Di balik gaun megah bertabur mawar merah dan dansa yang begitu mesra, tersimpan sebuah rahasia yang mematikan.
Melanie mengira ia telah menemukan cinta sejatinya pada diri Glen, seorang pria menawan yang memperlakukannya bak seorang ratu tanpa cela, seperti mawar merah yang indah tanpa duri (Thornless Red Rose). Namun, Melanie tidak pernah tahu bahwa di balik tatapan penuh kehangatan itu, Glen sedang merajut jaring balas dendam yang kejam terhadap keluarganya.
Ketika kebenaran perlahan mulai terkuak, Melanie harus menghadapi kenyataan pahit: apakah cinta Glen kepadanya murni nyata, ataukah ia hanya sekadar bidak dalam permainan balas dendam yang dirancang untuk menghancurkan hidupnya?
Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di atas bara dendam, di mana batas antara ketulusan dan pengkhianatan menjadi begitu tipis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Goresan yang Menembus Sunyi
Hari-hari libur panjang berlalu dengan ritme yang lambat dan menyiksa. Di dalam kamarnya yang luas, Melanie menghabiskan waktu dengan menatap layar ponselnya.
Kampus Universitas Airrawan masih ditutup total untuk renovasi, membuat jarak antara dirinya dan dunia luar terasa semakin membentang jauh. Untuk mengusir rasa sepi dan sesak yang terus bergelayut di dadanya setelah pengakuannya yang jujur kepada sang bapak malam itu, Melanie iseng membuka aplikasi NovelToon di ponselnya, sebuah kebiasaan lama yang sering ia lakukan jika ingin mencari pelarian lewat untaian kata fiksi.
Namun sore itu, saat jarinya menggulir halaman rekomendasi cerita baru, jantung Melanie mendadak berdesir hebat. Matanya terpaku pada sebuah judul yang baru saja diperbarui beberapa jam lalu: Thornless Red Rose.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Melanie mengetuk judul tersebut dan mulai membaca sinopsis serta bab pertama yang baru saja diunggah oleh sang penulis anonim. Setiap baris kalimat, setiap diksi yang puitis namun sarat akan luka dan dinginnya dendam, terasa begitu familier di telinganya. Metafora tentang mawar tanpa duri yang berdansa di atas bara api, serta sosok pria menawan yang menyimpan jaring racun di balik senyum hangatnya, semuanya terlalu nyata untuk disebut sebagai kebetulan.
"Glen..." bisik Melanie lirih, air matanya perlahan menggenang kembali di pelupuk mata.
Ia tahu persis gaya bahasa ini. Ini adalah tulisan Glen. Pria itu ternyata tidak benar-benar membuang naskah tragedi mereka; ia justru sedang memamerkan luka dan dendamnya kepada seluruh dunia lewat kanvas digital, menelanjangi takdir mereka berdua di balik samaran karakter fiksi.
Di sudut kota yang lain, di dalam ruang tengah rumah besarnya, Glen duduk terdiam menatap layar laptopnya yang menampilkan statistik pembaca yang terus merangkak naik. Namun, ia tidak peduli pada angka-angka itu. Fokusnya terpecah saat mendengar langkah kaki Bik Sisi yang berjalan tergesa dari arah dapur menuju paviliun samping, tempat ayahnya biasa berjemur.
Glen bangkit dari kursinya, melangkah perlahan mengikuti Bik Sisi. Dari balik pilar pembatas, ia melihat sang ayah sedang memegang sebuah buku tua yang halamannya sudah menguning.
Tatapan mata pria paruh baya itu masih kosong, namun bibirnya bergerak-gerak samar, seolah sedang merapalkan bait naskah masa lalu yang terkoyak dari ingatannya.
"Den... Den Glen," panggil Bik Sisi lirih begitu menyadari kehadiran anak asuhnya. "Bapak sejak tadi memegangi buku ini. Beliau terus-menerus menyebut kata mawar... Bik Sisi tidak paham apa maksudnya."
Glen mendekat, lalu berlutut di samping kursi roda ayahnya. Ia mengambil buku tua itu dengan hati-hati dari jemari ayahnya yang gemetar. Begitu membuka halaman pertamanya, sebuah robekkan kertas kecil jatuh ke pangkuannya, sebuah nota kerja sama tekstil dua belas tahun lalu yang ditandatangani oleh ayah Melanie.
"Bapak..." panggil Glen, suaranya tercekat di tenggorokan.
Sang ayah menoleh lambat, menatap Glen dengan manik mata yang meredup, lalu mengulas senyum tipis yang teramat getir. "Mawar... maware wis rusak, le..." gumam ayahnya parau, sebelum kembali memalingkan wajah ke arah jendela yang menampilkan rintik gerimis. (Mawar... mawarnya sudah rusak, nak).
Kalimat pendek ayahnya menghantam dada Glen seperti godam besar. Bara dendam yang ia tuangkan ke dalam bab-bab novel Thornless Red Rose mendadak terasa membakar tangannya sendiri.
Thone, yang sore itu baru saja datang untuk mengantarkan beberapa draf catatan kuliah yang tertinggal, berdiri di ambang pintu paviliun. Ia menyaksikan kerapuhan Glen yang terduduk di samping kursi roda ayahnya, memegang kertas robekkan masa lalu dengan rahang yang menegang hebat.
"Kamu melihatnya sendiri, kan, Glen?" ujar Thone memecah kesunyian dengan nada suara yang tenang namun menusuk tepat di pusat ego sahabatnya. "Ayahmu bahkan sudah lelah dengan kata rusak itu. Kamu menulis cerita di NovelToon untuk menghancurkan karakter mawar itu di akhir bab, tapi nyatanya, setiap kata yang kamu ketik justru sedang menguliti perlahan seluruh kebencian palsu yang kamu agungkan."
Glen bangkit berdiri, menyambar laptopnya di meja tengah dengan sentakan kasar, lalu menatap Thone dengan pandangan mata elang yang kembali menajam demi menyembunyikan getar ketakutannya. "Aku tidak akan mengubah akhir ceritanya, Thone. Pria di dalam novel itu harus tetap membalaskan dendamnya, apa pun yang terjadi pada sang mawar."
"Kita lihat saja, Glen," balas Thone sembari bersedekah dada, menatap punggung sahabatnya yang melangkah lebar kembali ke dalam kamar. "Apakah jemarimu akan sanggup mengetik bab kehancuran itu, ataukah hatimu yang akan lebih dulu pecah sebelum naskah itu selesai."
terlalu mengaitkan kisah fiksinya...