NovelToon NovelToon
Aku Mencintaimu Adel

Aku Mencintaimu Adel

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dokter
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wisye Titiheru

Mengisahkan Perjalanan kisah cinta Adel Emanuella Sanjaya anak tunggal dari pasangan suami istri bapak Max Sanjaya dan ibu Jenny Andreas. Kisah ini berawal ketika Adel berkenalan dengan seorang polisi yang identitasnya sengaja di rahasiakan karena tugas negaranya. Di pertemukan lagi ketika Adel sudah menjadi seorang dokter. Saat itu Adel Emanuella Sanjaya baru tahu bahwa Karel Imanuel Barnabas seorang perwira Kepolisian berpangkat Iptu. Apakah cinta mereka bisa bertahan menembus segala cobaan dengan profesi Karel yang adalah seorang intel??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ciuman

Karel sebenarnya baru tiba di markas ini semalam setelah melakukan misi bantuan di Australia selama enam bulan. Dan tadi pagi dia baru mengetahui bahwa dokter Adel yang memeriksa kesehatan rutin perwira pertama. Makanya dia sengaja yang terakhir.

Adel sudah tidak kos di luar markas polri. Oleh kesatuan dokter Adel mendapat rumah dinas untuk mempermudah aktivitasnya sebagai dokter . Bukan Karel namanya jika markas sebesar ini dia tidak tahu, dimana mutiara hatinya tinggal.

Sepulang dari rumah sakit, Adel langsung tidur. Dia dibangunkan dari tidur siangnya dengan bunyi bel di rumahnya. Dia sadar, ternyata sudah malam. Pantas perutnya merasa sakit. Kampung tengahnya minta diisi. Bunyi bel tidak ada hentinya.

"Siapa sih, kok ngak sabaran. Iya ... Iya sabar. " Karel tersenyum mendengar suara Adel yang marah - marah karena di bangunkan olehnya. Sedang berjalan menuju pintu sebelumnya dia menyalakan lampu - lampu di rumahnya. Begitu di buka pintunya. Karel masuk dengan membawa satu tas yang dia jinjing.

"Anak gadis itu tidak boleh tidur siang sampai gelap. Belum rasa kesambet??"

"Ini aku sedang kesambet."

"Tetapi oleh seorang pangeran ganteng kan."

""Terlalu percaya diri. Buat apa datang kerumah perempuan malam - malam."

"Ya buat menangi janji yang terlewat."

"Aku ngak perna janji sama kamu."

"Aku yang berjanji pada diriku sendiri. Bahwa aku yang harus mencium bibir cerewet itu."

"Jangan macam - macam." Karel menatap Adel dengan senyuman.

"Aku mau makan malam sama kamu."

"Aku ngak lapar." Tiba - tiba cacing di perut Adel berteriak. Dan Karel tersenyum.

"Terus itu suara apa??" Adel yang malu langsung mengambil tas yang berisi makanan dari tangan Karel. Betapa kagetnya dia ternyata yang di bawa Karel adalah makanan kesukaannya.

"Kenapa mukanya seperti itu?? Kaget ya aku bisa tahu makanan kesukaanmu?"

Adel hanya melihat Karel dengan kebingungannya.

"Jangan - jangan selama ini kamu memata - matai aku."

Karel sudah duduk di meja makan bersama Adel. Dan mulai makan.

"Jangan dilihat, ayo makan, nanti cacing di perut kamu berteriak lagi."

Adel pun mulai menikmati makan malam bawaan Karel dengan lahap. Dia sudah tidak berpikir dari mana Karel tahu makanan kesukaannya, yang dia tahu malam ini dia bahagia sekali.

"Terima kasih buat makanan enaknya."

"Hanya terima kasih."

"Terus maunya apa??"

"Ciuman dong."

"Jangan macam - macam ya mas."

"Ooo aku bahagia sekali kamu memangil aku dengan sebutan mas." Maka sebelum pulang dengan cepat Karel kembali memberi ciuman di kening Adel.

"Mas......"

"Mimpi yang indah ya sayang. Sampai ketemu besok sayang."Karel hanya tersenyum. Dia puas sekali bisa makan malam bersama dengan Adel perempuan yang dia suka.

Ciuman dua kali yang diberikan Karel kepada Adel di keningnya. Membuat Adel susah move on. Akhirnya pukul lima pagi, Adel sudah bangun dan lari pagi di kompleks. Tepatnya di lapangan. Selama Tiga puluh menit dia berlari dan enam putaran bisa dilakukan olehnya. Adel sudah kembali ke rumah dinas. Bersiap - siap untuk ke rumah sakit.

Sementara itu di propam intel sedang tranding topik. Anggota polisi sedang menceritakan dokter Adel yang tadi pagi berolah raga. Karel sangat panas telinganya mendengarkan cerita yang di dengar oleh anggotanya.

"Jam berapa dokter itu lari pagi???"

"Jam lima subuh bos."

Sementara itu di rumah sakit, juga mereka membicarakan dokter Adel. Arman dan Dita yang mendengar cerita itu langsung menyampaikan kepada dokter mereka.

"Iya, memang betul saya lari pagi jam lima subuh. Ada yang salah??"

"Tidak sih dokter."

"Terus jam lima subuh tidak boleh lari di kompleks??"

"Tidak juga."

"Terus apa yang menarik dari saya."

"Kamu itu cantik, makanya banyak orang kaget melihat bidadari lari pagi jam lima subuh." Karel datang dengan membawa cemilan buat Adel. Tentu Adel kaget. Arman dan Dika hanya tersenyum.

"Kalian sekongkol dengan pak polisi ini??"

"Tidak dokter."

"Kalau iya, kenapa ada masalah??" Adel tertunduk dia tidak mampu menatap mata elang Karel yang tepat didepan mukanya.

"Jangan lari dengan baju seksi. Ini bukan Bali. Bujangan di kompleks ini banyak. Dan aku tidak mau ada saingan dalam merebut hati kamu. Ingat."

"Apa masalah buat kamu."

"Tentu iya. Tadi aku sudah katakan, aku ngak mau banyak saingan. Paham kan!!" Bagaikan terhipnotis, seketika Adel menganggukan kepalanya. Dia bagaikan anak kecil yang sedang nurut apa kata papanya.

"Aissss... Kenapa aku bisa bego begini." Adel baru sadar atas gestur tubuhnya yang mengiyakan apa yang di katakan oleh Karel. Dan dia menyesal sambil menjambak rambutnya. Arman dan Dita hanya bisa tertawa melihat tingkah dokter mereka. Sementara seperti biasa dibalik pintu Karel tersenyum.

"Kamu akan menjadi milikku perempuan introvert dan terlalu mandiri." Kata hati Karel. Kemudian dia pergi meninggalkan rumah sakit. Dia mengirim pesan kepada Adel untuk menikmati cemilan sehat yang baru dia bawa.

Meskipun dia kesal dengan Karel yang datang tiba - tiba, namun dari lubuk hatinya paling dalam dia merasa senang di perhatikan seperti itu oleh Pak polisi Karel.

"Dokter dengan pak pol Karel cocok loh??"

"Aku???"

"Iya. Benarkan Arman??"

"Setuju. Dari dulu biar seperti tom dan jerry tetapi terlihat sweet banget. Games deh." Gaya Arman yang sedikit kelembutan ini membuat Adel dan Dita tertawa.

Satu minggu, Adel tidak bertemu dengan Karel. Hatinya aman, namun dia merindukan sosok Karel. Diam - diam dia mencari informasi tentang keberadaan Karel pada salah satu anggota intel yang kemarin baru Adel periksa.

"Mas dari bagian apa di polri???"

"Intel dok."

"Dokter mencari seseorang di bagian intel??"

"AKP Karel lagi berdinas ya. Soalnya hanya beliau yang belum mengambil hasil pemeriksaan kesehatannya."

"Komandan lagi tugas dokter. Kalau kembali akan saya sampaikan untuk berjumpa dokter???"

"Jangan katakan berjumpa ya pak. Katakan saja untuk mengambil hasil tesnya kesehatannya."

"Siap dokter."

Setelah membuat resep obat. Polisi bagian intel itu keluar ruangan. Dokter Adel tidak tahu, bahwa polisi tersebut baru di pulangkan setelah mengalami sakit akibat kecelakaan di lapangan, makanya oleh komandannya diq di kirim kembali ke kesatuan untuk betobat. Sekalian mata - mata buat Karel.

"Bagaimana Rudi, calon ibu komandanmu??"

"Ibu dokter menanyakan komandan"

"Apa dia kangen sama saya."

"Bisa jadi komandan."

"Jangan besar kepala siapa tahu memang benar dia mau memberikan hasil periksa kesehatannya kamu."

"Jangan iri Reza, bisa ngak sih lihat lettingmu inj bahagia."

"Kalau serius ya di lamar lah?? Kenapa di tunda - tunda??"

"Ngak segampang itu. Kamu tahu sendiri tugas ku ini. Aku takut membahayakan dia. Apalagi orang yang kita cari masih berkeliaran bebas. Kita belum bisa mendapatkan bukti kejahatannya."

"Jangan terlalu pesimis, kalau semua polisi ketakutan ibu bhayangkari nanti berbahaya. Kapan kita ada keturunan?? Hidup mati itu ada di tangan Tuhan."

"Iya aku tahu, tetapi aku harus siapkan mentalnya untuk bisa menerima kenyataan akan tugas saya."

"Jangan lama, takut ada yang salip lebih dahulu."

"Jangan katakan kamu orangnya." Reza dan Karel tertawa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!