Elara Vane, putri seorang Baron yang jatuh miskin, dipaksa menikah dengan Duke Kaelen Draxos, pria yang dikenal sebagai "Iblis Utara" karena kekejamannya di medan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23
Satu jam kemudian, Aula Besar Kastil Blackiron telah berubah menjadi panggung drama politik.
Kaelen duduk di kursi kebesarannya di ujung aula. Ia telah mengenakan seragam formalnya: jubah hitam dengan kancing perak, medali perang menghiasi dadanya, dan pedang di pinggang. Wajahnya adalah topeng pualam yang sempurna—dingin, tidak terbaca, dan mengintimidasi.
Elara berdiri di sampingnya, sedikit di belakang kursi Kaelen. Ia telah berganti pakaian dengan cepat menjadi gaun sutra abu-abu yang lebih formal, napasnya masih sedikit memburu akibat lari dari Sayap Selatan, namun ia berhasil menyembunyikannya di balik postur tubuh yang anggun.
Di hadapan mereka, berdiri seorang pria kurus tinggi dengan wajah tirus dan hidung bengkok seperti paruh burung. Ia mengenakan pakaian pejabat istana yang berlebihan: sutra ungu, renda putih di leher, dan topi berbulu merak.
Sir Lucian, Utusan Khusus Baginda Kaisar.
Di belakangnya, dua pengawal kekaisaran membawa sebuah peti kayu yang dilapisi beludru merah.
"Salam hormat untuk Pahlawan Perbatasan, Duke Kaelen Draxos," ucap Sir Lucian dengan suara yang sengau dan dibuat-buat. Ia membungkuk, namun matanya tetap menatap lurus ke arah Kaelen, tatapan yang penuh perhitungan dan sedikit cemoohan. "Dan tentu saja, untuk Duchess baru yang memesona. Rumor di ibu kota mengatakan bunga dari keluarga Vane akhirnya dipetik oleh serigala."
Kaelen tidak bergerak sedikit pun. "Simpan basa-basimu, Lucian. Apa yang diinginkan Kaisar? Pajak musim dingin sudah dikirim minggu lalu."
"Ah, Tuan Duke selalu langsung ke intinya," Lucian tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan kertas kering. "Ini bukan soal pajak. Ini soal... perayaan. Baginda Kaisar mendengar kabar pernikahan Anda yang mendadak. Beliau merasa sedih tidak diundang."
"Kami sedang perang," potong Kaelen datar. "Pesta pernikahan adalah pemborosan."angkan
"Tentu, tentu," Lucian mengangguk, senyum liciknya semakin lebar. "Namun, Baginda Kaisar ingin mengirimkan hadiah pernikahan. Sebagai tanda... perhatian beliau terhadap masa depan House Draxos."
Lucian menjentikkan jarinya. Dua pengawal maju, meletakkan peti beludru itu di lantai di depan Kaelen. Salah satu pengawal membuka tutupnya.
Elara menjulurkan leher sedikit untuk melihat isinya.
Di dalam peti itu, di atas bantalan sutra merah, terletak sebuah patung porselen yang sangat indah. Patung seorang wanita yang sedang menggendong bayi, dikelilingi oleh lima anak kecil lainnya. Di samping patung itu, terdapat beberapa botol kaca berisi cairan berwarna merah muda pekat.
Suasana di aula berubah drastis. Suhu seolah turun sepuluh derajat.
Itu adalah simbol kesuburan. Tapi cara penyampaiannya... itu adalah penghinaan.
"Ramuan Kesuburan dari Tabib Agung Istana," jelas Lucian dengan nada polos yang dibuat-buat. "Dan patung Bunda Kesuburan. Baginda Kaisar khawatir. Mengingat sejarah keluarga Draxos yang... sulit memiliki keturunan, dan mengingat Anda menikahi putri Baron Vane yang... ah, bagaimana mengatakannya... rapuh."
Darah Elara mendidih. Ini bukan hadiah. Ini adalah pernyataan bahwa fungsi Elara hanyalah sebagai sapi perah untuk menghasilkan ahli waris. Dan botol-botol itu menyiratkan bahwa Kaelen mungkin tidak mampu melakukannya sendiri.
Tangan Kaelen mencengkeram lengan kursi kayunya. Bunyi krek pelan terdengar saat kayu tua itu retak di bawah tekanan jarinya.
"Apakah Kaisar meragukan virilitas saya, Lucian?" tanya Kaelen. Suaranya sangat pelan, namun getarannya membuat para pengawal di belakang Lucian bergeser gelisah.
"Oh, tidak, tidak sama sekali!" Lucian mengibaskan tangannya. "Hanya... antisipasi. Baginda ingin memastikan garis keturunan Draxos aman. Lagipula, jika Duchess gagal memberikan putra dalam setahun... Baginda sudah menyiapkan beberapa kandidat selir yang lebih... kuat dari wilayah Selatan."
Itu ancaman terbuka. Hasilkan anak, atau istrimu akan diganti.
Elara melihat rahang Kaelen mengeras. Urat di lehernya menonjol. Iblis Utara sedang bangun. Jika Kaelen membunuh utusan ini, itu berarti pemberontakan. Dan mereka belum siap untuk perang melawan Kekaisaran.
Elara harus bertindak.
Ia melangkah maju, turun dari podium, mendekati peti itu. Langkahnya tenang, gaunnya berdesir lembut . Ia berdiri di depan Lucian, menghalangi pandangan pria itu ke arah Kaelen.
"Hadiah yang sangat... bijaksana," kata Elara, suaranya manis namun dingin. Ia mengambil salah satu botol ramuan itu, mengangkatnya ke cahaya. "Tapi sepertinya Tabib Agung lupa membaca buku geografi."
Lucian mengerutkan kening. "Maksud Anda, Nyonya?"
"Ramuan ini mengandung ekstrak Bunga Matahari Selatan," kata Elara, mengarang bebas namun dengan nada penuh otoritas. "Di iklim Utara yang ekstrem, zat ini bisa menyebabkan pembekuan darah fatal bagi wanita yang belum beradaptasi. Apakah Kaisar berniat meracuni saya, Sir Lucian?"
Wajah Lucian memucat seketika. Tuduhan meracuni bangsawan adalah tuduhan serius. "Ti-tidak! Itu ramuan terbaik! Itu..."
"Mungkin terbaik untuk wanita Selatan," potong Elara, lalu dengan gerakan santai, ia menjatuhkan botol itu ke lantai batu.
Prang!
Botol pecah. Cairan merah muda merembes di batu, mendesis pelan.
"Ups," kata Elara tanpa penyesalan. "Tangan saya licin. Maklum, saya rapuh."
Kaelen, di belakangnya, mendengus. Suara yang terdengar curiga seperti tawa yang ditahan.
"Bawa kembali sampah ini, Lucian," suara Kaelen menggelegar sekarang, penuh kekuatan. Ia berdiri, menjulang tinggi di atas podium. "Sampaikan pada Kaisar, urusan ranjang Duke Draxos bukan urusan negara. Dan jika dia mengirim satu botol lagi ke rumahku, aku akan mengirimnya kembali... lewat tenggorokan utusannya."
Lucian mundur selangkah, terintimidasi oleh gabungan aura membunuh Kaelen dan keberanian dingin Elara.
"A-akan saya sampaikan," gagap Lucian. Ia memberi isyarat pada pengawalnya untuk menutup peti itu buru-buru. "Kami akan pergi sekarang."
"Silas, antar tamu kita ke gerbang," perintah Elara. "Jangan beri mereka makan siang. Kita sedang berhemat."
Saat pintu aula tertutup di belakang utusan yang lari terbirit-birit itu, keheningan kembali menyelimuti ruangan.
Elara berbalik menghadap Kaelen. Jantungnya masih berdegup kencang karena keberaniannya sendiri.
Kaelen menatapnya. Dia turun dari podium, berjalan mendekat hingga dia berdiri tepat di depan Elara. Dia melihat pecahan botol di lantai, lalu menatap mata istrinya.
"Kau berbohong soal Bunga Matahari Selatan," kata Kaelen.
"Tentu saja," jawab Elara. "Aku tidak tahu apa isi botol itu. Tapi baunya seperti air gula basi."
Kaelen menggelengkan kepalanya pelan, ekspresi tak percaya terpampang di wajahnya. "Kau baru saja menuduh Kaisar mencoba meracunimu di depan utusan resminya. Kau bisa digantung karena itu."
"Dan kau baru saja mengancam akan mencekik utusan Kaisar," balas Elara. "Kurasa kita berdua pasangan yang serasi dalam mencari masalah."
Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, sebuah senyum nyata—kecil, enggan, tapi nyata—muncul di wajah Kaelen. Itu mengubah wajahnya sepenuhnya, menghilangkan sepuluh tahun beban usia dari matanya.
"Kau gila, Elara Vane," bisiknya.
"Draxos," koreksi Elara lembut. "Elara Draxos. Kau sendiri yang bilang aku milikmu, bukan?"
Kaelen terdiam. Senyumnya memudar, digantikan oleh tatapan intens yang membuat lutut Elara lemas. Dia mengangkat tangannya, ragu-ragu sejenak, lalu menyentuh pipi Elara dengan punggung jarinya yang kasar. Sentuhan itu ringan, hati-hati, seolah Elara terbuat dari kaca yang mudah pecah.
"Ya," gumam Kaelen, suaranya serak. "Draxos."
Sentuhan itu hanya berlangsung sedetik sebelum Kaelen menarik tangannya kembali, seolah tersengat listrik. Tapi kerusakan—atau perbaikan—sudah terjadi. Dinding es itu tidak hanya retak; ada lubang kecil sekarang, di mana cahaya matahari mulai masuk.
Di luar, kereta kuda utusan kekaisaran melaju pergi menembus salju, membawa kabar bahwa Iblis Utara tidak lagi sendirian. Dia kini memiliki seekor rubah betina yang menjaga gerbangnya.