NovelToon NovelToon
KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: HINDRA10

"Dilahirkan dengan Tulang Roh yang Layu, Lin Chen dianggap sebagai aib terbesar bagi Kekaisaran Shenghuang. Setelah dijebak oleh saudara-saudaranya dan dibuang oleh ayahnya sang Kaisar, ia diasingkan ke Sekte Pedang Taixuan—sebuah sekte kuno yang hampir punah—dan hanya diberi pekerjaan sebagai murid tukang sapu.

Dunia mengira hidupnya telah hancur. Namun, mereka tidak tahu bahwa di hari pertamanya memegang sapu, sebuah Sistem Absensi Jejak Kuno bangkit di dalam jiwanya!

【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Gerbang Batas Taixuan. Hadiah: Tubuh Pedang Kekacauan Primitif!】
【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Makam Pedang Leluhur. Hadiah: Mata Dewa Kekacauan!】

Aturannya ketat: Hanya bisa check-in satu bulan sekali! Namun, setiap tempat yang pernah disinggahi para dewa kuno akan memberinya hadiah tingkat mitologi.

Ketika sekte-sekte besar mencoba menghancurkan tempatnya menumpang, dan Kekaisaran Shenghuang datang untuk menindasnya lagi, pangeran yang dianggap sampah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HINDRA10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

Pengumuman itu datang tiga hari sebelum keberangkatan.

Lin Chen sedang menyapu koridor timur sekte ketika seorang pelayan junior berlari kecil menghampirinya dengan napas yang tidak perlu seheboh itu.

"Lin Chen! Master Sekte memanggilmu ke Aula Utama!"

Lin Chen menghentikan sapunya.

'Aula Utama.'

Dalam enam bulan terakhir, dia dipanggil ke Aula Utama tepat dua kali—pertama saat baru tiba di sekte dan diberi seragam pelayan, kedua saat seluruh penghuni sekte dikumpulkan untuk mendengar pengumuman tantangan Sekte Harimau Ganas. Keduanya bukan urusan yang menyenangkan.

'Ada apa lagi?'

Dia menyandarkan sapunya ke dinding dengan tenang, lalu mengikuti pelayan junior itu dengan langkah yang tidak tergesa-gesa sama sekali.

Di Aula Utama, Master Sekte Gu Changfeng duduk di kursi utamanya dengan ekspresi orang yang baru saja menemukan masalah kecil yang sangat tidak dia inginkan hari ini. Di sebelahnya berdiri dua sesepuh yang Lin Chen kenali sebagai Sesepuh Bai dan Sesepuh Duan—dua tetua Ranah Jiwa Nascent yang akan mengawal rombongan ke Turnamen Lima Sekte.

Keduanya menatap Lin Chen dengan ekspresi yang susah didefinisikan. Bukan meremehkan, bukan hormat. Lebih seperti menatap solusi darurat yang tidak ideal tapi tidak ada pilihan lain.

"Lin Chen," Gu Changfeng membuka pembicaraan langsung tanpa basa-basi. "Pelayan Tua Hong yang seharusnya mengurus logistik rombongan ke Jiuyang jatuh sakit kemarin malam. Demam tinggi, tidak bisa berdiri."

Lin Chen menunggu.

"Kau akan menggantikannya."

Hening sejenak.

"Tugasmu sederhana," Sesepuh Bai menambahkan dengan nada yang sangat menekankan kata sederhana. "Mengurus kebutuhan makan dan minum rombongan selama perjalanan tiga hari. Memastikan barang bawaan tidak ada yang tertinggal. Menyiapkan tenda saat bermalam di luar kota. Pekerjaan pelayan biasa."

"Kau tidak perlu melakukan apapun selain itu," Sesepuh Duan menambahkan, nadanya mengandung pesan tersirat yang sangat jelas: jangan ikut campur urusan yang bukan urusanmu.

Lin Chen menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Pelayan ini siap menjalankan tugas."

Gu Changfeng mengangguk, ekspresinya sedikit lega. Masalah kecil itu sudah selesai.

Lin Chen berbalik dan berjalan keluar dari Aula Utama dengan langkah yang sama tenangnya seperti saat masuk.

Di koridor luar, jauh dari telinga siapapun, dia menggumamkan sesuatu yang sangat pelan.

'Tiga hari perjalanan ke Jiuyang.'

'Kota tua yang dibangun di atas bekas medan perang ribuan tahun.'

'Check-in bulan depan tinggal dua minggu lagi.'

Senyum tipis muncul di sudut bibirnya tanpa dia sadari.

'...Baiklah. Mungkin Pelayan Tua Hong jatuh sakit di waktu yang sangat tepat.'

Hari keberangkatan tiba dengan kabut pagi yang tebal.

Di halaman depan sekte, rombongan sudah berkumpul sejak sebelum matahari naik penuh. Su Qingxue berdiri paling depan dengan pedang gioknya tersandang rapi di punggung, jubah putihnya bersih tanpa satu pun noda. Di belakangnya, lima murid berbakat Taixuan berdiri dalam dua baris—semuanya berusia antara delapan belas sampai dua puluh tiga tahun, semuanya mengenakan jubah biru tua resmi sekte, semuanya berusaha terlihat tenang dengan tingkat keberhasilan yang sangat bervariasi.

Lin Chen mengamati mereka sekilas dari belakang, di mana dia berdiri di samping dua gerobak kecil berisi perbekalan rombongan.

Dari kiri ke kanan:

Wei Peng—murid laki-laki berbahu lebar dengan Ranah Inti Emas Tingkat 2, spesialisasi teknik tubuh. Wajahnya tenang tapi tangannya tidak berhenti menggenggam dan melepas gagang senjatanya berulang kali. Gugup tapi menyembunyikannya dengan cara yang salah.

Luo Mei—satu-satunya murid perempuan selain Su Qingxue, Ranah Inti Emas Tingkat 1, spesialisasi formasi. Rambutnya dikepang rapi dan matanya terlihat lebih tajam dari biasanya—tipe orang yang semakin fokus semakin tertekan.

Chen Hao—murid termuda, tujuh belas tahun, Ranah Fondasi Tingkat 9 yang baru saja hampir menembus Inti Emas. Tubuhnya paling kecil di rombongan tapi auranya paling tidak stabil—energinya naik turun seperti air yang mendidih, tanda kultivasi yang belum sepenuhnya matang.

Fang Rui dan Zhou Bin—dua murid yang selalu terlihat bersama, Inti Emas Tingkat 1 keduanya. Kembar dalam hal kepribadian meski tidak dalam darah—keduanya tipe yang mencoba menenangkan diri dengan bercanda pelan satu sama lain, dengan hasil yang tidak terlalu berhasil.

Lima murid. Lima beban yang masing-masing sedang mencoba tidak terlihat seperti beban.

'Turnamen Lima Sekte,' Lin Chen menyimpulkan dengan sangat datar. 'Dan ini yang terbaik yang bisa Taixuan kirimkan.'

'...Semoga cukup.'

"Rombongan, bersiap!"

Suara Sesepuh Bai memotong keheningan pagi. Semua orang langsung merapikan posisi masing-masing dengan reflek.

Kecuali Lin Chen yang sudah memegang tali gerobak sejak tadi.

Rombongan bergerak.

Hari pertama perjalanan berlalu tanpa insiden.

Jalur menuju Kota Jiuyang melewati tiga lembah dan satu kota kecil di kaki pegunungan. Medannya tidak sulit bagi kultivator—bahkan Chen Hao yang termuda tidak perlu mengeluarkan Qi sama sekali untuk menjaga langkah. Tapi perjalanan fisik yang mudah tidak berarti suasana yang ringan.

Para murid berjalan dalam diam yang canggung. Su Qingxue tidak mengajak bicara siapapun—bukan karena tidak peduli, tapi karena cara dia menunjukkan kepercayaan adalah dengan tidak mengucapkan kata-kata yang tidak perlu. Dua sesepuh berjalan di posisi paling depan dan paling belakang, fokus memantau lingkungan sekitar.

Di tengah-tengah, Lin Chen mendorong gerobak perbekalan dengan langkah yang santai.

Srak... srak...

Bukan suara sapu kali ini—tapi bunyi roda gerobak di atas tanah berbatu yang ternyata tidak jauh berbeda ritmenya. Lin Chen merasa ada semacam konsistensi yang menenangkan dalam hal ini.

Saat rombongan berhenti untuk makan siang di tepi jalan, Lin Chen yang menyiapkan semuanya. Api unggun kecil, periuk sup sederhana dari bahan-bahan yang dibawa dari sekte, mangkuk yang dibagi rata.

"Ini..." Chen Hao, si murid termuda, mencicipi supnya dengan ekspresi yang tidak dia sembunyikan dengan baik. "Enak."

"Pelayan Tua Hong yang biasanya masak?" Fang Rui bertanya ke Zhou Bin dengan suara yang tidak cukup pelan.

"Bukan," Zhou Bin menjawab sambil melirik Lin Chen. "Itu yang tadi dorong gerobak."

Keduanya menatap Lin Chen sebentar, lalu kembali ke mangkuk masing-masing tanpa komentar lebih lanjut.

Lin Chen pura-pura tidak mendengar sambil membersihkan periuk.

Malam pertama, mereka bermalam di pinggir hutan.

Lin Chen mendirikan tenda dalam waktu yang membuat Sesepuh Duan meliriknya sekali dengan ekspresi yang susah dibaca, lalu tidak berkomentar apapun. Api unggun dinyalakan. Jaga malam dibagi antara dua sesepuh secara bergantian.

Lin Chen duduk di posisi paling pinggir dari lingkaran cahaya api, punggung bersandar ke pohon, matanya setengah terpejam.

Tapi Mata Dewa Kekacauan-nya tidak pernah benar-benar tidur.

Dalam radius dua li dari kemah mereka, Lin Chen memetakan segalanya—pergerakan hewan, aliran energi alam, formasi pelindung sementara yang dipasang Sesepuh Bai di sekitar area kemah. Semuanya normal. Semuanya aman.

Dia menutup Mata Dewanya dan benar-benar tidur.

Hari kedua, mereka memasuki Kota Batu Qianmen.

Kota kecil di kaki gunung yang sudah ada sejak ratusan tahun, tempat persinggahan umum bagi rombongan yang menuju Jiuyang saat musim turnamen. Jalanan utamanya ramai dengan pedagang, kultivator dari berbagai sekte kecil, dan penduduk lokal yang sudah terbiasa dengan keramaian tahunan ini.

Lin Chen mendorong gerobak di barisan paling belakang, matanya menyapu keramaian kota dengan ekspresi orang yang hanya melihat-lihat.

Tapi Mata Dewa Kekacauan-nya bekerja penuh.

Dan di sinilah sesuatu yang tidak beres itu pertama kali tertangkap.

Awalnya hanya satu orang.

Seorang pria berbaju coklat biasa yang berdiri di depan kios kain di sisi kanan jalan. Tidak ada yang istimewa dari penampilannya—pedagang biasa, atau pembeli biasa, atau orang yang sedang menunggu seseorang. Tapi Mata Dewa Kekacauan-nya menangkap sesuatu yang tidak cocok.

Pria itu tidak melihat kios kain di depannya.

Matanya mengikuti Su Qingxue.

Lin Chen tidak mengubah langkahnya. Tidak mengubah ekspresinya. Gerobaknya terus bergulir di atas batu jalan dengan bunyi yang sama.

'Satu orang. Mungkin kebetulan.'

Seratus langkah kemudian, dia menemukan yang kedua.

Seorang wanita yang berjualan buah di sudut jalan, matanya yang tampak sibuk menghitung uang kembalian ternyata bergerak mengikuti arah perjalanan rombongan mereka setiap kali ada celah.

'Dua orang.'

Lima puluh langkah lagi, yang ketiga. Yang keempat. Yang kelima.

Pada orang kedua belas, Lin Chen berhenti menghitung.

'Dua belas orang,' simpulnya dalam hati. 'Tersebar di sepanjang jalan utama kota. Semuanya berpakaian berbeda, semuanya berpura-pura sibuk dengan kegiatan masing-masing. Tapi pola pergerakan matanya sama—mengikuti Su Qingxue, bukan rombongan secara keseluruhan.'

'Terlatih. Terorganisir. Dan sangat sabar.'

Lin Chen melirik ke depan. Su Qingxue berjalan dengan langkah tegap tanpa melihat ke kiri atau kanan—fokusnya ada di tujuan, bukan lingkungan sekitar. Dua sesepuh di posisi depan dan belakang juga tidak menunjukkan tanda-tanda mendeteksi apapun.

'Mereka menggunakan teknik penyembunyian aura yang sangat rapi. Cukup rapi untuk lolos dari dua Nascent Soul.'

'Tapi tidak dari Mata Dewa Kekacauan.'

Lin Chen mendorong gerobaknya terus, kecepatannya tidak berubah.

'Pertanyaannya sekarang bukan siapa yang mengirim mereka—jawabannya sudah cukup jelas.'

Tanda formasi di lengan kiri Shen Yufeng berkedip di dalam ingatannya.

'Pertanyaannya adalah kapan mereka akan bergerak. Dan apa yang mereka incar.'

Rombongan keluar dari Kota Batu Qianmen menjelang sore.

Tidak ada yang terjadi di dalam kota. Dua belas pasang mata itu mengikuti sampai gerbang kota, lalu berhenti—tidak melanjutkan keluar. Hanya mengamati sampai rombongan menghilang di tikungan jalan.

Sesepuh Bai mengumumkan bermalam dua li dari kota saat matahari mulai turun.

Lin Chen mendirikan tenda, menyalakan api, memasak makan malam—sup yang sedikit lebih hangat dari malam sebelumnya karena angin gunung malam ini lebih dingin.

'Mereka tidak menyerang di kota,' Lin Chen menganalisis sambil mengaduk periuk. 'Terlalu banyak saksi. Terlalu berisiko.'

'Tapi jalan menuju Jiuyang masih satu hari lagi. Dan ada beberapa bagian yang melewati hutan tanpa kota di sekitarnya.'

Chen Hao, si murid termuda, menghampirinya dengan mangkuk kosong untuk tambahan sup.

"Pelayan Lin," panggilnya dengan nada yang lebih santai dari hari pertama—efek dua hari perjalanan yang mencairkan kekakuan awal. "Kenapa kau kelihatan lebih santai dari semua orang padahal kita mau ke turnamen besar?"

Lin Chen menyendokkan sup ke mangkuk Chen Hao dengan ekspresi yang sangat biasa.

"Karena pelayan ini tidak perlu bertarung, Tuan Muda Chen."

Chen Hao tertawa kecil, lalu kembali ke lingkaran api.

Lin Chen menatap punggungnya sebentar.

'Semoga kau tetap bisa tertawa seperti itu besok,' batinnya. 'Karena besok kemungkinan besar akan lebih ramai dari hari ini.'

Dua li di belakang kemah rombongan Taixuan, di dalam bayangan hutan yang tidak ditembus cahaya api kemah manapun, dua belas sosok berdiri diam.

"Besok?" tanya salah satu dari mereka.

"Besok," yang lain mengkonfirmasi. "Di Ngarai Batu Merah. Tidak ada kota dalam radius sepuluh li. Tidak ada saksi."

"Targetnya?"

Keheningan sejenak.

"Su Qingxue. Hidup atau mati, terserah. Yang penting dia tidak sampai di Jiuyang."

Dua belas sosok itu menghilang kembali ke dalam kegelapan.

Tidak ada yang mendengar percakapan itu.

Kecuali angin malam yang bertiup ke arah kemah rombongan Taixuan.

Dan seorang pelayan yang masih duduk terjaga di pinggir lingkaran cahaya api, mengaduk periuk yang sudah lama kosong.

1
Ihya Ilmi
Semangat thor
Ihya Ilmi
Lanjutkan thor, jangan kasih kendor, crazy UP thor👍👍
Hindra Hin: siap, masih di garap nihh 🙏👍👍👍
total 1 replies
Ihya Ilmi
Thor, 7 hari katanya tp knp MC nya bisa check in 2x?
Hindra Hin: terimakasih atas komentarnya, sangat membantu 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Ihya Ilmi
Koreksi thor, " Enam Bulan?" atau "30 hari?", soalnya di sinopsis sebulan sekali.
Hindra Hin: baik, Terimakasih atas koreksinya 🙏🙏🙏
total 1 replies
Pecinta Gratisan
hiatus gak nih thor cerita nya
Hindra Hin: update terus bang tiap hari aman. nantikan aja🙏🙏
total 1 replies
Hadi Hadi
semangat 👍👍
Hindra Hin: makasih bro👍👍
total 1 replies
Hadi Hadi
up up up 💪
Hindra Hin
Jangan lupa di komen Bro kalau ada kata yg salah kritik aja biar ada masukan🫵
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!