Saat remaja, Aldenbashra Gavinda berubah menjadi pemberontak setelah kematian ibunya dan keputusan ayahnya menikah lagi dengan asisten rumah tangga mereka. Kemarahan itu membuatnya menjadi kasar, liar, dan sulit dikendalikan.
Di tengah kekacauan hidupnya, ada Anjani Lestari, gadis cerewet yang selalu mengawasinya atas permintaan ayah Alden. Alden menganggap Anjani menyebalkan dan sengaja menyakitinya dengan ucapan maupun sikap kasar agar gadis itu menjauh. Padahal diam-diam, Alden memendam rasa cinta yang besar pada Anjani, namun terlalu takut dan gengsi untuk mengakuinya.
Bertahun-tahun kemudian, setelah hidupnya mulai tertata, Alden justru dihadapkan pada kenyataan pahit tentang penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Di tengah rasa sakit yang semakin parah dan cinta yang terus tumbuh, Alden terjebak pada pilihan yang menyakitkan: tetap mendekati Anjani dan meninggalkan luka saat ia pergi nanti, atau menjauh demi melindungi wanita yang paling ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naydiendee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Kesempatan yang Akhirnya Datang
Malam hari Pak Armanto dan Ranti baru kembali ke homestay. Dan mereka datang dengan membawa kabar yang sudah pasti.
Mereka sudah menemukan lokasi rumah Bu Rahayu dan Anjani. Rumah itu berada di salah satu perumahan sederhana yang rapi dan tenang, sekitar sepuluh menit perjalanan dari tempat mereka menginap.
Dan satu kabar lain yang membuat suasana langsung berubah.
Anjani ada di rumah.
Ia tidak sedang bekerja lembur atau keluar kota. Ia sudah pulang sejak sore, dan kemungkinan besar akan berada di rumah hingga malam.
Jantung Alden terasa seperti berhenti sesaat saat mendengar itu.
Malam ini, dia ada di rumah.
Kata-kata itu berputar di kepalanya, berulang-ulang, seperti tidak memberi ruang bagi pikiran lain untuk masuk.
Ada desakan yang langsung naik ke dadanya. Rasa rindu, gugup, takut, dan harapan yang selama ini ia tekan dalam-dalam kini seolah menemukan celah untuk keluar sekaligus.
Tanpa sadar, jemarinya sedikit bergetar di atas lututnya.
Ia menatap Pak Armanto, suaranya nyaris hilang saat akhirnya berbicara.
"Berarti... malam ini juga?"
Pak Armanto tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap putranya dengan tenang, seolah memastikan keputusan itu benar-benar sudah siap lahir dari hati Alden sendiri. Bukan sesuatu yang terburu-buru.
Di ruang keluarga itu, suasana mendadak terasa lebih sunyi.
Jam dinding berdetak pelan di kejauhan.
Sementara Alden masih duduk di sofa dengan kedua tangan saling bertaut di depan lututnya.
Tatapannya tertuju ke lantai.
Namun pikirannya jauh dari sana.
Jauh ke sebuah rumah yang belum ia lihat selama bertahun-tahun.
Ke sebuah nama yang selama ini hanya berani ia simpan dalam diam.
Pak Armanto akhirnya menghela napas pelan
"Alden," ucap Pak Armanto pelan, hati-hati.
"Kalau kamu masih merasa lelah, kita bisa tunggu sampai besok pagi. Tidak perlu memaksakan diri malam ini."
Namun Alden menggeleng kecil.
Tidak keras, tidak terburu-buru, tapi cukup tegas.
"Nggak, Pa..." Suaranya serak, tetapi mantap. "Alden sudah terlalu lama menunggu."
Ia menatap ayahnya sejenak sebelum melanjutkan,
"Alden mau ke sana sekarang."
Alden menunduk sesaat.
Ironisnya, selama bertahun-tahun di Perth ia justru berusaha mengubur nama Anjani jauh-jauh di dalam ingatannya. Ia memaksa dirinya percaya bahwa semua itu sudah selesai dan tidak perlu diingat lagi.
Namun Anjani kerap hadir dalam mimpi yang tidak pernah ia rencanakan. Datang sesekali, lalu meninggalkan rasa sesak yang selalu ia abaikan setelah terbangun.
Sampai akhirnya ia pulang ke Indonesia dan berhadapan dengan kenyataan bahwa waktu yang dimilikinya mungkin tidak banyak lagi.
Baru saat itulah ia mulai mencari Anjani.
Dan kini, setelah semua usaha itu membawanya sampai ke sini, kesempatan yang dulu terasa mustahil benar-benar ada di depan mata.
Ia tidak ingin menundanya lebih lama lagi.
Pak Armanto menghela napas pelan.
"Kamu yakin, Alden? Kondisimu baru saja pulih setelah perjalanan jauh. Sebaiknya kamu istirahat dulu malam ini. Kita bisa datang besok pagi."
"Alden yakin, Pa. Alden kuat. Alden sudah siap." Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan lebih pelan,
"Lagi pula... ini belum terlalu malam."
Ranti yang sedari tadi mendengarkan ikut angkat bicara dengan ragu,
"Tapi... mungkin mereka sudah beristirahat. Ini kan sudah malam."
Alden terdiam sesaat.
Pandangannya sedikit menurun, sebelum akhirnya ia berkata pelan namun pasti,
"Alden rasa... Anjani belum tidur."
Ia teringat kebiasaan lama yang pernah ia dengar dari Anjani bahwa gadis itu sering tidur di atas jam sepuluh malam.
Walaupun mungkin saja kebiasaan itu sudah berubah seiring waktu, Alden tidak sempat memikirkan kemungkinan lain lebih jauh. Yang ada di kepalanya saat itu hanya satu, Anjani masih ada di rumah, dan ia masih punya kesempatan
Keheningan singkat jatuh di antara mereka.
Pak Armanto saling berpandangan dengan Ranti. Kekhawatiran masih ada, tetapi mereka juga bisa melihat satu hal yang tidak bisa dibantah. Tekad Alden sudah bulat.
Akhirnya, Pak Armanto mengangguk pelan.
"Baik," ucapnya singkat, menyerah dengan lembut. "Kalau itu sudah keputusanmu, kita berangkat sekarang."
Alden segera bangkit dari duduknya dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri serta bersiap-siap.
Di depan cermin, ia bergerak perlahan namun teliti. Kemeja biru muda ia kenakan dengan rapi, warnanya membuat kulitnya terlihat sedikit lebih segar dari biasanya. Dipadukan dengan celana bahan yang pas di tubuhnya, ia tampak lebih terawat, lebih "utuh" dari kondisi sebenarnya.
Ia menyisir rambut pendeknya dengan hati-hati, memastikan setiap helainya jatuh pada posisi yang tepat. Tidak boleh ada yang terlihat berantakan. Tidak boleh ada kesan lemah yang terlalu mencolok.
Sebagai penutup, ia mengambil topi pet bisbol berwarna navy yang sudah ia siapkan. Sederhana, namun cukup untuk menyamarkan bagian yang ingin ia sembunyikan.
Lalu ia diam.
Menatap dirinya di cermin lebih lama dari biasanya.
Pantulan itu terlihat cukup baik. Bahkan terlalu baik jika dibandingkan dengan apa yang sebenarnya ia rasakan di dalam tubuhnya sendiri.
Tidak ada yang akan menduga bahwa di balik penampilan itu, ia sedang menahan tubuh yang rapuh dan penyakit yang terus berjalan diam-diam.
Ia tampak seperti pria dewasa yang rapi, sopan, berpendidikan, dan cukup berwibawa Sosok yang ingin ia perlihatkan di hadapan Anjani nanti.
Sosok yang ia harap masih bisa dikenali, meski waktu dan keadaan sudah banyak mengubah dirinya.
Sebelum berangkat, Alden menoleh ke arah Bu Susi yang berdiri tenang di sudut ruangan.
"Bu Susi, tolong tunggu di dalam mobil saja ya. Jangan ikut turun, kecuali kalau saya yang minta atau ada keadaan darurat. Dan... tolong jaga rahasianya."
Bu Susi mengangguk pelan, tanpa menunjukkan keberatan sedikit pun.
"Siap, Mas Alden. Saya mengerti," jawabnya lembut. "Tenang saja, saya akan tetap di mobil dan mengawasi dari jauh. Semua akan baik-baik saja."
Alden menghela napas pelan, seperti melepaskan sedikit beban dari dadanya.
"Terima kasih, Bu."
Bu Susi hanya tersenyum tipis, lalu mengamati Alden sejenak dengan tatapan yang sulit ditebak. Antara prihatin dan memahami.
"Mas Alden juga harus jaga diri. Jangan memaksakan apa pun di luar kemampuan tubuh," tambahnya singkat.
Alden mengangguk.
"Baik."
Bersambung...
bantu follow dan baca ya🙏