Sebuah cerita tentang kehidupan dua manusia yang dijodohkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 — Di Malam Penghargaan
Ballroom hotel malam itu tampak begitu megah. Lampu kristal menggantung indah di langit-langit tinggi, memantulkan cahaya keemasan ke seluruh ruangan. Musik lembut mengalun dari sudut ballroom, mengiringi langkah para tamu yang datang dengan pakaian terbaik mereka.
Malam itu adalah acara besar: Pesta Penghargaan Pengusaha Terbaik 2026.
Para pengusaha, investor, direktur perusahaan, dan tokoh bisnis ternama memenuhi ballroom. Percakapan tentang proyek besar, kerja sama, dan pencapaian perusahaan terdengar di berbagai sudut ruangan.
Di antara mereka, Jifan berdiri dengan tenang dalam balutan setelan jas hitam. Penampilannya tegas, rapi, dan berwibawa. Wajahnya tampak dingin seperti biasa, namun tetap memancarkan aura pemimpin besar. Di tangannya ada segelas minuman, sementara beberapa rekan bisnis berdiri mengelilinginya.
“Pak Jifan, Syahrezan Group benar-benar mendominasi tahun ini,” ujar salah satu rekan bisnisnya. “Ekspansi properti Anda luar biasa.”
Jifan tersenyum tipis. “Kami hanya menjalankan strategi yang sudah disiapkan dengan matang.”
“Selalu begitu jawaban Anda,” sahut pria lain sambil tertawa kecil. “Rendah hati, tapi hasilnya besar.”
Jifan hanya mengangguk sopan. Namun sesekali, matanya menyapu ruangan.
Sebenarnya, sejak tadi pikirannya tidak sepenuhnya berada di acara itu.
Diara.
Istrinya hanya mengatakan bahwa malam ini ia juga memiliki acara. Diara tidak menjelaskan terlalu detail. Jifan pun tidak banyak bertanya karena hubungan mereka sejak siang memang sedang kurang baik. Ada kesalahpahaman kecil yang membuat Diara memilih diam. Dan bagi Jifan, diamnya Diara jauh lebih sulit dihadapi daripada kemarahannya.
Ia sempat mengirim pesan sebelum berangkat.
Jifan:
Sayang, acara kamu di mana?
Namun Diara hanya membalas singkat.
Diara:
Ada acara kantor, Mas.
Setelah itu, tidak ada banyak percakapan lagi.
Jifan menghela napas pelan. Ia tahu Diara sedang marah padanya.
Namun sebelum ia sempat memikirkan istrinya lebih jauh, suasana ballroom tiba-tiba berubah. Beberapa tamu yang berdiri di dekat pintu utama mulai menoleh. Bisik-bisik kecil terdengar, lalu perlahan menyebar ke seluruh ruangan.
“Siapa itu?”
“Cantik sekali…”
“Itu Diara, kan? Pemilik Diara Interior Design?”
“Serius? Dia terlihat jauh lebih elegan secara langsung.”
“Katanya itu istri Pak Jifan, pemilik Syahrezan Group.”
“Oh, jadi itu Bu Diara? Pantas saja auranya beda.”
“Dia bukan cuma cantik. Perusahaannya juga sedang naik besar tahun ini.”
“Diara Interior Design itu yang menangani beberapa proyek hotel dan apartemen premium, kan?”
“Iya. Katanya dia sendiri yang memimpin konsep desainnya.”
Bisik-bisik itu membuat Jifan perlahan menoleh ke arah pintu.
Dan saat itu juga, tubuhnya seakan berhenti bergerak.
Diara berdiri di sana.
Ia melangkah masuk ke ballroom dengan anggun, mengenakan abaya formal berwarna maroon yang jatuh indah mengikuti gerak tubuhnya. Hiasan payet di bagian tangan berkilau lembut setiap kali ia bergerak, tidak berlebihan, tetapi cukup membuat penampilannya terlihat mewah dan berkelas.
Pashmina maroon yang ia kenakan tertata rapi, membingkai wajahnya yang lembut. Di tangannya, ia menggenggam tas dari merek ternama, kecil namun elegan, melengkapi seluruh penampilannya malam itu.
Jifan tidak menyangka.
Acara yang Diara maksud ternyata adalah pesta yang sama dengannya.
Untuk beberapa detik, Jifan hanya mampu menatap istrinya dari kejauhan. Diara terlihat sangat cantik. Bukan hanya sebagai perempuan yang ia cintai, tetapi sebagai sosok yang berdiri percaya diri dengan pencapaiannya sendiri.
Diara bukan sekadar istri Jifan Syahrezan.
Malam itu, ia adalah Humaira Diara Aluna, pemimpin Diara Interior Design.
Seorang perempuan yang membuat seluruh ballroom menoleh.
Arkan, yang berdiri tidak jauh dari Jifan, menyadari perubahan ekspresi sahabatnya. Ia menahan senyum, lalu mendekat sedikit.
“Fan,” bisik Arkan. “Kalau mau kagum, jangan terlalu kelihatan.”
Jifan meliriknya tajam. “Diam.”
Arkan tersenyum miring. “Saya cuma mengingatkan. Dari tadi wajahmu seperti baru pertama kali melihat istrimu.”
Jifan tidak menjawab. Matanya kembali pada Diara.
Diara berjalan melewati beberapa tamu yang menyapanya. Ia membalas dengan senyum sopan. Beberapa orang menghampirinya, memberi salam, memuji perusahaannya, dan mengajaknya berbincang singkat.
Namun tidak semua tatapan yang diarahkan kepadanya berisi kekaguman.
Di sudut lain, beberapa wanita memandang Diara dengan wajah iri.
“Beruntung sekali dia,” bisik salah satu dari mereka. “Cantik, sukses, dan suaminya Jifan Syahrezan.”
“Kadang hidup memang terlalu baik pada orang tertentu.”
“Entah sukses karena kemampuannya sendiri atau karena nama besar suaminya.”
“Ya, siapa tahu proyek-proyeknya lancar karena koneksi Syahrezan Group.”
Ucapan itu terdengar samar, tetapi cukup untuk membuat suasana di sekitar mereka terasa berubah. Diara mendengarnya, namun ia memilih tidak menoleh. Wajahnya tetap tenang. Senyumnya tetap terjaga.
Ia sudah terbiasa.
Terlalu banyak orang yang lebih suka meragukan kerja keras perempuan sukses daripada mengakui kemampuannya.
Jifan pun mendengar bisikan itu.
Rahangnya mengeras.
Tatapan dinginnya mengarah singkat ke arah mereka. Tidak ada kata yang keluar dari mulut Jifan, tetapi sorot matanya cukup tajam untuk membuat para wanita itu langsung menunduk dan menghentikan pembicaraan.
Setelah itu, Jifan melangkah mendekati Diara.
Gaya berjalannya tetap tenang dan cool. Jas hitamnya membuat sosoknya tampak semakin dominan di tengah ballroom. Beberapa orang yang melihatnya otomatis memberi jalan.
Diara yang sedang berbincang dengan salah satu tamu akhirnya menyadari kehadiran Jifan. Matanya bertemu dengan mata suaminya.
Namun berbeda dari biasanya, tatapan Diara dingin.
Jifan berhenti tepat di hadapannya.
“Selamat malam, Sayang,” ucap Jifan dengan
suara rendah.
Diara menatapnya sekilas. “Selamat malam, Pak Jifan.”
Panggilan itu membuat Jifan mengangkat alis sedikit.
Pak Jifan.
Biasanya Diara memanggilnya Mas. Jika sudah berubah menjadi seformal itu, berarti istrinya benar-benar sedang marah.
“Pak Jifan?” ulang Jifan pelan.
Diara tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak sampai ke matanya. “Kita sedang di acara formal, bukan?”
Jifan menahan senyum kecil. “Kalau begitu, selamat malam, Bu Diara.”
Diara menatapnya tajam. “Jangan menggoda.”
“Mas bahkan belum mulai.”
“Mas?” Diara menoleh sedikit. “Bukankah tadi formal?”
Jifan mendekat setengah langkah. Suaranya merendah agar hanya Diara yang bisa mendengar.
“Sekalipun satu ballroom memanggilku Pak Jifan, kamu tetap boleh memanggilku Mas.”
Diara terdiam sesaat. Kalimat itu hampir saja membuat pertahanannya goyah. Namun ia segera membuang pandangan.
“Aku mau menemui tamu lain,” ucap Diara.
Jifan tidak langsung membiarkannya pergi. “Ikut Mas sebentar.”
“Untuk apa?”
“Mas ingin mengenalkan kamu dengan beberapa rekan bisnis.”
Diara menatapnya tidak senang. “Aku sedang tidak ingin ikut Mas.”
“Sebentar saja.”
“Mas, aku masih marah.”
“Mas tahu,” jawab Jifan tenang.
“Kalau tahu, jangan bersikap seolah semuanya baik-baik saja.”
Jifan menatapnya lebih lembut. “Mas tidak berpura-pura semuanya baik-baik saja. Tapi malam ini, Mas ingin semua orang tahu bahwa Mas bangga berdiri di samping kamu.”
Diara terdiam.
Kalimat itu datang terlalu lembut untuk ia bantah cepat.
Jifan mengulurkan tangannya, bukan memaksa, hanya memberi pilihan. Namun tatapannya jelas meminta Diara untuk ikut dengannya.
Diara menatap tangan itu beberapa detik.
“Aku ikut hanya sebentar,” katanya akhirnya.
Jifan tersenyum tipis. “Cukup.”
Diara meletakkan tangannya di lengan Jifan. Mereka berjalan berdampingan menuju sekelompok rekan bisnis yang sejak tadi memperhatikan mereka dengan rasa penasaran.
“Pak Jifan,” sapa seorang pria paruh baya. “Jadi ini Bu Diara?”
Jifan menatap Diara dengan sorot bangga yang tidak ia sembunyikan.
“Iya,” jawab Jifan. “Istri saya, Diara. Pendiri sekaligus pemimpin Diara Interior Design.”
Diara tersenyum sopan. “Senang bertemu dengan Bapak dan Ibu sekalian.”
Salah satu istri rekan bisnis Jifan menatap Diara dengan kagum. Wanita itu tampak elegan dan ramah.
“Bu Diara, saya benar-benar senang akhirnya bisa bertemu langsung,” ucapnya. “Saya sering mendengar nama perusahaan Anda. Desain Anda sangat berkelas. Modern, tapi tetap punya rasa hangat.”
Diara tersenyum tulus. “Terima kasih banyak, Bu. Saya senang sekali mendengarnya.”
“Saya melihat salah satu proyek hotel butik yang ditangani Diara Interior Design. Detailnya cantik sekali. Tidak mudah membuat ruangan terlihat mewah tanpa terasa dingin.”
“Benar, Bu,” jawab Diara. “Bagi saya, ruang yang baik bukan hanya indah dilihat, tapi juga harus membuat orang merasa nyaman berada di dalamnya.”
Wanita itu mengangguk kagum. “Pantas saja perusahaan Anda berkembang pesat. Anda bukan hanya punya selera, tapi juga filosofi desain yang kuat.”
Jifan berdiri di samping Diara, mendengarkan percakapan itu dengan dada yang terasa penuh.
Ia bangga.
Sangat bangga.
Diara menjawab setiap pertanyaan dengan tenang, sopan, dan cerdas. Tidak ada sikap berlebihan, tidak ada usaha untuk terlihat paling hebat. Justru karena itulah ia semakin memikat.
Beberapa tamu lain ikut memberikan pujian.
“Bu Diara masih muda, tapi pencapaiannya luar biasa.”
“Memimpin perusahaan desain di tengah persaingan seperti sekarang bukan hal mudah.”
“Saya rasa Diara Interior Design akan menjadi salah satu nama besar di industri ini.”
Diara membalas semuanya dengan rendah hati. “Terima kasih. Saya masih banyak belajar. Semua pencapaian ini juga karena tim saya bekerja sangat keras.”
Jifan menoleh kepadanya.
Perempuan ini, pikirnya, selalu tahu cara bersinar tanpa harus meredupkan siapa pun.
Tidak lama kemudian, pembawa acara naik ke panggung. Lampu ballroom perlahan diredupkan. Musik berhenti, berganti dengan suara pembawa acara yang terdengar jelas melalui pengeras suara.
“Bapak dan Ibu sekalian, kini kita sampai pada acara utama malam ini, yaitu pengumuman penerima penghargaan Pengusaha Terbaik 2026.”
Tepuk tangan memenuhi ballroom.
Diara berdiri tegak di samping Jifan. Meski wajahnya tenang, Jifan bisa melihat jemarinya sedikit menegang di sisi tubuhnya.
“Kamu gugup?” tanya Jifan pelan.
Diara menatap panggung. “Sedikit.”
Jifan menunduk sedikit, berbisik di dekatnya. “Mas di sini.”
Diara menoleh sekilas. Tatapan mereka bertemu.
Untuk sesaat, kemarahannya terasa melemah.
Namun Diara segera kembali menatap panggung.
Layar besar di belakang pembawa acara menampilkan nama-nama nominasi. Beberapa nama besar muncul. Lalu, nama Diara tampil di layar.
Humaira Diara Aluna— Diara Interior Design
Tepuk tangan terdengar lagi. Beberapa orang menoleh ke arahnya dengan kagum.
Jifan menatap nama itu dengan senyum bangga.
Pembawa acara membuka amplop di tangannya. Suasana ballroom mendadak hening.
“Dan penerima penghargaan Pengusaha Terbaik 2026 adalah…”
Diara menahan napas.
Jifan tanpa sadar menggenggam tangan Diara.
“Humaira Diara Aluna, pendiri dan CEO Diara Interior Design!”
Tepuk tangan pecah memenuhi ballroom.
Diara membeku sejenak. Matanya melebar, seolah belum sepenuhnya percaya bahwa namanya baru saja disebut sebagai pemenang.
Jifan menatapnya. “Sayang, kamu menang.”
Diara menoleh kepadanya. “Mas…”
“Naiklah,” ucap Jifan lembut. “Ini malam kamu.”
Diara menarik napas pelan. Kemudian, dengan langkah anggun, ia berjalan menuju panggung. Abaya maroon yang ia kenakan bergerak lembut mengikuti langkahnya. Payet di bagian tangannya berkilau di bawah sorot lampu.
Semua mata tertuju padanya.
Diara menerima piala penghargaan dari panitia. Ia berdiri di depan mikrofon, menatap seluruh tamu yang memenuhi ballroom.
“Terima kasih atas penghargaan ini,” ucap Diara dengan suara tenang. “Saya menerima penghargaan ini dengan rasa syukur yang besar. Bagi saya, penghargaan ini bukan hanya milik saya, tetapi milik seluruh tim Diara Interior Design yang telah bekerja keras, tumbuh bersama, dan percaya bahwa setiap ruang memiliki cerita.”
Ruangan hening mendengarkan.
Diara melanjutkan, “Kami selalu percaya bahwa desain bukan hanya tentang keindahan visual. Desain adalah tentang rasa. Tentang bagaimana seseorang merasa diterima, nyaman, dan pulang ketika berada di sebuah ruang.”
Jifan menatap Diara dari bawah panggung. Sorot matanya lembut, penuh bangga.
“Terima kasih kepada keluarga saya, kepada orang-orang yang terus mendukung, dan kepada semua pihak yang memberi kesempatan bagi Diara Interior Design untuk berkembang. Semoga penghargaan ini menjadi awal untuk karya yang lebih baik lagi.”
Tepuk tangan kembali memenuhi ballroom.
Diara turun dari panggung dengan piala di tangannya. Banyak tamu langsung menghampirinya untuk memberikan ucapan selamat. Ia tersenyum, berjabat tangan, dan menerima semua pujian dengan anggun.
Jifan menunggunya di sisi ruangan.
Saat Diara akhirnya mendekat, Jifan menatapnya dengan senyum yang jarang ia tunjukkan di hadapan publik.
“Selamat, Bu Diara,” ucapnya lembut.
Diara mencoba tetap tenang. “Terima kasih, Pak Jifan.”
Jifan mendekat sedikit. “Mas bangga padamu.”
Diara terdiam.
Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada menggoda. Tidak pula terdengar dibuat-buat. Jifan mengatakannya dengan tulus, seolah hanya itu yang paling ingin ia sampaikan malam itu.
“Terima kasih,” jawab Diara pelan.
Meski masih marah, Diara tidak bisa menyangkal bahwa hatinya menghangat.
Pesta berlanjut beberapa saat setelah pengumuman. Banyak tamu datang memberi selamat kepada Diara. Beberapa meminta kartu nama, beberapa mengajaknya berdiskusi tentang kemungkinan kerja sama. Diara melayani semuanya dengan profesional.
Jifan memperhatikannya dari kejauhan.
Malam itu, ia melihat Diara dengan cara yang berbeda. Selama ini ia tahu istrinya hebat. Namun melihat Diara berdiri di tengah ballroom, dipuji bukan karena statusnya sebagai istri Jifan, tetapi karena kerja kerasnya sendiri, membuat rasa kagum Jifan semakin dalam.
Setelah pesta selesai, para tamu mulai meninggalkan ballroom. Diara berjalan menuju area lobi sambil membawa piala dan tas kecilnya. Ia berniat pulang sendiri seperti saat ia datang.
Namun sebelum ia sampai di pintu keluar, Jifan menyusul dan menahan lembut pergelangan tangannya.
“Pulang sama Mas.”
Diara menoleh. “Aku bawa mobil sendiri.”
“Nanti Arkan yang urus.”
“Aku bisa pulang sendiri, Mas.”
“Mas tahu kamu bisa,” jawab Jifan. “Tapi malam ini Mas ingin pulang bersamamu.”
Diara berusaha melepaskan tangannya. “Aku masih marah.”
Jifan tidak melepaskan pandangannya dari wajah Diara. “Mas tahu.”
“Kalau tahu, jangan memaksa.”
Jifan menarik napas pelan. Genggamannya tidak keras, tapi cukup untuk membuat Diara tetap berhenti di tempatnya.
“Mas tidak mau memaksa kamu dengan cara yang membuat kamu tidak nyaman,” katanya lebih lembut. “Tapi Mas akan tetap meminta. Pulanglah dengan Mas, Sayang.”
Diara menatapnya lama. “Kenapa harus malam ini?”
“Karena kamu baru saja memenangkan penghargaan besar,” jawab Jifan. “Karena setelah semua orang bertepuk tangan untukmu, Mas ingin menjadi orang yang mengantar kamu pulang. Bukan sebagai Pak Jifan dari Syahrezan Group, tapi sebagai suamimu.”
Diara terdiam.
Jifan melanjutkan dengan suara lebih rendah. “Kamu boleh marah sepanjang perjalanan. Kamu boleh diam. Kamu boleh mengatakan semua yang kamu tahan sejak tadi. Mas akan dengarkan.”
“Mas janji tidak memotong?”
“Janji.”
“Tidak membela diri dulu?”
“Tidak.”
“Tidak menganggap aku berlebihan?”
Jifan menatapnya dengan serius. “Tidak akan.”
Diara menggenggam pialanya lebih erat. Kemarahannya belum hilang. Ia masih merasa kesal pada Jifan. Namun kesungguhan di mata lelaki itu membuatnya sulit terus menolak.
“Aku benar-benar masih marah,” ucap Diara pelan.
“Mas tahu.”
“Jangan senyum.”
Jifan menahan senyumnya. “Sulit.”
Diara menatapnya tajam. “Mas.”
“Maaf,” kata Jifan, namun matanya tetap lembut. “Mas hanya terlalu bangga malam ini.”
Diara membuang pandangan, mencoba menahan senyum kecil yang hampir muncul.
Jifan melihat itu.
Pelan-pelan, ia melepaskan pergelangan tangan Diara, lalu menggantinya dengan menggenggam tangan istrinya secara lebih lembut.
“Pulang sama Mas, ya?”
Diara diam beberapa saat, lalu akhirnya mengangguk kecil.
“Baik. Tapi aku masih marah.”
“Mas akan terima.”
“Dan aku mau bicara panjang di mobil.”
“Mas akan dengarkan sampai selesai.”
Diara menarik napas pelan. “Kalau begitu, kita pulang.”
Jifan mengangguk, lalu berjalan di sampingnya. Diara membawa piala di satu tangan, sementara tangan lainnya berada dalam genggaman Jifan.
Beberapa tamu yang masih berada di lobi menatap mereka. Ada yang kagum. Ada yang iri. Ada yang berbisik pelan.
Namun kali ini, Diara tidak peduli.
Malam itu, ia pulang sebagai pemenang.
Sebagai perempuan yang membuktikan bahwa dirinya berdiri karena kerja kerasnya sendiri.
Dan di sampingnya, Jifan berjalan dengan rasa bangga yang tidak lagi ia sembunyikan.
Ia mungkin belum sepenuhnya dimaafkan.
Tetapi malam itu, ia memilih untuk tetap berada di sisi Diara.
Bukan untuk menutupi cahaya istrinya.
Melainkan untuk ikut menjaganya tetap menyala.