Arifah yang masih duduk dibangku Sekolah Dasar seringkali mendapatkan kenakalan teman-temannya bahkan gurunya sendiri pernah sesekali mempermalukannya.
Puncaknya, Aska sebagai saudara kandung Arifah tidak memberitahunya bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal karena kecelakaan sebuah pesawat. Tidak sampai disitu, Aska sebagai keluarga satu-satunya yang ia punya pun juga pergi meninggalkannya. Belum lagi menghadapi anak angkat Mami yang ternyata seseorang yang datang hanya untuk mengambil keuntungan dari keluarganya.
Lalu mampukah Arifah berdamai dengan takdir yang telah digariskan? Dan apakah dengan hadirnya malaikat pelindung disisinya mampu membuatnya menjadi pribadi kuat dan tangguh?
Saksikan kisah selengkapnya ya, jangan lupa like dan vote juga. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sariyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 28 Pak Damang dan Bu Aminah
Arifah menyibakkan tirai jendela kamarnya, pandangannya jauh menerawang keluar jendela. Hari ini adalah hari pertama tanpa Aska, apalagi mengingat ucapan Aska bahwa ia harus terbiasa dengan keadaannya yang sekarang.
Tok.. Tok.. Tok..
Suara ketukan pintu..
"Non, sarapan sudah siap" ucap Bu Aminah.
Hufhh..
"Iya Buk."
Arifah menuju dapur dan menyantap makanannya. Tidak seperti biasanya porsi sarapan dan makan siang Arifah takarannya sama, namun berbeda kali ini tanpa adanya Aska, sarapannya sangat sedikit, tiga suap saja sudah membuatnya sangat kenyang.
"Ayo Pak kita berangkat" ucap Arifah usai menyantap sarapannya.
"Baik non."
Ditengah perjalanan menuju sekolah..
"Pak Damang punya anak?" tanya Arifah mencoba membuka diri dengan Pak Damang. Karena selama Bu Aminah ada dirumahnya Arifah sama sekali belum ngobrol seputar kehidupan Bu Aminah.
"Punya non, tapi sudah menikah semua."
"Berapa anak Bapak?"
"Dua Non, cowok cewek. Namanya Fatimah dan Hasan." ucap Pak Damang sembari melirik Arifah dari kaca spion.
"Oh, jadi dimana mereka sekarang?"
"Mereka tinggal di Bandung Non. Fatimah dan suaminya jualan pakaian, lumayanlah penghasilannya. Kalau Hasan bekerja di showroom mobil, saya bilang sama mereka sedikit banyak rejeki yang datang harus disyukuri karena dengan bersyukur rejeki yang datang itu jadi berkah dan cukup bahkan lebih dari cukup." jelasnya.
Arifah mengangguk-angguk. Sebenarnya ia belum paham dengan apa yang dimaksud Pak Damang, secara selama ini ia tahunya hanya minta dan minta.
"Kenapa Pak Damang tidak ikut salah satunya saja? Dengan begitu Pak Damang dan Bu Aminah tidak perlu susah payah bekerja. Apalagi usia seperti Pak Damang dan Bu Aminah ini sudah seharusnya berada dirumah bersantai bersama cucu. Anak-anak Bapak pasti tidak akan keberatan."
Pak Damang tersenyum sumringah, Arifah belum memahami hidup yang sebenarnya. Namun dalam hati Pak Damang membenarkan ucapan Arifah, tentu dengan senang hati ia dan istrinya bersantai bersama cucu-cucu yang lucu. Namun kesemuanya itu tidak memungkinkan, ia dan istrinya terlahir dari orang biasa dan sangat sederhana bukan seperti Arifah yang mempunyai kekayaan fantastis.
"Kami tidak ingin menyusahkan anak-anak kami Non."
"Mulia sekali hati Pak Damang dan Bu Aminah, semoga suatu hari nanti Pak Damang dan Bu Aminah bisa berkumpul kembali dengan anak-anak Bapak tanpa harus lagi bekerja keras seperti ini." ucap Arifah merasa kasihan dengan keadaan Pak Damang dan Bu Aminah yang harus terpisah jarak jauh dengan anak-anaknya.
"Aamiin, terima kasih Non"
Sesampainya disekolah..
"Jemput saya jam 13.30 ya Pak" ucap Arifah.
"Siap Non" ucap Pak Damang tersenyum ramah sembari meninggalkan Arifah didepan pagar sekolah.
Arifah pun berjalan santai menuju kelas. Matanya fokus pada seseorang, Siska!
Ia mempercepat langkahnya mendekati Siska yang sedang terduduk di taman sekolah bersama teman-temannya. Siska yang sadar akan kehadiran Arifah berlari meninggalkan teman-temannya, tentu saja itu membuat teman-temannya heran. Hei kenapa dia lari!
Arifah ikut berlari mengejar Siska yang ternyata menuju toilet.
"Tunggu Siska!" ucap Arifah ngos-ngosan.
"Hei tunggu!" ucapnya lagi setelah berhasil memegang tangan Siska. Dalam hal berlari Arifah memang juaranya. Ia sering mengikuti perlombaan lari 300 meter hingga 500 meter dan selalu membawa juara satu, dan itu salah satu hal yang membuat Aska bangga padanya.
"Kenapa kamu lari?" tanya Arifah menatap Siska lekat-lekat.
"A aku emm aku.." ucap Siska terbata-bata sembari mengelap keringat dijidatnya.
"Kamu sekolah disini juga?"
"He'em" ucap Siska mengangguk.
"Aku masuk sekolah ini dengan jalur khusus." ucapnya lagi.
Kakinya terasa gatal ingin segera pergi dari hadapan Arifah.
Arifah tersenyum dengan tingkah Siska yang ketakutan.
"Oh, bagaimana Vika?"
Siska menggeleng, tidak tahu.
"Sekarang katakan padaku, apa salah ku pada kalian kenapa tega melakukan itu" ucap Arifah tanpa basa basi, ia sudah tidak sabar ingin mendengar alasan Siska dan Vika yang menurutnya keterlaluan sampai-sampai ia harus berhadapan dengan Pak Hasibuan.
"Aku hanya membantunya saja. Vika tidak memberitahu alasannya padaku, ia yang mengatur semuanya."
Ceklek..
Tiba-tiba pintu toilet terbuka..
Januar!
"Siska, Arifah, ngapain kalian disini. Ini toilet laki-laki." ucap Januar menatap Arifah dan Siska bergantian.
Tanpa menjawab pertanyaan Januar, Arifah menarik Siska keluar toilet.
"Astaga.. astaga.. kenapa kamu membantu dia yang jelas-jelas mau mencelakaiku? Aku hampir diapa-apain sama Pak Hasibuan tau gak!" cecar Arifah kesal.
"Maaf" ucap Siska lirih.
Bel sekolah berbunyi, tanda kelas akan dimulai.
"Besok aku kerumahmu, aku ingin bertemu Vika. Kalian harus menjelaskan semuanya padaku, apa salahku!" ucap Arifah berlalu pergi kekelasnya.
"Duhh bagaimana ini!" gumam Siska menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
Sesampainya didalam kelas pelajaran dimulai. Hari ini pelajaran Bahasa Inggris. Seorang anak perempuan dan anak laki-laki secara berdampingan memperagakan berbicara didepan kelas dengan menggunakan Bahasa Inggris. Arifah berpasangan dengan Tama. Didepan kelas mereka lancar memperagakan dialog tersebut, apalagi Tama fasih berbahasa Inggris itu bukanlah hal yang sulit baginya.
Sedangkan Januar yang berpasangan dengan Maya juga menampilkan hasil yang sangat apik dan mendapatkan riuh tepuk tangan dari teman-teman sekelasnya. Bagaimana tidak Januar adalah sang juara umum disekolah dasar dulu sedangkan Maya meraih juara umum kedua. Dan semenjak saat itu mereka menjadi perbincangan teman-teman satu kelas. Maya senanglah, dan Januar merasa risih dengan ejekan-ejekan teman-temannya yang menurutnya berlebihan.
"Ciee pasangan yang pas, jadian dong.." ucap salah satu siswi centil.
"Aku setuju kalau kalian pacaran, ayolah jadian" tambah yang lain.
"Pacaran! pacaran! pacaran!" sorak mereka bersamaan termasuk Arifah dan Tama bersemangat.
Telinga Januar terasa panas ditambah lagi Arifah ikut mendukung, ia lebih memilih pergi meninggalkan kelas.
Kenapa Pak Deni_ guru Bahasa Inggris memilihku dan Maya menjadi satu pasangan sih kenapa bukan dengan Arifah saja. Dan kenapa pula Arifah dan Tama menjadi pasangan, kenapa bukan dengan ku saja? Sial!
Tama mencuci mukanya berkali-kali, ia sangat kesal hari ini.
Sepulang sekolah didalam bus..
"Januar.."
"Ya!" ucap Tama tanpa melihat Maya, didalam bus ia hanya fokus dengan pemandangan disepanjang perjalanan menuju rumah.
"Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan."
"Katakan saja" ucap Januar acuh.
"Aku lihat Arifah dan Tama sangat dekat sekarang."
"Lalu?"
"Apa kamu akan membiarkan mereka?"
"Tidak, aku akan memikirkan bagaimana caranya mendekati Arifah." ucap Tama melirik Maya sekilas.
"Sudahlah Januar, lupakan Arifah lagipula saat ini kalian berteman kan? Dan aku yakin Tama juga menyukai Arifah, kita juga bisa sama-sama apalagi teman-teman sekelas kita juga mendukung. Jadi menurut aku tidak ada salahnya jika kita mencoba." ucap Maya tanpa malu-malu.
Januar menatap Maya lekat, ia sangat kesal dengan ejekan teman-temannya dikelas tadi ditambah lagi Maya berharap serupa seperti yang lain.
"Apa-apaan sih kamu. Tidak tahu tempat berbicara seperti ini, MEMALUKAN!"
"Untuk apa aku malu, aku memang menyukaimu. Dan jika kamu mau aku bisa teriak sekarang mengungkapkan isi hatiku agar kamu percaya dan mau denganku." ucap Maya menantang Januar.
"Awas saja kalau sampai kamu melakukan itu, aku tidak akan mau berbicara dengan mu lagi." ucap Januar membuang muka, ia berpikir bagaimana caranya bisa menjauh dari Maya.
Hening..
.
.
.
Jangan lupa like 👍 dan selamat membaca 😊
jangan lupa jaga kesehatan jugaa
like nya sudah mendarat
lanjut dan semangat selalu💪😍💜
Semangat tuk karyanya ya kak 🤗❤️