Aira dan Baskara sama-sama tidak menginginkan perjodohan kedua orang tua mereka, tapi mereka memiliki kesamaan, yaitu enggan mengecewakan kedua orang tua yang sangat mereka hormati.
***
Janji masa lalu Hendra dan Gunawan untuk menjodohkan anak-anak mereka menjadi awal baru yang tak terduga bagi Aira dan Baskara.
Awalnya, Aira dan Baskara berpikir bahwa pernikahan adalah hal sederhana dan mudah. Namun, ternyata semua tidak sesederhana yang dibayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaAns, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 : Latihan Pra Penugasan
Terompet sangkakala berbunyi. Hari belum benar-benar pagi karena suara ayam berkokok saja belum terdengar, tapi setiap anggota pelatihan di barak militer harus bersiap.
Bangun.
Pakaian tempur lengkap.
Senjata di tangan.
Tak berselang lama, suara rentetan senjata mendominasi. Memaksa mata yang semula masih terkantuk-kantuk harus kembali terjaga. Memaksa tubuh yang sudah remuk redam karena lelah harus bangkit dalam posisi siap sedia.
Mereka tidak benar-benar tidur di ranjang barak. Mereka hanya dikumpulkan di halaman. Tertidur dengan ransel militer di punggung, pakaian taktis yang sudah basah karena terkena hujan dan harus merayap di dalam lumpur, serta senjata yang harus senantiasa melekat di tubuh mereka.
Semua orang sudah pada posisi masing-masing saat empat orang pria berpakaian serba kuning dengan tulisan 'PELATIH' dipunggung memeriksa mereka satu per satu.
"Dimana senjatamu?"
Pertanyaan sederhana,tapi tidak demikian jika kalian berada dalam barak militer. Seorang prajurit yang kantuknya saja masih melekat di wajah harus berpikir kemana perginya senjata yang harusnya selalu ia peluk.
Pelatih itu mendekatkan wajah pada prajurit itu dan berteriak dengan suara lantang.
"MANA SENJATAMU?"
"Siap, tidak tahu!"
Satu kesalahan yang membuat semua orang segera memejamkan mata. Dalam pelatihan militer semua orang setara. Pangkat yang melekat di lepas. Tidak ada perbedaan di dalamnya. Tidak ada anggota. Tidak ada komandan. Yang ada hanyalah siswa dan pelatih! Jika satu saja siswa melakukan kesalahan, maka hukuman berlaku untuk semua tanpa terkecuali!
"Saya tanya sekali lagi, dimana senjatamu?" tanya pelatih itu lebih tegas lagi.
Prajurit itu tampak bingung. Ia kesulitan menelan salivanya.
"Siap!"
"Siap apa, Prajurit?"
Prajurit itu diam. Ia memberanikan diri menatap pelatihnya.
"Siap salah, Pelatih!"
Selang biru mendarat di punggung prajurit itu sebanyak dua kali. Perih dan panas bercampur menjadi satu. Tapi,prajurit tidak boleh mengeluh.
Pelatih itu menatap semua orang yang ada di halaman itu sekali lagi. Matanya tajam. Mengintimidasi.
"Bersiap susur hutan!" teriak pelatih.
Tidak ada yang membantah. Semua orang berucap siap serentak dengan lantang.
"Ganti senjatamu dengan gedebok pisang!"
"Siap!"
Baskara berbaris rapi bersama seluruh timnya. Ia mulai berlari dengan ransel dan senjata di tangan. Kakinya bahkan sudah terasa sangat berat dan sedikit perih karena sejak kemarin, ja bahkan belum melepaskan sepatu dan mengganti kaos kakinya. Jangankan mengganti kaos kaki, waktu untuk mandi saja tidak diberikan.
Baskara berlari dengan ransel seberat lima belas kilo dan senjata seberat kurang lebih empat kilo. Hawa dingin segera menusuk tulangnya. Baskara melirik jam tangannya, waktu masih menunjukkan pukul 02.00 dan ia sudah kembali berlari menyusuri hutan.
Para prajurit itu mulai menapaki jalan berbatu dan terjal sebelum akhirnya turun ke sungai sedalam dada mereka. Air dingin pegunungan pun segera membasahi pakaian taktis mereka
Tidak ada waktu untuk merasakan dinginnya air yang menempel di tubuh. Mereka harus terus berjalan. Jarak dua belas kilometer harus ditempuh dalam waktu lima belas menit.
Titik kumpul pertama.
Keempat pelatih sudah menunggu di sana mengawasi kedatangan setiap prajurit. Mereka menatap tajam seraya menghitung jumlah prajurit yang datang. Napas masih terengah. Badan masih menggigil kedinginan, tapi tubuh tetap siap siaga dan fokus tidak boleh kendur.
Semua prajurit berbaris rapi. Mereka menatap ke depan. Mereka dihadapkan pada latihan halang rintang tempur. Harus berlari cepat, merayap di bawah kawat bersuri, bekerja sama melewati dinding, melompati selokan dengan tali, dan merangkak diatas tali yang membentang diantara bukit.
Titik kumpul kedua.
Mereka berbaris menunggu rekan lainnya. Matahari baru saja menyapa, masih malu karena tertutup awan mendung. Peluh bercucuran. Napas terengah hampir menyerah. Namun, latihan mereka tidak berhenti sampai di sana.
Pelatih memberi waktu istirahat minum satu menit sebelum kembali ke menu latihan selanjutnya, merayap di bawah tembakan.
Prajurit diharuskan merayap diatas tanah lumpur dan basah karena hujan. Mereka berjajar lima. Baru saja beberapa langkah merayap, senapan mesin ditembakkan mengarah pada mereka.
Bukan peluru hampa.
Bukan peluru karet.
Melainkan peluru tajam yang dimuntahkan. Salah posisi sedikit saja, nyawa mereka taruhannya.
Titik kumpul ketiga.
Baskara terkejut saat tiba-tiba satu orang prajurit terjatuh. Entah karena lelah. Entah karena kantuk yang mendera. Baskara menoleh, menatap prajurit yang segera berdiri dengan wajah panik.
Pelatih mendekat. Menatap lekat dengan sorot penuh intimidasi.
"Lelah?" tanya pelatih singkat.
"Siap, tidak!" jawab prajurit itu lantang.
"Jika lelah, pulang! Kalian ada di sini bukan untuk bersantai! Buang jauh-jauh rasa lelah dan kantukmu itu! Paham?"
"Siap, paham!"
Tidak ada istirahat yang benar-benar tenang dalam pelatihan itu. Pelatih kembali memberi waktu minum satu menit, tapi baru hitungan ke sepuluh, serentetan tembakan diarahkan di tanah. Memaksa para prajurit untuk kembali berdiri. Bersiap untuk menu latihan selanjutnya. Latihan menembak!
Masing-masing personel akan melakukan drill tempur, berlari, merayap, berlindung, lalu menembak sasaran. Ketepatan tembakan pada sasaran memberi poin tersendiri. Kecepatan waktu menembak juga akan menambah nilai tersendiri.
Baskara mulai membidik. Ia berlari sprint, lalu bersembunyi. Baskara menodongkan senjata menembak beberapa kali sebelum kembali berlari sprint, lalu berguling, dan menembak sasaran terakhir. Baskara tersenyum puas. Tembakannya tepat mengenai sasaran.
Para prajurit kembali dikumpulkan. Dari sekian banyak latihan yang telah mereka jalani, simulasi operasi adalah yang terberat.
"Musuh pandai melakukan taktik perang gerilya. Mereka hapal topografi sekitar. Sebentar lagi, kalian akan dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Melakukan taktik gerilya. Skenarionya, kalian harus menyelamatkan anggota yang menjadi sandera. Perintahnya, bawa pulang anggota hidup-hidup!"
Baskara memimpin kelompok kecil pasukan. Ia melakukan briefing singkat sebelum kembali berjalan. Mereka menyusuri hutan dengan senjata lurus ke depan. Kali ini menggunakan peluru hampa. Baskara memimpin pasukan. Ia mengepalkan tangan, memberi intruksi agar pasukannya berhenti.
"Laporkan situasi," ucap Baskara lirih.
Belum sempat prajurit itu bicara sebuah tembakan diletuskan. Membuat pasukan Baskara mencari perlindungan. Kontak senjata pun terjadi.
"Fokus mencari sandera!" ucap Baskara tegas.
Jika soal menembak, jangan ragukan kemampuan Baskara, dia penembak ulung. Musuh dapar dipukul mundur. Baskara memerintahkan rekamnya merangsek masuk ke area pertahanan lawan, melakukan pertempuran jarak dekat untuk menyelamatkan sandera.
"Sandera 1 aman!" ucap salah seorang rekannya.
"Sandera 2 aman!" ucap rekan lainnya.
Baskara mengangguk tegas. "Bersiap evakuasi," ucap Baskara.
Ia berjalan mundur seraya membawa sandera keluar dari area musuh. Tanpa di sangka, satu musuh muncul. Menembak mengenai salah seorang rekan Baskara.
"Satu rekan tertembak!"
Baskara menoleh. Satu rekannya terjatuh. Ia melihat musuh, sudah menodongkan senjata, tapi Baskara memilih menyelamatkan rekannya. Membiarkan musuh itu pergi.
Simulasi berakhir. Waktu penyelamatan sandera yang dilakukan Baskara dan rekan-rekannya tercatat baik. Namun, Baskara hanya diam seraya meneguk minumannya.
"Good job, Bas!" ucap Kapten Aga yang juga mengikuti pelatihan yang sama.
Baskara menggeleng. "Satu anggota saya tertembak. Misi bisa saja berhasil, tapi saya gagal melindungi anggota. Musuhnya saja kabur."
Kapten Aga terdiam sejenak. Ia tersenyum seraya meremas pundak Baskara.
"Dalam medan pertempuran, kita harus memilih dan memutuskan dengan cepat. Apapun keputusan yang kamu ambil semua punya konsekuensi dan resiko masing-masing. Mau mengejar musuh dan membahayakan anggotamu atau membiarkan musuh pergi, tapi menyelamatkan anggotamu.
"Ingat, Bas, tidak ada keputusan yang benar seratus persen. Pilihannya hanya pada resiko. Resiko mana yang kamu ambil. High risk atau low risk."
Kapten Aga menepuk pundak Baskara. Pria itu masih duduk diam sembari meluruskan kakinya yang terasa sudah hampir lepas. Baskara lelah. Ia masih memikirkan soal pelatihan tempurnya tadi. Misinya memang berhasil. Sandera bisa dibebaskan dan kembali dibawa pulang dengan selamat. Namun, ada satu anggotanya yang tertembak. Jika benar-benar ada di medan tugas, anggotanya bisa saja gugur. Bagi Baskara, itu sama dengan kegagalan.
"Tidak ada ransum! Hanya ada satu ketela rebus!" ucap pelatih seraya membagikan jatah sarapan prajurit hari ini.
Baskara mendongak, ia menyantap ketela rebus itu, lalu menghabiskan air minumnya hingga tandas. Ia kembali mengisi botol minumnya dengan air kran yang tersedia di sana.
Baskara menyandarkan tubuhnya di batang pohon. Sengaja sedikit menjauh dari kerumunan karena Baskara merasa tubuhnya sudah sangat kelelahan. Ia berharap bisa terlelap sebentar saja sebelum menu latihan selanjutnya. Baskara terpaku pada gelang hitam yang melingkar di tangannya. Gelang yang seketika mengingatkannya pada Aira.
Baskara mengulum senyum sangat tipis. Matanya menerawang menatap gelang itu.
Belum benar-benar pergi tugas saja aku sudah rindu, batin Baskara.
____________________