VOLUME 1 : KUTUKAN DEVIAN (SUDAH TERBIT!)
Billie, gadis 17 tahun cucu dari seorang detektif terkenal, nekat menyamar menjadi murid laki-laki di sekolah asrama khusus pria. Dia mengemban misi untuk memecahkan kasus bunuh diri beruntun yang menggemparkan disana.
Desas-desus yang ada mengatakan bahwa semua kejadian ini adalah kutukan Devian, seorang murid yang pertama kali memulai percobaan bunuh diri. Dengan ditemani Ken, Detektif yang sedikit mesum, di sekolah barunya ini Billie menemukan banyak hal mencurigakan dan juga mendebarkan. Dari mulai teman sekamarnya yang bernama Ice; senior misterius yang dikenal sebagai Pangeran Es karena sikap dinginnya, Joshua; senior playboy yang blak-blakan mengaku gay dan jatuh cinta pada Billie di pandangan pertama, dan terakhir Godfrey; senior sok berkuasa yang disegani semua murid.
Satu hal yang harus Billie pecahkan, apakah semua korban memang benar-benar bunuh diri atau justru ini adalah sebuah kasus pembunuhan berantai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Robin.Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
File 27 : Pengakuan Mantan Sahabat
Masih di ruang interogasi sel tahanan.
"Aku tidak datang kesini tidak untuk bercanda, Godfrey!" Billie menekan nada bicaranya dan menatap Godfrey tajam.
"Saat kau menuduhku bahwa tujuanku bersekolah di Diamond High adalah karena Devian, ya itu memang benar! Tapi tujuanku bersekolah di sana bukanlah sebagai fangirl yang penasaran ingin dekat dengan calon idola seperti kalian! Tujuanku adalah untuk nenyelidiki kasus percobaan bunuh diri Devian dan kematian 3 penghuni lainnya!"
"Heh, yang benar saja!" Godfrey terkekeh sambil memandang remeh.
"Kau boleh tak percaya dan meremehkanku tapi aku tahu siapa dirimu! Aku sudah menyelidiki asal usulmu. Namamu Godfrey Lee, siswa kelas 12 jurusan seni akting, Ayahmu adalah CEO dari Lee Corporation, mengepalai perusahaan yang bergerak di bidang Broadcasting, Entertainment dan Pertelevisian di negara ini. Kau memiliki adik perempuan yang berkuliah di Harvard dan..."
"Baiklah HENTIKAAAN!" Godfrey yang tampak tertekan menutup kedua telinganya. Mendengar nama keluarganya disebut membuat penyesalan dalam dirinya datang kembali. Dia sadar perbuatannya sudah menghancurkan nama baik keluarganya dan tak perlu diingatkan lagi.
"Aku memang menginginkan kematian Mila dari dulu... Wanita jadi-jadian itu seperti lintah yang menempel dan menghisap darahku! Dia dengan kekuasaan dan pengaruhnya sebagai guru, tak hanya menghambat karirku dengan nilai buruk yang diberikannya, dia juga menjadikanku sebagai objek fantasi seksualnya. Aku rasa bukan hanya aku saja yang menjadi korbannya, predator seperti itu sangat menjijikan! Dia pantas untuk mati." Ujar Godfrey berapi-api.
"Kau bukan Tuhan, Godfrey! Kau tidak berhak main hakim sendiri! Jika kau menjadi korban kejahatan seksual atau apapun itu, kenapa kau tidak melapor polisi? Semua orang berkedudukan sama di mata hukum!"
"Lapor polisi? Heh, apa kau gila?" Ucapan Billie malah Godfrey semakin emosi.
"Dengar Ayahku akan memilih aku mati daripada membuat skandal yang mencoreng nama keluarga! Meskipun aku yang menjadi korban tetap saja hal itu memalukan! Lagipula Ayah masih punya Kathryn! Adikku Kathryn selalu lebih baik dariku! Dia jeniud sedangkan aku... satu-satunya kelebihanku hanya penampilan saja..." Godfrey berkata lirih, tak sanggup lagi menatap mata Billie.
"Jika targetmu hanya Mila, lalu bagaimana dengan tiga orang yang lainnya? Bagaimana dengan Devian? Dia adik dari Ice, temanmu sendiri! Kau tahu meskipun mereka memiliki hubungan yang tidak kau pahami. Kau hanya orang luar tidak berhak ikut campur dan menghakimi mereka apalagi menyiksa fisik dan jiwa mereka hingga kehilangan nyawa!"
Kini giliran Billie yang berkaca-kaca. Entah kenapa di situasi seperti ini tiba-tiba wajah Ice muncul dalam pikirannya. Pria yang sempat membuat hatinya berdebar aneh karena ciuman itu dalam waktu singkat membuat hatinya merasa remuk. Terlebih saat Billie mengetahui pria itu terlibat cinta terlarang dengan adik tirinya sendiri.
Detak jam dinding di dalam ruangan terdengar begitu kencang. Mereka berdua hanya terdiam dalam suasana yang canggung hingga kemudian Godfrey kembali membuka suara.
"Kau memang benar! Jujur saja aku pun tak pernah berharap mereka untuk bunuh diri. Tujuan awalku hanya ingin agar mereka segera keluar dari sekolah! Semua yang terjadi semua diluar rencana dan kuasa ku! Tapi asal kau tahu Devian tidaklah sepolos yang kau kira!" Ucapnya sambil menatap Billie lekat.
"Ada beberapa hal yang belum sepenuhnya ku ceritakan padamu tentangnya. Awalnya aku kira Devian itu hanya seorang pemuda gay atau transgender tapi belangan aku pikir dia adalah seseorang yang memiliki kepribadian ganda.”
“Kepribadian ganda? Apa maksudmu?”
“Jika Devian adalah kepribadiannya yang seorang pemuda lugu, pendiam dan penakut, dia punya kepribadian lain yaitu Devina! Seorang gadis yang genit dan penggoda, sama sepertimu!
"HEI! AKU INI BUKAN GADIS PENGGODA! KAU SENDIRI YANG BERNIAT MEMPERKOSAKU!" Bentak Billie murka. Dia bangkit dari kursi dan mengepalkan tangannya erat, ingin sekali meninju wajah menyebalkan pemuda di depannya.
"Baiklah... baiklah aku sungguh minta maaf padamu.. gadis detektif! Aku memang berhak mendapatkan hukuman dari perbuatanku padamu, tapi apa kau masih ingin mendengar penjelasanku?," tanya Godfrey sebelum melanjutkan ceritanya.
"Tanpa sepengetahuan Ice, dengan mengandalkan kecantikan dan kemiripannya dengan perempuan Devian menggoda banyak siswa di sekolah. Dia bahkan sempat menggodaku... Tapi tentu saja aku tolak mentah-mentah karena aku jelas bukan gay! Sedangkan siswa yang lain... Heh, mereka payah! Kau tahu sendiri, kita semua terkurung dalam bangunan asrama sekolah yang seluruh isinya laki-laki. Ditambah lagi dengan segala peraturan ketat dari agensi yang membatasi kami untuk berkencan dengan lawan jenis. Sedangkan masa remaja adalah masa pencarian jati diri termasuk dalam hal orientasi seksual. Karena hormon dan ***** tak terkendali, dua orang siswa yaitu Luke dan Noah berhasil tergoda olehnya. Aku sudah menceritakan pada Ice tentang kelakuan adik tirinya itu. Tapi dasar bodoh, Ice tak pernah mendengarkanku!"
"Jadi apakah dari situ kau mulai menggerakkan siswa lain untuk membuli Devian?," tuduh Billie.
"Tidak! Bukan karena itu alasannya! Biarkan aku lanjutkan dulu ceritaku, oke?! Dari dua kepribadian Devian yang bertolak belakang, dia memiliki satu lagi kepribadian yang paling berbahaya... yaitu The Devil!"
"The Devil? Apa maksudmu?" Billie mengkerutkan keningnya heran.
"Asal kau tahu saja yang memulai cyberbully di sekolah bukanlah aku tapi Devian!"
"Devian? Bagaimana bisa?!".
"Karena aku menolaknya mentah-mentah! Suatu hari entah karena kecewa atau sakit hati dia mengirimiku sebuah video. Video skandal **** diriku yang entah bagaimana dia dapatkan dari Mila. Tentu saja yang dia lakukan itu bukanlah untuk menolongku dari jeratan Mila, dia justru mengancam untuk menyebarkannya jika aku tak mau menuruti permintaannya. Kami terlibat perkelahian hingga suatu ketika di atap menara sekolah aku tak sengaja mendorongnya hingga jatuh..." Godfrey mengakhiri kalimatnya dengan suara lirih.
"Ja- jadi... yang terjadi pada Devian bukanlah percobaan bunuh diri tapi sebenarnya ulahmu?! KAU YANG MENCOBA MEMBUNUHNYA!," pekik Billie geram.
"DENGAR! AKU SAMA SEKALI TAK BERNIAT UNTUK MEMBUNUHNYA, MENGERTI! Itu hanyalah emosi sesaat!" Godfrey mencoba membela diri.
"Sialnya saat aku turun tangga dari menara, Ice sempat berpapasan dengan ku. Semenjak itu lah dia mulai mencurigaiku dan bersikap memusuhiku! Si Bodoh itu lebih percaya dan memilih adik tirinya daripada aku sahabatnya sendiri! Dari situlah hubungan persahabatan kami jadi renggang... Sekarang aku sudah kehilangan semuanya, sahabatku, nama baik diri ku dan keluargaku, dan juga masa depanku...," lanjutnya sambil menunduk lesu.
"Lalu apa yang terjadi pada korban lainnya, Godfrey? Kenapa setelah Devian mereka juga memutuskan mengakhiri hidupnya... Apa mereka sengaja mengikuti jejak Devian?"
"Apa menurutmu itu sengaja? Heh...," Godfrey kembali terkekeh. "Sepertinya kau belum paham juga! Sudah kubilang Devian sangat berbahaya! Bocah itu sakit jiwa! Dia bisa melakukan apa saja! Tidak hanya berakting sebagai wanita dan menggoda siswa di sekolah, dia juga bisa mengancam dan mungkin saja MEMBUNUH! Dialah yang mungkin orang yang kau cari selama ini! Dalang dibalik kegilaan ini semua!" Godfrey menggertakan giginya penuh amarah.
"Bagaimana kau bisa menyimpulkan hal itu!"
"Tentu saja, karena selama 3 bulan semenjak dia koma dia masih menghubungiku via sms dan email! Awalnya aku pikir Ice lah yang mengirimkan ancaman email itu, tapi saat aku melihat Ice dan Josh berkelahi memperebutkan dirimu di taman belakang sekolah, anehnya diwaktu yang sama aku juga mendapatkan email serupa. Disitulah aku sadar bahwa bukan Ice pengirimnya."
"Jika apa yang kau katakan semua itu benar, lalu apa motifnya? Apa yang sebenarnya Devian inginkan dari semua kematian mereka?"
"Aku sendiri tidak tahu...," Godfrey mengedikkan bahunya acuh, tatapannya menerawang jauh seolah memikirkan sesuatu. "Tapi... mungkin kau bisa mengetahui semuanya lebih jelas dari Ice... dan saranku sebelum kau menemukan Devian sebaiknya temukan Ice dulu!," lanjutnya lagi dengan ekspresi serius.
"Kenapa?" Billie yang masih bingung spontan bertanya.
"Karena aku pikir Ice adalah tujuan utama Devian! Ice adalah kakak yang sangat Devian cintai, atau lebih tepatnya dia sangat terobsesi pada Ice!”
"Jadi kau bohong soal mereka adalah sepasang kekasih?”
“Aku... Belakangan aku sadar alasan Devian mendekatiku bukanlah karena tertarik padaku. Dia sengaja ingin membuat Ice cemburu! Tapi si Bodoh itu tampak tak peduli, dia selalu cuek dan pura-pura buta dengan apa yang terjadi di sekolah! Karena itu kau harus menemukan Ice jika kau tak ingin dia berakhir seperti Ayahnya..." Godfrey menuturkan dengan nada cemas di akhir kalimatnya. Matanya yang berbinar penuh harap dan itu membuat Billie heran.
“Kau... masih mengkhawatirkan Kak Ice?"
"Ya, tentu saja karena bagaimanapun dia pernah menjadi sahabatku...," jawab Godfrey dengan senyum ketir.
Saat itu Billie tidak tahu apakah dirinya bisa mempercayai semua ucapan Godfrey atau tidak tapi Billie tak bisa pungkiri dia pun merasakan firasat buruk tentang Devian. Pemuda itu rupanya tak mengidap GID (Gender Identity Disorder) melainkan DID (Dissociative Identity Disorder) yaitu kepribadian ganda. Kemungkinan itu tidaklah mustahil mengingat hal tersebut ditemui dalam berbagai kasus pembunuhan. Satu hal yang Billie harapkan saat ini adalah Ken bisa menemukan kedua orang itu secepatnya.
TBC
karyamu bagus sekali, sangat epic...
ku tunggu lanjutannya yahh