NovelToon NovelToon
Rahimku Diangkat Suamiku Menikah Lagi

Rahimku Diangkat Suamiku Menikah Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Romansa / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Almesha

Tiga tahun Davira bertahan dalam pernikahan perjodohan yang dingin dengan Arka. Baginya, Arka adalah satu-satunya tempat bersandar setelah ayahnya meninggal karena bangkrut dan adik laki-lakinya hilang tanpa kabar di luar negeri. Davira terus bertahan, berharap kehadiran seorang anak kelak bisa melunakkan hati suaminya.

Namun, takdir justru merenggut segalanya dalam semalam. Di saat dokter memvonisnya menderita kanker rahim stadium 3 dan harus mengangkat rahimnya.

Bukannya mendapat perlindungan, Davira malah dihujat mandul oleh ibu mertua dan adik iparnya. Arka yang tega bahkan memberinya ultimatum: menerima Sheila sebagai istri kedua, atau pergi dari rumah tanpa membawa sepeser pun uang.

Di titik terendah hidupnya, hati Davira mati. Dia memilih pergi membawa luka dan penyakitnya. Davira bersumpah akan sembuh, bangkit, dan kembali untuk membuat Arka beserta keluarganya membayar mahal setiap tetes air mata dan penghianatan keji ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almesha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Lutut yang Patah

Pagi berikutnya, langit Jakarta diselimuti mendung abu-abu yang tebal. Hujan sisa semalam masih menyisakan genangan di pelataran parkir luar gedung V-Tech Investment. Di dalam ruang kerja Vira yang terletak di lantai atas, keheningan yang tenang kembali berkuasa. Hanya terdengar ketukan jemari lentik Vira di atas papan tik laptopnya, memeriksa laporan audit berkala yang dikirimkan oleh Reno.

Pintu ruangan diketuk tiga kali dengan ritme yang teratur. Sekretaris Vira melangkah masuk dengan wajah yang tampak ragu-ragu.

"Mohon maaf mengganggu waktu Anda, Ibu Vira," ucap sekretaris itu sambil membungkuk kecil. "Di lobi bawah... ada seorang pria bernama Arka Narendra yang memaksa ingin bertemu dengan Anda. Petugas keamanan sudah mencoba mengusirnya sesuai dengan instruksi pembatasan kawasan dari Atmadja Group, namun..."

Sekretaris itu menggantung kalimatnya, melirik sekilas ke arah Vira. "Pria itu menolak pergi. Dia sekarang berlutut di luar gerbang batas suci gedung, tepat di atas aspal yang basah. Dia bersikeras tidak akan berdiri sebelum bisa berbicara dengan Anda."

Vira menghentikan ketukan jarinya di atas keyboard. Wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun, hanya ada kilat dingin yang melintas di sepasang manik mata indahnya. Dia bersandar pada kursi kerjanya, melipat kedua tangan di depan dada.

"Reno," panggil Vira melalui interkom di mejanya. "Ikut aku ke bawah."

Di luar gerbang kaca V-Tech, rintik gerimis mulai turun membasahi bumi. Di atas aspal yang dingin dan lembab, sesosok pria dengan setelan kemeja yang kusut dan tanpa jas tampak berlutut dengan kedua lututnya menempel langsung pada permukaan jalan.

Pria itu adalah Arka Narendra.

Mantan CEO yang dulunya selalu berjalan dengan dagu terangkat dan langkah kaki yang angkuh, kini tampak seperti gelandangan yang kehilangan arah. Rambutnya basah oleh air hujan, wajahnya kuyu dengan lingkaran hitam tebal di bawah mata, dan tubuhnya gemetar menahan dingin serta rasa malu yang luar biasa di bawah tatapan bisik-bisik para karyawan yang lalu lalang.

Pintu kaca besar gedung terbuka. Langkah kaki dengan ritme yang teratur dan tegas bergema dari arah lobi. Arka mendongak dengan cepat. Matanya yang merah menangkap sosok Vira Mahendra yang melangkah keluar, didampingi oleh Reno yang memegang payung hitam besar di atas kepala kakaknya.

Vira berhenti tepat dua meter di hadapan Arka yang masih berlutut. Gaun kerja rajut berwarna abu-abu gelap yang dikenakannya tampak sangat kontras dengan penampilan Arka yang hancur lebur. Vira menatap pria yang pernah menjadi suaminya itu dari ketinggian, seolah sedang melihat seonggok sampah yang menghalangi jalan setapaknya.

"Davira..." suara Arka bergetar, serak dan pecah. Dia mencoba merangkak maju satu jengkal, namun sorot mata tajam dari Reno membuatnya urung. "Davira... aku mohon. Aku mohon belas kasihanmu."

Vira tetap diam, wajahnya sedatar permukaan es di musim dingin.

"Ibu... Ibu masuk rumah sakit semalam, Davira," tangis Arka akhirnya pecah di tengah rintik hujan. Dia menundukkan kepalanya hingga hampir menyentuh aspal. "Setelah juru sita bank mendatangi rumah dan menyegel semuanya, Ibu mengalami syok berat. Tekanan darahnya melonjak dan dia terkena serangan stroke ringan. Sekarang dia terbaring di bangsal kelas tiga rumah sakit daerah karena semua kartu kredit dan rekening kami sudah diblokir oleh tim hukummu."

Arka mendongak lagi, menatap Vira dengan pandangan memohon yang teramat sangat, pandangan yang belum pernah dia perlihatkan seumur hidupnya pada wanita itu. "Aku tahu kami salah. Aku tahu perbuatan kami tiga tahun lalu tidak bisa dimaafkan. Tapi aku mohon, Davira... ambil saja seluruh sisa saham Narendra Group. Ambil kembali semua yang kamu inginkan. Tapi tolong... sisakan sedikit dana untuk biaya pengobatan Ibu. Jangan biarkan Ibuku mati karena kelalaian medis..."

Mendengar kata-kata 'kelalaian medis' keluar dari mulut Arka, sudut bibir Vira terangkat, membentuk seulas senyuman tipis yang sangat sinis dan mematikan. Detik berikutnya, tawa renyah namun dingin meluncur dari bibir ranumnya, sebuah suara tawa yang membuat bulu kuduk Arka meremang.

Vira melangkah satu kali ke depan, memperpendek jarak. Dia membungkuk sedikit, menatap langsung ke dalam manik mata Arka dengan intensitas kebencian yang sedalam palung samudra.

"Biaya pengobatan? Kelalaian medis?" bisik Vira, suaranya begitu rendah namun sanggup memotong udara malam seperti belati tajam. "Arka Narendra... apakah kamu amnesia dengan apa yang terjadi tiga tahun lalu?"

Napas Arka tercekat.

"Malam itu, di atas ranjang klinik kumuh pinggiran kota, aku mengalami pendarahan hebat akibat efek racun sup yang ibumu dan Sheila berikan setiap malam," lanjut Vira, setiap kata yang diucapkannya sarat akan racun dendam yang pekat. "Dalam kondisi sekarat, aku mendengar dengan jelas bagaimana ibumu melarangmu memanggil ambulans. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana tanganmu menandatangani surat penolakan tindakan medis demi mencairkan asuransi jiwa sepuluh miliar rupiah untuk menyelamatkan proyekmu yang gagal!"

Vira menegakkan kembali punggungnya, menatap Arka dengan pandangan jijik yang teramat murni. "Saat itu, kalian menukar nyawaku dan nyawa bayi pertamaku dengan uang asuransi. Kalian membiarkan rahimku membusuk dalam kegelapan kamar klinik yang terkunci. Dan sekarang, kamu berlutut di sini memohon agar aku menyelamatkan ibumu?"

"Davira... aku..." Arka terbata-bata, air matanya bercampur dengan air hujan yang mengalir di wajahnya. Kenyataan tentang dosa masa lalu yang dilemparkan kembali ke wajahnya membuat seluruh argumennya patah tak bersisa.

"Namaku Vira Mahendra," potong Vira dengan nada suara yang kembali datar dan dingin. "Davira yang lemah dan penyakitan sudah mati di klinik kumuh itu, Arka. Mati dibunuh oleh ketamakan keluarga Narendra."

Vira memutar tubuhnya perlahan, bersiap untuk kembali masuk ke dalam gedung. "Reno, urus sisanya. Dan pastikan tim hukum menyerahkan dokumen penarikan sisa seluruh warisan ibu yang masih melekat di portofolio pribadinya sore ini juga. Jangan biarkan ada satu sen pun harta Mahendra yang tersisa di tangan mereka."

"Siap, Kak," jawab Reno dengan senyuman puas yang teramat lebar.

Di saat Vira baru saja melangkah melewati pintu kaca lobi, sebuah mobil Rolls-Royce hitam mewah berlogo khusus tampak berbelok memasuki pelataran parkir gedung. Pintu belakang mobil terbuka, dan sesosok pria bertubuh tegap dengan jas hitam formal melangkah turun dengan langkah yang teramat berwibawa.

Dia adalah Adrian Atmadja.

Adrian tidak melirik sedikit pun ke arah Arka yang masih bersimpuh lemas di atas aspal bagai orang mati. Langkah kaki sang kaisar bisnis langsung menuju ke arah Vira yang sedang berdiri di dalam lobi.

Begitu sampai di hadapan Vira, Adrian langsung mengulurkan tangan kanannya, meraih jemari tangan kiri Vira yang terasa sedikit dingin akibat angin luar. Adrian menggenggamnya erat, menyelimuti telapak tangan Vira dengan kehangatan mutlak miliknya.

"Aku mendengar tikus tua itu mencoba membuat keributan di depan kantormu." ucap Adrian, suaranya yang bariton rendah terdengar bergetar oleh nada protektif yang teramat kuat. Sepasang mata elangnya menatap wajah Vira, mencari tahu apakah ada luka baru yang tercipta.

Vira menatap Adrian, dan seketika itu juga, ketegangan di wajahnya mengendur. Seulas senyuman tulus yang sangat manis terukir di bibirnya. "Tidak apa-apa, Tuan Adrian. Semuanya sudah selesai. Dia hanya datang untuk menyerahkan sisa harga dirinya yang sudah patah."

Adrian mengulas senyuman tipis yang sangat menawan, lalu meremas pelan jemari Vira. "Baguslah. Elvano sudah menunggumu di mobil. Hari ini kita memiliki janji untuk menemaninya ke kebun binatang pribadi keluarga, bukan? Biarkan urusan tikus-tikus ini diselesaikan oleh hukum alam yang sedang berjalan."

Vira mengangguk takzim. Di bawah kawalan ketat Adrian dan genggaman tangannya yang kian menghangat, Vira melangkah menuju mobil mewah itu, meninggalkan Arka Narendra yang kini hanya bisa menatap kepergian mereka dengan penyesalan yang terlambat di atas aspal yang basah.

1
Ariany Sudjana
hahaha kamu menyesal arka? itulah hukum tabur tuai, nikmati saja konsekuensinya. kain ini pilihan kamu dan pelacur murahan kesayangan kamu itu 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
ayo Vira, coba buka hati kamu, laki-laki seperti Adrian dan elvano yang akan menyembuhkan luka di hati kamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!