Elara Vane, putri seorang Baron yang jatuh miskin, dipaksa menikah dengan Duke Kaelen Draxos, pria yang dikenal sebagai "Iblis Utara" karena kekejamannya di medan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hantu di Pagi Hari
Ketika Elara membuka matanya, hal pertama yang menyapanya bukanlah wajah suaminya, melainkan dinginnya sisi tempat tidur yang kosong.
Cahaya matahari pagi yang pucat—cahaya khas musim dingin di Vhaloria yang tidak pernah benar-benar menghangatkan—jatuh miring ke atas seprai putih yang kusut. Di sana, di tempat Kaelen berbaring semalam, kainnya masih membentuk lekukan samar tubuh pria itu. Elara mengulurkan tangannya, menyentuh lekukan itu dengan telapak tangan yang terbuka.
Dingin.
Kaelen sudah pergi lama. Mungkin sebelum matahari terbit, seperti kebiasaannya.
Elara menarik tangannya kembali, merasakan sengatan kekecewaan yang tajam di dadanya. Ia tahu ini akan terjadi. Ia tahu Kaelen tidak akan bangun sambil tersenyum, membawakannya sarapan di tempat tidur, dan membicarakan betapa nyenyaknya tidur mereka semalam. Itu adalah fantasi dongeng. Realitasnya adalah Kaelen Draxos, pria yang menjadikan penolakan sebagai bentuk seni pertahanan diri.
Malam itu—malam tanpa mimpi di mana mereka berbagi napas dalam diam—bagi Kaelen mungkin dianggap sebagai kesalahan. Sebuah momen kelemahan yang memalukan yang harus segera dilupakan dan dikubur di bawah tumpukan tugas militer.
"Kau pengecut, Kaelen," bisik Elara pada ruangan yang sunyi. Namun, ada senyum tipis di bibirnya. Pengecut atau bukan, Kaelen telah tidur di sini. Dan tidak ada mimpi buruk yang berani mengganggunya. Itu adalah fakta yang tidak bisa dihapus oleh sikap dinginnya di pagi hari.
Elara duduk perlahan. Bahu kirinya masih terasa kaku dan nyeri, namun rasa sakit yang tajam telah mereda menjadi ketidaknyamanan yang tumpul. Ia mencoba menggerakkan lengannya sedikit. Masih terbatas, tapi ia bisa menggunakannya untuk hal-hal ringan.
Pintu kamar diketuk pelan, lalu terbuka.
Bukan Silas yang masuk, melainkan Martha. Kepala dapur yang biasanya kasar itu membawa nampan sarapan yang isinya jauh lebih mewah dari biasanya: roti brioche hangat yang mengkilap oleh mentega, telur orak-arik dengan taburan chives segar, dan teko teh perak yang mengepul.
Martha berhenti sejenak di ambang pintu, matanya menyapu ruangan. Tatapannya berhenti seketika di sisi tempat tidur yang kosong namun kusut di sebelah Elara. Bantal kedua yang tertekan. Selimut yang tersingkap di sisi itu.
Mata Martha membelalak sedikit. Sebagai kepala pelayan wanita yang mengurusi laundry, dia tahu persis arti dari pemandangan itu. Tuan Duke tidak tidur di kursi. Tuan Duke tidur di kasur.
Wajah Martha yang biasanya keras melunak dengan ekspresi yang rumit—campuran antara kaget, hormat, dan mungkin sedikit kelegaan.
"Pagi, Nyonya," sapa Martha, suaranya tidak lagi ketus. Ia meletakkan nampan di meja samping tempat tidur dengan gerakan yang jauh lebih hati-hati dari biasanya. "Saya... saya bawakan sarapan khusus. Silas bilang Nyonya butuh tenaga untuk pemulihan."
"Terima kasih, Martha," jawab Elara. Ia memperhatikan perubahan sikap itu. Di kastil ini, informasi adalah mata uang. Fakta bahwa Duke tidur di kamar Duchess pasti sudah menyebar ke seluruh sayap pelayan seperti api di musim kemarau. Posisi Elara baru saja naik dari 'Tamu yang Merepotkan' menjadi 'Nyonya Rumah yang Sesungguhnya'.
"Apakah Tuan Duke sarapan di ruang makan?" tanya Elara, mencoba terdengar santai sambil menuangkan teh.
"Tidak, Nyonya," Martha menggeleng, melipat tangannya di depan celemek. "Beliau langsung ke kandang kuda subuh tadi. Katanya mau memeriksa patroli perbatasan utara. Beliau tidak akan kembali sampai makan malam."
Elara mengangguk pelan, menyembunyikan kekecewaannya di balik cangkir teh. Menghindar lagi. Kaelen sedang melakukan apa yang paling dia kuasai: melarikan diri secara fisik untuk menciptakan jarak emosional.
"Baiklah," kata Elara. "Kalau begitu, aku punya waktu seharian untuk mengurus hal lain."
"Nyonya harus istirahat," Martha memperingatkan, nadanya hampir seperti seorang ibu yang tegas. "Tabib Aris bilang bahu itu tidak boleh banyak bergerak."
"Aku tidak akan mengangkat pedang, Martha," Elara tersenyum tipis. "Aku hanya akan... berjalan-jalan. Memastikan kastil ini tidak runtuh karena aku sakit dua hari."
Tujuan Elara hari itu bukanlah Sayap Selatan. Ia tahu Kaelen mungkin telah menempatkan penjaga di sana setelah insiden itu, atau setidaknya memantau area itu lebih ketat. Elara harus bermain pintar. Jika dia ingin menyelamatkan mawar itu, dia harus membuat Kaelen lengah dengan aktivitas lain yang tampak "tidak berbahaya".
Elara menghabiskan pagi itu di Aula Besar, duduk di kursi yang biasanya diduduki Kaelen saat menerima laporan, namun ia memfungsikannya sebagai meja kerja dadakan.
Ia memanggil Silas.
"Festival Titik Balik Matahari Musim Dingin (Winter Solstice)," kata Elara sambil menunjuk kalender tua yang ia temukan. "Itu dua minggu lagi, Silas."
Silas tampak ragu. "Benar, Nyonya. Tapi... seperti yang Nyonya tahu, Blackiron tidak merayakan festival sejak..."
"Sejak kematian Lyra," potong Elara lembut namun tegas. "Aku tahu. Tapi Silas, lihatlah orang-orangmu."
Elara menunjuk ke arah para pelayan yang sedang membersihkan lantai aula. Mereka bekerja dengan bahu membungkuk, wajah suram, dan gerakan lambat. Atmosfer di kastil ini, meskipun fisiknya sudah lebih hangat karena pipa uap, jiwanya masih membeku.
"Mereka lelah, Silas," lanjut Elara. "Mereka hidup dalam ketakutan akan perang, ketakutan akan badai, dan ketakutan akan kemurungan tuan mereka. Prajurit butuh disiplin, tapi manusia butuh harapan. Festival bukan hanya pesta pora. Itu adalah pengingat bahwa matahari akan kembali bersinar setelah malam terpanjang."
Silas menunduk, memainkan ujung jubahnya. "Tuan Duke akan menolaknya, Nyonya. Beliau menganggap dekorasi dan musik sebagai hal yang... frivolous (remeh-temeh) di masa perang."
"Dia akan menolak jika aku meminta pesta dansa mewah untuk bangsawan," kata Elara, matanya berkilat cerdas. "Tapi aku tidak meminta itu. Aku meminta perjamuan makan untuk prajurit dan pelayan. Daging panggang, ale hangat, dan sedikit musik rakyat. Sesuatu untuk menaikkan moral pasukan."
Elara mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kaelen adalah Jenderal yang pragmatis. Jika aku membingkainya sebagai 'strategi peningkatan moral pasukan', dia akan mendengarkan."
Silas menatap Elara lama. Akhirnya, senyum kecil terukir di wajah keriputnya. "Nyonya benar-benar mulai memahami cara berpikir beliau."
"Aku belajar dari yang terbaik, bukan?" Elara mengedipkan sebelah matanya. "Sekarang, aku butuh daftar persediaan gudang makanan. Kita akan membuat rencana menu yang hemat tapi mengenyangkan."
Sepanjang siang itu, Elara tenggelam dalam perencanaan. Ia tidak ke Sayap Selatan, tidak mencari Kaelen. Ia membiarkan kesibukan ini menjadi pesan bagi suaminya: Aku tidak mengejarmu. Aku sibuk membangun rumah kita.
Malam turun dengan cepat, membawa serta badai salju baru yang melolong di luar tembok kastil.