Jodoh itu misteri, siapa yang akan menjadi jodoh kita kelak, tak seorang pun mengetahuinya.
Sejak masih belia, Rian dan Dina dijodohkan oleh kedua orang tua mereka yang berkawan baik.
Mereka tidak kuasa menolak perjodohan, hingga pernikahan pun terjadi dan membuat orang yang mereka cintai patah hati.
Maretha, mantan pacar Ryan, yang terpaksa harus menikah dengan calon suami kakaknya.
Serta Fardhan, yang setengah hati menerima pernikahan dengan wanita pilihan orang tuanya, berharap bisa segera move-on dari Dina.
Apakah Ryan jodoh sejati untuk Dina? Bagaimana dengan para mantan, Maretha dan Fardhan?
Akankah rumah tangga mereka bertahan atau berpisah menjadi keputusan akhir mereka?
Bagaimana dengan para mantan yang patah hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myatra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maretha
Maretha menatap nanar kepergian Ryan. Sungguh dia tidak percaya jika cinta Ryan semudah itu berpaling darinya. Maretha jadi penasaran siapa wanita yang dengan mudahnya menggantikan posisi dirinya di hati Ryan.
Dulu, Ryan sangat mencintai Maretha. Apa yang Maretha inginkan, Ryan selalu berusaha untuk memenuhinya, apalagi jika dia sudah memasang wajah memelas, seketika Ryan akan luluh.
Kini, dapat Maretha lihat dengan jelas, binar cinta untuknya sudah tidak ada di mata Ryan. Terpukul, Maretha sangat terpukul dengan keadaan ini. Dia sudah sengaja ngatur waktu dan berbohong agar bisa menemui Ryan. Tapi Ryan tak sedikitpun memberinya kesempatan untuk bicara.
Maretha menahan air mata yang sejak tadi berdesakan ingin keluar. Meski patah hati, rasa malu untuk menangis di tempat umum lebih besar dia rasakan.
"Akhirnya, Ryan tahu dengan sendirinya, siapa sebenarnya dirimu..."
Maretha membalikkan badannya saat mendengar seseorang berbicara padanya.
"Agi..." Maretha berkata sinis.
"Tujuanmu tercapai, kamu berhasil menghancurkan hubunganku dengan Ryan. Secinta itu kamu sama aku, sampai terus menghasut Ryan."
"Ciihh..." Agi mendecih. "Jangan terlalu tinggi hati. Wanita sepertimu tak pantas untuk diperjuangkan. Sudah bersuami masih berpacaran dengan laki-laki lain."
Setelah mengatakan itu Agi berlalu meninggalkan Maretha.
"Kamu nggak tahu apa-apa," teriak Maretha, menarik perhatian karyawan yang mulai keluar dari gedung. Apalagi Maretha pernah bekerja di sana, tentu saja orang-orang mengenalnya.
Setelah mengatakan itu, Maretha pergi meninggalkan tempat itu.
¤¤FH¤¤
Maretha masuk ke rumahnya dengan langkah gontai.
"Sudah pulang, neng? dari mana?" sapa seorang wanita paruh baya.
"Aaah, ini semua gara-gara ibu, gara-gara kalian aku nggak bisa bersama dengan orang yang aku cintai," bentak Maretha pada ibunya.
Ibu Siti tersentak kaget. "Sudah lebih dari lima tahun, kamu masih menyalahkan kami. Belajar berbesar hati menerima keadaan, kamu sudah memiliki Feri, ibu lihat, Arman memperlakukan kamu dengan baik."
"Tapi aku nggak cinta sama bang Arman. Cintaku hanya untuk Ryan," bentak Maretha kepada ibu Siti.
Setelah mengatakan itu, Maretha pergi ke kamarnya dan menutup pintu dengan kasar. Tubuh Maretha luruh ke lantai, dia menangisi nasib yang seolah tak berpihak kepadanya sejak kecil.
Flashback on
Dua puluh tahun yang lalu, kedua orang tua Maretha bercerai, saat itu dia dan saudari kembarnya menjelang usia lima tahun. Ibunya memilih bercerai setelah melihat papahnya berselingkuh.
Ibunya pergi dari rumah megah yang sejak lahir, Maretha dan Maura tempati membawa dia dan kembarannya keluar kota dan harus tinggal di rumah yang lebih kecil yang hingga kini ibunya tempati.
Berbeda dengan Maura yang menerima kehidupan baru mereka asal bersama ibunya, awal-awal kepindahan mereka, Maretha sering menangis kesal karena tidak bisa lagi membeli jajanan yang dia inginkan, atau membeli mainan dan boneka-boneka yang ditinggal di rumah lamanya.
Ibunya memang tidak membawa mereka hidup susah, tapi Maretha yang terbiasa hidup mewah, sulit untuk menjalani hidup dalam kesederhanaan.
Hingga dua tahun kemudian, saat itu mereka berusia tujuh tahun dan sudah bersekolah di tingkat sekolah dasar. Papanya menemukan keberadaan mereka.
Terjadi percekcokan dan perebutan anak. Papanya bersikukuh ingin membawa putri kembarnya, sedang ibunya menolak, akhirnya terjadi perebutan anak dan Maura lah yang berhasil papanya bawa. Kejadian itu yang membuat Maretha benci dengan nasibnya, harusnya dia yang dibawa papanya, bukan Maura.
Tahun berlalu, Maretha dan ibunya menerima undangan pernikahan Maura. Ibunya sangat senang dan bersikeras ingin menghadirinya. Berbeda dengan Maretha yang semakin membenci saudara kembarnya yang dianggapnya selalu lebih beruntung darinya.
Saat itu, Maretha baru beberapa bulan diterima kerja dan menjalin hubungan dengan Ryan. Hidupnya terasa lebih bahagia setelah berpacaran dengan Ryan, karena Ryan mencintainya dan selalu menomor satukan dirinya.
Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Maretha harus menemani Ibunya yang keukeuh ingin menghadiri pernikahan salah satu putri kembarnya, menjadi awal bagi kesengsaraan yang dia rasakan. Maretha menganggapnya awal kesengsaraan dan awal kenestapaannya.
Hari masih pagi saat Maretha dan ibunya tiba di rumah papahnya, rumah yang sangat dia rindukan. Sengaja mereka datang pagi-pagi karena bu Siti ingin menyaksikan sendiri salah satu putrinya saat didandani.
Acara akad yang akan dilaksanakan di sebuah ball room mewah pukul sembilan pagi. Namun siapa sangka, Maura yang saat itu tengah di dandani, jatuh pingsan. Papanya Maretha langsung membawa Maura ke rumah sakit, karena ditunggu selama tiga puluh menit, Maura tak kunjung sadar.
Bu Siti dan Maretha yang turut ke rumah sakit, baru mengetahui jika Maura menderita sakit yang sangat parah, leukimia akut. Entah bagaimana perasaan Maretha, namun satu hal yang dia sadari saat itu, kenapa papanya membawa Maura, karena papanya lebih mampu membiayai pengobatan Maura.
Waktu akad semakin mepet, sedang Maura belum juga sadar meski sudah diperiksa oleh dokter. Setelah kedua pihak keluarga berunding, untuk menutupi kehormatan keluarga, Maretha diminta papanya untuk menggantikan posisi Maura menikah hari itu dengan calon suami Maura.
Maretha tak kuasa menolak, karena hal itu permintaan pertama papanya dan melihat wajah sedih papanya, dengan berat hati, Maretha menikah hari itu dengan laki-laki yang bahkan namanya pun tidak dia tahu.
BERSAMBUNG
dan adzan maupun iqomah hanya dilakukan laki2