Cerita ini hanya fiksi semata, hanya halu author.
Cerita ini, terispirasi dari curhatan-curhatan seorang ibu yang merasa lukanya terabaikan, lelahnya tak terlihat, dan sakitnya yang dianggap sepele, diselingkuhin pula.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Illana Clr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama Kaktus
Pagi-pagi Alana dan Rafa bangun dari tidurnya Rafa membantu istrinya bersiap melakukan terapi. Alana berharap hari ini ada bisa sedikit semangat meski hati dan fikirannya sedang kacau.
"Mas, kamu nemenin aku kan?" Tanya Alana pada Rafa yang sedang memakai jam tangan.
"Iya dong sayang" Rafa mengecup kening Alana.
Pintu diketuk oleh putri mereka
"Mah, Pah.."
"Masuk sayang" sahut Rafa dari dalam dan pintu terbuka. Putrinya sudah siap dengan seragam sekolahnya. Cia tersenyum pada mereka berdua dan menghampirinya.
"Kenapa anak papah? Mau sarapan bareng?" Tanya Rafa sambil berjongkok menyetarakan tingginya dengan anaknya.
"Iya, tapi bukan itu aja papah" ucap Cia ragu.
"Trus kenapa? Kok mukanya ditekuk sayang?" Tanya Alana
"Cia lupa kasih tahu papah sama mamah, Cia hari ini harus bawa tumbuhan kaktus ke sekolah".
Alana dan Rafa saling tatap lalu menghela nafas bersamaan, kemudian saling terkekeh karna ini pertama kalinya Cia lupa dengan tugas sekolahnya.
"Yaudah, nanti papah beli sekalian antar Cia kesekolah"
"No... Kaktusnya harus nanam sendiri, dan di potnya harus ada namanya" Cia menjelaskan lagi.
"Yaudah, Cia berangkat sekolah sama pak supir nanti urusan kaktus biar papah yang handle ya"
Cia mengangguk pelan "maaf ya pah, makasih"
"Sana sarapan dulu, nanti keburu telat"
Rafa mendorong kursi roda Alana menuju ruang makan disamping, Cia berjalan pelan merasa bersalah. Rafa menghampiri asistennya meminta bantuan untuk mecari kaktus.
"Pak Amin, tolong carikan pohon kaktus di pot kecil ya. Potnya warna putih"
Pak Amin segera meluncur ke toko tanaman hias, dan beruntung ada, Cia terlihat Happy dan berkali-kali ie berterimakasih pada Rafa.
"Sayang, sarapannya di makan dulu nak".
Alana menyuapi Cia, ia tak ingin peran ibunya hilang meski ia sedang sakit.
"Happy dapet kaktus? Mau di kasih nama disekolah aja?" Tanya Alana
"Iya mah, teman-teman juga disekolah"
Cia, Alana, dan Rafa sarapan bersama dengan penuh tawa dan canda meski ada drama kaktus yang terlupakan oleh Cia.
_____
Alana menjalani terapi dirumah ia belajar berjalan berpegangan pada Rafa.
"Sakit sayang?"
Tanya Rafa khawatir, Alana hanya menggeleng pelan lalu langkah demi langkah ia lewati perlahan dan hati-hati.
Alana juga mendapat perawatan kaki agar tidak kaku dan bisa digerakan.
"Ibu, sesi terapinya cukup ya. Ibu sudah banyak kemajuan dan langkahnya sudah jauh, dua hari lagi kita ketemu lagi ya. Kalo begitu, saya permisi. Semangat ya ibu"
Dokter terapi pergi setelah berpamitan, dan Alana cukup bangga pada dirinya sendiri.
Sebagai bentuk apresiasi untuk istrinya, Rafa menghadiahi bunga kesukaan Alana.
"Sayang, ini buat kamu"
Mawar putih dicampur merah yang sangat cantik, dikelilingi bunga-bunga kecil dipinggirannya membuat Alana bahagia.
"Mas.. Makasih sayang"
"Sama-sama, kamu suka?"
Alana mengangguk terharu, Rafa mengecup keningnya lama. Alana melihat perban ditangan Rafa sedikit merah.
"Mas, ini luka kamu darahnya masih keluar ya? Infeksi gak sih sayang?"
"Ah, nggak.. Ini karna tdi kepentok aja pas ambil bunga dari driver online"
Alana menatap luka itu. Mengelus perbannya perlahan.
"Ganti perbannya yuk, aku bantuin"
Rafa mendorong kursi roda Alana menuju kamar diatas menggunakan lift.
"Mas, sadar gak? Lift kepake karna aku pake kursi roda?"
"Iya ya.. Cia juga gak mau pake lift dia maunya pake tangga mulu" Sahut Rafa "biar sehat bilangnya sayang" tambah Rafa sambil terkekeh ingat kelakuan lucu Cia, Alana pun ikut tertawa ringan.
Saat sampai dikamar, Rafa mengambil kotak p3k dan memberikannya ke Alana. Rafa duduk di sofa dekat jendela dan Alana masih dikursi rodanya.
"Sayang, masih sakit banget ya?" Tanya Alana khawatir "Makasih ya, kamu udah jagain aku"
"It's okay sayang" Rafa mengelus pipi istrinya lembut.
Alana melepas perban tangan Rafa perlahan saat dibuka, lukanya sedikit terbuka dan mengeluarkan sedikit darah.
"Ya ampun sayang, ini pasti sakit banget. Aku bersihin dulu ya, kamu tahan kan?"
"Aman sayang...aw... Pelan-pelan sayang, perih juga ternyata" Rafa meringis saat tangan Alana membersihkan lukanya dan mengoles salep ke bagian itu lalu dengan cepat membalut dengan perban.
"Maaf ya mas, sakit ya sayang?"
"Nggak apa-apa, masih aman kok sayang. Makasih ya sayang"
______
Disekolah Cia, beberapa temannya membicarakan tentang adik mereka. Ada yabg baru lahir, ada yang sudah sekolah, ada juga yang masih didalam kandungan ibunya.
"Cia, kamu mau punya adik gak?" Tanya salah satu temannya bernama Laura.
"Aku punya adik, sekolah disini juga. Dia TK namanya Vino". Sahut Cia dengan mata berbinar.
"Oh itu adik kamu, sama kaya adik aku dong udah sekolah juga. Kamu berantem gak sih sama adik kamu?" Tanya Laura lagi.
"Nggak, aku gak pernah berantem sama Vino"
"Ih, aku mah berantem terus. Mama sering marah-marah kalo aku berantem sama adik aku"
Cia hanya tersenyum seolah tak peduli dengan jawaban teman-temannya.
"Kaktus kamu udah jadi?" Tanya Cia mengalihkan pembicaraan.
"udah dooong" jawab teman-temannya serempak.
"Punya aku juga udah, ini di potnya aku kasih pernak pernik di tempel gini biar bagus. Kalian mau gak? Aku masih ada pernak perniknya biar lucu"
"Nggak ah, terlalu rame" Jawab Laura
"Aku mau Cia, minta sedikit boleh?" Sisil menghampiri Cia untuk meminta pernak pernik di pot kaktus kecilnya.
"Ini ambil aja".
Sisil dan Cia menempel pernak pernik di pot membuat Laura cemburu ditambah hasil hiasan di pot kaktus Cia dipuji oleh beberapa temannya membuat Laura semakin jengkel dan kesal.
Guru datang ke kelas Cia dan meminta murid untuk mengumpulkan Pot kaktus mini satu per satu. Saat punya Cia dan Sisil di serahkan, gurunya takjub.
"Wah cantik sekali, kalian kreatif banget Sisil dan Pricilla"
Kalimat guru membuat Laura merasa sangat iri dan kesal.
"Makasih Mrs. Amanda" Sahut Sisil dan Cia berbarengan.
Pelajaran dimulai dan Cia fokus belajar tanpa melihat kearah manapun.
Singkat cerita bel pulang sekolah berbunyi, Cia keluar dari kelasnya dengan Sisil.
"Sil. Kamu dijemput?"
"Iya, ayah aku udah datang sih kayaknya. Kamu di jemput juga kan?"
"Iya harusnya Papa aku udah di depan".
Mereka berdua bergandengan tangan melewati lorong sekolah sambil bercanda dan tertawa. Namun saat melewati tangga mereka berdua terkena siraman air pel.
"Ihhhh air apa ini? Kok item airnya? Bau pewangi lantai" Ujar Sisil dan Cia
Saat melihat ke atas Laura menjulurkan lidah meledek Cia dan Sisil.
"Laura, kok kamu siram kita?" Cia berteriak kencang dan segera meninggalkan sekolah.
Sisil dan Cia melihat mobil orangtua masing-masing sudah menunggu.
"Papah.... Cia disiram air pel, Sisil juga kena"
Cia merengek ke Rafa dan melihat teman Cia juga merengek ke Ayahnya.
Rafa menghampiri Ayah dari Sisil.
"Maaf pak, anaknya terkena siraman air kotor juga ya. Bapak mau berdiskusi dengan pihak sekolah?"
"Iya, ini namanya bully. Saya gak terima anak saya diperlakukan seperti ini".
"Kalo begitu, mari kita berdiskusi bersama tentang air kotor ini".
Rafa, Cia, Sisil dan Ayah Sisil mengunjungi ruang kepala sekolah lalu berdiskusi.
Beruntungnya, rekaman cctv jelas dan Laura beserta orangtuanya segera di panggil untuk menyelesaikan masalah.
Saat semua berkumpul, Laura mengaku iri dengan Sisil dan juga Cia.
"Aku iri, Cia dan Sisil selalu dapat nilai bagus, selalu dipuji, tapi aku gak pernah. Aku berusaha keras pun tak ada nilainya"
"Laura, Mrs. Amanda minta maaf ya. Tadi dikelas Mrs kan udah bilang kalo tugas kalian bagus semua. Hanya saja punya Pricilla dan Sisil terlihat menarik. Bukan berarti punya kamu tidak bagus sayang".
Akhirnya mereka saling meminta maaf satu sama lain dan pulang kerumah masing-masing.