Demi pergi bersama selingkuhannya seorang wanita bernama Camila tega menempatkan saudari kembarnya bernama Camelia disisi suaminya bernama Dion. Camila lebih memilih pria selingkuhannya lantaran Dion selalu saja bersikap kasar dan menyiksanya saat sedang kesal kepadanya.
Malam pertama ketika Camelia berada di kediaman Dion, semua pelayan merasakan sesuatu yang janggal pada sikap Camelia yang mereka anggap adalah Camila. Tentu saja karena Camelia dan Camila memiliki sikap yang sangat bertolak belakang, lagipula tidak ada yang mengetahui bahwa Camelia dan Camila adalah saudari kembar termasuk Dion.
Bagaimana hari-hari yang akan dijalani Camelia sebagai wanita samaran untuk Dion?
Apakah Camelia bisa menempatkan dirinya sebagai Camila tanpa sepengetahuan Dion?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widya Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Dion
Ceklek ....
Camelia dan Fara lantas menoleh kearah pintu dan melihat Dion berdiri disana. Fara melihat isyarat yang diberikan majikannya tersebut agar ia segera keluar dari kamar Camelia.
"Nyonya, saya permisi," ucap Fara pada Camelia.
Fara pun keluar dari kamar itu, lalu Dion menutup pintunya dan menghampiri Camelia yang tampak berdengus kesal lantaran tak menyambut hangat kedatangannya.
"Bersiap dan dandan yang cantik!" seru Dion.
"Hah?" Camelia hanya bingung dengan apa yang diserukan Dion barusan.
"Kita akan pergi ke acara pesta!" seru Dion lagi.
"Hhooaamm..., aku sangat mengantuk malam ini!" ucap Camelia menolak ajakan Dion dengan cara halus.
Dion semakin mendekat dan berbisik di telinga Camelia.
"Ikut ke pesta denganku atau kau akan aku perkosa sampai pagi?" ancam Dion.
"Baiklah, Dion! Aku akan dandan yang sangat cantik agar kau bangga membawaku, hehehe," sahut Camelia terkekeh walaupun saat itu ia sangat dongkol terhadap Dion.
"Bagus! Setidaknya ancamanku bisa membuatmu menjadi wanita yang penurut!" ucap Dion sembari melangkah keluar kamar dengan menyunggingkan senyuman yang menjengkelkan bagi Camelia.
Bbaammm ....
Pintu tertutup dan Camelia segera melemparkan bantal kearah pintu saking kesalnya pada Dion.
"Dasar monster menyebalkan! Seenaknya saja memaksa orang!" gerutu Camelia kesal.
Lalu Camelia mengingat semua cerita Fara mengenai kehidupan yang telah dijalani Dion yang membuatnya merasa sedikit kasihan.
"Haaaahh, aku ralat perkataanku barusan! Dia bukan monster, tapi manusia yang berubah menjadi monster karena kegagalan cinta!" ucap Camelia sembari menghampiri lemari untuk memilih gaun yang akan ia kenakan saat pergi ke pesta bersama Dion.
Selang beberapa saat kemudian, Fara dan Bella masuk ke dalam kamar Camelia.
"Nyonya, anda belum siap dandan?" tanya Bella.
"Aaah, aku tidak tau bagaimana harus merapikan rambutku agar cocok dengan gaun ini!" sahut Camelia.
"Tapi tuan Dion sudah menunggu anda sejak tadi di lantai bawah!" sambung Fara.
"Haaaahh ...." Camelia seolah pasrah bila nantinya Dion akan kesal padanya.
"Biar saya yang selesaikan, hehehe," ucap Bella sembari terkekeh.
"Kau bisa ...."
"Tenang saja, nyonya ... ini perkara mudah bagi saya!" kata Bella mulai merapikan tatanan rambut Camelia agar cocok dengan gaun yang dikenakannya.
Beberapa menit pun berlalu dan Dion sudah tidak sabar untuk menunggu lagi di lantai bawah.
"Kenapa dia lama sekali! Ini sudah hampir jam 9 malam, aku bisa telat gara-gara dia!" gerutu Dion mondar-mandir yang membuat Adrian pusing melihatnya.
"Tuan, acaranya akan dimulai 1 jam lagi, jadi tenanglah sedikit." ucap Adrian.
"Heh, apa kau baru saja membela wanita samaran itu, hah?" gerutu Dion lagi.
"Haaaahh, saya mana berani," sahut Adrian memilih mengalah terhadap majikannya tersebut.
"Bagus, kalau begitu lebih baik kau diam saja!" ujar Dion terus menggerutu sambil mondar-mandir tak jelas.
Di ambang pintu kamarnya, Camelia merasa sedikit gugup sebelum melangkah keluar.
"Ada apa nyonya?" tanya Fara.
"Aku sangat gugup!" sahut Camelia.
"Apa anda tidak pernah pergi ke pesta sebelumnya?" tanya Fara lagi.
"Aku ini hanya wanita yang dibesarkan dengan kehidupan yang melarat, bagaimana mungkin aku pernah pergi ke acara pesta orang kaya?" sahut Camelia.
"Benar juga!" seru Bella.
"Nyonya, tidak perlu khawatir ... di tempat pesta nanti anda hanya perlu tersenyum bila ada yang menyapa dan duduklah dengan tenang saat menikmati hidangan lalu jika tidak ada yang perlu dibicarakan lebih baik diam saja, berpura-pura lah kalau anda sedang menikmati acara pesta itu!" kata Bella menjelaskan secara rinci.
"Bella, kenapa kau bisa mengetahuinya? Apa kau pernah pergi ke pesta orang-orang kaya seperti itu?" tanya Fara heran.
Camelia melihat ekspresi gugup yang tersirat di wajah pelayan centil tersebut.
"A-a-aku hanya pernah melihatnya di film-film saja, hehehe." sahut Bella terkesan gugup saat menjawab.
"Heeem, kenapa Bella terlihat gugup? Apa ada yang dia rahasiakan?" gumam Camelia dalam hatinya.
"Woi..., wanita!!! Kenapa kau lama sekali, hah???" teriak Dion dari lantai bawah yang membuat seisi rumah kaget akan teriakannya tersebut.
"Huh, dasar pria tidak sabaran!" gerutu Camelia sewot.
"Nyonya, ayo cepat turun ... kalau tidak tuan akan murka nanti!" seru Fara.
Camelia pun lantas menuruni anak tangga dengan balutan gaun pesta serta rambut yang tertata rapi. Dion dan Adrian menatap dirinya dengan tatapan mata yang tidak berkedip.
"Wah, dia bahkan lebih cantik dari nyonya Camila!" seru Adrian yang memancing amukan Dion.
Dion menoleh kebelakang dan menatap kesal Adrian.
"Jangan menilai wanitaku!" gerutu Dion dengan tatapan mematikan.
"Ampun, tuan!" ucap Adrian ketakutan.
Dion memalingkan wajahnya dari Adrian dan kembali melihat Camelia yang ternyata sudah berdiri di hadapannya.
"Aku sudah siap." ucap Camelia.
Dion menatap Camelia dengan seksama.
"Benar kata Adrian ... Camelia lebih cantik dan menarik dari Camila! Tatapan dan ekspresi wajahnya yang dingin menjadi suatu ketertarikan untuk memilikinya." gumam Dion dalam hatinya sembari terus menatap Camelia tanpa disadarinya.
"Dion, kenapa kau malah bengong? Tidak jadi ke pesta nih?" tanya Camelia.
Dion tersentak dan langsung memalingkan wajahnya yang sedikit gugup lantaran terpesona melihat kecantikan Camelia.
"Eehheerrmm, ayo kita pergi!" seru Dion setelah mendehem untuk menghilangkan rasa gugupnya.
Dion lantas meraih pergelangan tangan Camelia dan membawanya menuju ke mobil. Semua pelayan termasuk Fara dan Bella tampak senyum-senyum lantaran mereka mengetahui bahwa Dion baru saja terpesona akan kecantikan Camelia.
"Fara, bagaimana kalau nyonya Camelia benar-benar menjadi nyonya dirumah ini?" bisik Bella.
"Itu akan jauh lebih baik daripada nyonya Camila kembali!" sahut Fara.
"Hhaahh, kalau nyonya Camila kembali kerumah ini ... semuanya akan mendapatkan petaka yang besar!" ucap Bella terkesan tidak menyukai istri yang sebenar dari majikannya tersebut.
"Kau benar! Selama nyonya Camelia berada dirumah ini rasanya suasana dirumah sangat tenang ... tidak ada satupun pelayan yang harus dimaki-maki seperti biasanya yang kita lihat dan kita dengar!" sambung Fara.
"Fara, bagaimana kalau kita menjodohkan tuan Dion dengan nyonya Camelia? Aku yakin tuan Dion tidak akan menolaknya! Kau lihat sendiri kan bagaimana ekspresi gugup tuan Dion tadi karena terpesona dengan kecantikan nyonya Camelia." kata Bella.
"Sebelum kau mengatakannya aku sudah memikirkan hal itu!" sahut Fara.
"Apa? Kau sedang menjodohkan mereka berdua!" seru Bella.
"Tentu saja! Semoga saja nyonya Camelia wanita yang tulus mencintai tuan Dion!" sahut Fara.
"Aaaah, aku sungguh kasihan pada tuan Dion karena terus-terusan saja disakiti wanita yang dicintainya, padahal cinta tuan Dion sangat tulus untuk mereka." sambung Fara.
"Hei, apa kau mau membantuku? Sepertinya meluluhkan hati nyonya Camelia tidak semudah yang aku bayangkan!" tanya Fara.
"Kau tenang saja, Fara ... aku akan membantumu demi kebahagiaan tuan Dion dan nyonya Camelia!" seru Bella tampak bersemangat.