NovelToon NovelToon
Si Jenius Pasar Saham

Si Jenius Pasar Saham

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anak Genius
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: (Rahu)l

Theo, seorang bocah jenius dengan pemahaman luar biasa tentang pasar modal, lahir di keluarga yang serba kekurangan. Kehidupannya yang sederhana berbanding terbalik dengan kecemerlangannya dalam menganalisis grafik saham dan memprediksi tren pasar. Suatu ketika, sebuah kesempatan tak terduga datang saat ia menemukan sebuah buku tua berisi strategi investasi legendaris. Dengan modal nekat dan kecerdasannya yang tak tertandingi, Theo mulai merintis jalan dari nol. Ia bertekad membuktikan bahwa kecerdasan finansial dapat mengubah nasib, bahkan bagi anak dari keluarga miskin sekalipun, dan membawa keluarganya keluar dari jurang kemiskinan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Persetujuan yang Ditunggu

Pagi itu, suasana di kantor PT Alta terasa berbeda. Ada energi baru yang mengalir, sebuah optimisme yang terasa nyata. Theo dan Jhonatan, dengan proposal yang telah mereka susun dengan cermat, tiba di kantor Sofie dengan harapan besar.

Sofie menyambut mereka dengan senyum ramah, namun matanya memancarkan ketegasan yang khas. Ia mempersilakan mereka duduk di ruang rapat pribadinya yang minimalis namun elegan. Proposal yang tebal itu kemudian diletakkan di atas meja di antara mereka.

"Jadi, ini proposal yang kalian susun?" tanya Sofie, mengambil tumpukan kertas itu dengan kedua tangannya. Nada suaranya terdengar tenang, namun Theo dan Jhonatan bisa merasakan sedikit rasa penasaran di baliknya.

"Ya, Kak Sofie," jawab Theo, berusaha terdengar percaya diri. "Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menuangkan semua ide yang kita diskusikan, dan juga beberapa ide tambahan yang kami pikir bisa semakin memperkuat konsepnya."

Jhonatan menambahkan, "Kami yakin konsep 'Kampung Hijau: Ruang Hidup Berkelanjutan' ini memiliki potensi besar, tidak hanya untuk PT Alta, tetapi juga untuk kolaborasi yang lebih luas."

Sofie mulai membalik halaman demi halaman proposal itu. Matanya bergerak cepat, membaca setiap kata, meneliti setiap angka, dan mencerna setiap konsep yang disajikan. Theo dan Jhonatan duduk diam, menahan napas, menunggu reaksinya.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang hanya dipecah oleh suara kertas yang dibalik. Sofie sesekali mengangguk pelan, terkadang mengerutkan kening sejenak, lalu kembali membaca. Theo dan Jhonatan saling bertukar pandang, mencoba membaca ekspresi wajah Sofie, namun ia tetap menjaga wajahnya tetap netral.

Ketika Sofie sampai pada halaman terakhir, ia menutup proposal itu perlahan. Ia mengangkat pandangannya, menatap Theo dan Jhonatan. Ada jeda sesaat sebelum ia berbicara.

"Kalian telah bekerja keras," katanya, suaranya tenang namun tegas.

...****************...

Sofie menutup proposal itu perlahan. Ia mengangkat pandangannya, menatap Theo dan Jhonatan. Ada jeda sesaat sebelum ia berbicara.

"Kalian telah bekerja keras," katanya, suaranya tenang namun tegas. Ia mengangguk pelan, sebuah gerakan yang terasa begitu berarti bagi Theo dan Jhonatan. "Saya melihat potensi yang sangat besar dalam proposal ini. Ide 'Kampung Hijau' ini tidak hanya sejalan dengan moto perusahaan kita, 'Go Green dan Ruang Hidup', tetapi juga menawarkan sebuah inovasi yang segar di industri properti."

Senyum tipis tersungging di bibir Sofie. "Kolaborasi yang kalian rancang, menggabungkan kekuatan PT Alta, usaha furniture Jhonatan, dan lini produk daur ulang perusahaan saya, terdengar sangat menjanjikan. Konsep acara bulanan juga akan menjadi daya tarik tersendiri dan membangun komunitas yang kuat."

Theo dan Jhonatan saling pandang, senyum lega mulai terukir di wajah mereka.

"Namun," lanjut Sofie, membuat mereka kembali menahan napas, "Keputusan sebesar ini tentu membutuhkan pertimbangan yang matang dari seluruh jajaran direksi." Ia menarik napas sejenak. "Baiklah. Saya akan segera menjadwalkan rapat dewan direksi. Kita akan membahas proposal ini secara mendalam dan membuat keputusan secepatnya."

Sofie berdiri dari kursinya, menunjukkan bahwa pertemuan singkat itu akan segera berakhir. "Saya akan mengabari kalian begitu rapat selesai. Saya optimis, dengan kerja keras kalian, proyek ini akan mendapatkan lampu hijau."

Theo dan Jhonatan bangkit berdiri, rasa syukur memenuhi dada mereka. "Terima kasih banyak, Kak Sofie," ucap Theo tulus. "Kami sangat menghargai kesempatan ini."

"Ya, terima kasih atas kepercayaan Anda," tambah Jhonatan.

Sofie membalas tatapan mereka dengan keyakinan. "Perusahaan kami akan langsung mengadakan rapat untuk putusan proyek kita. Kalian akan segera tahu hasilnya."

Dengan perasaan campur aduk antara harapan dan sedikit kecemasan, Theo dan Jhonatan meninggalkan ruangan

...****************...

Theo dan Jhonatan meninggalkan ruangan Sofie dengan perasaan campur aduk antara harapan dan sedikit kecemasan. Mereka telah melakukan yang terbaik, dan respons awal Sofie tampak positif, namun keputusan akhir ada di tangan dewan direksi.

Saat mereka berjalan menyusuri koridor PT Alta yang megah, Theo tiba-tiba berhenti. Ekspresinya berubah dari lega menjadi gelisah. Ia menghela napas panjang, pandangannya menerawang.

"Ada apa, Theo?" tanya Jhonatan, menyadari perubahan raut wajah adik angkatnya itu.

Theo menoleh pada Jhonatan, kegelisahan terlihat jelas di matanya. "Minggu depan ujian semester, Kak," katanya, suaranya terdengar sedikit bergetar. "Aku belum sempat belajar sama sekali. Semuanya fokus ke proposal ini."

Jhonatan mengangguk mengerti. Ia adalah alumni Glory School, sekolah yang sama dengan Theo, dan ia tahu betul betapa ketat dan sulitnya ujian semester di sana. Beban akademis yang ditanggung para siswa seringkali sangat berat, apalagi di tingkat akhir.

"Aku tahu, Theo," kata Jhonatan lembut, menepuk bahu Theo. "Aku ingat betul bagaimana rasanya menghadapi ujian di Glory School. Tapi jangan khawatir berlebihan."

Ia melanjutkan, mencoba menenangkan Theo, "Kita sudah berusaha keras untuk proposal ini, dan hasilnya sejauh ini sangat baik. Sekarang, setelah ini, kita bisa fokus pada ujianmu. Kita bisa belajar bersama, atau aku bisa membantumu mencari materi tambahan jika perlu."

Jhonatan tersenyum, mencoba memberikan semangat. "Kau pintar, Theo. Kau pasti bisa mengejar ketertinggalanmu. Yang penting sekarang adalah bagaimana kita membagi waktu dengan baik. Proposal ini penting, tapi pendidikanmu juga sama pentingnya."

Theo menghela napas lagi, sedikit merasa lebih baik mendengar dukungan dari Jhonatan. Ia tahu Jhonatan benar. Ia harus bisa menyeimbangkan keduanya.

"Terima kasih, Kak Jhonatan," ucap Theo tulus. "Aku hanya sedikit panik melihat waktu yang semakin dekat."

...****************...

Keesokan paginya, suasana di sekolah kembali seperti biasa. Theo, meskipun masih memikirkan hasil proposal dan ujian semester yang mendekat, berusaha untuk tetap fokus pada pelajaran. Namun, perhatiannya teralihkan ketika Elsa menghampirinya saat jam istirahat.

Elsa, dengan senyum ramah namun sorot mata yang penuh perhatian, berdiri di samping meja Theo. "Hei, Theo," sapanya. "Kulihat kau sedikit sibuk belakangan ini."

Theo mendongak, sedikit terkejut melihat Elsa. "Oh, hai Elsa," jawabnya, berusaha tersenyum.

Elsa melanjutkan, "Ya, aku perhatikan kau seperti kurang fokus belajar. Sibuk sekali ya belakangan ini? Ada proyek baru, ya?" Tanyanya, nada suaranya terdengar ingin tahu sekaligus sedikit khawatir.

Theo menghela napas. Ia tahu Elsa adalah teman yang baik dan perhatian. Ia tidak bisa menyembunyikan segalanya darinya, terutama karena Elsa juga tahu tentang ambisinya untuk mengembangkan bisnis.

"Ya, begitulah," jawab Theo jujur. "Ada beberapa hal yang sedang aku kerjakan di luar sekolah. Lumayan menyita waktu dan pikiran."

Elsa mengangguk, tatapannya masih tertuju pada Theo. "Aku mengerti. Tapi jangan sampai mengganggu studimu, ya. Ujian semester kan sebentar lagi."

Theo tersenyum kecil. "Aku tahu. Kak Jhonatan juga mengingatkanku. Aku sedang berusaha menyeimbangkan semuanya."

Elsa tersenyum lebih lebar. "Baguslah kalau begitu. Kalau kau butuh bantuan untuk belajar, atau sekadar ingin diskusi materi, jangan sungkan bilang padaku, ya. Kita kan teman."

Theo merasa sedikit lega. Dukungan dari teman-temannya, seperti Elsa dan Jhonatan, sangat berarti baginya di tengah kesibukannya. "Terima kasih banyak, Elsa. Aku pasti akan menghubungimu kalau perlu bantuan."

Elsa mengangguk puas. "Oke. Semangat ya, Theo!" Ucapnya sebelum beranjak pergi,

1
Tosari Agung
hati hati Rendra Theo dan anakmu yang belum tentu di pihakmu akan membuat serangan saham yang menukik 🤣🤣🤣🤣🤣
Rahul: aman, author akan membuat cerita semenarik mungkin🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!