RAVEN KRISHNAWARDHANA (18 tahun ) adalah putra tunggal dari keluarga pengusaha kaya yang sangat berpengaruh dalam dunia bisnis. Namun sosoknya yang angkuh, susah diatur, dan sering menghabiskan waktu untuk nongkrong bareng geng motornya.
Membuat kedua orang tua Ravan langsung menyetujui usulan perjodohan yang di usulkan rekan bisnisnya, mereka berharap dengan menikah Raven bisa berubah. Namun bukan Raven namanya jika tak menolaknya mentah-mentah, ia tidak mau terikat perasaan sama wanita manapun, ia hanya ingin menikmati masa mudanya bersama geng motornya.
Sampai suatu hari, ia bertemu Sara, murid baru yang misterius yang baru pindah dari luar negeri.
Gadis itu bernama SAVIRA AURELIA alias Sara 17 tahun. Sara, cantik pintar, ceria tapi misterius. Karena kecantikan alaminya, ia tak jarang jadi rebutan para remaja laki-laki di sekolah barunya dan itu membuat seorang Raven Krishnawardhana terpaksa menarik kata-katanya, karena kini perasaannya yang terjebak dalam pesona murid baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Raven hanya bisa menerima keputusan itu dengan hati yang berat. Tanpa banyak bicara, ia menarik kedua koper besarnya dengan gerakan kasar, seolah meluapkan rasa kesal yang tak tertahankan.
“Raven pamit!” ucapnya dengan nada ketus sebelum berbalik pergi.
“Iya, hati‑hati di jalan! Dan jangan lupa segera menjemput istrimu!” tegur Devan tegas.
“Hmm!” jawab Raven hanya dengan suara mendengus sebelum keluar dari pintu utama mansion.
“Pak Doni! Tolong bantu bawa koper-koper Raven ya!” pinta Maria pada sopir pribadinya yang sudah menunggu di dekat pintu.
“Baik, Nyonya,” jawab Pak Doni dengan sopan sebelum segera mengikuti langkah Raven.
Setelah kedua koper berhasil dimasukkan ke dalam mobil, Raven memilih mengendarai motor sport miliknya sendiri dari belakang. Ia menutup wajahnya dengan helm full face, seolah ingin menyembunyikan betapa kesalnya hatinya saat itu.
“Kenapa nasib aku jadi kayak gini sih! Tega banget Daddy dan Mommy ngusir aku begitu saja… padahal aku kan anak kandung mereka satu-satunya,” gumamnya pelan di balik helmnya, sambil menekan gas motor lebih dalam.
Tak berapa lama, motor milik Raven dan mobil mewah yang dikendrai pak Doni sudah berhenti di depan gedung apartemen mewah yang menjadi tempat tinggal barunya. Dengan wajah masam, ia memasuki gedung dan langsung menuju lift menuju lantai 17 seperti yang tertera di pesan dari Mommy-nya.
Begitu pintu lift terbuka, ia melangkah dengan cepat masuk ke dalam unit apartemen yang sudah disiapkan untuknya. "Tuan Muda, Saya langsung pamit pulang ya!" pamit Pak Doni setelah meletakkan dua koper milik tuan mudanya.
"Hmm, terima kasih Pak Doni!" sahut Raven singkat.
Tanpa beranjak jauh, ia langsung merebahkan tubuhnya di sofa besar yang ada di ruang tamu. Meskipun tidak seluas mansion keluarga Krisnawardhana, apartemen ini terasa sangat nyaman, bersih, dan sudah di lengkapi dengan perabotan yang modern hingga dekorasi yang pas membuat ruangan terlihat nyaman dan hangat.
“Lebih baik aku mandi dulu deh!” gumamnya pelan sebelum segera bangkit dan membuka jaketnya. Ia menuju kamarnya.
Setelah beberapa saat, Raven keluar dari kamar mandi dengan wajah lebih segar, saat ingin memakai baju ia baru sadar pakaian gantinya masih ada di dalam koper. Ia pun gegas keluar lalu menarik kedua kopernya masuk ke kamar tidur yang luas itu, lalu mengenakan kaos putih polos dan celana jeans yang paling nyaman baginya.
Setelah berpakaian lengkap dan merapikan rambutnya sedikit, ia keluar kamar dengan niat untuk segera menjemput Sara sesuai perintah orang tuanya.
Ia merogoh kantong celananya untuk mengambil ponsel, ingin memastikan alamat apartemen Sara dengan benar. Namun begitu layar ponsel terbuka, beberapa notifikasi pesan masuk sekaligus semuanya dari Chelsea. Raven awalnya tak peduli, tapi saat melihat ada kiriman foto, rasa penasaran akhirnya membuatnya membukanya.
Alisnya sedikit mengerut saat melihat gambar yang muncul di layar ponselnya, terlihat Sara sedang berdiri dekat dengan seorang pria tampan yang mengenakan baju olahraga, keduanya terlihat sangat akrab.
"Itu Pak Leon… guru olahraga baru itu. Kenapa mereka sedekat itu?” bisiknya pelan.
Lalu pandangannya beralih pada isi pesan dari Chelsea.
“Lihatlah si anak buru ini! Kamu jangan sampai tertipu sama wajah cantiknya dan sok polosnya, Raven. Mereka berdua pasti punya rencana jahat sama kamu."
Raven menatap foto itu dengan pandangan yang semakin dalam. Ada rasa tidak nyaman dan sedikit tak terima yang muncul di dalam hatinya, meskipun ia mencoba keras untuk mengabaikannya. “Tapi apa benar mereka ada hubungan khusus? Apakah karena itu dia begitu ingin segera berpisah dariku?” batinnya mendadak perih.
Tanpa sadar, wajahnya menjadi semakin dingin. “Ternyata kamu tidak sepolos yang aku kira, Sara…. Jun” ucapnya pelan, lalu bergegas keluar dengan perasaan yang penuh keraguan.
*
*
*
Sementara itu, Sara baru saja tiba di apartemennya dengan perasaan gembira setelah seharian bersama sahabat barunya.
“Wah, lelah tapi menyenangkan sekali,” gumamnya sambil duduk sejenak di sofa. “Sebelum istirahat, lebih baik mandi dulu biar segar kembali.”
Tak lama setelah itu, pintu apartemennya kembali terbuka dan Leon masuk dengan beberapa kantong belanja yang penuh di kedua tangannya. Samar-samar ia mendengar suara air mengalir dari kamar mandi kamar Sara.
“Nona! Apa kamu sudah pulang?” serunya dengan suara sedikit berteriak biar Sara mendengarnya.
“Sudah Kak Leon!” sahut Sara dengan suara jelas dari dalam kamar.
Mendengar jawaban itu, Leon langsung menuju dapur untuk menyimpan semua barang belanjaannya. Ia menyusuri lemari dan kulkas untuk menata barang bawaannya.
“Kamu habis belanja ya, Kak?” tanya Sara yang sudah keluar dari kamar dengan mengenakan baju santai yang nyaman, saat melihat Leon sedang menatapnya di kulkas.
“Hem! Tadi saya lihat isi kulkasnya hampir kosong, jadi saya pikir lebih baik sekalian belanja saja agar Nona tidak kesusahan jika mau makan sesuatu,” jawab Leon dengan senyum ramah.
“Terima kasih banyak, Kak!" ucap Sara tulus. Bagi Sara, Leon bukan hanya sekedar asisten atau pengawal yang ditempatkan sang Kakek untuk menjaganya, namun baginya Leon udah seperti kakak kandungnya sendiri yang selalu siap membantu dan melindunginya.
Begitupun dengan Leon, ia juga menganggap Sara sebagai adik perempuan sendiri."
“Nona mau makan apa?” ucapnya lagi sambil mulai membuka lemari untuk mengambil peralatan memasak.
“Ih! Kak Leon, kita cuma berdua aja kan? Jangan terlalu formal terus! Bukankah aku sudah berkali-kali bilang panggil nama saja? Risih aku dengar dipanggil Nona terus-menerus!” protes Sara dengan bibir mengerucut.
“Tapi Nona… ini tidak pantas, saya hanya sebagai pengawal di sini,” jawab Leon sedikit ragu.
“Tidak ada tapi-tapi! Jika kita sedang berdua, panggil saja aku Sara ya!” tekan Sara dengan tegas.
“Baiklah, Sara… kalau begitu, kamu mau makan apa?” tanya Leon dengan senyum, ia mulai membiasakan diri untuk memanggil nama Sara.
“Nah! gitu kan enak dengarnya! Aku masih kenyang Kak, tadi aku sudah makan banyak bareng Dewi dan Bima di kafe. Kak Leon masak untuk diri Kakak saja. Aku mau ke kamar dulu untuk melihat beberapa laporan yang harus aku selesaikan,” ucap Sara sebelum segera berjalan kembali ke kamarnya dengan langkah ringan.
*
*
*
Sementara itu, Raven sudah berada di lobi apartemen dan kembali membuka ponselnya untuk melihat alamat Sara dengan jelas. Tadi ia benar-benar lupa melihatnya gara-gara kesal setelah melihat foto yang dikirim Chelsea.
Begitu ia membuka pesan dari Sara yang berisi alamat, wajahnya sedikit terkejut. Ternyata apartemen Sara berada di gedung yang sama dengan apartemen barunya, bahkan berada di lantai yang sama pula, lantai 17, hanya berbeda nomor unit saja.
“Jadi Sara juga tinggal di sini! Bahkan di lantai yang sama juga! Ah, kalau tahu gitu kan aku tidak perlu turun lagi kesini dan bisa langsung mencari unitnya dari atas,” keluhnya dalam hati sambil segera menekan tombol lift untuk kembali ke lantai tujuan.
Begitu pintu lift terbuka ia segera masuk lift.
Begitu sampai di lantai tujuh belas ia segera menyusuri lorong hingga menemukan pintu yang dicarinya. Yang ternyata unit milik Sara tepat berhadapan dengan unit miliknya sendiri. Lalu tanpa ragu, ia langsung menekan tombol bel dengan perasaan yang masih bercampur aduk.
Pintu pun perlahan terbuka.
Namun alih‑alih melihat wajah yang ia harapkan, pandangannya justru bertemu dengan sosok pria yang sama persis dengan yang ada di foto itu, Leon. Keduanya saling menatap dengan wajah terkejut yang sama besarnya.
Bersambung…