Empat belas hari.
Hanya selama itu Ghazi Farhan dan Adzra Hanum saling mengenal sebelum akhirnya menikah melalui proses ta'aruf.
Siapa sangka, pernikahan yang awalnya dipenuhi ketenangan justru berakhir dengan satu talak setelah sepuluh bulan bersama.
Sejak hari itu, Adzra meyakini bahwa dirinya hanyalah perempuan yang pernah gagal menjadi istri.
Sementara Ghazi memilih memikul penyesalan yang bahkan tidak pernah berani ia jelaskan.
Sepuluh tahun berlalu.
Mereka sama-sama belum menikah.
Bukan karena belum ada yang datang, tetapi karena ada luka yang belum benar-benar selesai.
Ketika sakit sang ibu mempertemukan mereka kembali, Ghazi tidak meminta Adzra kembali menjadi istrinya.
Ia hanya meminta satu kesempatan.
"Bolehkah... kita mengulang empat belas hari itu?"
Namun, apakah ta'aruf kedua mampu menyembuhkan luka yang ditinggalkan oleh satu talak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duyung Indahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Pertama
Suara telepon berdering memecah kesunyian pagi.
Pukul 05.27.
Adzra yang baru saja selesai menunaikan salat Subuh meraih ponsel di atas meja samping tempat tidur.
Nama yang muncul di layar membuat dahinya berkerut.
Dokter Nabila.
Jarang sekali sahabatnya menelepon sepagi itu.
"Assalamu'alaikum."
Suara Nabila terdengar lebih cepat dari biasanya.
"Wa'alaikumussalam."
"Adzra, kamu sudah bangun?"
"Ada apa?"
"Kamu jangan kaget dulu."
Jantung Adzra berdetak sedikit lebih cepat.
"Nabila."
"Iya."
"Ceritakan pelan-pelan."
Nabila menarik napas panjang.
"Pak Rahmat..."
Adzra langsung mengingat nama itu.
Jamaah umrah berusia enam puluh delapan tahun yang dua hari lalu diperiksa di klinik. Riwayat hipertensi dan diabetes, lalu dirujuk untuk pemeriksaan jantung lebih lanjut.
"Beliau kenapa?"
"Tadi dini hari sempat sesak napas."
Adzra bangkit dari duduknya.
"Sekarang?"
"Sudah dibawa ke rumah sakit."
"Alhamdulillah."
"Tapi..."
Nabila berhenti sejenak.
"Keluarganya datang ke klinik."
Adzra memejamkan mata.
"Mereka marah?"
"Bukan hanya marah."
"Mereka bilang pemeriksaan kita tidak benar."
Ruangan mendadak terasa sunyi.
Adzra tidak langsung menjawab.
Sebagai dokter, ia tahu satu hal.
Ketika keluarga sedang diliputi rasa takut, kemarahan sering kali menjadi bahasa yang paling mudah keluar.
"Aku berangkat sekarang."
"Tidak usah terburu-buru."
"Aku tetap berangkat."
"Baik."
"Dan Bil..."
"Iya?"
"Jangan berdebat dengan siapa pun."
"Aku tahu."
"Kita dengarkan mereka dulu."
Telepon berakhir.
Adzra duduk beberapa detik tanpa bergerak.
Lalu menundukkan kepala.
"Ya Allah..."
"Jangan biarkan rasa takut membuatku mengambil keputusan yang salah."
***
Setengah jam kemudian, halaman Klinik Arafah Medika sudah lebih ramai dari biasanya.
Beberapa pasien yang datang lebih pagi tampak saling berbisik.
Di dekat pintu masuk berdiri seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun.
Wajahnya tegang.
Begitu melihat Adzra turun dari mobil, ia langsung melangkah mendekat.
"Dokter Adzra?"
"Iya, Pak."
"Bapak anaknya Pak Rahmat?"
Laki-laki itu mengangguk cepat.
"Saya Fikri."
Tatapannya menyimpan lelah semalaman.
"Bapak bagaimana kondisinya sekarang?"
"Masih di IGD."
"Dokter bilang masih observasi."
Adzra mengangguk pelan.
"Alhamdulillah sudah mendapatkan penanganan."
Namun Fikri belum tampak tenang.
"Tapi saya ingin bertanya."
"Tentu."
"Kalau memang kondisi jantung Bapak sudah seburuk itu..."
"...kenapa dua hari lalu beliau masih diperbolehkan pulang?"
Suasana di sekitar mereka mendadak hening.
Rina yang baru datang menghentikan langkahnya.
Nabila yang keluar dari dalam klinik ikut memperhatikan.
Adzra tidak menjawab tergesa-gesa.
"Pak Fikri."
"Boleh kita berbicara di dalam?"
"Saya tidak ingin berbicara di dalam."
Nada suaranya meninggi.
"Saya ingin penjelasan sekarang."
Beberapa pasien mulai menoleh.
Adzra tetap berdiri tenang.
Ia tidak terpancing oleh nada bicara laki-laki itu.
"Saya mengerti Bapak sedang khawatir."
"Bapak tentu ingin ayah segera sembuh."
"Siapa yang tidak khawatir?"
Suara Fikri bergetar.
"Beliau baru mau berangkat umrah."
"Sekarang malah masuk rumah sakit."
Kalimat terakhir itu membuat matanya memerah.
Adzra akhirnya memahami.
Yang berdiri di hadapannya bukan orang yang sedang mencari kambing hitam.
Melainkan seorang anak yang takut kehilangan ayahnya.
Ia melangkah satu langkah lebih dekat.
"Pak."
"Kalau Bapak bersedia..."
"...saya akan menjelaskan seluruh hasil pemeriksaan ayah Bapak."
"Tidak ada satu pun yang kami sembunyikan."
Fikri terdiam.
"Dan setelah itu..."
"...kalau Bapak masih merasa kami melakukan kesalahan, saya akan bertanggung jawab sesuai yang seharusnya."
Tidak ada nada membela diri.
Tidak ada kalimat yang menyalahkan.
Hanya ketenangan.
Perlahan, bahu Fikri yang semula menegang mulai turun.
"Baik."
"Kita bicara di dalam."
***
Di ruang konsultasi, berkas rekam medis Pak Rahmat telah terbuka.
Nabila duduk di samping Adzra.
Bukan untuk mengambil alih pembicaraan.
Tetapi sebagai saksi sekaligus rekan sejawat.
Adzra menunjuk hasil elektrokardiogram.
"Ini hasil pemeriksaan dua hari lalu."
"Terlihat ada tanda yang mengharuskan pemeriksaan lanjutan."
Fikri memperhatikan tanpa menyela.
"Itulah sebabnya kami membuat surat rujukan ke dokter jantung."
Adzra kemudian menyerahkan salinan surat tersebut.
"Tanggalnya sama."
Fikri membaca perlahan.
Matanya berhenti pada kalimat yang ditulis tangan oleh Adzra.
Mohon evaluasi spesialis jantung secepatnya.
Tangannya mulai gemetar.
"Kami bahkan menyarankan agar pemeriksaan dilakukan hari itu juga."
Suara Adzra tetap lembut.
"Tetapi keputusan tetap berada di tangan pasien dan keluarga."
Fikri menunduk.
Ia mengingat percakapan dua hari lalu.
Ayahnya memang berkata ingin pulang lebih dulu karena merasa masih kuat.
Mereka berencana ke rumah sakit keesokan harinya.
Namun rencana itu tertunda.
Karena merasa kondisi Pak Rahmat membaik.
"Jadi..."
Fikri menelan ludah.
"...dokter sebenarnya sudah mengingatkan?"
Adzra mengangguk pelan.
"Iya, Pak."
Ruangan kembali sunyi.
Laki-laki itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Maaf..."
Suara itu hampir tak terdengar.
"Saya..."
"...terlalu panik."
Nabila menyodorkan segelas air putih.
"Perasaan Bapak sangat wajar."
"Tidak ada anak yang tenang melihat orang tuanya dirawat."
Air mata Fikri jatuh tanpa mampu ia tahan.
"Saya hanya takut..."
"...kehilangan beliau."
Adzra tersenyum hangat.
"Kami juga ingin Pak Rahmat sehat."
"Kalau Bapak berkenan..."
"...setelah jam praktik selesai, saya akan datang menjenguk beliau."
Fikri mengangkat wajah.
"Dokter mau datang?"
"Insyaallah."
"Bukan sebagai kewajiban."
"Tetapi karena beliau adalah pasien kami."
Untuk pertama kalinya sejak datang, Fikri tersenyum tipis.
"Terima kasih."
***
Di luar ruang konsultasi, Rina mengembuskan napas lega.
"Tadi saya sampai takut..."
Nabila menoleh.
"Takut apa?"
"Takut beliau marah terus."
Nabila tersenyum.
"Orang yang sedang takut sering kali terdengar marah."
Rina mengangguk pelan.
"Bedanya tipis ya, Dok."
"Tipis sekali."
Tak jauh dari mereka, Adzra berdiri memandang ruang tunggu yang mulai dipenuhi pasien.
Belum satu persoalan selesai.
Hari baru saja dimulai.
Dan ia tahu...
Ujian seorang dokter bukan hanya menyembuhkan penyakit.
Melainkan tetap tenang ketika kepercayaan mulai dipertanyakan.
Namun, Adzra belum mengetahui bahwa kabar tentang Pak Rahmat telah lebih dulu sampai ke meja Direktur Safa Amanah Tour.
Dan seseorang di sana...
Sedang mengambil keputusan yang akan mengubah arah hari itu.
***
Ruang kerja Ghazi masih sepi ketika Ja'far mengetuk pintu.
"Mas."
Ghazi mengangkat wajah dari layar laptop.
"Masuk."
Ja'far membawa sebuah map tipis dan meletakkannya di atas meja.
"Tadi saya mendapat telepon dari Pak Hendra."
Ghazi mengenal nama itu.
Ketua rombongan jamaah yang beberapa hari lagi dijadwalkan berangkat umrah.
"Ada masalah?"
"Bukan dengan keberangkatannya."
"Lalu?"
"Pak Rahmat."
Ghazi mengernyit.
"Yang dirujuk dari Klinik Arafah Medika itu?"
Ja'far mengangguk.
"Keluarganya sempat mendatangi klinik pagi tadi."
Ghazi menutup laptop perlahan.
"Wartawan tahu?"
"Belum."
"Media sosial?"
"Belum ada."
Ghazi mengembuskan napas lega.
"Alhamdulillah."
Ja'far duduk di hadapan Ghazi.
"Mas..."
"Saya khawatir kabar ini berkembang ke mana-mana."
Ghazi terdiam beberapa saat.
Tatapannya jatuh ke jendela yang memperlihatkan halaman kantor mulai dipenuhi calon jamaah.
"Ja'far."
"Iya?"
"Menurutmu, apa yang paling dibutuhkan keluarga Pak Rahmat saat ini?"
Ja'far berpikir sejenak.
"Kepastian."
Ghazi mengangguk.
"Bukan pembelaan."
"Bukan juga mencari siapa yang salah."
"Tetapi kepastian bahwa ayah mereka sedang ditangani oleh orang-orang yang bertanggung jawab."
Ja'far memahami arah pembicaraan itu.
"Mas ingin ke rumah sakit?"
"Bukan."
Ghazi menggeleng.
"Kalau aku datang sekarang..."
"...orang bisa salah paham."
"Mereka akan mengira Safa Amanah Tour sedang menekan keluarga pasien."
"Lalu?"
Ghazi mengambil ponselnya.
"Aku akan menelepon seseorang."
***
Sementara itu, di Rumah Sakit Harapan Insani.
Rayyan baru selesai melakukan visite ketika seorang perawat menghampirinya.
"Dok."
"Iya?"
"Pasien atas nama Pak Rahmat sudah dipindahkan ke ruang observasi."
Rayyan membuka rekam medis elektroniknya.
"Bagaimana hasil pemeriksaan jantungnya?"
"Masih menunggu dokter spesialis."
Rayyan mengangguk.
Ia masih mengingat nama itu.
Dua hari lalu, ia sempat membaca surat rujukan dari Klinik Arafah Medika ketika pasien didaftarkan.
Surat itu ditulis jelas.
Lengkap.
Tidak ada prosedur yang terlewat.
Belum sempat ia melangkah pergi, ponselnya bergetar.
Nama yang muncul membuatnya sedikit terkejut.
Ghazi Farhan.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam, Dokter Rayyan."
"Silakan, Pak Ghazi."
"Saya tidak mengganggu?"
"Tidak."
Ghazi berbicara dengan tenang.
"Saya hanya ingin memastikan satu hal."
Rayyan menunggu.
"Bagaimana kondisi Pak Rahmat?"
Rayyan tersenyum tipis.
Ia memahami maksud telepon itu.
"Alhamdulillah stabil."
"Masih perlu observasi, tetapi penanganannya sudah sesuai."
Ghazi mengembuskan napas lega.
"Syukurlah."
Rayyan melanjutkan,
"Kalau Bapak menelepon untuk mencari siapa yang salah..."
"...saya tidak bisa membantu."
Ghazi tersenyum kecil di balik telepon.
"Saya justru menelepon agar tidak ada yang sibuk mencari kesalahan."
Yang terdengar hanya hening beberapa detik.
Rayyan baru menyadari satu hal.
Laki-laki ini tidak sedang melindungi nama perusahaan.
Ia sedang mengkhawatirkan seorang jamaah.
"Terima kasih sudah memastikan."
"Sama-sama."
"Dan..."
Rayyan menambahkan sebelum sambungan diputus.
"Dokter Adzra mengambil keputusan yang benar."
Ghazi memejamkan mata sejenak.
"Alhamdulillah."
Hanya satu kata itu.
Namun cukup membuat Rayyan memahami betapa besar penghormatan Ghazi terhadap profesionalisme orang lain.
***
Menjelang waktu Zuhur.
Adzra akhirnya tiba di rumah sakit setelah menyelesaikan seluruh pasien pagi.
Nabila ikut bersamanya.
"Masih sempat?"
tanya Nabila.
"Harus sempat."
"Klinik?"
"Rina sudah menghubungi dokter pengganti untuk dua jam ke depan."
Nabila mengangguk puas.
"Nah."
"Begini baru pemilik klinik."
Adzra tertawa kecil.
"Belajar."
"Belajar dari siapa?"
"Dari orang yang pagi-pagi memarahiku soal makan."
Nabila terkekeh.
"Itu bukan marah."
"Itu investasi."
"Investasi?"
"Iya."
"Aku butuh teman sampai tua."
Adzra menatap sahabatnya sambil tersenyum.
"Insyaallah."
***
Di ruang observasi, Pak Rahmat tampak jauh lebih tenang.
Begitu melihat Adzra masuk, beliau berusaha bangkit.
"Jangan, Pak."
Adzra segera mendekat.
"Bapak istirahat saja."
Pak Rahmat tersenyum lemah.
"Maaf ya, Dok."
Adzra mengernyit.
"Maaf untuk apa?"
"Anak saya..."
"...tadi pagi pasti merepotkan."
Adzra menggeleng pelan.
"Beliau hanya sayang kepada Bapak."
"Itu bukan kesalahan."
Pak Rahmat menatap langit-langit ruangan.
"Saya yang keras kepala."
"Dokter sudah menyuruh saya ke spesialis."
"Saya malah bilang besok saja."
Senyumnya pahit.
"Rupanya umur tidak bisa diajak menunggu."
Adzra duduk di samping ranjang.
"Yang penting sekarang Bapak sudah mendapatkan penanganan."
Pak Rahmat memandangnya dengan mata berkaca-kaca.
"Dok."
"Iya?"
"Kalau nanti Allah masih memberi saya kesempatan berangkat ke Tanah Suci..."
"...saya ingin berangkat dalam keadaan sehat."
Adzra mengangguk.
"Itu juga yang kami inginkan."
"Bapak jangan terburu-buru."
"Ibadah yang baik dimulai dari tubuh yang dijaga."
Pak Rahmat tersenyum lega.
Di balik pintu, Fikri menyaksikan percakapan itu tanpa masuk.
Ia menundukkan kepala.
Pagi tadi ia datang dengan kemarahan.
Kini ia justru melihat dokter yang ia tuduh tetap datang menjenguk ayahnya tanpa diminta.
Rasa bersalah perlahan memenuhi dadanya.
***
Sore harinya, sebelum Adzra meninggalkan rumah sakit, Fikri mengejarnya hingga ke lobi.
"Dokter!"
Adzra berhenti.
Fikri mengulurkan sebuah kantong kertas.
"Ini..."
Adzra menggeleng halus.
"Maaf, Pak."
"Saya tidak bisa menerima."
"Bukan hadiah."
Fikri tersenyum malu.
"Ini cuma roti."
"Tadi saya beli buat Bapak."
"Beliau belum boleh makan."
"Kalau dokter menolak..."
"...saya jadi bingung harus memberikannya kepada siapa."
Nabila yang berdiri di samping Adzra berbisik pelan,
"Kalau roti untuk tim klinik masih boleh."
Adzra menoleh sambil menahan senyum.
"Bil..."
"Apa?"
"Aku tahu aturan."
"Makanya kubilang untuk tim."
Mereka bertiga tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya hari itu, ketegangan benar-benar mencair.
Namun ketika Adzra dan Nabila melangkah menuju parkiran, ponsel Adzra kembali berdering.
Rina.
"Dok..."
Suara di seberang terdengar cemas.
"Di klinik ada tamu."
"Tamu?"
"Iya."
"Beliau bilang ingin bertemu langsung dengan Dokter Adzra."
"Siapa?"
Rina menelan ludah.
"Saya tidak tahu."
"Tapi..."
"...beliau membawa proposal pembukaan rumah sakit swasta baru."
Langkah Adzra terhenti.
Ia dan Nabila saling berpandangan.
Mereka belum mengetahui siapa tamu itu.
Namun satu hal mulai terasa jelas.
Ujian yang datang kepada Klinik Arafah Medika...
Bukan hanya tentang mempertahankan kepercayaan.
Melainkan tentang menentukan jalan seperti apa yang akan mereka pilih untuk bertumbuh.
— Bersambung —