Lima tahun yang lalu, akibat satu malam penuh kesalahpahaman yang dijebak oleh orang lain, Alana Kirana menyerahkan kesuciannya kepada Devran Adhitama, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa. Takut dituduh sebagai wanita penghibur, Alana melarikan diri ke luar negeri dalam kondisi mengandung. Kini, Alana kembali sebagai desainer interior berbakat demi membiayai pengobatan putranya yang genius namun sakit-sakitan, Leo. Saat Devran menyewa jasanya, pria itu tidak tahu bahwa bocah berwajah sangat mirip dengannya yang sering menyelinap ke kantornya adalah darah dagingnya sendiri. Di tengah intrik mantan kekasih Devran dan rahasia masa lalu, cinta lama yang sempat padam kembali membara dengan taruhan rahasia besar yang siap meledak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Langkah kaki Siska yang diseret paksa oleh dua petugas keamanan mendadak berhenti di lobi utama Adhitama Mansion.
Dengan sentakan hebat, ia berhasil melepaskan cengkeraman tangan para penjaga tersebut.
Amarah, harga diri yang terluka, dan rasa frustrasi yang mendalam membuat wajahnya yang semula cantik kini tampak mengerikan di bawah pendar lampu lobi.
"Lepaskan aku! Aku bisa berjalan sendiri!" jerit Siska, napasnya memburu.
Ia membalikkan tubuhnya, menatap ke arah tangga besar di mana Devran baru saja turun sembari menggendong Leo di lengannya, diikuti oleh Reno di belakang mereka.
"Devran! Jangan pikir kamu bisa menyingkirkanku begitu saja setelah apa yang kita lalui!" teriak Siska, suaranya menggema parau memecah keheningan lobi.
Devran menghentikan langkahnya di anak tangga terakhir. Ia tidak menurunkan Leo dari gendongannya, justru mempererat dekapannya seolah ingin menunjukkan bahwa bocah itu berada di bawah perlindungan paling aman di dunia.
Tatapan mata elangnya menatap Siska dengan dingin, seolah sedang melihat tumpukan sampah yang mengotori lantainya.
"Kamu sudah menandatangani pembatalan itu, Siska. Kamu tidak lagi memiliki hak atau urusan apa pun di propertiku," sahut Devran, suaranya datar namun sarat akan ancaman yang menekan udara di sekitar mereka.
"Urusan kita belum selesai, Devran! Belum!" Siska melangkah maju beberapa tindak, menunjuk wajah Devran dengan jari yang bergetar hebat.
"Kamu pikir kamu bisa mencampakkan seorang Lorenza demi wanita kelas dua seperti Alana Kirana?!"
"Jika kamu berani menghancurkan pertunangan ini dan memutus kontrak Lorenza Corp, aku bersumpah akan menghancurkan reputasi jalang itu!"
Leo menyandarkan kepalanya di bahu Devran, matanya yang bulat menatap Siska dengan pandangan bosan.
"Bibi Merah, suaramu merusak frekuensi pendengaranku. Bisakah kamu berteriak di luar saja?"
"Diam kamu, anak haram!" bentak Siska, matanya berkilat penuh kebencian pada Leo, sebelum kembali menatap Devran.
"Dengar aku, Devran! Besok pagi, seluruh media hiburan, cetak, dan digital di negeri ini akan dipenuhi oleh berita tentang bagaimana Alana Kirana menjadi pelakor!"
"Aku akan memastikan dunia tahu bahwa dia adalah wanita murahan yang menggunakan anak haramnya untuk merusak hubungan kita dan merebut posisi Nyonya Adhitama!"
Reno yang berdiri di belakang Devran langsung melangkah maju dengan wajah mengeras.
"Nona Siska, jaga ucapan Anda. Tindakan Anda sudah masuk ke dalam ranah pencemaran nama baik berat."
"Biarkan dia bicara, Reno," potong Devran tenang.
Pria itu bahkan tidak berkedip mendengarkan ancaman Siska. Sebuah senyuman tipis yang sangat dingin dan mematikan terukir di sudut bibirnya.
"Lanjutkan, Siska. Apa lagi yang ingin kamu katakan pada publik?"
Siska mengira Devran mulai terpengaruh oleh ancamannya. Ia menegakkan bahunya, mencoba mengembalikan sisa-sisa keangkuhannya.
"Aku memiliki jaringan media yang luas, Devran! Dalam hitungan jam, nama Alana Kirana akan menjadi sampah di mata publik."
"Reputasinya sebagai desainer internasional akan hancur total, dan tidak akan ada satu pun perusahaan di dunia ini yang mau mempekerjakan seorang pelakor!"
"Kamu ingin melindunginya, bukan? Maka pertahankan pertunangan kita, atau wanita itu akan hidup di dalam neraka ciptaanku!"
Devran menghela napas pendek, lalu menoleh ke arah Reno. "Reno, jam berapa sekarang?"
"Pukul empat lewat lima belas menit pagi, Tuan Besar," jawab Reno setelah melirik jam tangan pintarnya.
"Pukul empat pagi..." Devran bergumam pelan.
Ia lalu menatap Siska kembali dengan tatapan yang dipenuhi rasa kasihan yang teramat menghina.
"Waktu yang sangat bagus untuk memulai sebuah rilis berita utama."
"Reno, jalankan Protokol Pembersihan Fasa Satu. Sekarang."
Siska mengernyitkan alisnya, mendadak dilanda perasaan tidak enak yang sangat besar.
"A-Apa maksudmu? Protokol apa?!"
Reno tidak menjawab Siska. Asisten pribadi itu langsung merogoh ponselnya, menekan beberapa tombol di layar dengan kecepatan tinggi, lalu mendekatkan ponsel itu ke telinganya.
"Rilis sekarang. Semua platform, tanpa sensor."
"Devran! Apa yang kamu lakukan?!" pekik Siska, suaranya mulai melengking panik.
"Aku hanya sedang menghemat tenagamu, Siska," ucap Devran, langkah kakinya perlahan maju mendekati Siska, membuat atmosfer di lobi itu mendadak terasa mencekam.
"Kamu tidak perlu repot-repot menghubungi jaringan mediamu yang tidak seberapa itu untuk membuat berita palsu tentang Alana."
"Karena dalam hitungan menit, jaringan media milik Adhitama Group sudah merilis kebenaran tentang siapa dirimu yang sebenarnya."
BZZZ... BZZZ... BZZZ...
Ponsel di dalam tas pesta milik Siska mendadak bergetar tanpa henti. Notifikasi berita darurat (breaking news) dari berbagai aplikasi media sosial dan portal berita nasional masuk bertubi-tubi bagai air bah.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Siska membuka tasnya dan mengeluarkan ponselnya.
Matanya membelalak sempurna, napasnya seolah terhenti di tenggorokan saat melihat judul-judul berita utama yang merajai seluruh halaman depan internet dalam waktu kurang dari tiga menit.
>BREAKING NEWS: REKAMAN CCTV MASA LALU BOCOR! SISKA LORENZA TERBUKTI LAKUKAN SABOTASE DAN KEKERASAN TERHADAP MANTAN KARYAWAN!
> ADHITAMA GROUP RESMI BATALKAN PERTUNANGAN: REKAMAN INI JADI BUKTI KEJAHATAN SISTEMATIK NONA LORENZA!
Siska membuka salah satu tautan video yang sedang ditonton oleh jutaan orang secara serentak.
Di layar ponselnya, berputar sebuah rekaman CCTV berkualitas tinggi yang menunjukkan kejadian tiga tahun yang lalu, kejadian di mana Siska dengan sengaja memerintahkan beberapa orang suruhannya untuk merusak bahan kain desainer saingannya, serta rekaman suara dirinya yang sedang memaki dan mengancam akan menghabisi karier Alana Kirana sebelum wanita itu pergi ke Swiss.
Seluruh tindakan kriminal, kelicikan, dan topeng anggun yang selama ini ia jaga di depan publik hancur berantakan tanpa ada satu pun yang ditutupi.
"T-Tidak... ini tidak mungkin..." Siska menggelengkan kepalanya, ponselnya terlepas dari genggaman dan jatuh berdentang di atas lantai marmer.
"Bagaimana bisa... bagaimana bisa kamu memiliki rekaman ini, Devran?! File ini harusnya sudah dihapus oleh orang-orangku!"
"Kamu lupa siapa yang membangun seluruh sistem keamanan digital di distrik bisnismu, Siska?" celetuk Leo dari atas gendongan Devran, sebuah senyuman nakal terukir di wajah jeniusnya.
"Menghapus file dari server lokal itu mudah bagi orang-orangmu yang bodoh. Tapi mengambilnya kembali dari cloud backup tersembunyi? Itu hanya butuh waktu dua menit bagi tanganku."
Siska menatap Leo dengan pandangan horor yang teramat sangat. Bocah berusia lima tahun itu baru saja mengaku bahwa dialah yang membongkar kuburan masa lalunya sendiri.
"Kamu..." Siska menunjuk Leo dengan tubuh yang menggigil hebat. "Kamu monster kecil!"
"Dia adalah anakku, Siska. Seorang Adhitama," potong Devran, suaranya menggelegar penuh kepemilikan.
"Dan apa yang kamu lihat di ponselmu itu barulah permulaan. Dalam waktu sepuluh menit, tim hukumku akan menyerahkan bukti-bukti sabotase itu ke pihak kepolisian."
"Jika kamu berani menyebut nama Alana Kirana atau menyentuh ujung rambutnya sedikit saja di media, aku akan memastikan masa hukumanmu di penjara bertambah menjadi dua kali lipat."
Siska ambruk di atas lantai marmer lobi, seluruh kekuatannya lenyap seketika.
Reputasinya hancur, kariernya tamat, dan nama baik keluarganya kini berada di titik nadir terdalam dalam hitungan menit di tangan Devran dan Leo.
"Reno, bawa wanita ini keluar dari pandanganku sekarang juga. Aromanya mengotori lobi rumahku," perintah Devran dingin tanpa sedikit pun rasa iba.
"Baik, Tuan Besar," sahut Reno, segera memberi isyarat kepada petugas keamanan untuk mengangkat tubuh Siska yang sudah lemas dan menyeretnya keluar melewati lobi menuju mobil patroli luar.
Setelah pintu lobi utama tertutup rapat, Devran menurunkan Leo dari gendongannya. Ia berlutut di depan putranya, menatap wajah cerdas yang kini sedang tersenyum puas.
"Kamu melakukannya dengan sangat baik, Leo," ucap Devran, menepuk bahu kecil putranya dengan bangga.
"Tentu saja, Papa. Tidak ada yang boleh mengancam Mommy di depan mataku," jawab Leo dengan kedipan mata yang jenaka.
"Tapi Papa... apakah Mommy tahu kalau Papa sudah merilis video itu?"
Devran bangkit berdiri, menatap ke arah lantai atas di mana kamar pemulihan Alana berada. Sebuah kilat misterius kembali muncul di matanya.
"Mommy mu tidak perlu tahu bagian ini sekarang. Yang perlu dia tahu adalah bahwa mulai besok, tidak akan ada lagi gangguan dari siapa pun di dunia ini untuk kita bertiga."