NovelToon NovelToon
Panggil Aku , Ibu !!!

Panggil Aku , Ibu !!!

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Ibu Tiri
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Samantha Alexander menikah dengan pria berhati dingin bernama Samuel Nugroho CEO yang terkenal arogan dia duda dan mempunyai anak laki - laki berusia 13 tahun saat ini dia sekolah kelas 2 SMP . semenjak ibunya meninggal dia menjadi anak yang nakal. sehingga sering mendapat hukuman dari ayahnya yaitu Samuel membuat Dia sangat ketakutan dan melihat pesan melampiaskan dengan sifat nakal. sampai datang seorang perempuan bernama Samantha yang menikah dengan Samuel . Samuel menikah dengan Samantha karena semenjak sekolah dulu dia sudah menyukai Samantha diam-diam tapi karena dijodohkan samuel dengan almarhum mantan istrinya bernama Ruri .Di balik keputusan pernikahan ini, tersimpan rahasia lama Samuel ternyata telah menyukai Samantha secara diam-diam sejak masa sekolah dulu , namun saat itu ia terpaksa menikah dengan Ruri karena perjodohan. Kini, dengan kehadiran Samantha dalam keluarga itu, harapan baru pun muncul akankah ia mampu menyembuhkan luka batin anak tirinya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Setelah percakapan yang begitu mendalam dan menyentuh hati itu, mereka sepakat untuk mengakhiri perbincangan sejenak. Samuel pun mengantar Samantha menuju mobilnya, lalu melajukan kendaraan itu perlahan meninggalkan area taman. Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa tenang namun penuh dengan sisa perasaan yang menggelayut baik harap, ragu, maupun kehangatan yang baru saja terjalin.

Saat sedang melamun memikirkan segala hal yang baru saja terjadi, ponsel Samantha bergetar pelan di tangannya. Ia segera membukanya, dan ternyata ada pesan masuk dari Suci.

"Sam, aku dan Gio sudah sampai di ruko. Kami menunggu di sini . kamu langsung ke sini ya."

Samantha segera menoleh ke arah Samuel dengan sedikit ragu.

"Samuel..." panggilnya lembut. "Tadi baru saja Suci mengirim pesan. Ternyata dia dan Gio sudah berada di ruko tempat salon kita. Mereka menungguku di sana. Apakah boleh... kita tidak langsung ke rumahku, tapi mampir ke lokasi ruko itu dulu?"

Samuel melirik sekilas ke arahnya, lalu tersenyum pengertian sambil mengangguk. "Tentu saja boleh. Tidak masalah sama sekali. Aku akan mengantarmu ke sana. Berikan saja alamatnya padaku."

Samantha mengucapkan terima kasih dengan wajah lega. "Terima kasih banyak, Samuel. Aku tidak ingin membuat mereka menunggu terlalu lama."

"Sama-sama," jawab Samuel pelan. "Lagipula, aku jadi bisa melihat langsung tempat yang begitu kau banggakan dan kau usahakan itu. Aku bangga melihat semangatmu."

Mobil pun berbelok mengikuti arah tujuan baru. Sepanjang jalan, percakapan mereka perlahan mencair kembali, membahas sedikit tentang rencana usaha Samantha sambil menyisakan keheningan yang penuh makna di sela-selanya, hingga akhirnya bangunan ruko yang dituju mulai terlihat dari kejauhan.

Mobil melaju perlahan menyusuri jalanan yang agak sepi di pinggir kota. Tiba-tiba pandangan Samuel tertuju pada sekelompok anak laki-laki berseragam SMP yang sedang berkumpul mengerumuni satu temannya di pinggir jalan raya. Gerak-gerik mereka kasar, seolah sedang menekan dan mengejek anak yang ada di tengah.

Saat mobil semakin mendekat, mata Samuel terbelalak lebar tak percaya. Napasnya tertahan sejenak anak yang sedang menjadi sasaran perundungan itu adalah putranya sendiri, Bima!

"Ini... Bima?!" seru Samuel lirih namun penuh getar, tangannya seketika mencengkeram setir dengan kuat. Tanpa pikir panjang, ia langsung menginjak rem dengan sigap hingga mobil berhenti tepat di tepi jalan. Ia membuka pintu dengan kasar dan melompat turun, langkah kakinya cepat dan berat menghampiri kerumunan anak-anak itu.

Samantha yang melihat dari dalam mobil pun ikut terkejut luar biasa. Hatinya mencelos, ia sama sekali tidak menyangka akan menyaksikan hal ini. Ia segera turun dan mengikuti langkah Samuel dari jarak agak dekat.

Suara Samuel terdengar menggelegar menahan amarah yang meluap-luap saat ia berdiri tepat di hadapan mereka.

"Hei! Apa yang kalian lakukan?!" bentak Samuel dengan wajah memerah menahan marah. Para anak itu seketika diam dan mundur ketakutan melihat kedatangan orang dewasa yang tampak sangat murka.

Samuel langsung menatap tajam ke arah putranya yang menunduk gemetar. "Bima! Apa yang terjadi di sini?!" panggilnya dengan nada tinggi bercampur kecemasan dan kemarahan.

Bima mendongak perlahan, matanya berkaca-kaca penuh ketakutan dan malu melihat ayahnya ada di sana. "Ayah..." gumamnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar.

Salah satu anak yang tadi menindih mencoba beralasan dengan gugup, "K-kami hanya bercanda, Pak..."

"Bercanda?!" potong Samuel tajam, matanya menatap tajam anak-anak itu. "Mendorong, mengejek, dan memojokkan teman sendiri itu bukan bercanda! Itu perbuatan yang tidak terpuji! Sekarang kalian pergi, dan jangan pernah ulangi lagi perbuatan seperti ini!"

Anak-anak itu ketakutan setengah mati, mereka pun segera berlarian meninggalkan tempat itu dengan tergesa-gesa. Tinggallah Samuel, Bima, dan Samantha di sana dalam keheningan yang berat. Samuel menatap putranya dengan campuran rasa marah, sedih, dan khawatir yang mendalam.

Samuel menatap putranya lekat-lekat. Rasa marah pada pelaku perundungan tadi perlahan luntur berganti rasa perih yang mendalam melihat Bima yang menunduk dalam, bahunya bergetar menahan tangis. Hatinya terasa dicabik-cabik menyadari selama ini anaknya menyembunyikan penderitaan ini sendirian.

"Bima..." panggil Samuel pelan, suaranya kini melembut penuh kepedihan. "Kenapa kamu tidak pernah bercerita pada Ayah? Kenapa kamu membiarkan hal ini terjadi padamu?"

Samantha berdiri tak jauh dari sana, membiarkan ayah dan anak itu berbicara. Namun pandangannya tak lepas dari sosok Bima dan arah larinya anak-anak yang tadi menindas. Sekilas matanya menangkap perbedaan seragam baju yang dikenakan mereka memiliki lambang dan warna yang sama sekali berbeda dengan seragam yang biasa dipakai Bima.

Pikiran Samantha seketika berputar kencang. "Bukan teman sekolahnya... lalu kenapa mereka berani mengganggunya? Apakah Bima memiliki masalah dengan anak-anak dari sekolah lain?"

Ingatannya kembali melayang pada pertemuan-pertemuan pertamanya dengan Bima. Dulu, Bima-lah yang selalu terlihat garang, suka memerintah, dan sering menindas teman-temannya sendiri. Ia sulit membayangkan anak yang dulu begitu berani kini bisa menjadi sasaran empuk perundungan di tempat asing.

Belum sempat Samantha menyusun keraguannya, tiba-tiba Bima mengangkat kepalanya. Matanya yang semula basah dan sedih seketika berubah tajam saat jatuh menatap Samantha. Tatapan itu penuh kebencian, curiga, dan ketidaksukaan yang terang-terangan, seolah kehadiran Samantha di sana adalah hal yang paling tidak ia inginkan.

Samantha tertegun sejenak, namun ia tetap menatap Bima dengan pandangan lembut tanpa niat menyakiti.

Samuel yang menyadari perubahan sikap putranya ikut menoleh ke arah Samantha, lalu kembali menatap Bima dengan heran. "Kenapa kamu menatapnya begitu, Nak? Itu adalah Tante Samantha, menataplah dengan sopan."

Bima mendengus pelan, membuang muka dengan kasar, namun tatapan tajam itu masih tersisa di sudut matanya. Ia tidak menyapa, tidak juga mengucapkan terima kasih, seolah keberadaan wanita itu tidak berharga baginya.

Samuel menghela napas panjang, lalu menaruh tangan lembut di bahu putranya. "Sudah, Nak. Kita pulang sekarang. Ayah akan mengantarmu dan memastikan kamu aman di rumah," ucapnya pelan namun tegas.

Saat mereka hendak melangkah menuju mobil, Samantha menahan langkah sejenak. Ia menatap Samuel dengan sopan. "Samuel, sebaiknya kamu saja yang mengantar Bima pulang. Aku akan pergi ke ruko naik taksi saja agar tidak merepotkan dan membiarkan kalian berdua bicara berdua."

Namun Samuel langsung menggeleng tegas. "Tidak boleh, Samantha. Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian. Ayo ikutlah bersama kami. Kita antar Bima pulang lebih dulu, setelah itu baru aku antar kamu ke ruko. Tidak akan lama."

Samantha hendak menolak lagi, namun melihat ketegasan sekaligus permohonan di mata Samuel, ia akhirnya mengalah. "Baiklah kalau begitu. Terima kasih," ucapnya pelan.

Mereka pun masuk ke dalam mobil. Samuel duduk di kemudi, Bima terdiam di kursi penumpang depan dengan wajah masam, sementara Samantha duduk di kursi belakang. Sepanjang perjalanan menuju rumah Bima, suasana di dalam mobil terasa hening dan berat, namun Samuel tetap menyetir dengan tenang berusaha menenangkan suasana.

Bersambung...

1
Anna Setyo
semangat up thor yg banyak👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!