Chen Mo terlahir kembali di dunia kultivasi dengan sebuah sistem yang awalnya dianggap rusak dan tak berguna. Namun, seiring perjalanannya, ia menemukan bahwa sistem itu sebenarnya adalah Sistem Pemurnian Langit—warisan kuno yang bertujuan menjaga keseimbangan energi dunia.
Dengan fondasi yang disempurnakan secara unik, Chen Mo melewati berbagai tantangan: memenangkan kompetisi, masuk sekte terkuat, mengungkap rencana jahat organisasi kegelapan, hingga akhirnya memahami misi sejatinya. Ia tidak hanya berjuang untuk menjadi kuat, tapi juga mempelajari bahwa kekuatan sejati terletak pada keseimbangan, bukan penaklukan.
Cerita ini mengikuti perjalanannya dari pendatang tak dikenal hingga menjadi penjaga keseimbangan yang dihormati, melintasi alam yang lebih luas dan memegang tanggung jawab menjaga harmoni seluruh alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DARK SISTEM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: KONFLIK DENGAN KELOMPOK KUAT
BAB 28: KONFLIK DENGAN KELOMPOK KUAT
Malam di sekitar gua energi terasa jauh lebih sunyi dari biasanya.
Angin dingin berembus perlahan di antara pepohonan.
Namun Chen Mo tahu ketenangan itu tidak akan berlangsung lama.
Jejak yang ditemukan sistem sebelumnya bukan kebetulan.
Seseorang memang sedang menuju ke sini.
Dan jumlahnya tidak sedikit.
Di sampingnya, Feng Wei terlihat mulai gelisah.
"Apa kita harus pergi?"
tanyanya pelan.
Chen Mo menggeleng.
"Kenapa?"
"Kita baru menemukan tempat bagus."
"Itu bukan alasan yang meyakinkan."
"Bagiku cukup meyakinkan."
Feng Wei mengusap wajahnya.
Kadang ia tidak tahu apakah Chen Mo pemberani atau hanya keras kepala.
Mungkin keduanya.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki mulai terdengar.
Satu.
Dua.
Lalu semakin banyak.
Beberapa sosok muncul dari balik pepohonan.
Mereka mengenakan jubah berbeda.
Sebagian memakai lambang pedang perak.
Sebagian lagi memiliki simbol api merah di dada.
Murid Sekte Pedang Langit.
Dan murid Sekte Api Merah.
Dua sekte yang jauh lebih terkenal dibanding Sekte Awan Hijau.
Pemimpin kelompok itu adalah seorang pemuda bertubuh tinggi dengan pedang di punggungnya.
Saat melihat Chen Mo, matanya langsung menyipit.
"Kau lagi."
Chen Mo mengenal wajah itu.
Murid Sekte Pedang Langit yang sempat dipermalukan beberapa hari lalu ternyata ikut dalam kelompok ini.
"Senang bertemu lagi."
kata Chen Mo.
"Tidak."
jawab lawannya dingin.
"Aku tidak senang."
"Itu masalah pribadi."
Wajah pemuda itu langsung berkedut.
Feng Wei diam-diam mundur selangkah.
Ia mulai mengerti kenapa Chen Mo sering membuat musuh.
Seorang murid Sekte Api maju ke depan.
Auranya cukup kuat.
Jauh di atas peserta biasa.
"Kami akan mengambil gua ini."
katanya.
"Nah."
jawab Chen Mo.
"Nah?"
"Aku sudah mendengarnya."
"Lalu?"
"Aku sedang menunggu bagian pentingnya."
Ekspresi murid itu berubah bingung.
"Bagian apa?"
"Bagian di mana aku setuju."
Suasana langsung menjadi sunyi.
Beberapa murid bahkan mengira mereka salah dengar.
Pemuda Sekte Api tertawa dingin.
"Kau menolak?"
Chen Mo mengangguk.
"Tentu."
"Kau tahu siapa kami?"
"Tahu."
"Lalu?"
"Aku tetap menolak."
Murid-murid di belakang langsung menunjukkan ekspresi marah.
Biasanya, begitu identitas sekte mereka disebut, peserta lain akan mundur.
Namun Chen Mo justru terlihat santai.
Seolah tidak menganggap mereka ancaman.
Padahal sebenarnya...
Chen Mo memang sedang gugup.
Sangat gugup.
Tetapi selama wajahnya tetap tenang, tidak ada yang akan tahu.
Pemuda Sekte Api akhirnya kehilangan kesabaran.
"Kalau begitu jangan salahkan kami."
Wush!
Tubuhnya melesat maju.
Tinju yang dilapisi energi spiritual menghantam langsung ke arah dada Chen Mo.
Cepat.
Sangat cepat.
Namun Chen Mo tidak panik.
Fondasi yang telah dipadatkan selama berbulan-bulan langsung bekerja.
Energi spiritual mengalir ke seluruh tubuhnya.
Buk!
Tinju itu mengenai bahunya.
Chen Mo mundur dua langkah.
Hanya dua langkah.
Pemuda Sekte Api membelalakkan mata.
"Apa?"
Serangan itu seharusnya cukup untuk membuat murid biasa terluka.
Namun Chen Mo hanya mengusap bahunya.
"Lumayan sakit."
"Lumayan?"
Murid itu mulai meragukan hidupnya.
Belum sempat ia bereaksi, dua murid Sekte Pedang Langit ikut menyerang.
Pedang mereka bergerak cepat.
Membentuk dua garis cahaya tajam.
Chen Mo segera bergerak mundur.
Layar sistem muncul.
【Analisis Serangan】
【Jalur Teraman Ditemukan】
Tubuhnya bergerak mengikuti petunjuk.
Satu tebasan meleset.
Tebasan kedua hanya menggores ujung lengan bajunya.
Feng Wei yang melihat dari belakang sampai tercengang.
"Bagaimana dia melakukannya?"
Ia tahu Chen Mo kuat.
Namun ini sudah keterlaluan.
Menghindari serangan dari beberapa lawan sekaligus bukan hal mudah.
Pertarungan segera berubah menjadi kekacauan kecil.
Beberapa murid maju bergantian.
Chen Mo terus bertahan.
Kadang menghindar.
Kadang menangkis.
Kadang menerima serangan secara langsung.
Dan yang paling membuat lawannya frustrasi...
Ia tidak tumbang.
Sama sekali.
Seorang murid Sekte Pedang Langit akhirnya berteriak.
"Apa tubuhnya terbuat dari batu?!"
"Tidak."
jawab Chen Mo.
"Lalu kenapa keras sekali?!"
"Aku juga penasaran."
Padahal ia tahu jawabannya.
Fondasi sempurna.
Pemurnian energi.
Ditambah Teknik Pernapasan Awan Tenang.
Seluruh proses itu membuat tubuhnya jauh lebih kuat dibanding kultivator biasa di tingkat yang sama.
Pertarungan berlangsung semakin sengit.
Namun tidak ada pihak yang benar-benar unggul.
Kelompok lawan memang lebih banyak.
Tetapi mereka tidak bisa menjatuhkan Chen Mo dengan cepat.
Sebaliknya, semakin lama mereka bertarung, semakin banyak energi yang terbuang.
Pemimpin Sekte Api mulai menyadari sesuatu.
"Ada yang tidak normal dengan orang ini."
Murid Sekte Pedang Langit menggertakkan gigi.
"Tentu saja tidak normal!"
"Orang normal tidak bisa menerima serangan sebanyak itu!"
Di sisi lain, Chen Mo juga mulai lelah.
Meski mampu bertahan, menghadapi banyak lawan sekaligus tetap menguras tenaga.
Untungnya sistem terus membantu.
Menunjukkan titik aman.
Memberi prediksi gerakan.
Dan menjaga penggunaan energi tetap efisien.
Saat kedua pihak masih saling berhadapan, jauh di area lain dalam Lembah Ujian...
Seorang gadis berjubah putih sedang berdiri di atas cabang pohon tinggi.
Lin Qingyue.
Pedang Tipis Es tergenggam di tangannya.
Tatapannya mengarah ke kejauhan.
Entah kenapa, sejak sore tadi ia merasa gelisah.
Perasaannya mengatakan sesuatu sedang terjadi.
Sesuatu yang berkaitan dengan Chen Mo.
Biasanya ia tidak terlalu memercayai firasat.
Namun kali ini berbeda.
Karena semakin lama...
Perasaan tidak nyaman itu semakin kuat.
Lin Qingyue menatap ke arah bagian terdalam lembah.
Matanya menyipit.
Seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.
Tanpa ia sadari, langkahnya perlahan mulai mengarah ke tempat yang sama dengan Chen Mo.
Sementara itu, di depan gua energi...
Konflik yang awalnya hanya perebutan tempat kultivasi mulai berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.
Dan tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa masalah sebenarnya baru akan dimulai.