Target gue cuma satu,Lulus Skripsi. Tapi, gara-gara Abang kurir salah kirim paket barang ilegal, gue malah berurusan sama Arka, bos mafia paling ditakuti.
Bukannya dihabisin, gue malah disandera dan dipaksa jadi asisten pribadinya dengan ancaman gila, "selesaikan skripsimu, atau hidupmu tamat detik ini juga!"
Asli, kepala gue rasanya mau pecah, udah pusing mikirin revisian dosen killer, ditambah harus ngadepin bestie halu, Bara si bodyguard sedingin kanebo kering, dan Dino yang otaknya suka buffering pas lagi genting.
"Mas, tolong dong, mas.."Suara gue bergetar nahan nangis."Gue cuma mau revisi, bukan mau cari mati."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Interupsi Maut dan Tenggat Makalah
SUV hitam lapis baja itu melesat ugal-ugalan membelah jalanan kota.
Bara membanting setir tajam tanpa ragu, menyalip dua mobil sekaligus. Di sebelahnya, jari Dino menari liar di atas keyboard laptop, meretas lampu lalu lintas di depan mereka menjadi hijau terus-menerus agar laju SUV tidak perlu melambat sedetik pun.
Di jok belakang, Rara meremas lututnya erat. Napasnya memburu keras. Otaknya dipenuhi bayangan Beby yang sedang sendirian di apartemen, menangis ketakutan karena dikepung pembunuh bayaran Victor.
Klik. Klik.
Bunyi logam beradu itu membuat Rara nyaris muntah saking paniknya. Di sebelahnya, Arka justru duduk kelewat tenang. Pria berdarah dingin itu sibuk memasukkan peluru ke dalam magazin pistol Glock 19 miliknya dengan gerakan presisi.
Sadar napas Rara makin tidak beraturan, pergerakan tangan Arka terhenti.
Pria itu menoleh. Tanpa mengatakan apa-apa, tangan besarnya yang sedingin marmer langsung menyambar jemari Rara yang gemetaran.
"Sudah saya bilang, temanmu aman," suara Arka terdengar pelan tapi mutlak, memancarkan aura yang menuntut kepatuhan. Ibu jarinya mengusap kaku punggung tangan Rara, memaksakan ketenangan ke dalam diri gadis itu. "Bara, berapa lama lagi?"
"Dua menit, Bos," sahut Bara kaku tanpa melihat ke spion. "Kita masuk lewat pintu bongkar muat belakang."
"Gue udah ngunci total lift sama tangga darurat," lapor Dino dari depan. "Tikus-tikus Victor terjebak di lantai lima. Mereka belum sempet ngejebol pintu Beby."
Drrrrt... drrrrt!
Ponsel di dalam tas Rara tiba-tiba bergetar nyaring. Rara melonjak kaget, buru-buru menyambar tasnya. Jantungnya serasa merosot ke lambung saat melihat nama yang tertera di layar.
Pak Baskoro Dosen Killer.
"Kenapa tidak diangkat?" Arka melirik tajam.
"I-ini dosen gue!" bisik Rara makin panik, wajahnya nyaris menangis. "Dia pasti mau ngamuk soal revisi bab empat gue!"
"Angkat. Jawab senormal mungkin," perintah Arka absolut.
Rara menekan tombol hijau dengan tangan bergetar, menempelkan ponsel ke telinga. "Ha-halo... se-selamat pagi, Pak."
"Selamat pagi dari mana, Rara?! Kenapa kamu tidak ada di kampus?! Mana revisi bab empat yang janjinya mau dikumpul pagi ini?!" Suara bariton Pak Baskoro langsung menyembur galak.
"Maaf, Pak. Saya... saya lagi sakit perut parah, keracunan makanan. Ini lagi di jalan menuju klinik."
"Bos, ada van hitam musuh ngeblok jalur masuk basemen!" teriak Dino mendadak.
"Tabrak," perintah Arka tanpa emosi.
Bara menginjak pedal gas dalam-dalam.
BRAK! CKIIIT!
Bemper baja SUV mereka menghantam sisi van musuh dengan brutal sampai van itu terpental menabrak pilar beton. Rara memekik kencang. Tubuhnya terpelanting ke samping dan langsung ditangkap oleh lengan kokoh Arka yang menguncinya agar tidak membentur kaca.
"Suara apa itu, Rara?! Kayak ada tabrakan! Katanya kamu di jalan ke klinik?!" bentak Pak Baskoro curiga dari seberang telepon.
"Eh, bukan, Pak! I-ini supir taksi online-nya lagi nyetel film action kenceng banget!" Rara memejamkan mata erat-erat, merutuki kebohongannya yang makin ngawur.
Di kursi depan, Dino melongo sesaat. Begitu otaknya berhasil memproses alasan itu, ia langsung menunduk menahan tawa, sementara Bara tetap menyetir sedatar tembok beton.
"Bapak tidak mau tahu! Kalau besok pagi revisi bab empat kamu tidak ada di meja Bapak, jangan harap saya mau ACC judul skripsi kamu! Paham, Rara?!"
"P-paham, Pak. Besok pasti dikumpul."
Tut. Sambungan dimatikan sepihak. Rara merosot menyandar ke jok, wajahnya memerah menahan malu sekaligus jantungan.
Arka mendengus pelan, menatap Rara datar. "Film action? Alasan yang sangat payah."
"Diem deh lo! Gue lagi mempertaruhkan masa depan skripsi gue di sini!" sewot Rara, napasnya naik turun.
SUV mengerem kasar dan berhenti sempurna di area bongkar muat apartemen yang sepi. Bara langsung mencabut pistolnya, disusul Arka.
"Bos, dua van musuh lainnya baru saja masuk ke kompleks depan. Basemen ini akan dikepung dalam dua menit," lapor Dino panik sambil memantau layar.
Arka mengutuk pelan. Meninggalkan Rara di dalam mobil kini sama saja dengan menyajikannya sebagai target empuk. Pria itu membuka pintu, lalu menarik tangan Rara dengan kasar.
"Turun. Area ini sudah tidak aman," perintah Arka tajam. "Jalan tepat di belakang saya. Jangan berani bergeser satu sentimeter pun dari punggung saya, atau kau mati."
Rara mengangguk cepat. Ia mengekor rapat di belakang Arka, sementara Bara memimpin di depan, mengamankan jalur tangga darurat.
Mereka menerobos naik hingga ke lantai lima. Begitu Bara menendang pintu darurat hingga terbuka, terlihat empat preman kekar sedang beringas mencongkel pintu apartemen Beby menggunakan linggis.
Arka dan Bara tidak membuang sedetik pun.
Bara melesat tanpa suara, mematahkan leher preman pertama dari belakang dengan satu putaran brutal, lalu menendang dada preman kedua hingga pria itu terlempar menabrak dinding dan tak sadarkan diri.
Preman ketiga tersentak dan baru mau mencabut pistol dari balik jaketnya. Namun Arka lebih cepat. Tanpa berkedip, bos mafia itu menembak tepat di tempurung lutut preman tersebut, disusul tendangan mematikan ke rahang yang langsung meremukkan tulang wajahnya.
Preman terakhir yang memegang linggis mengayunkan senjatanya dengan panik. Arka merunduk mulus, lalu menangkap lengan preman itu dan memelintirnya hingga terdengar bunyi patahan tulang yang mengerikan. Pria itu dibanting keras ke lantai, langsung pingsan.
Baku hantam berdarah itu selesai dalam waktu kurang dari sepuluh detik. Efisien, kejam, dan sangat senyap.
Rara langsung berlari melewati punggung Arka, menggedor-gedor pintu apartemen yang kayunya sudah penyok sana-sini. "Beby! Ini gue, Rara! Buka, Beb! Udah aman!"
Klik. Kriet...
Pintu terbuka perlahan. Beby muncul dengan wajah sembap, ingus meler, dan tangan gemetar memegang sebuah wajan teflon anti lengket sebagai senjata. Begitu melihat Beby, Rara langsung melempar wajannya dan memeluk sahabatnya itu erat-erat sambil mewek keras.
"Raaa! Gue takut banget, gila! Mereka nyongkel pintu gue!" racau Beby histeris.
"Udah, udah, lo aman sekarang," Rara menepuk-nepuk punggung sahabatnya.
Beby perlahan melepaskan pelukannya. Sambil sesenggukan, ia melirik ngeri ke arah lorong. Matanya membelalak melihat empat preman raksasa sudah tergeletak berantakan tak bernyawa.
Pandangannya kemudian beralih pada Bara yang berdiri kaku membersihkan noda darah di jasnya, lalu pada Dino yang baru menyusul dari tangga dengan napas terengah-engah, dan terakhir... tatapannya terkunci pada sosok Arka yang sedang menyarungkan pistol Glock-nya dengan ekspresi sedingin es.
Ajaibnya, rasa takut di wajah Beby mendadak luntur tak berbekas. Matanya yang sembap langsung berbinar-binar. Dengan gerakan heboh, ia menarik-narik ujung kemeja Rara dan berbisik nyaring.
"Ra..." bisik Beby histeris, "ini rombongan mafia yang nyulik lo waktu itu, kan?! Gila, aslinya lebih bening dari bayangan gue! Apalagi bosnya yang tengah tuh, damage-nya parah banget woy! Lo udah sampein salam dari gue belum?!"
Rara spontan menepuk jidatnya pasrah, rasanya ingin pura-pura pingsan saja. Di tengah situasi nyawa yang nyaris melayang, urat takut sahabatnya itu malah putus total cuma gara-gara melihat visual Arka.
Sementara itu, Arka sama sekali tidak tersenyum. Pria itu melipat tangannya di dada, menatap Beby dengan sorot mata dingin.
Arka lalu menoleh pada Rara dengan tatapan datar. "Kau menangis histeris hanya untuk menyelamatkan perempuan tidak berotak ini?" tanyanya dingin, muak.