tin?”
Rio bertanya, membuat Agustin menoleh sinis.
“Seharusnya aku menuntut separuh hak warisan dari lelaki bangka yang sudah mati itu!”
Mendadak menyesal dengan apa yang dia katakan, Agustin meringis. “Sayangnya, aku tidak boleh lupa kalau statusku hanyalah anak haram yang nasabnya tidak jelas.”
“Kalau begitu jadilah lelaki kaya, Tin.” Rio berkata sambil memutar-mutar gelasnya, “Ambil posisi tertinggi di perusahaan, dan buat Marla-mu punya alasan finansial untuk mempertahankanmu.”
Rio meletakkan gelasnya ke pinggir nakas, “saingi Kakakmu yang kaya dari uang warisan itu, kamu berusahalah menjadi lelaki kaya atas jerih payahmu sendiri. Tentu jika status sosial kalian kelak sama, kamu pasti lebih bisa dihargai oleh Marla dan kebanyakan orang, karena jika kamu berhasil, keberhasilan kamu itu dasar dari usahamu sendiri, bukan diwariskan dari orang lain.”
“Kamu pikir mudah? Mengambil posisi tertinggi di perusahaan? CEO?”
Agustin tertawa, mengejek saran Rio. Di umurnya yang terlampau terlalu muda tersebut, mengambil posisi manager ‘pun masih terdengar mustahil.
“Mustahil untukku,” Rio mengawali kalimat dengan merendah. “Tapi ada kesempatan untukmu.”
Agustin mengernyit, “Apa maksudmu?”
Rio meraih kembali gelasnya dan memutar-mutarnya--membentuk ombak cairan hitam yang saling beradu di dalam gelas. “Kamu tahu awal kehadiranmu sebagai karyawan pemula di perusahaan, respon atasan sangat baik untukmu. Daripada aku yang sering digunjing-gunjing, aku sering mendengar para atasan memujimu. Bakatmu dalam bekerja setara dengan para senior yang bergaji lebih.”
“Bahkan Mr. Merci--pemiliki perusahaan tempat kita bekerja--ikut memujimu. Kudengar, kamu masuk dalam tahap pengujian untuk beberapa saat. Jika dalam pengamatan Mr. Merci kamu benar-benar layak, maka pangkatmu akan dinaikkan. Melebihi pangkat yang seharusnya.”
Agustin terdiam. Dia memang mendapat respon baik di awal bekerja, dan sering mendapat pujian. Tapi tak pernah Agustin sangka, bahkan respon baik itu melampaui dari yang dia kira selama bekerja.
“Kuberi saran, Tin,” Agustin mengacungkan tiga jarinya. “Ada tiga tahap untuk menjadi sukses di dunia kerja seperti kita.” Agustin mendekat, mencondongkan tubuh dan mendengarkan. “Pertama, bakat. Dan kamu memilikinya.” Rio memuji, memang terdengar sedikit iri, tapi Rio turut berbahagia jika temannya mendapat anugerah. “Kedua, kerja keras. Dan kamu melakukannya.” Rio tidak pernah tidak melihat Agustin bekerja keras, bahkan melebihi para senior, pekerjaan Agustin lebih berat dari yang seharusnya, dan Agustin tidak akan mengeluh tentang itu.
“Ketiga--yang terakhir, harus pandai mencari muka.”
Agustin menarik diri untuk penjelasan yang terakhir, “mencari muka?”
Rio menepuk bahunya seraya menegapkan badan. “Yap, menjadi penjilat.”
“Kamu mengajariku cara menjadi sampah?” Agustin terkekeh sinis.
Rio menggeleng, “Aku hanya mengajarimu, bagaimana caranya mencuri hati Marla-mu.”
“Mendapat posisi tinggi di perusahaan, menjadi kaya, dan menyaingi Farhan. Setelah itu, besar kemungkinan Marla akan memilihmu.”
Rio tertawa menanggapi raut kusut Agustin.
“Pandai-pandailah mencuri perhatian para atasan lebih dari yang kamu dapatkan sekarang. Tingkatkan kualitasmu, semakin giat saat mereka memperhatikan, dan curi kekaguman mereka. Setelah itu kamu akan mendapatkan apa yang kamu incar.”
“Kamu serius?”
Rio menghela napas geli, “Aku selalu serius menanggapimu, Tin. Tentang niat terpendammu yang ingin menahan Kakak Iparmu, dan tentang kekhawatiranmu perihal kemiskinanmu itu.” Kali ini raut itu berubah menjadi serius, “soalnya aku tidak mau main-main tentang masa depanmu, Marla dan jabatan yang kamu incar, sudah kamu klaim sebagai masa depanmu, ‘kan? Maka raih itu.”
“Sekalipun,” tangan Rio mengerat, kepalan itu menekan dada Agustin, “harus mencuri masa depan Kakakmu, dan menjadi seorang sampah.”
.
.
“Kalau aku jadi orang kaya, Mbak senang nggak?”
Agustin iseng bertanya saat mereka tengah makan malam.
Marla berhenti mengunyah, menatap Agustin lalu tertawa. “Kok pertanyaan kamu kayak bocah SD, deh.” Marla meraih wadah berisi kuah, menuangkannya ke tumpukan nasi dan mengaduk-ngaduknya.
“Aku serius nanya, Mbak. Kalau aku dapat posisi tertinggi di perusahaan, Mbak mau nggak sama aku?”
“Duh,” Marla tertawa keras, tergelitik dengan ujaran Agustin. Siku Marla menyikut perut Agustin yang kekenyangan, “kamu miskin ‘pun, aku masih mau sama kamu, kok.” Marla hanya bercanda, Agustin malah kena imbasnya. Wajah Agustin benar-benar memerah, tidak menahu harus bagaimana untuk mengontrol denyutan jantungnya yang sembarangan berdebar hanya karena pujian yang tidak serius itu.
“Aku atau Kak Farhan, Mbak pilih mana?”
Tawa Marla surut, perempuan itu terdiam. Diraihnya segelas air putih, yang saat diseruput malah terasa sedikit pahit dan kecut.
“Mbak,” desak Agustin, “pilih mana?”
Tidak menjawab Marla membungkam mulut Agustin dengan ciuman singkat di bibir. Marla menarik diri lalu melanjutkan makannya. Tubuh Agustin tegang, Marla benar-benar menguji kesabarannya. Ditangkapnya wajah Marla, dari bangku sebelah berpindah ke pangkuan Marla yang terduduk di kursinya.
Membelakangi meja makan Agustin menuntut apa yang dia inginkan.
“Tin, tubuhmu berat,” Marla mengeluh, membuat Agustin memutar badan mengalihkan Marla ke pangkuannya, dia yang terduduk di atas kursi.
“Mbak tahu, kamu nggak akan kunjung hamil, jika kita hanya mencobanya sekali-duakali …” Agustin mulai menakut-nakutinya, lalu kalimatnya berhenti, menusuk tajam ke telinga, “seharusnya berkali-kali.”
Marla terdiam. Kata ‘berkali-kali’ itu benar-benar merusak pertahanannya untuk tidak menangis.
“Jika Mbak egois dengan pikiran Mbak yang tak mau disentuh terus olehku--semakin panjang masalahnya, Mbak takkan pernah kunjung lepas dariku.”
Di dalam hati, Agustin menyesali apa yang dia katakan. Dia mengatakan Marla egois, padahal Agustin lebih egois, lebih jahanam dan lebih tidak berperasaan. Dalam makanan, cemilan, dan minuman Marla, semuanya sudah Agustin campuri dengan obat KB yang dicairkan. Agustin tidak tahu efeknya akan benar-benar mujarab, atau malah akan menghancurkan impiannya. Tapi terlepas dari apapun yang Agustin lakukan dan bagaimana perasaannya, Agustin sudah mencurangi Marla.
“Mbak memilih Kak Farhan, ‘kan?”
Agustin sedih saat Marla mengangguk.
Memang, hanya Farhan.
“Kalau begitu--jika Mbak ingin secepatnya dikembalikan ke Kak Farhan, seharusnya Mbak selalu ‘berkenan’, bukan ‘tidak berkenan’. Aku tidak berbohong, ‘kan?”
Marla mengangguk, kini air matanya berjatuhan.
Kini kening keduanya saling mengantuk, “kalau begitu, jika kuajak sekarang apa jawaban, Mbak?”
Tangis Marla meledak, “aku berkenan, Tin.”
kali ini bersemangat lagi...tank you thoor🙏
penasaran dgn lanjutannya😭😭
plis deh jdi ikut sakit hati...