Read this prequel novel first : AKU HARUS BAIK
Berdasarkan kisah nyata atau tidaknya itu terserah bagaimana kalian mempercayainya
18 tahun keatas untuk bisa memahami cerita
Novel ini khusus buat yang open minded
[Peringatan : Diharapkan bisa dalam berpikir dua sudut pandang dan berpikir majemuk sebelum membaca]
[Dukung terus author dengan like, komen, vote, favorit, dan share. Terimakasih]
Ini cerita tentang suatu keharusan kita dalam berperan jahat, bahwa kejahatan dirasa adalah hal yang terbaik dan perlu dilakukan saat itu juga.
Tidak peduli sekeras apapun kita mencoba dalam menghindarinya, pastilah akan ada seseorang yang memang harus berperan jahat didalam kehidupan kita
Dan,
Inilah aku sekarang.
Aku Harus Jahat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon After.Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 27 - Terjebak Pada Kehidupan
Alasan.
Seseorang mempertahankan hubungannya.
Terkadang aku berpikir,
Mungkin. Seseorang itu merasa seakan menjadi bagiannya dan melakukan segala hal untuk berkorban? Seseorang itu hanya ingin membantu? Seseorang itu tidak mempunyai pilihan yang lainnya? Setiap orang mempunyai alasannya tersendiri, dan sayangnya kita tidak bisa membaca apa yang orang lain pikirkan serta rasakan, tidak peduli seberapa keras dalam kita berusaha untuk mewujudkannya. Terkadang. Aku sangat heran kenapa ada seseorang yang terus mempertahankan hubungannya, padahal dia sudah dilukai sampai membekas terlalu dalam? Kenapa seseorang itu tidak melawan atau pergi meninggalkan? Tanaya dan Ferdi adalah yang menunjukkan itu semuanya kepadaku, entahlah aku tidak bisa mengerti siapa yang salah ataupun benar diantara mereka berdua.
Tanaya.
Kulihat dia berjalan. Dikejauhan.
Ceria seperti biasa.
Aku memasukkan bukuku kedalam tas, kemudian berjalan menaiki tangga menuju kelasku, dan sampai disana, aku tidak melihat seorangpun berada diruangan, aku meletakkan tasku, lalu, berjalan kebelakang untuk melihat pemandangan, sebenarnya tidak perlu berjalan kebelakangpun disaat aku membuka pintu sudah bisa melihat pemandangan dengan jelasnya. Langit yang cerah. Biasanya disore harinya akan turun hujan deras, aku memgambil buku dari tasku, lalu, membaca dikursi belakang yang memang terkena sinar matahari, karena aku tidak suka membaca ditempat yang kurang cahaya, aku hanya memakai kacamataku saat diperkuliahan atau dikeadaan tertentu, karena aku tidak percaya diri saat memakainya disetiap waktu dalam keseharianku.
Selesai dari perkuliahan.
"Selesai?" ucap Tanaya, menyentuh lenganku
"Udah" ucapku
Tanaya membuka tasnya, lalu, memberikan cokelat ketanganku, "Coklat. Aku gak mau. Habisin"
"Coklat dari siapa?" ucapku
"Aku gak tau" ucap Tanaya, menggelengkan kepalanya
Dikoridor. Aku berjalan sendirian tanpa seorangpun yang kulihat dibelakang ataupun didepanku, kemudian aku memasukkan coklat pemberiannya itu kedalam saku jaketku, Tanaya memberikannya karena aku menyukai coklat berwarna putih, dan terkadang aku memikirkan perasaan dari seseorang yang mendekatinya, pemberiannya itu malah diberikannya kepadaku. Sudahlah. Aku menuruni tangga sampai kelantai paling bawah, kemudian aku berjalan keluar menuju kolam ikan dan terdiam disana mengamati ikan yang berenang, aku membersihkan pinggiran kolam, lalu, duduk mengamati kembali pemandangan yang kulewatkan.
Melihat ikan dikolam itu membuatku teringat bersama dengannya, apakah ikan itu besar ataupun kecil? Apakah kolam itu besar ataupun kecil? Aku masih belum mampu untuk menentukan bagaimana hidupku nantinya, rasanya itu akan terus menjadi pencarianku sampai kapanpun. Lamunanku semuanya terbuyarkan. Aku melihat bayangan Tanaya dikolam, kemudian aku menoleh kearahnya dan kulihat dia tersenyum, kemudian disaat kualihkan pandanganku dia mendorongku sampai aku hampir terjatuh kekolam, beruntung aku memegang pinggiran kolam dengan satu tanganku saat itu juga, sedangkan dia malah tertawa diatas penderitaan orang lain bukannya membantuku.
"Kenapa belum pulang?" ucapku
"Males" ucap Tanaya
Aku masih harus mengatur nafasku, "Barusan itu hampir"
"Maaf" ucap Tanaya, tersenyum simpul
"Enggak aku maafin" ucapku
"Lagian ngapain kamu disini sendirian" ucap Tanaya
"Biasalah nyari ketenangan" ucapku
Tanaya menepuk pundakku, kemudian berjalan meninggalkanku, "Yaudah. Terusin"
"Lagi ngumpulin niat" ucapku
"Duluan" ucap Tanaya
"Iya" ucapku
...*********...
Matahari perlahan terbenam,
Langit berwarna jingga.
Seperti biasanya aku berjalan ditrotoar, terlihat berbagai kendaraan yang melewatiku berpacu dengan waktu, karena dalam beberapa waktu kedepan itu mereka akan terjebak kemacetan, sebagian orang memilih untuk menepikan kendaraannya sembari menunggu berkurangnya kemacetan, dan sebagian lainnya menikmati nuansa kemacetan, begitulah suasana jalanan disore hari yang selalu kulihat disetiap perjalanan menuju kosanku. Terkadang. Hujan yang deras memaksaku berteduh daripada terus melanjutkan perjalananku, dan saat itu juga, kendaraan yang kulihat dijalanan berkurang pesat, sebagian besar orang lebih memilih untuk tidak menerjang hujan yang deras, sebagian orang lainnya tetap melanjutkan perjalanannya karena hujan memang tidak menyentuhnya bagi mereka yang duduk tenang didalam kendaraannya.
Dikosan.
Handphoneku terlihat menyala dan kulihat ada panggilan yang masuk, aku menerima panggilannya sembari berjalan menaiki tangga, disaat aku membuka pintu kamarku panggilan darinya itu langsung diakhirinya, perempuan cantik itu hanya mengatakan bahwa dia akan datang kekosanku, bahkan aku tidak sempat mengatakan satu katapun. Melelahkan. Aku meletakkan tasku didekat kasurku, dan menggantung jaketku, kemudian aku merebahkan tubuhku dikasur, lalu, menutup kedua mataku secara perlahan untuk tidur sejenak, disaat aku terbangun kulihat perempuan cantik itu menjadikan pahaku sebagai bantalnya, aku menyentuh pipinya, lalu, perempuan cantik itu tersenyum manis kepadaku.
"Emang apa yang gak bisa kamu lakuin?" ucap Safira
Safira melihat kartu hasil studiku, setelahnya meletakkan kembali dirakku, "Indeks prestasimu itu lumayan tinggi"
Safira menatapku lekat,
Aku menatap jauh langit kamarku, "Masih ada banyak orang yang jauh diatasku. Bukannya kamu diatasku?"
"Mengakulah" tambahku
"Kita hampir sama. Berapapun nilainya yang terpenting pertanggung jawabannya" ucap Safira, tersenyum simpul
"Pernyataan yang mendamaikan, padahal jauh diatasku" ucapku
"Iyalah" ucap Safira
Percayalah. Terkadang kita terjebak karena merasa berada diatas orang lain, padahal orang yang kita rendahkan itu sebenarnya jauh melampaui, bahkan sampai kita sendiri tidak bisa untuk mencapainya, dan begitulah sifat manusia yang selalu ingin menguasai dunia, seharusnya mereka itu menguasai dirinya sendiri terlebih dahulu. Manusia yang sombong. Aku mengunci pintu kamarku sedangkan dia sedang berada didalam, kemudian aku membukanya kembali dan kulihat dia yang menyipitkan kedua matanya, rasanya aku ingin sekali tertawa saat melihat raut wajahnya yang kesal, aku memegang tangannya lalu membawanya keluar dari kamarku sembari menahan tawaku.
"Didalem ada orang" ucap Safira
"Maaf gak lihat" ucapku
"Sebenarnya aku bukannya gak kelihatan, tapi, emang kamu yang gak merhatiin, atau sengaja kamu ngelakuinnya?" ucap Safira
"Kesel" ucap Safira
"Kirain suka dikamar makanya aku kunci" ucapku, tersenyum simpul
"Perhatianmu terlalu menyakitkan" ucap Safira
"Makasih" ucap Safira
"Kembali" ucapku
kak thor ngulang baca lagi 🤗 setelah pernah usai
kan gelap....