Tiga tahun lalu, Reno Wijaya dituduh melakukan kejahatan yang tidak pernah ia lakukan oleh keluarga angkatnya sendiri demi menyelamatkan putra kandung mereka. Dipaksa menjadi menantu numpang di keluarga kelas menengah, Reno diperlakukan seperti pelayan, dihina oleh ibu mertuanya, dan dianggap suami "tidak berguna" oleh orang-orang di sekitarnya. Namun, satu-satunya alasan Reno bertahan dan berpura-pura menjadi orang miskin adalah untuk melindungi istrinya, Alya, perempuan polos yang pernah menyelamatkan nyawanya.
Puncaknya terjadi ketika keluarga mertuanya memaksa Alya untuk menceraikan Reno demi menikahkan Alya dengan seorang pria kaya raya yang sombong. Di hari yang sama ketika surat cerai disodorkan ke wajahnya, organisasi rahasia terbesar di dunia—Grup Naga Hitam—akhirnya menemukan keberadaan Reno.
Ternyata, Reno bukanlah orang biasa. Dia adalah Tuan Muda Penguasa Tunggal dari keluarga terkaya di benua ini yang sengaja menghilang untuk menyelesaikan misi rahasia.
Begitu batasan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deddy kris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Serangan Siber dan Langkah Balasan
Pesan ancaman dari Valerius Stone, petinggi Sirkuit Ouroboros, yang meretas layar lobi utama Gedung Konsorsium Naga Hitam, meninggalkan gelombang kejut yang nyata. Meski Alya berusaha tampil tegar di hadapan para karyawan, Reno tahu bahwa ketenangan istrinya terusik.
Segera setelah kejadian itu, Reno membawa Alya kembali ke *penthouse* pribadi mereka di lantai teratas yang memiliki sistem keamanan paling canggih di dunia. Di sinilah mereka sekarang, di ruang keluarga yang luas, namun atmosfernya terasa mencekik.
Alya duduk di sofa sutra, wajahnya masih sedikit pucat. Jemarinya mencengkeram cangkir teh hangat yang diberikan Reno, mencoba mengusir rasa dingin yang merayapi tubuhnya. Bayangan wajah dingin Valerius di layar raksasa itu terus terbayang di benaknya.
Reno duduk di sampingnya, jubah tidur sutra hitamnya berkibar pelan terkena hembusan AC. Wajahnya datar, namun sepasang matanya yang tajam memancarkan pendar kemarahan yang tertahan. Penyamaran tiga tahunnya penuh dengan hinaan fisik dan verbal, namun itu semua tidak ada artinya dibandingkan dengan ancaman langsung terhadap wanita yang paling dicintainya.
"Siapa mereka sebenarnya, Reno?" suara Alya terdengar bergetar, memecah keheningan. "Pria itu... Valerius Stone... dia menatapku seolah-olah aku adalah barang dagangan yang siap dihancurkan."
Reno menghela napas panjang, merangkul bahu Alya dan menariknya ke dalam dekapannya yang hangat dan protektif. "Mereka adalah Ouroboros, Sayang. Sindikat gelap global yang beroperasi di bayang-bayang peradaban modern. Mereka menguasai jalur logistik ilegal, pencucian uang, dan spionase industri."
"Dan Klan Cendana...?"
"Cendana hanyalah bidak kecil mereka di Asia Tenggara. Penghancuran Cendana yang kita lakukan telah memutus aliran dana utama Ouroboros. Itulah mengapa mereka murka," jelas Reno jujur. Ia tidak ingin lagi menyembunyikan sisi gelap dunianya dari Alya, karena kini Alya adalah bagian dari dunia itu.
Alya menyandarkan kepalanya di dada bidang Reno, menghirup aroma maskulin yang menenangkan. "Aku takut, Reno. Bukan takut untuk diriku sendiri, tapi takut... kalau mereka berhasil memisahkan kita."
Reno mencium kening Alya dengan penuh kasih sayang, pendar janji suci berkelebat di matanya. "Aku bersumpah di atas nyawaku dan takhta Naga Hitam, Alya. Tidak akan ada satu pun dari mereka yang bisa menyentuhmu. Ouroboros berpikir mereka bisa bermain di bayang-bayang melawanku. Mereka akan segera tahu, bahwa Naga Hitam-lah yang menguasai kegelapan."
*Klek.*
Pintu *penthouse* terbuka perlahan, dan Bagas masuk dengan langkah tergesa-gesa. Wajah tangan kanan Reno itu tampak tegang, iPad di tangannya menampilkan data yang berkedip merah.
"Tuan Muda, ada perkembangan darurat siber," lapor Bagas tegap seraya membungkuk hormat.
"Bicaralah, Bagas. Jangan ada yang disembunyikan dari Permaisuriku," perintah Reno dingin.
Bagas mengaktifkan layar proyektor holografik di tengah ruangan. Sebuah grafik kompleks muncul, menampilkan jalur pertahanan siber Naga Hitam yang sedang dihantam gelombang serangan tanpa henti.
"Sirkuit Ouroboros tidak membuang waktu. Segera setelah pesan ancaman tadi, mereka meluncurkan serangan Siber Skala Penuh tingkat lima," Bagas menjelaskan cepat. "Ini bukan serangan DDOS biasa. Mereka menggunakan peretas-peretas elit tingkat global untuk menembus 'Firewall Naga' kita."
"Apa target utama mereka?" tanya Alya, ikut menegang.
"Ada dua target utama, Nona," jawab Bagas serius. "Pertama, mereka mencoba melumpuhkan sistem keuangan pusat Konsorsium, memblokir akses ke dana likuid kita di seluruh dunia. Kedua... mereka sedang mencoba menembus database Divisi Pengembangan Sosial yang dipimpin oleh Nona Alya."
"Program investasiku?!" Alya tersentak. "Dana seratus triliun rupiah itu...?"
"Benar, Nona. Ouroboros ingin mencuri atau setidaknya membekukan dana tersebut untuk membalas dendam atas kerugian mereka akibat jatuhnya Cendana. Jika mereka berhasil, ribuan proyek pendidikan dan kesehatan di wilayah berkembang akan runtuh sebelum dimulai," pukas Bagas.
Aura dingin nan mematikan mendadak menguar dari tubuh Reno, membuat suhu di ruangan mewah itu terasa menurun drastis. Mengejar Naga Hitam secara bisnis adalah satu hal, namun mencoba mencuri dana yang didedikasikan Alya untuk kemanusiaan adalah garis merah yang tidak boleh dilewati.
"Peretas global, katamu?" Reno menyeringai dingin, sebuah seringai mengerikan yang menandakan sang Naga siap mengamuk. "Mereka berpikir mereka paling hebat karena beroperasi di kegelapan internet."
Reno berdiri dari sofa, melangkah mendekati layar holografik. Jubah sutranya berkibar pelan, memancarkan dominasi yang mutlak.
"Bagas, aktifkan Protokol 'Mata Naga'," perintah Reno rendah, namun setiap katanya terdengar bagaikan *geraman* yang mematikan.
"Protokol 'Mata Naga', Tuan Muda?" Bagas tertegun sejenak. Mata Naga adalah divisi spionase dan *counter-hack* elit tingkat tertinggi Naga Hitam, yang terdiri dari peretas-peretas terbaik di dunia yang direkrut Reno secara pribadi selama masa penyamarannya.
"Berikan mereka akses penuh ke seluruh *Firewall Naga*. Biarkan Ouroboros menembus pertahanan luar kita," lanjut Reno dengan nada licik nan berbahaya.
Alya dan Bagas menatap Reno dengan bingung. Membiarkan musuh menembus pertahanan?
"Reno... apa yang kamu rencanakan?" tanya Alya cemas.
Reno menoleh ke arah Alya, senyuman hangat yang kontras dengan aura dinginnya terbit di bibirnya. "Tenanglah, Permaisuriku. Mata Naga bukan pertahanan. Mereka adalah pemburu."
Reno kembali menatap hologram. "Biarkan peretas Ouroboros masuk ke 'perangkap madu' Mata Naga. Saat mereka sibuk menyerang data palsu, Mata Naga akan melacak balik sumber serangan mereka. Aku ingin lokasi presisi dari server utama Ouroboros dan... lokasi Valerius Stone saat ini juga."
Mata Bagas berbinar menyadari kecerdasan taktis Tuan Mudanya. Ini bukan pertahanan siber biasa; ini adalah operasi serangan balasan yang mematikan.
"Laksanakan Protokol 'Mata Naga' sekarang, Bagas. Aku ingin dunia tahu, bahwa di jagat siber pun, Naga Hitam adalah pemangsa tertinggi," pukas Reno dingin.
"Petunjuk dipahami, Tuan Muda! Mata Naga siap berburu!" tegas Bagas seraya melangkah cepat keluar dari *penthouse*.
Reno kembali duduk di samping Alya, merangkulnya erat-erat. "Ancaman mereka siber, Alya. Tapi balasan dariku akan nyata. Dana investasimu, visi mulia kita, dan yang terpenting... keselamatanmu... itu semua adalah hal suci yang akan aku pertahankan dengan cara apa pun."
Alya menatap Reno dengan pendar kekaguman dan cinta murni. Di balik jubah sutranya, di balik wajah tampannya, Reno adalah naga penguasa yang siap menghanguskan dunia demi dirinya. Dengan Reno di sisinya, badai Ouroboros tidak lagi terasa begitu menakutkan. Pertarungan sesungguhnya baru saja dimulai, dan Naga Hitam siap untuk melahap musuh-musuhnya.