Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata dari narasumber (Nisa dan Gendis).
.
.
.
SERIES KE LIMA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Kini... Gendis sudah menjadi anak angkatku, dengan nama baru yaitu "Harum" yang kuberikan untuknya...
Harum menjalani kehidupan barunya bersamaku, setelah tragedi yang hampir merenggut sukma jiwanya di pondok pesantren daerah Kediri itu...
Aku menjalani kehidupan yang bahagia bersama Harum, tapi juga dengan segala bahaya yang mengintai jiwaku dan jiwanya...
DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 "MIMPI" HARUMA
.....
.....
((Kita berpindah sudut pandang ke Haruma))
Ibuku mengajakku untuk masuk. Karena aku sudah beberapa kali menguap, terasa mengantuk kedua mata buta putihku ini. Dan juga kata ibu, sekarang sudah jam 22.00 malam.
Aku pun ditemani olehnya masuk ke dalam kamar.
"Bu..." panggilku padanya, yang terdengar sedang menyiapkan kasur, bantal, dan juga selimut untukku.
"Apa, Nak?"
"Ibu mau tidur juga, kan?" tanyaku.
"Ibu belom ngantuk, sih..." jawabnya.
"Terus, mau ngapain?"
"Paling Ibu nemenin Kakek ngobrol di teras, Nak. Kenapa?"
Terasa tangan ibuku menyentuh pundakku dengan lembut, memberikan kode agar tubuhku segera berbaring setelah kasur, bantal, dan selimut sudah siap.
"Enggak apa-apa, sih..." jawabku, sambil mulai membaringkan tubuhku di atas kasur.
Terasa, ibu mulai menyelimuti tubuhku.
"Bu, temenin aku dulu ya, sampe aku tidur." pintaku.
"Hehe, iya Haruma sayang..."
Aku langsung dipeluk dengan sangat nyaman oleh ibuku. Dia berbaring tepat di sebelahku.
Terasa...
Napasnya yang lembut, menerpa rambutku.
"Bu..." panggilku lagi.
"Apa?"
"Kalo ngobrol malem-malem gini sama Kakek, ngobrolin apa sih, Bu?"
"Ya macem-macem, sih... Ngobrolin apa aja..." jawab ibuku.
"Apa, tuh?" tanyaku sedikit penasaran.
"Ya apa aja, Nak. Kamu pengen tau aja, hehe..."
"Hehe..." balasku.
Semakin terasa kantuk yang berat di kedua mataku, ditambah nyamannya pelukan ibu di tubuhku.
"Hoooaaammm..." suaraku menguap untuk kesekian kalinya.
"Udah, tidur dulu, Nak... Udah malem, loh... Besok hari Senin, nanti kamu malah kesiangan bangunnya." kata ibuku.
"Iya, Bu..."
"Baca do'a dulu, jangan lupa!" pesannya, sambil mencium lembut kepalaku.
Dan aku pun membaca do'a sebelum tidur.
Dan, tak butuh waktu lama, kesadaranku pun semakin memudar.
Semakin dalam...
Semakin nyenyak...
.....
.....
"Wuuussshhh... Grasak-grasak... Grasak-grasak..."
Suara angin terdengar jelas di telingaku, bercampur dengan suara dedaunan yang bergesekan karenanya.
"Uuuhhh..." suaraku lirih.
Tapi, kedua mata butaku masih terlelap.
"Wuuussshhh..."
Kembali terasa hembusan yang semakin kencang, membuat tubuhku yang diselimuti ini menjadi kedinginan.
Aku berusaha membuka kedua mata butaku. Mengira kalau jendela kamar mungkin terbuka karena tiupan angin.
Semakin dingin tubuhku saat sudah duduk di atas kasur. Aku terbangun dari tidurku sendiri.
Lalu, aku berusaha untuk beranjak dari kasur, sambil memanggil-manggil ibuku, "Buuu... Buuu..."
"Ibuuu... Jendelanya kebuka kayaknya, Buuu..." kataku.
Tapi, tak ada sahutan apapun dari ibuku, atau bahkan dari kakekku. Karena aku ingat, sebelum aku terlelap tadi, ibuku bilang kalau dirinya masih ingin menemani kakekku mengobrol di teras rumah.
Ketika tubuhku sudah berdiri, tepat di pinggir kasur, aku meraba-raba. Mencoba menemukan tongkatku.
Namun, tongkatku itu tak ada di dekat kasur.
Aku pun berusaha melangkah di tengah gelapnya penglihatan mata butaku ini.
Aku berusaha pelan-pelan meraba ke sekeliling kamar, hanya untuk mendapati bahwa tongkatku sama sekali tak ada di dalam kamarku ini.
Aku sedikit heran, dan bertanya dalam hatiku sendiri, "Dimana sih, tongkatku?"
"Apa dibawa sama Ibu, ya?" gumamku lagi.
Akhirnya, ku langkahkan kedua kaki ini, menuju ke pintu kamar. Lalu, ku buka pintu kamarku itu.
"Ceklek... Krieeet..."
Ketika sudah berada di depan kamar, yang langsung terhubung dengan ruang tamu, kembali ku panggil-panggil ibu dan kakekku.
"Ibuuu? Kakeeek?"
Sambil mataku yang tak bisa melihat ini, ku edarkan ke segala penjuru ruang tamu. Mencoba menemukan suara ibu dan kakekku.
"Ibuuu? Kakeeek? Masih di teraaas?" panggilku lagi.
Akan tetapi, di pendengaranku ini...
HANYA ADA KEHENINGAN.
KEHENINGAN YANG BENAR-BENAR HENING.
Aku pun jadi melangkah ke sebelah kiri, hendak menuju ke teras rumahku.
"Plak... Plak... Plak... Plak..." pelan-pelan, suara langkahku sendiri sampai terdengar sangat jelas di pendengaranku.
"Ibuuu? Kakeeek?" panggilku lagi, saat kedua tanganku berhasil meraba pintu depan rumahku ini.
Tapi, aku bisa merasakan dengan jari-jariku.
Tekstur permukaan pintu depan rumahku ini...
SANGAT BERBEDA.
TEKSTURNYA TERASA... BERUBAH MENJADI KASAR.
Padahal aku sudah sangat hapal, kalau tekstur pintu depan rumahku ini halus, karena terbuat dari kayu yang dibalut dengan papan halus.
Di tengah kebingunganku itu, aku berusaha untuk menyentuh gagang pintu depan itu.
Dan...
"Ceklek... Krieeet..."
Ku buka pintu depan itu.
Akan tetapi, bersamaan dengan terbukanya pintu depan itu...
KEDUA MATAKU LANGSUNG BISA MELIHAT DENGAN SANGAT JELAS!
Dan, sangat terkejut diriku...
SAAT AKU MELIHAT AREA HALAMAN RUMAH, SUDAH BERUBAH MENJADI HUTAN YANG LEBAT DAN GELAP!
Tapi, aku langsung mengetahui satu hal, bahwa jiwaku sekarang...
SUDAH BERPINDAH DIMENSI.
Seketika aku membalikkan badan, dengan cepat aku ingin kembali ke dalam rumah, berharap jiwaku kembali ke dunia nyata.
Akan tetapi, rumah yang tadi ada tepat di belakangku...
MENGHILANG, BERGANTI DENGAN HUTAN YANG LEBAT DAN GELAP JUGA!
Dan, karena aku sudah beberapa kali mengalami kejadian seperti ini (berpindah dimensi), aku langsung memanggil satu nama yang sudah ku kenal.
"Sekar Aruuum? Sekar Aruuum?"
Iya...
Sekar Arum lah yang ku panggil. Bukan ibuku, atau kakekku.
Karena biasanya, ketika mata butaku ini jadi bisa melihat jelas seperti mata normal, Sekar Arum yang akan menemuiku.
Tapi...
Beberapa kali ku panggil Sekar Arum, dia pun tak muncul, dan tak ada suara sahutan darinya.
Aku berdiri di tengah hutan yang lebat dan gelap.
SENDIRIAN.
HANYA ADA KEHENINGAN DI SEKITARKU.
Aku mengedarkan pandangan mataku ke sekeliling. Mencoba memperhatikan sekitar.
Tapi, entah apa yang terjadi denganku, aku sama sekali tak merasa takut berada sendirian di dimensi ghoib ini.
Aku tak merasa terancam, atau merasa ngeri, saat melihat barisan pepohonan yang tinggi menjulang.
Setelah beberapa lama aku berdiri dan memperhatikan sekeliling, tiba-tiba terdengar suara seseorang.
Suaranya terdengar begitu tipis.
Dan seperti menggema pelan.
Tapi aku tak tahu, suara siapa itu. Dan dari mana asalnya.
Dan, entahlah, kedua kakiku ini mulai bergerak, melangkah maju. Seperti ada sesuatu yang "menuntun" kedua kakiku ini.
"Srak... Srak... Srak... Srak..." langkah kakiku terdengar jelas, menginjak dedaunan kering di atas tanah, di tengah hutan lebat dan gelap ini.
Aku tak tahu akan melangkah kemana.
Aku hanya mengikuti "sesuatu" yang menuntun kakiku melangkah.
Dan, semakin lama ku berjalan, semakin rapat barisan pepohonan di sekelilingku.
Aku sampai harus menyibak semak-semak yang menghalangi.
Tapi, aku benar-benar tak mengerti akan pergi kemana sekarang. Tubuhku benar-benar seperti "dituntun" dan "diarahkan" untuk terus maju, menuju ke sebuah tempat yang bahkan aku tak tahu sama sekali.
Sampai, akhirnya aku berada di sebuah tempat.
Tempat dimana aku berada sekarang, seperti sebuah sumber mata air yang sangat jernih.
Mata air itu membuat sebuah kolam berukuran sedang, dan ada satu pohon besar di seberang sana.
Juga, ada satu buah batu berukuran cukup besar, tepat di sisi lain kolam ini.
Saat aku sedang memperhatikan area sekeliling mata air kolam jernih itu, tiba-tiba, aku mendengar seseorang memanggilku dari arah kananku. Tepat dari arah barisan pepohonan dan semak-semak yang rapat itu.
"HARUMAAA..."
Suaranya seperti seorang anak perempuan, menggema pelan.
Tapi, saat aku mengarahkan pandangan ke sumber suara itu, sama sekali aku tak melihat adanya seseorang pun disana.
Dan, kembali terdengar suara anak perempuan itu memanggilku.
Kali ini, terdengar lebih dekat.
"HARUMAAA..."
Dan...
Apa yang terjadi selanjutnya, membuatku seketika merinding halus.
ADA SEBUAH SENTUHAN DI TANGAN KANANKU.
SENTUHAN YANG TERASA LEMBUT.
AKAN TETAPI...
TANPA ADANYA WUJUD DARI SOSOK YANG MENYENTUH TANGAN KANANKU ITU!