NovelToon NovelToon
Janji Yang Terkubur

Janji Yang Terkubur

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jun

Deskripsi Novel: Janji yang Terkubur

Lira Anindita terpaksa kembali ke rumah masa kecilnya yang penuh kenangan pahit, setelah menerima kabar ayahnya terbaring sakit keras. Lima tahun lalu, ia pergi dengan hati hancur—di hari yang sama ibunya meninggal secara mendadak, Lira menemukan kenyataan bahwa seluruh kehidupan keluarganya hanyalah tumpukan kebohongan. Ia diusir, dipisahkan dari orang yang paling ia cintai, dan dipaksa hidup sendirian menanggung rasa sakit serta fitnah yang menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11: Jejak Luka yang Belum Sembuh

Dua minggu telah berlalu sejak malam mencekam yang mengubah seluruh jalannya hidup mereka. Di permukaan, segalanya tampak mulai tenang. Rumah besar keluarga Ardiansyah yang sempat terbakar dan penuh puing kini sudah dibersihkan sebagian; bekas noda hitam di dinding sudah dihapus, jendela yang pecah sudah diganti yang baru, dan aroma debu serta asap kebakaran perlahan berganti menjadi aroma bunga melati yang ditanam kembali di halaman. Warga desa dan tetangga mulai datang berkunjung, membawa buah tangan dan ucapan selamat atas keberhasilan mereka mengusir kejahatan, seolah semua rasa takut dan bahaya yang pernah ada benar-benar sudah lenyap tanpa sisa. Namun bagi Lira, kedamaian itu hanyalah kulit luar yang tipis. Di dalam hatinya, masih ada sisa ketakutan yang menempel, masih ada rasa cemas yang tak kunjung hilang, dan masih banyak pertanyaan yang belum terjawab sepenuhnya. Semua musuh besarnya memang sudah jatuh, namun luka masa lalu belum benar-benar kering, dan bahaya yang tersembunyi sering kali jauh lebih mengerikan daripada bahaya yang terlihat jelas di depan mata.

Di ruang tengah rumah yang kini kembali rapi dan bersih, Lira duduk sendirian di kursi kayu besar peninggalan ayahnya. Di atas meja di hadapannya, terhampar semua dokumen, surat, dan bukti yang ia temukan di dalam kotak rahasia gudang belakang. Ia sudah membacanya puluhan kali, menghafal setiap baris kalimat, setiap nama, dan setiap peristiwa yang tertulis di sana. Ia sudah tahu bahwa Tuan Handoko adalah paman kandung ayahnya, ia sudah tahu tentang dendam turun-temurun yang menghancurkan dua keluarga besar, ia sudah tahu tentang semua kejahatan, penipuan, dan pembunuhan yang direncanakan dengan rapi selama puluhan tahun. Namun semakin ia membaca, semakin ia merasa ada bagian yang hilang, ada hal yang tidak tertulis, ada rahasia kecil yang sengaja disembunyikan oleh ibunya, seolah ada sesuatu yang belum boleh ia ketahui sampai waktunya benar-benar tiba.

Jari jari Lira menyentuh lembut permukaan surat tulisan tangan ibunya, di bagian paling bawah ada kalimat yang selalu membuat hatinya berdebar setiap kali membacanya: “Anakku, ini belum semuanya. Ada satu kebenaran terakhir yang hanya akan kamu temukan saat kamu benar-benar siap, saat kamu sudah berani menghadapi sisi tergelap dari sejarah keluarga kita. Jangan terburu-buru, jangan percaya sembarangan, dan ingat: tidak semua orang yang terlihat baik itu benar-benar baik, dan tidak semua orang yang terlihat jahat itu benar-benar jahat. Bahkan di antara darah daging sendiri, bisa ada pengkhianat, dan di antara orang asing, bisa ada orang yang rela berkorban nyawa untukmu.”

Kalimat itu selalu membuat pikiran Lira berputar kencang. Ia sudah mengira semua kebenaran sudah terbongkar, ternyata masih ada yang tersisa. Ia sudah mengira ia sudah tahu siapa teman dan siapa musuh, ternyata ibunya mengingatkan bahwa garis batas antara keduanya bisa kabur dan berubah sewaktu-waktu. Siapa lagi yang harus ia waspadai? Apakah masih ada orang lain yang terlibat dalam kejahatan Tuan Handoko? Apakah masih ada anggota keluarga jauh yang juga menyimpan dendam lama? Atau… apakah ada orang yang selama ini ia percayai sepenuh hati, yang ternyata menyimpan rahasia tersendiri?

Pikiran Lira terputus saat suara langkah kaki pelan terdengar mendekat. Ia mengangkat kepalanya dan melihat Bu Sumi masuk membawa nampan berisi teh hangat. Wajah wanita tua itu tampak lebih tenang dibandingkan hari-hari sebelumnya, namun di sudut matanya masih terlihat bayang-bayang kelelahan dan kekhawatiran yang mendalam. Selama bertahun-tahun, Bu Sumi adalah orang yang paling ia percayai, orang yang sudah mengasuhnya, melindunginya, dan berkorban segalanya untuknya. Namun setiap kali teringat kalimat terakhir ibunya, rasa curiga kecil yang tidak wajar itu selalu muncul di hati Lira, meskipun ia berusaha keras untuk menepisnya. Ia merasa bersalah bahkan hanya berpikir demikian, namun rasa curiga itu datang begitu saja, didorong oleh rasa takut dan rasa trauma yang masih belum sembuh.

“Kenapa melamun sendirian di sini, Nona?” tanya Bu Sumi lembut, meletakkan cangkir teh di meja lalu duduk di kursi samping Lira. “Sudah dua minggu berlalu, bahaya sudah lewat, Tuan Handoko sudah ditangkap dan dijebloskan ke penjara, kenapa wajah Nona masih tampak gelisah dan tidak tenang?”

Lira menghela napas panjang, lalu mengalihkan pandangannya ke arah jendela yang terbuka, melihat dedaunan yang bergoyang tertiup angin sore.

“Aku tidak tahu, Bu. Aku merasa… merasa semuanya berakhir terlalu cepat, terlalu mudah. Selama bertahun-tahun kami hidup dalam ketakutan, dia mengejar kami, mengancam kami, melakukan segala cara jahat untuk menghancurkan kami. Tapi begitu bukti terbongkar, begitu dia tahu semuanya sudah ketahuan, dia langsung menyerah begitu saja, menangis, mengakui semua kesalahan, dan membiarkan dirinya ditangkap tanpa perlawanan sedikit pun. Apakah itu benar-benar sifat orang yang selama puluhan tahun hidup dengan dendam dan kejahatan? Apakah orang sejahat dia akan berubah dan menyesal hanya dalam satu malam saja?” tanya Lira dengan nada ragu.

Bu Sumi terdiam sejenak, tangannya mengusap lembut pinggiran cangkir teh.

“Memang aneh, Nona. Aku juga merasa hal yang sama. Tapi mungkin… rasa penyesalan itu memang datang terlambat, tapi datang dengan sangat kuat. Dia melihat darah anaknya sendiri menetes di tanah, dia melihat semua orang yang dulu takut padanya sekarang membencinya, dia melihat semua kekuasaan dan kehormatannya hilang seketika. Mungkin itu yang membuat hatinya yang keras itu akhirnya luluh dan sadar bahwa semua yang dia lakukan sia-sia belaka.”

“Mungkin saja begitu,” jawab Lira pelan, namun nada suaranya masih belum yakin. “Tapi ada hal lain lagi, Bu. Di surat yang Ibu tinggalkan, ada kalimat yang mengatakan bahwa masih ada kebenaran terakhir yang belum aku ketahui, dan aku harus tetap berhati-hati, tidak boleh percaya sembarangan. Jika semua kejahatan sudah terbongkar, jika semua musuh sudah diketahui, kebenaran apa lagi yang tersisa? Dan siapa lagi yang harus aku waspadai?”

Mendengar pertanyaan itu, wajah Bu Sumi sedikit berubah kaku, meskipun perubahannya sangat kecil dan cepat hilang, namun mata Lira yang sedang memperhatikan dengan teliti berhasil menangkapnya. Bu Sumi segera menundukkan wajahnya, seolah berusaha menyembunyikan ekspresinya.

“Aku juga tidak tahu, Nona. Bu Ratih memang selalu suka menyembunyikan rahasia sampai saat yang tepat. Mungkin itu hanya pesan peringatan biasa, supaya kamu tidak menjadi lengah dan sombong setelah mendapatkan kemenangan ini. Atau mungkin… itu merujuk pada hal yang akan kamu temukan nanti, seiring berjalannya waktu. Kita tidak perlu memikirkannya terlalu berat, yang penting kita tetap berhati-hati dan selalu berdoa,” jawab Bu Sumi dengan nada yang sedikit terburu-buru, lalu segera berdiri dari kursinya. “Maafkan aku Nona, aku harus ke dapur dulu, ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Jika ada apa-apa, segera panggil aku ya.”

Bu Sumi segera berjalan keluar ruangan dengan langkah yang agak cepat, meninggalkan Lira yang masih duduk diam dan menatap punggung wanita tua itu dengan pandangan yang semakin penuh tanya. Reaksi Bu Sumi barusan terasa aneh, terlalu gugup, terlalu ingin segera menghindar dari pembicaraan itu. Apakah Bu Sumi tahu sesuatu yang tidak ia ketahui? Apakah ada hal yang disembunyikan Bu Sumi darinya?

Pikiran Lira semakin kacau. Di satu sisi, ia sangat percaya dan berhutang nyawa pada Bu Sumi. Di sisi lain, segala sesuatu yang terjadi belakangan ini membuatnya tidak bisa lagi percaya pada siapa pun dengan buta, bahkan pada orang yang paling dekat sekalipun. Pengkhianatan Pak Darto adalah bukti nyata bahwa orang yang paling dipercaya pun bisa menjadi musuh yang paling berbahaya.

Suara deru kendaraan dari halaman depan memecah keheningan, menarik perhatian Lira. Ia segera bangkit berdiri dan berjalan menuju jendela. Di sana, terlihat sebuah mobil ambulans berhenti di depan pagar rumah, dan tidak lama kemudian, pintu belakang mobil terbuka. Beberapa orang petugas medis keluar, diikuti oleh Raga yang berjalan sendiri dengan bantuan tongkat kayu sederhana.

Wajah Raga masih terlihat pucat, lengan kanannya masih dibalut perban tebal yang tertutup jaket lebar, dan langkah kakinya masih agak lambat serta hati-hati. Sesuai saran dokter, ia baru diperbolehkan pulang hari ini, meskipun luka tusuk di bahunya belum sembuh total dan ia masih butuh istirahat serta perawatan ketat selama beberapa bulan ke depan.

Melihat sosok Raga, semua keraguan dan kegelisahan di hati Lira sedikit berkurang. Raga adalah satu-satunya orang yang ia percayai sepenuh hati, satu-satunya orang yang ia yakin tidak akan pernah membohonginya atau mengkhianatinya, karena ia sudah membuktikan kesetiaannya dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri demi keselamatan Lira berkali-kali.

Lira segera berlari keluar rumah, turun ke halaman depan untuk menyambut kedatangan Raga. Begitu melihat Lira berlari ke arahnya, wajah lelah Raga seketika berubah menjadi cerah, senyum lembut terukir di bibirnya. Ia segera mempercepat langkahnya sedikit, meskipun rasa sakit masih terasa di bahunya.

“Kenapa berlari begitu kencang? Takut aku hilang lagi ya?” tanya Raga dengan nada bercanda, saat Lira sudah berdiri tepat di depannya.

Lira tidak menjawab, ia hanya segera memeluk tubuh Raga dengan erat, berhati-hati agar tidak menyentuh bahu yang terluka. Ia menempelkan wajahnya di dada Raga, mendengar detak jantung yang kuat dan teratur itu, merasakan kehangatan tubuh yang selama ini menjadi tempat berlindung baginya. Air mata haru menetes perlahan di matanya, bukan karena sedih, tapi karena rasa lega dan rasa bahagia yang masih terasa seperti mimpi.

“Jangan bercanda. Aku hanya takut kamu kelelahan, atau lukanya sakit,” bisik Lira dengan suara sedikit gemetar. “Kamu seharusnya masih istirahat di rumah sakit sampai benar-benar kuat.”

Raga mengangkat tangannya yang sehat, mengusap lembut rambut panjang Lira, lalu mencium puncak kepala wanita itu dengan kasih sayang.

“Aku sudah bosan terbaring di tempat tidur rumah sakit, bau obat-obatan itu membuatku pusing. Selain itu… aku tidak tenang kalau tidak ada di dekatmu. Di sana, aku selalu khawatir ada bahaya yang datang mengganggumu, atau ada hal buruk yang terjadi padaku dan aku tidak bisa melindungimu. Aku merasa jauh lebih aman dan kuat kalau ada di sini, di rumahmu, di dekatmu,” jawab Raga dengan tulus.

Mereka melepaskan pelukan, lalu berjalan perlahan masuk ke dalam rumah bersama-sama, diikuti oleh Bu Sumi yang sudah datang menyambut dengan wajah bahagia dan lega. Namun saat mereka masuk ke ruang tengah dan duduk bersama, suasana yang tadinya hangat perlahan berubah menjadi serius.

Raga melihat tumpukan dokumen dan surat yang tergeletak di atas meja, lalu mengerutkan keningnya. Ia sudah tahu semua isi dokumen itu, sudah tahu semua rahasia keluarga yang mengerikan itu, namun ia juga merasakan hal yang sama dengan Lira—ada sesuatu yang belum selesai, ada sesuatu yang masih terasa janggal.

“Lira, Bu Sumi… Sebenarnya ada hal yang selama ini aku simpan dan belum sempat aku ceritakan pada kalian,” kata Raga perlahan, memecah keheningan. Wajahnya berubah serius dan penuh keraguan. “Selama aku dikurung dan disiksa oleh Ayah… sebelum aku berhasil kabur, aku sempat mendengar percakapan Ayah dengan seseorang lewat telepon. Suaranya samar, aku tidak bisa mendengar semuanya dengan jelas, tapi aku mendengar Ayah berkata begini: ‘Jangan khawatir, rencana utama belum gagal. Itu hanya rencana kecil pengalih perhatian saja. Meski aku tertangkap, yang paling penting sudah tersembunyi dengan aman, dan orang yang kita tugaskan masih menjalankan tugasnya dengan baik. Tunggu waktunya, nanti kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan.’”

Kalimat itu membuat darah Lira dan Bu Sumi seketika berhenti mengalir. Mata mereka membelalak kaget dan ngeri.

“Kamu… kamu benar-benar mendengar itu, Mas Raga?” tanya Bu Sumi dengan suara gemetar, wajahnya pucat seketika.

“Benar, Bu. Aku mendengarnya sendiri. Awalnya aku kira aku salah dengar, atau itu hanya omongan Ayah yang sedang marah dan gila. Tapi semakin aku memikirkannya, semakin aku merasa itu sungguhan,” jawab Raga dengan nada tegas. “Ayah tidak pernah melakukan sesuatu tanpa perhitungan matang. Dia tidak akan menyerah begitu saja hanya karena bukti terbongkar dan dia tertangkap. Dia terlalu cerdas, terlalu licik, dan terlalu gigih untuk menyerah hanya karena satu kegagalan. Dia selalu punya rencana cadangan, selalu punya jalan keluar, dan selalu punya orang yang bisa dia andalkan untuk menyelesaikan apa yang belum selesai.”

“Artinya… artinya rencana jahatnya belum selesai? Artinya meskipun dia ada di dalam penjara, dia masih punya orang suruhan lain yang masih bebas dan masih berniat buruk pada kita?” tanya Lira dengan suara yang hampir tidak terdengar, rasa dingin kembali menjalar di seluruh tubuhnya.

“Kemungkinan besar begitu, Lira. Dan kata-kata itu cocok sekali dengan pesan yang ditinggalkan Ibumu untukmu: bahwa masih ada kebenaran yang belum kamu ketahui, dan kamu harus tetap waspada,” kata Raga sambil menatap Lira dengan pandangan cemas. “Ayah bilang ‘orang yang kita tugaskan’, artinya ada orang lain selain Pak Darto yang sudah disusupkan ke dekat kita, orang yang mungkin kita kenal, orang yang dipercaya, orang yang masih ada di sekitar kita sampai sekarang, dan diam-diam masih bekerja untuk tujuan jahat itu.”

Suasana di ruang tengah menjadi sunyi senyap yang mencekam. Pikiran mereka semua berputar kencang, mencoba menebak siapa orang itu. Di sekitar mereka sekarang hanya ada orang-orang yang sudah lama dikenal, orang-orang yang dianggap setia dan baik hati: Bu Sumi, Pak Haris, para pekerja lama, tetangga dekat… Siapa di antara mereka yang sebenarnya adalah mata-mata yang disusupkan Tuan Handoko? Siapa yang selama ini tersenyum manis di depan mereka, tapi diam-diam mencatat setiap gerak-gerik dan melaporkan pada musuh mereka?

Lira menatap Bu Sumi dengan sudut matanya, melihat wanita tua itu yang tampak ketakutan dan bingung mendengar penjelasan Raga. Apakah benar Bu Sumi tidak tahu apa-apa? Apakah rasa takutnya itu asli atau hanya akting yang bagus? Lira merasa sakit hati bahkan hanya berpikir demikian, tapi kata-kata Raga dan kata-kata ibunya membuatnya tidak bisa lagi menutup mata terhadap kemungkinan terburuk sekalipun.

“Lalu… apa yang harus kita lakukan sekarang, Mas Raga? Kita tidak tahu siapa orangnya, kita tidak tahu apa rencana utamanya, kita tidak tahu apa yang dia sembunyikan. Kita tidak bisa menuduh sembarangan, tapi kita juga tidak bisa diam saja menunggu bahaya datang lagi,” kata Lira dengan nada bingung dan cemas.

Raga menghela napas panjang, lalu menatap kedua wanita itu dengan pandangan yang tegas namun tetap tenang.

“Kita tidak boleh panik, dan kita tidak boleh menuduh sembarangan. Itu justru akan membuat orang yang jahat itu waspada dan semakin sulit ditangkap. Kita akan bertindak diam-diam. Mulai hari ini, kita akan memperhatikan setiap gerak-gerik orang di sekitar kita dengan teliti, kita akan memeriksa setiap hal yang mencurigakan, kita akan mencari tahu siapa saja orang yang dulu dekat dengan Ayah dan masih sering berhubungan dengannya secara diam-diam. Kita juga akan mencoba mengunjungi Ayah di penjara, mencoba bertanya atau mencari petunjuk dari dia, meskipun kemungkinan besar dia tidak akan bicara dengan mudah.”

“Dan untuk sementara waktu… kita harus saling menjaga satu sama lain lebih ketat dari sebelumnya. Jangan bicara hal penting di depan orang lain, jangan pergi sendirian ke tempat yang sepi, kunci pintu dan jendela dengan baik setiap malam, dan beri tahu satu sama lain ke mana pun kita pergi. Bahkan pada orang yang kita percayai sekalipun, kita harus berhati-hati dan tidak boleh membuka semua rahasia kita sepenuhnya sampai kita benar-benar yakin dia aman,” tambah Raga dengan serius.

Bu Sumi mengangguk cepat, wajahnya masih pucat namun matanya tampak penuh kesungguhan.

“Aku setuju, Mas Raga, Nona Lira. Aku akan berhati-hati, aku akan mengawasi semua orang di rumah ini, dan aku akan melindungi Nona Lira dengan nyawaku sendiri jika perlu. Siapa pun orang jahat itu, aku tidak akan membiarkan dia menyakiti Nona atau merusak kedamaian yang baru saja kita dapatkan ini.”

Mendengar itu, hati Lira sedikit lega namun rasa curiganya masih belum hilang sepenuhnya. Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa Bu Sumi benar-benar setia, bahwa rasa curiganya itu hanya disebabkan oleh rasa takut dan trauma belaka, namun rasa itu tetap ada, tertanam di sudut hati yang paling dalam.

Malam itu, suasana di rumah besar tidak lagi ceria seperti hari-hari sebelumnya. Semua orang bergerak dengan hati-hati, suara bicara pelan, dan setiap kali ada suara sedikit pun dari luar, semua orang segera menegang dan waspada. Kedamaian yang mereka nikmati ternyata hanya sesaat, bahaya itu belum benar-benar hilang, ia hanya bersembunyi di balik bayang-bayang, menunggu waktu yang tepat untuk menyerang kembali.

Di malam yang gelap itu, di dalam kamar tidurnya, Lira tidak bisa tidur lagi. Ia duduk di tepi tempat tidur, memegang erat kalung liontin milik ibunya yang kini sudah kembali ke tangannya dengan selamat. Ia menatap keluar jendela yang gelap, melihat bayang-bayang pepohonan yang bergoyang tertiup angin, dan merasa ada sepasang mata yang sedang mengawasinya dari kejauhan, sama seperti malam-malam mengerikan yang lalu.

Ia tahu, perjuangannya belum selesai. Ia belum menang sepenuhnya, musuh sebenarnya masih ada di luar sana, atau bahkan sudah berada sangat dekat dengannya, menyamar sebagai teman atau keluarga. Ia harus tetap kuat, tetap waspada, dan tetap berani menghadapi semua hal buruk yang akan datang, demi dirinya sendiri, demi Raga, demi Bu Sumi, dan demi nama baik kedua orang tuanya yang sudah lama meninggal.

Di sisi lain kota, di dalam sel penjara yang dingin dan sempit, Tuan Handoko duduk sendirian di sudut ruangan, menatap dinding beton yang kosong dengan pandangan yang tidak bisa dibaca. Di wajahnya tidak ada lagi rasa marah atau rasa dendam, tidak ada lagi rasa sedih atau rasa penyesalan. Ekspresinya datar, dingin, dan penuh misteri. Sesekali, sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum tipis yang mengerikan, seolah ia sedang memikirkan sesuatu yang menyenangkan dan menguntungkan baginya.

Ia tidak kalah. Ia memang tertangkap, ia memang kehilangan kebebasan dan kekuasaannya, tapi itu semua hanyalah bagian kecil dari rencana besar yang sudah disusunnya bertahun-tahun yang lalu. Yang paling penting, yang menjadi tujuan utamanya sejak awal, masih berjalan lancar, tersembunyi dari mata semua orang, dan akan segera membuahkan hasil yang jauh lebih dahsyat daripada yang pernah dibayangkan oleh Lira, Raga, atau siapa pun.

“Kalian memang cerdas dan berani, anak muda… Tapi kalian belum tahu apa-apa tentang dunia ini, tentang kejahatan yang sesungguhnya,” gumam Tuan Handoko pelan di dalam hatinya, “Nikmati kedamaian semu itu selagi masih bisa kalian nikmati. Sebelum lama, kebenaran yang sesungguhnya akan terungkap, dan saat itu tiba, kalian akan merasakan rasa sakit yang jauh lebih menyiksa daripada kematian itu sendiri. Dan apa yang menjadi milikku, akan kembali menjadi milikku selamanya, apa pun yang terjadi.”

Di bawah langit malam yang sama, nasib mereka masih terjalin erat dalam jaring-jaring rahasia dan bahaya yang belum selesai. Pertarungan yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan kejutan-kejutan besar yang akan mengubah segalanya masih menanti mereka di depan, di episode-episode yang panjang dan penuh tantangan yang masih tersisa sampai ke angka seratus lima belas itu.

 

(Bersambung ke Episode 12)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!