NovelToon NovelToon
Rumah Baruku

Rumah Baruku

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Supernatural / Indigo / Rumahhantu / Hantu / Tamat
Popularitas:197.4k
Nilai: 5
Nama Author: Kara Sulistia

Cerita kedua setelah kisah Anjani dan teman-temannya...

Dua tahun setelah kejadian menyeramkan di rumah tersebut,Sang pemilik rumah akhirnya mendapatkan kembali pelanggannya.

Di malam hari,Sang pemilik nampak dikejutkan oleh sepasang pengantin baru yang ingin membeli rumah tersebut.Merekapun tidak mempermasalahkan harga murah yang dilontarkan.Wajah mereka terlihat begitu kagum,ketika mengetahui rumah tersebut memliki desain yang unik.

Rumah itu berada di penghujung kota,sendirian,tanpa adanya tetangga sama sekali.Namun nyatanya,lingkungan yang sangat berteman dekat dengan suasana hutan tersebut,sangat diidam-idamkan oleh Sang isteri.Hal itu membuat Sang suami langsung menyetujui pembelian rumah itu.

Sang pemilik nampak tersenyum manis,ikut bergembira dengan perasaan mereka,hingga tak sampai hati untuk memberitahukan tentang apa yang terjadi pada rumah ini di dua tahun yang lalu.

Ralat,bukan tak sampai hati,namun ia memang sengaja untuk menutupinya.Keinginan akan uang,membuat hati nuraninya buta.Bahkan,ia tak tanggung-tanggung untuk meminta bantuan dari golongan iblis.

Rasa menyesal mendadak hadir,saat dirinya sudah menemukan sebuah kenyaman dari orang-orang baru.Hal itu membuatnya merasa bersalah.Ia bertekad,akan melindungi orang-orang tersebut dari kejahatan Sang raja iblis.Disinilah, kejadian-kejadian di luar nalar,mulai memasuki kehidupan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kara Sulistia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps.5

Waktu terus berjalan.Keheningan malam pun semakin terasa.Saat ini,mereka sudah sampai di tujuan.Irawan kemudian membuka pintu penumpang,kemudian mempersilahkan mereka untuk keluar.

Sapuan angin malam,membuat pakaian yang mereka kenakan sedikit berlayar ketika baru saja turun dari mobil.Rasa dingin yang menggigit kulit,rupanya tak mampu menghilangkan rasa kagum mereka pada rumah Irawan.Rumah Irawan memang terlihat sederhana dari luar.Namun,begitu masuk ke dalamnya,isinya mampu membuat mereka mendadak iri.

Kursi sofa panjang dan meja ruang tamu,membuat benda-benda tersebut sudah nampak seperti perabotan-perabotan yang ada di dalam hotel.Bahan kayu yang digunakan,merupakan jenis kayu yang terkenal kuat.Belum lagi saat mereka melihat perabotan-perabotan lain yang berada di ruangan lainnya,membuat mereka menganggap Irawan adalah orang kaya yang sesungguhnya.

"Ayo,kita langsung ke ruang makan saja!"

Irawan keluar dari dapur,memberitahu mereka yang masih ternganga karena kagum.Mendengar seruan Irawan tersebut,mereka akhirnya mendekat,kemudian berjalan beriringan menuju dapur.

Ikan goreng,ayam bakar,dan aroma segar dari jus buah,membuat Amer dan Wulan terus mengendus tanpa henti.Mereka bahkan semakin tergoda,saat melihat wujud dari lauk-pauk tersebut.Melihat para tamunya yang tidak sabaran,Irawan langsung saja mempersilahkan mereka untuk duduk dan memakan hasil masakannya.

Dari cara mereka menyantap makanan,Irawan menduga,jika mereka benar-benar dilanda kelaparan.Mereka terus berucap enak,padahal semua makanan ini telah dingin karena sudah dimasak sedari sore.

Berbeda halnya dengan kedua manusia yang tengah lahap dalam memakan masakannya itu,Irawan justru hanya duduk diam di tempatnya,sembari sesekali tersenyum saat pandangan mereka bertemu.Tugasnya saat ini telah usai.Kini,ia hanya akan menunggu instruksi dari Sang iblis untuk melakukan perintah selanjutnya.Irawan bahkan sibuk melirik kesana-kemari,guna melacak kehadiran teman ghoibnya tersebut.

---

Dentingan sendok dan garpu,terus memenuhi area dapur di rumah Irawan.Sepasang suami isteri dihadapannya ini,sepertinya benar-benar kelaparan.Irawan bahkan sedikit menahan tawa,saat Amer meminta izin untuk menambah lauknya lagi.Padahal,Wulan sudah melarangnya dengan cubitan sebagai isyarat.

"Habiskan saja~" Ucap Irawan. "jangan malu-malu!aku akan sedih jika piring-piring itu masih menyisakan makanannya."

Irawan pura-pura marah,membuat Amer dan Wulan kembali tertawa.

"Kenapa kau tidak makan,Irawan?" Tanya Wulan.Ia sempat merasa aneh saat melihat Irawan yang tidak menyentuh piringnya sama sekali.

"Aku sudah makan lebih awal,tadi." Balasnya. "kalian tidak perlu sungkan jika ingin menambah lauknya.malam ini,semua makanan itu adalah milik kalian!"

"Tuh,Kan!!"

Amer terlihat meledek Wulan dengan bibir hitamnya yang baru saja melahap paha ayam bakar kecap.Ia lalu mengambil lagi ayam bakar tersebut,kemudian langsung menggigitnya bak binatang buas.

Wulan yang merasa malu,hanya bisa meminta maaf sebesar-besarnya kepada Irawan.Wulan tidak tau lagi,bagaimana caranya mengatur jenis manusia seperti Amer,yang bahkan dirinya tak menyangka,bahwa pria itu telah menjadi suaminya saat ini.Melihat tingkah kocak mereka,Irawan mendadak tertawa kecil.Tawanya itu kian memudar,saat matanya menangkap sosok makhluk menyeramkan yang sudah ia tunggu-tunggu sedari tadi.

Kegembiraan yang dirasakan Amer dan Wulan,justru berbanding terbalik dengan perasaan Irawan saat ini.Dirinya semakin merasa was-was,saat melihat Sang iblis sudah berdiri di sudut dapur dengan matanya yang melotot tajam.Irawan sangat berusaha untuk tidak terlihat panik ataupun ketakutan di hadapan Wulan dan Amer.Dengan ilmu kebatinannya,Irawan lalu mengajak Sang iblis untuk berdialog dengannya melalui suara hati.

"Sekarang,tinggalkan kami berdua."

Irawan terkejut,membulatkan matanya tak percaya.Ia lalu memandang Wulan yang terlihat sangat gembira.Mendadak,ada rasa tidak tega,ketika akan menyerahkan Wulan begitu saja kepada Sang iblis.Setelah menenangkan diri,Irawan kemudian kembali berdialog dengan Sang iblis,mencoba untuk memberikan berbagai alasan untuk tidak mendekati Wulan.

"B-bagaimana itu mungkin?!kau tidak lihat,jika mereka sedang bersama dan bersenang-senang??"

"Aku tidak perduli.sekarang,kalian berdua harus pergi dari sini!"

"Tapi-"

Ucapan Irawan mendadak terpotong,karena Sang iblis memancarkan aura kemarahan yang sangat dahsyat,hingga membuat perut dan kepalanya mendadak sakit.Mendadak,nyali keberanian yang ia punya,seketika hancur berkeping-keping.Jika ia tidak segera mengajak Amer untuk keluar,maka dirinya lah yang akan terkena imbasnya.Bukan hanya dirinya saja,mungkin Amer dan Wulan juga akan merasakan hal yang sama.

Dengan tubuh yang bergemetar,Irawan perlahan menundukkan kepalanya,kemudian memandang layar ponselnya yang nampak menyala terang.Ia masih berpikir mengenai alasan apa yang paling tepat untuk mengajak Amer keluar tanpa harus diinterogasi terlebih dahulu.

"Bro??"

Irawan mendongak cepat,memandang Amer dan Wulan yang merasa heran dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah itu.

"Kau kenapa?apa ada masalah??"

Diam-diam,Irawan melirik keberadaan Sang iblis.Rupanya,iblis tersebut masih setia berada di tempat semula.Matanya yang menyeramkan itu,seolah-olah memberikan isyarat padanya,tentang bagaimana dirinya harus segera membawa Amer untuk pergi dari rumah tersebut.

"A-ah!hanya...urusan pekerjaan-"

Amer dan Wulan menautkan kedua alisnya.Mereka nampak heran dengan sikap aneh yang selalu Irawan timbulkan.Bahkan saat ini,Irawan mendadak diam.Padahal,pria berkumis tipis itu hendak berbicara tadi.

"Amer!" Panggil Irawan tiba-tiba. "barusan,bos ku mengirim pesan,bahwa ada sesuatu hal yang harus aku ambil sekarang di ruang kerjanya."

"...Lalu??" Tanya Amer tak paham.

"Apa kau...mau menemaniku??"

Irawan meneguk air liurnya tegang,berharap Amer akan segera memberi jawaban setuju kepadanya seperti kejadian sebelum-sebelumnya.Namun,Amer tak langsung menjawab permintaan itu.Ia terlebih dahulu memandang isterinya,seolah ingin mendengar keputusan langsung dari mulut isterinya tersebut.

"Silahkan saja~" Balas Wulan akhirnya. "tapi jangan lama-lama!kalau sampai kalian belum pulang pada pukul 9,aku akan pergi dari rumah ini meskipun itu harus berjalan kaki!"

"Jangan khawatir!!" Balas Irawan cepat. "tiga puluh menit saja,kami akan segera sampai!aku akan mengebut di jalanan nanti."

"Hey!b-bukan seperti itu maksudku!"

Wulan berusaha mencegat Irawan untuk tidak bertindak brutal di jalanan.Bukan hanya keselamatannya saja,Wulan juga mengkhawatirkan keselamatan suaminya.

Bukannya berterima kasih,Amer malah tertawa saat Wulan mengkhawatirkan dirinya.Tawanya yang cukup lebar itu,membuat Wulan merasa kesal seketika.Ternyata,ia benar-benar salah jika mengkhawatirkan keadaan Amer.

Melihat Wulan yang cemberut,membuat Amer semakin gencar mengusilinya.Bukannya merasa bersalah,Amer malah terlihat gemas saat menghadapi Wulan yang bertingkah seperti itu.Untuk menenangkan kembali hati isterinya tersebut,Amer akhirnya mendekati Wulan,memberikan kata-kata gombalnya,hingga membuat wanita itu nampak tersenyum malu.Amer lalu mengecup kening Wulan sangat mesra hingga membuat Irawan sedikit merona.Melihat keromantisan mereka,Irawan hanya bisa menggaruk kepalanya,kemudian keluar lebih dulu dengan alasan ingin menghidupkan mobil.

"Kau,Sih!" Ucap Wulan kembali kesal namun nampak menahan tawa.Ia benar-benar tidak kuat melihat reaksi Irawan yang terlihat malu-malu.

"Dia memang harus melihat ini,supaya dia punya keinginan untuk berumah tangga." Balas Amer sembari tersenyum.

"Yasudah,pergi sana!malam semakin larut.jangan biarkan diri kalian terlalu lama berkeliaran di luar sana." Ucap Wulan memperingatkan.

"Iya,Sayang~" Balas Amer manja. "kalau begitu,aku pergi dulu,Ya!kalau ada apa-apa,segeralah telpon aku atau Irawan."

"Siap,Bos!!"

Amer akhirnya pergi,meninggalkan Wulan sendirian di rumah Irawan yang sangat besar tersebut.Mungkin karena ia sendirian,Wulan jadi bisa mendengar berbagai suara hewan di luar sana.Bahkan,ia bisa mendengar suara Sapuan angin yang menerbangkan daun-daun pisang di area belakang rumah Irawan.

TING

TING

Suara berdenting yang ditimbulkan olehnya sendiri,ternyata tidak membuat keadaan terlalu buruk.Setelah mendengar suara deru mobil Irawan yang kian menjauh,Wulan hanya bisa menghela nafas saat menyadari,bahwa dirinya benar-benar ditinggal di dalam rumah yang sangat sepi tersebut.

Sebenarnya,hutan adalah hal yang paling ia sukai.Ia sangat mengagumi hutan sejak kecil.Ia bahkan bercita-cita ingin membuat rumah di dalam hutan seperti Irawan.Namun,nampaknya keputusannya tersebut membuat Wulan kembali berpikir.Selain sepi,mungkin saja cita-citanya tersebut tidak akan disetujui oleh Amer.Mengingat tempatnya yang rawan,Amer juga tidak akan tega meninggalkan isterinya dalam kondisi sendirian di tengah hutan.

Terus memikirkan hutan dan tidak memikirkan berapa banyak liter air yang ia minum,Wulan tiba-tiba saja ingin buang air kecil.Wanita itu berdecak.Disaat seperti ini,panggilan alam malah membuat dirinya merasa kesal.Tidak ada pilihan lain selain berdiri dan mencari,dimana keberadaan kamar mandi di rumah Irawan.

Rumah ini memang besar,Wulan sangat mengakuinya.Saking besarnya,ia bahkan tidak bisa menemukan dimana keberadaan kamar mandinya.Disepanjang perjalanan,ia bahkan terus mengumpat,membuat dirinya merasa lelah sendiri.

Saat dirinya sudah merasa tidak tahan lagi dan ingin mengeluarkannya segera,matanya tiba-tiba menangkap sebuah pintu yang bertuliskan,'WC'.Dengan cepat,Wulan masuk ke ruangan itu dan mengeluarkan semua cairan kotor yang ada di tubuhnya.Setelah membersihkan diri,ia lalu kembali keluar dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat lega.

Awalnya,Wulan bersiap untuk kembali ke dapur.Namun,pandangannya tidak sengaja menatap sebuah ruangan yang menurutnya unik.Penasaran,Wulan kemudian berjalan mendekat,guna untuk melihatnya lebih jelas.

Dari luar,ruangan itu terlihat biasa.Namun,ruangan itu tidak memiliki pintu,melainkan diganti menggunakan gorden.Hal yang menurutnya paling unik adalah,dimana di sisi kanan dan kiri jalan pintu masuk,terletak masing-masing satu payung yang terbuka di sana.

Wulan sungguh sangat penasaran.Rasa penasarannya terus membuat tubuhnya sedikit demi sedikit mendekat,dan hampir menyibak gorden tersebut.

"HEY!"

Namun,seseorang menariknya,membuat tubuh Wulan bergerak bebas,hingga akhirnya jatuh ke pelukan orang tersebut.Saat dilihat,Wulan mendadak kesal.Orang itu tak lain adalah Amer.

"Sedang apa kau di sini??" Tanya Amer sedikit gusar.Ia bahkan menampilkan ekspresi marah yang sama sekali tidak pernah Wulan lihat.

"Aku hanya penasaran sama ruangan itu!" Balas Wulan malas.Kemudian,ia mendadak teringat sesuatu.

"Kau sudah pulang??dimana Irawan?kenapa kalian cepat sekali??"

Wulan terus bertanya,membuat Amer mendadak pusing.Ia lalu menarik Wulan untuk keluar dari area yang menurutnya sangat sensitif tersebut.

Wulan terus ditarik tanpa ucapan oleh Amer.Wulan sendiri bahkan bingung dengan sikapnya yang tiba-tiba jutek tersebut.Dia tiba-tiba datang tanpa Irawan,dan dia juga bersikap dingin.Wulan juga baru menyadari,jika ia diseret untuk kembali ke area dapur.

"Pokoknya,kau tidak boleh ke tempat itu lagi!"

Wulan diam,memperhatikan Amer yang terus menatapnya sembari mencari kursi untuk diduduki.Bukan apa-apa,Wulan bahkan tidak pernah mendengar suara Amer yang tiba-tiba meninggi itu.Alhasil,ia juga ikut-ikutan kesal.

"Kenapa kau terus marah-marah??aku bahkan tidak sengaja menemukan ruangan itu.kalo tempat itu memang tidak diperbolehkan untuk dimasuki,aku tidak akan melangkahkan kakiku ke sana!"

Wulan mendengus,nafsu makannya mendadak hilang.Dia benar-benar kesal kepada Amer saat ini.Menurutnya,sikap Amer barusan terlihat sangat berlebihan.

Sesaat setelahnya,Wulan seperti mendengar helaan nafas seseorang.Begitu ia mendongak,Wulan mendapati Amer yang nampak menghentikan aktivitas makan-makannya.Kemudian,Amer melihatnya dengan pandangan nanar.

"Aku hanya tidak enak kepada Irawan.jika saja dia yang menemukanmu disana,apa dia akan diam saja??"

Wulan mengubah ekspresi wajahnya.Perlahan,ia mendadak merasa bersalah.

"Tapi,aku tidak melakukan apapun!aku tidak mencuri.bahkan,aku belum menginjakkan kakiku untuk masuk ke sana!"

"Ya,aku tau.maka dari itu,aku memberitahumu."

Amer bangkit dari kursinya,menghampiri Wulan dari arah belakang,kemudian mengalungkan kedua tangannya di leher Wulan.Mendapati Amer yang bertingkah manja,Wulan mendadak salah tingkah.

"Dimana Irawan?kenapa dia tidak ada bersamamu??" Tanya Wulan mengalihkan topik,sekaligus menutupi rona pipinya yang mendadak memerah.

"Irawan?" Amer terlihat berpikir. "entahlah,dia tiba-tiba menyuruhku untuk tidak ikut bersamanya.dia kasihan padamu yang sendirian di sini."

"Tapi,kenapa??bukankah dia yang ingin ditemani??"

"Sudahlah,jangan kau pikirkan dia..." Ucap Amer malas.Ia lalu mendekatkan wajahnya kepada Wulan. "kau pikirkan saja tentang kisah kita..." Ucapnya sembari tersenyum.

---

BRUUUMM

Jalanan sepi,memang tempat yang paling enak digunakan untuk kebut-kebutan.Hal itu juga dimanfaatkan oleh Irawan untuk menunjukkan keahliannya kepada Amer.Pria berkumis tipis itu langsung berulah begitu matanya melihat jalan setapak yang sepi.Dengan kecepatan diatas rata-rata,Irawan terus memandang lurus jalanan yang ada di depannya.Tak heran,hal tersebut membuat Amer merasa meringis.

Sesaat setelah mereka keluar dari jalanan yang penuh tanah becek,Amer tak akan melepaskan pegangan mobil di atas kepalanya.Walaupun dirinya sudah mengenakan sabuk,ia tetap tidak bisa mempercayai ucapan Irawan begitu saja.Kecepatan yang digunakannya,membuat jantungnya berdegup sangat kencang.

Irawan tau dan sadar,jika apa yang dilakukannya ini,bisa membuat ia dan Amer mungkin saja akan mengalami hal yang sangat buruk.Namun,saat ini Irawan tidak sedang memikirkan dirinya ataupun keadaan di sekitarnya.Kini,kepalanya dipenuhi oleh rasa khawatirnya kepada Wulan.Senyuman dan rasa gembira yang wanita itu hadirkan kepadanya,membuat Irawan merasa frustasi.Sebelumnya,ia sudah bertekad untuk tidak memiliki rasa belas kasihan lagi.Namun entah mengapa,sosok Wulan ini,kembali menghadirkan rasa pedulinya terhadap sesama manusia.

BRUUUMM

Mobilnya semakin melaju dengan cepat.Dalam waktu singkat,mereka sudah hampir memasuki area kota.Hingga saat Irawan masih terfokus kepada jalan yang ada di hadapannya,Amer sebisa mungkin untuk berusaha menghentikan tingkah Irawan.Salah satu tangannya nampak bergemetar,hendak menyentuh pundak Irawan,guna menghentikannya.

"Pelankan..."

Lemas dan lesu,Amer berharap Irawan memperlambat laju mobilnya.Amer bukannya penakut,ia bahkan pernah menaiki mobil dengan kecepatan tinggi.Namun,Sang supir tidak pernah sampai menggunakan kecepatan seperti ini.Karena kelakuannya itulah,Amer juga mendadak mabuk perjalanan.

Sadar akan apa yang telah dilakukannya,Irawan lalu memperlambat laju mobilnya.Kini,mobil nampak berjalan dengan kecepatan sedang.

"Ada...apa...denganmu??"

Amer mual-mual.Ia menutup mulutnya dengan tangan,kemudian membuka jendela mobil dengan cepat,dan memuntahkan semua jenis makanan di luar sana.Amer meringis,begitu melihat kumpulan nasi basah yang terlihat menyedihkan di pinggir jalan.

Irawan diam.Ia bingung ingin menjawab apa.Ia juga tidak bisa berkata yang sejujurnya kepada Amer.Mendadak,Irawan menghela nafas berat,hingga akhirnya,ia memutuskan untuk diam saja sembari memandang Amer yang terus-menerus mengeluarkan isi perutnya.

"Kau...menyembunyikan sesuatu...dariku??" Tanya Amer lagi.Kini,ia mati-matian untuk menahan rasa mualnya.

Irawan hanya diam.Wajahnya memang terlihat tenang.Namun,matanya nampak terlihat gusar.Entah mengapa,Irawan seperti tengah mencari alasannya di antara deretan pepohonan.Ia terus memandang pohon-pohon itu,tanpa berani untuk menatap Amer.

"IRAWAN!!" Pekik Amer tak tahan. "kau ini kenapa?!kau memikirkan apa?!beritahu aku!!"

Dadanya naik turun,tangannya tak henti-hentinya meremas perutnya yang sakit,bibirnya pun bergetar karena sudah terlalu lemah untuk bicara.Entah mengapa,Amer merasa Irawan benar-benar menyembunyikan sesuatu darinya.

"Jika kau tidak mau bicara juga,aku akan meloncat dari mobil ini!"

Seketika,Irawan menginjak pedal rem, menimbulkan suara decitan,hingga membuat mobil berhenti mendadak.Tak heran,tubuh Amer yang seketika lemas,langsung menghantam kaca depan mobil.Tidak terlalu keras,namun mampu membuat kepalanya sakit.

Irawan masih diam.Pandangannya lurus ke depan.Satu meter lagi,mereka akan menuju kota setelah melewati papan pembatas penghujung kota.Disaat seperti ini,Amer masih saja terus bertanya.Entah kenapa,pria itu sangat bersikeras untuk memuaskan semua rasa penasarannya.

Berbeda halnya dengan Irawan,pria berkumis tipis itu malah kembali memikirkan sosok Wulan yang pastinya tengah bersama dengan iblis busuk tersebut.Ia kembali mengingat semua kebaikan dan ketulusan dari sosok Wulan selama ini.Bukan hanya wanita itu,Ia juga masih mengingat bagaimana baiknya Amer kepada dirinya.Bahkan,sepasang suami-istri itu rela membatalkan liburan mereka,hanya untuk menghormati dirinya.Terus menggali kebaikan mereka,sedikit demi sedikit membuat Irawan tersadar.Mendadak,ia merasa menyesal.

"Irawan...tolong jawab aku.kenapa kau diam saja??"

Amer tak tahan lagi.Ia sudah bertanya di sepanjang jalan.Namun,Irawan hanya diam saja,bahkan saat mereka sudah berada di perjalanan pertama sekalipun.Entah apa yang dipikirkannya,Amer merasa Irawan telah menipunya.

Namun,saat ingin kembali berbicara dan mengancam Irawan,pria berkumis tipis itu tiba-tiba menoleh padanya,menatapnya panik kemudian berkata,

"Kita harus pulang,SEGERA!!" Teriaknya hingga membuat Amer seketika terdiam bingung.

Tanpa menunggu ucapan kebingungan dari Amer,Irawan akhirnya memutar balik mobilnya,kemudian kembali melaju dengan kencang untuk mengantarkan Amer ke rumahnya.Kali ini,ia akan membantah perintah Sang iblis.Ia tidak ingin,orang-orang baik disekitarnya kembali menjadi korban gara-gara dirinya.

---

1
senja
lah pdhal yg anak setan itu Irawan gak boong, kok Amer bilang boong?
senja
kok Wulan juga ada aura pekatnya?
senja
Wulan sdh gak warasnya? smoga Ibunya aman, selamat
senja
ini yg suka Abi tp kok Andri kayak suka juga? atau ketuker? typo?
senja
gimana ceritanya Jon dg pemikat?
senja
waw banget kl nanti malah gak mau nyusahin Ius tapi nginep di Ben
senja
kl pindah rumah gak akan ditemukan kah?
senja
"kembali jadi korban" siapa sebelumnya? bukan Fadhil dkk kan karna dia dendam
senja
lah katanya Ben dipenjara 2thn tanpa pembelaan?
senja
lubangnya bisa awet gitu ya
senja
Ben mikir dia rela mempertaruhkan nyawa demi anak2? gimana itu?
senja
kok bisa luput ya de polisi, kan itu masih TKP? usia berapa skg? 45?
senja
aku kira ini sesuai dg sinopis, ternyata episode slanjutnya
senja
kok bisa berharap kebenaran dr Pembunuh?
senja
typo Balas Ben_balas Fadhil - pas berkunjung ke Ibu Ben
senja
itu Vanessa kok gak ikut Ben? tadi katanya mau ikut numpang? apa bukan Ben maksudnya?
senja
lah si Ben gak nemu pelurunya?
btw luka bakar itu smpai separuh badan, kenapa gak dirawat di UGD? bahaya lho
senja
typo Anjani menghantam batu itu typo, bukan Anjani tp Liza
senja
typo "menghina radio"
senja
Alex sendiri yg gak dateng ya, jauh kah kamarnya?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!