Tio Yong Ing menghabiskan seluruh hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja tanpa henti, menelan setiap hinaan, dan menyerahkan setiap rupiah yang ia punya — semua demi anak-anaknya. Hasilnya? Di usia 70 tahun, ia terbaring sendirian di panti jompo. Suaminya sudah tiada. Keenam anaknya tak pernah menjenguk. Keponakannya bunuh diri karena tak ada yang melindunginya.
Lalu Yong Ing meninggal.
Dan terbangun lagi — di usia 50 tahun, dengan semua ingatan tentang masa depan yang belum terjadi.
Kali ini, ia tahu siapa yang akan berkhianat. Siapa yang akan menderita. Dan kapan semuanya akan runtuh.
Kali ini, Ibu tidak akan mengalah lagi.
Langkah pertama? Merampas kembali seluruh keuangan keluarga. Langkah kedua? Menyelamatkan menantunya yang sedang sekarat melahirkan — karena di kehidupan sebelumnya, ia terlambat. Langkah ketiga? Membongkar pengkhianatan suami saudara iparnya sebelum terlambat.
Dan itu baru tiga hari pertama.
Di keluarga besar Tionghoa-Indonesia di Semarang, di mana nama keluarga adalah segalanya dan rahasia bisa membunuh — Yong Ing akan membangun kembali segalanya dari nol. Dengan sandal jepit di tangan kanan dan buku tabungan di tangan kiri, ia akan mengubah keluarganya dari pedagang kecil di Pecinan menjadi nama yang disegani di seluruh kota.
Tapi mengubah nasib enam anak yang sudah dewasa ternyata lebih sulit dari yang ia bayangkan. Terutama ketika mereka semua mulai curiga: *sejak kapan Mama jadi setajam ini?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 025: Imlek Pertama
Imlek pertama setelah Margaret kembali terasa seperti napas panjang setelah hujan deras.
Rumah Lim dibersihkan tiga hari sebelum malam tahun baru. Ama memaksa semua orang mengganti kertas merah di dekat pintu. Oscar mengepel sambil mengeluh bahwa lantai tidak akan mengingat jasanya. Vanessa, yang sekarang lebih sering membantu daripada mencari alasan, menyortir piring dan tetap sempat mengomentari setiap retak kecil.
"Piring ini seperti nasibku," katanya. "Retak, tapi masih dipakai."
Margaret meliriknya. "Kalau masih dipakai, berarti masih berguna."
Vanessa terdiam, lalu membawa piring itu ke dapur.
Di buku catatan, angka-angka juga berubah.
Uang bulanan yang berhasil dikumpulkan, uang Tong, uang Png, uang dari urusan Susan, dan tanda jadi dari keluarga Tan semuanya tercatat. Sisa ganti rugi keluarga Tan masih berbentuk surat bermeterai, belum menjadi uang di tangan. Tetapi kalau semua lunas, keluarga Lim akan mengendalikan lebih dari Rp 140.000.000.
Angka itu membuat Daniel duduk lama.
"Dulu, mau beli kulkas saja harus pikir setahun."
Margaret menutup buku. "Makanya jangan biarkan anak-anak kita hidup seperti dulu."
Malam Imlek, meja makan penuh sampai hampir tidak muat. Ada lontong cap go meh, ayam goreng, udang asam manis, bakso, nasi goreng, sayur, tahu, dan sambal yang Oscar jaga seperti menjaga kehormatan pribadi.
Marcus sekeluarga datang. Jenny membawa jeruk. Angela duduk dekat ibunya, wajahnya sudah tidak sepucat setelah batal tunangan. Victor membantu mengangkat minuman.
Jenny memegang tangan Margaret sebentar di dapur.
"Ci Margaret, tahun ini kalau bukan Cici, rumahku mungkin sudah berantakan."
Margaret sedang memotong daun bawang. "Jangan bicara yang berat malam ini. Kalau mau berterima kasih, makan yang banyak."
"Aku memang mau makan banyak."
"Bagus. Air mata tidak mengenyangkan."
Natalie datang dari Ungaran bersama Michael dan bayi kembarnya. Ethan tidur sepanjang jalan. Mia justru menangis begitu melihat terlalu banyak orang.
Ama mengomel, tetapi tangannya terus mengelus pipi bayi.
"Berisik, tapi sehat. Bagus."
Semua anak duduk melingkar. Jason ada di sana, memakai kemeja bersih, rambut disisir. Ia belum banyak bicara sejak urusan Livia. Tetapi malam itu, ketika Oscar menaruh paha ayam terbesar di piringnya, ia tidak menolak.
"Makan," kata Oscar. "Orang patah hati butuh protein."
Jason menatapnya.
Oscar langsung mengangkat tangan. "Aku tidak bilang kamu patah hati. Aku bilang orang."
Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, sudut mulut Jason bergerak sedikit.
Adrian menuang sedikit bir untuk adiknya.
"Minum sedikit. Jangan banyak. Besok kalau kepalamu sakit, Mama tetap suruh cuci piring."
Jason menerima gelas itu.
"Ko, aku gagal ya?"
Adrian berhenti sejenak.
"Kamu gagal memilih orang. Itu beda dengan gagal jadi manusia."
Jason menatap gelasnya lama, lalu minum satu teguk.
Daniel mengeluarkan angpao.
Satu per satu anak menerimanya. Adrian menerima dengan wajah orang dewasa yang tetap senang diberi uang. Vanessa langsung bertanya apakah menantu dapat jatah penuh. Ama memukul meja dengan sumpit dan berkata kalau banyak bicara angpao bisa ditarik.
Sophie duduk di samping Elisa.
Ketika Daniel menyerahkan angpao padanya, tangannya berhenti di udara.
"Untukku?"
Daniel mengangguk. "Kamu juga anak rumah ini."
Sophie menerima amplop merah itu dengan dua tangan. Jarinya gemetar. Matanya cepat sekali basah, tetapi ia menunduk sebelum airnya jatuh.
Margaret pura-pura sibuk mengambil udang.
Elisa pelan-pelan menyentuh siku Sophie.
"Simpan di bawah bantal. Katanya biar mimpi bagus."
Sophie melihat amplop merah di tangannya. Setelah lama, ia berbisik, "Kalau mimpi buruk?"
Elisa menjawab tanpa berpikir, "Bangun, lalu makan sisa udang."
Sophie menunduk. Bahunya bergerak kecil, seperti hampir tertawa.
Malam itu, pengeluaran angpao dan belanja Imlek hampir Rp 5.000.000. Kalau dulu, angka itu bisa membuat seluruh rumah ribut seminggu. Sekarang Margaret hanya mencatatnya sebagai biaya membuat keluarga ingat bahwa mereka masih hidup.
Setelah makan, anak-anak kecil tertidur di tikar. Orang dewasa masih duduk sambil mengupas jeruk. Ama mulai bercerita tentang Imlek ketika Daniel masih kecil, bagaimana dulu satu ekor ayam harus dibagi untuk dua keluarga. Daniel mendengarkan dengan wajah yang jarang lembut.
Margaret melihat semua itu dan merasa sesuatu di dadanya perlahan turun ke tempatnya.
Rumah ini masih berisik.
Masih banyak masalah.
Tetapi malam itu, tidak ada yang kelaparan, tidak ada yang diusir, dan tidak ada anak yang merasa dirinya tidak punya tempat duduk.
Keesokan paginya, mereka pergi ke Sam Poo Kong.
Udara Semarang lembap, halaman kelenteng ramai, dan warna merah memenuhi mata. Margaret berjalan pelan di antara keluarga. Di tangannya ada hio. Di belakangnya, anak-anak berbicara pelan, sandal bergesek di lantai, suara orang berdoa bercampur denting kecil dari altar.
Oscar sibuk memastikan semua orang tidak salah arah. Elisa menggandeng Sophie agar tidak terdorong keramaian. Jason berjalan paling belakang, sesekali mengangkat bayi Mia ketika Natalie kelelahan. Tidak ada yang membahas Livia. Itu juga bentuk belas kasih.
Di depan altar, Margaret memejamkan mata.
Ia tidak meminta kaya.
Ia sudah tahu uang bisa dicari.
Ia meminta Daniel panjang umur.
Ia meminta Sophie tidak kembali ke jalan gelap yang pernah menelannya.
Ia meminta enam anaknya hidup baik, meski tidak selalu menurut, meski kadang membuat kepala ibunya nyeri.
Saat membuka mata, pandangannya kabur.
Ia cepat menunduk, seolah asap hio membuat matanya perih.
Di halaman luar, dekat gerbang, ia melihat Sophie berdiri bersama Clara. Clara membawa kantong kacang, mulutnya bergerak cepat seperti biasa. Sophie mendengarkan.
Lalu Clara mengatakan sesuatu.
Sophie tersenyum.
Bukan hanya sudut bibir yang naik sedikit seperti di pasar.
Kali ini, senyum itu benar-benar terlihat.
Margaret berhenti melangkah.
Daniel berdiri di sampingnya. "Kenapa?"
"Tidak apa-apa," kata Margaret.
Tetapi suaranya serak.
Hari ketiga setelah Imlek, rumah mulai kembali normal. Piring besar disimpan. Jeruk yang tersisa mulai keriput. Anak-anak kembali ke urusan masing-masing.
Margaret memanggil Jason ke ruang tengah.
Jason datang dengan wajah masih lelah, tetapi matanya lebih jernih.
"Kerjaanmu di bengkel BUMN," kata Margaret, "jual saja."
Jason membeku.
"Jual? Kalau aku jual, aku kerja apa?"
Margaret menatapnya.
"Ikut Mama berdagang."
Mulai tahun ini.