NovelToon NovelToon
Menghancurkan Suami Benalu Dan Adik Tiriku

Menghancurkan Suami Benalu Dan Adik Tiriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:14.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nila KingShop Wati

HANCURLAH BERSAMA "SUAMI PARASIT DAN ADIK BENALU"
Selama dua tahun pernikahan, Violet hidup sebagai istri yang selalu mengalah. Ia tidak pernah menyangka suami yang dicintainya ternyata diam-diam berselingkuh dengan Eliana, adik tirinya sendiri.
Lebih kejam lagi, mereka hanya memanfaatkannya demi merebut perusahaan keluarga yang menjadi haknya. Saat kebenaran terungkap, Violet kehilangan segalanya—ayahnya koma karena sebuah kecelakaan yang ternyata direncanakan, hartanya dirampas, dan nyawanya dihabisi oleh orang-orang yang paling dipercayainya.
Dalam detik terakhir sebelum kematian, Violet mengutuk mereka dan memohon kesempatan untuk mengulang hidupnya.
Ketika membuka mata, ia kembali ke dua tahun lalu.
Ke hari saat Arga datang melamar.
Kali ini Violet tidak akan memilih pria yang menghancurkan hidupnya.
Sebagai gantinya, ia memilih Sherkan—paman Arga yang terkenal dingin, kejam, dan menjadi penguasa dunia bisnis.
Keputusan itu mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nila KingShop Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab28

BAB 28

Aku terdiam cukup lama, berdiri mematung di tempat sambil mencoba menenangkan pikiran yang tiba-tiba dipenuhi oleh berbagai kemungkinan buruk yang melintas secepat kilat. Jika Kakek Satria benar-benar mengirim pesan dan ingin bertemu denganku secara langsung, maka pertemuan itu tidak akan sesederhana atau selembut yang terlihat. Pria tua itu dikenal di seluruh lingkungan keluarga dan dunia usaha sebagai sosok yang sangat tajam, cermat, dan pandai membaca situasi. Bahkan di kehidupan sebelumnya, aku selalu merasa tidak nyaman dan tertekan jika harus berada di hadapannya terlalu lama. Tatapan matanya yang dalam dan penuh pengalaman seolah mampu menembus hingga ke dasar hati dan membaca setiap pikiran yang berusaha kusembunyikan.

Setelah menarik napas panjang untuk mengumpulkan keberanian, aku akhirnya mengangkat kepala dan menatap lurus ke arah Arga.

“Baiklah, aku akan menemuinya.”

Arga membalas tatapanku dengan sorot mata yang penuh perhitungan. “Kapan?”

“Besok,” jawabku mantap. “Aku menunggu Papa pulang dari perjalanan dinasnya terlebih dahulu. Setelah itu, baru aku pergi menemui Kakek Satria.”

Untuk pertama kalinya sejak percakapan ini dimulai, ekspresi wajah Arga tampak sedikit melunak. Namun bukan karena ia merasa lega atau khawatir, melainkan justru terlihat seolah ia baru saja memenangkan sebuah pertarungan yang sudah lama ia rencanakan. Senyum tipis yang penuh keyakinan muncul di sudut bibirnya—senyum yang justru membuat perutku terasa mual dan sangat muak melihatnya.

“Kau ternyata sudah mempersiapkan semuanya dengan sangat matang,” ucapnya dengan nada menyindir yang samar.

Aku mengernyitkan dahi, merasa bingung mendengar ucapannya. “Apa maksudmu dengan perkataan itu?”

Arga akhirnya hanya tertawa kecil, suaranya terdengar rendah namun penuh makna tersembunyi, seolah ia mengetahui sebuah rahasia besar yang tidak kuketahui. “Aku tidak tahu apa sebenarnya rencana yang sedang kamu susun di dalam kepalamu, Violet. Tapi satu hal yang bisa aku pastikan—aku yakin sampai detik ini, kau masih mencintaiku.”

Mendengar kalimat itu, rasanya aku hampir saja tertawa terbahak-bahak di hadapannya. Namun aku memilih menahan diri dan tetap diam tanpa memberikan reaksi apa pun.

Arga justru melanjutkan ucapannya dengan nada yang semakin percaya diri. “Aku juga yakin, semua sikapmu yang berubah dan terlihat menjauh ini hanyalah bentuk kemarahan semata.”

“Marah?” tanyaku singkat, hanya untuk memancingnya berbicara lebih banyak.

“Ya, marah karena selama ini aku lebih banyak meluangkan waktu dan perhatian untuk Eliana dibandingkan dirimu,” jawabnya dengan sangat yakin, seolah ia baru saja menemukan jawaban yang paling tepat atas segala perubahanku.

Aku hanya menatapnya dengan tatapan kosong dan tanpa ekspresi apa pun. Sementara itu, Arga tampak semakin merasa dirinya benar karena mengira ia telah berhasil menebak isi hatiku.

“Sudah cukup lama aku mengenalmu, Violet,” lanjutnya dengan nada yang terdengar penuh kepastian. “Aku tahu sifatmu seperti apa. Kau tidak akan pernah bisa benar-benar melepaskanku, apalagi melupakan perasaan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun.”

Kalimat itu membuatku ingin tertawa sinis hingga terbahak. Bukan karena ucapan itu lucu, melainkan karena terasa sangat ironis dan menyedihkan. Kalau saja Arga tahu bahwa di kehidupan yang lalu, aku sudah mati karena pengkhianatan dan ulah tangannya sendiri. Kalau saja ia tahu bahwa aku sudah melihat wajah aslinya yang kejam, serakah, dan tidak punya hati nurani. Mungkin ia tidak akan berbicara sepercaya diri dan seangkuh ini sekarang.

“Sejak dulu sampai sekarang, sifatmu tidak pernah berubah,” ucapnya lagi sambil mengembuskan napas pelan seolah merasa memahami betul keadaanku. “Kau selalu seperti itu—mudah cemburu, mudah tersinggung, dan berusaha menarik perhatian dengan cara yang kadang terasa kekanak-kanakan.”

Aku tetap memilih diam. Tidak menjawab, tidak membantah, dan tidak memberi tanggapan sedikit pun. Karena aku sudah sadar sepenuhnya bahwa semakin aku berusaha menjelaskan atau membantah, semakin ia akan merasa dirinya paling benar. Pria seperti Arga tidak sedang mencari jawaban atau kebenaran; ia hanya sedang mencari pembenaran atas tindakannya sendiri.

“Baiklah, aku akan menunggu keputusanmu sampai nanti,” katanya sambil merapikan kerah jasnya yang rapi. Seketika sikapnya kembali seperti biasanya—dingin, percaya diri, dan merasa berada di atas angin. “Ingat, kau bukan lagi anak-anak yang bisa bertindak sesuka hati. Bersikaplah lebih dewasa, Violet.”

Aku mengangkat satu alis, lalu menjawab dengan nada datar, “Seperti Eliana, maksudmu?”

Kalimat itu membuatnya terdiam sesaat, namun aku justru merasa ingin tertawa sinis. Eliana? Perempuan yang diam-diam tidur dengan tunangan kakak tirinya sendiri? Perempuan yang selalu tersenyum manis di depan orang lain namun diam-diam mengincar seluruh harta dan warisan keluarga yang seharusnya menjadi hakku? Perempuan yang di kehidupan sebelumnya ikut berperan serta mendorongku menuju kematian yang menyakitkan? Itukah definisi kedewasaan menurut standar mereka? Sungguh menggelikan sekaligus memuakkan.

“Sifatmu yang keras kepala dan berani melawan seperti ini justru sangat tidak mencerminkan usiamu yang sudah matang,” lanjut Arga tanpa menyentuh pertanyaanku. “Padahal usiamu jauh lebih tua dan seharusnya lebih bijaksana dibandingkan Eliana.”

Aku masih tetap diam. Tidak membantah, tidak menjelaskan, dan tidak melakukan apa pun. Karena aku sudah memahami satu hal penting: berdebat dan membantah orang yang tertutup pikirannya hanya akan membuang waktu dan tenaga yang sia-sia.

Melihat aku tidak memberikan reaksi apa pun, Arga akhirnya kehilangan minat untuk melanjutkan pembicaraan ini. Ia hanya mendengus pelan, lalu berbalik dan berjalan menjauh meninggalkanku berdiri sendiri di tempat itu. Ia pergi tanpa menunggu jawaban yang pasti, tanpa berpamitan dengan sopan, seolah ia sudah mengetahui bagaimana akhir dari semua ini—seolah aku masih perempuan lemah yang sama seperti dulu, yang akan selalu berlari mengejarnya kapan pun ia menginginkannya.

Aku hanya berdiri diam dan memperhatikan punggungnya yang semakin menjauh hingga akhirnya menghilang di balik pintu lift. Di dalam hatiku, tidak ada rasa marah yang meluap, tidak ada rasa sedih yang mendalam, dan tidak ada rasa kecewa yang menyakitkan. Semua perasaan itu sudah mati bersamaan dengan diriku di kehidupan yang lalu. Yang tersisa sekarang hanyalah rasa jijik yang mendalam dan tekad yang bulat untuk membalas setiap tetes luka dan pengkhianatan yang pernah mereka berikan padaku.

Begitu sosok Arga benar-benar hilang dari pandangan, aku baru mengembuskan napas panjang yang terasa membebaskan. Lalu aku menoleh dan menatap ke arah gedung tinggi perusahaan keluarga yang menjulang megah di hadapanku. Namun pikiranku justru tidak lagi tertuju pada Arga atau ucapannya yang menyebalkan itu. Pikiranku langsung beralih kepada sosok yang jauh lebih berbahaya, lebih sulit ditebak, dan jauh lebih sulit untuk dihadapi—yaitu Kakek Satria.

Aku menggigit bibir bawahku pelan, mencoba menenangkan detak jantung yang mulai berpacu sedikit lebih cepat. Apa yang harus kukatakan saat bertemu dengannya nanti? Apakah aku harus menjelaskan alasan penolakanku terhadap perjodohan itu? Apakah aku harus berusaha berbohong agar ia percaya? Tentu saja aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Bagaimana mungkin aku menjelaskan bahwa aku pernah mati, bahwa cucunya sendiri yang membunuhku, dan bahwa aku kembali terlahir ke masa lalu untuk memperbaiki nasib dan membalas dendam? Tidak ada seorang pun yang akan mempercayai cerita yang mustahil seperti itu. Bahkan jika aku mengatakannya dengan jujur, mereka hanya akan menganggapku gila atau sedang mengigau.

Aku memejamkan mata sejenak, berusaha menyusun kata-kata dan strategi yang tepat untuk menghadapi pertemuan itu. Namun semakin aku memikirkannya, semakin aku merasa bahwa pertemuan besok tidak akan berjalan dengan mudah dan lancar. Karena jika ada satu orang di dunia ini yang mampu melihat kebohongan hanya dari sorot mata dan gerak-gerik seseorang, maka orang itu tidak lain adalah Kakek Satria.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku kembali terlahir ke masa lalu ini, aku benar-benar merasa gugup menghadapi sesuatu yang belum terjadi. Rasa takut dan cemas itu muncul bukan karena aku lemah, melainkan karena aku menyimpan sebuah rahasia terbesar yang jika terungkap bisa menghancurkan segalanya. Bagaimana jika Kakek Satria mengetahui bahwa aku sudah menikah secara diam-diam dengan putra kesayangannya, putra kandungnya sendiri, Sherkan? Aku yakin sekali, jika hal itu terbongkar, ia tidak akan ragu untuk menghukumku dengan cara apa pun yang ia anggap pantas, bahkan mungkin ia akan benar-benar membenciku seumur hidup.

Aku memejamkan mataku lebih lama lagi, menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan kembali kekuatan dan ketenangan yang mulai goyah. Apapun yang akan terjadi besok, aku harus tetap tegar. Aku sudah melewati kematian sekali, dan tidak ada lagi yang bisa membuatku takut selain kegagalan dalam mencapai tujuanku.

 

Makkk aku kasih visual Violet dan Sherkan ya makk, trus ada Arga dan Eliana juga.

...Ini Violet ya makkk...

...Ini Sherkan...

...Arga...

Eliana

1
Siti Aisah
mak kamu kemna saja tidak muncul" semoga emak sehat selalu🤭
Siti Aisah
emak ku tunggu " blum ada tanda"kah..
Amidah Anhar
maaak evaa ayooo donk jangan kabuuur🥺🥺🥺🥺🤭🤭🤭
Yuyun Yunita
lebih baik dibicarakan dgn sherkan drpd nnti ny jd bumerang untuk dirimu sendiri
Yuyun Yunita
iya ny si violet ini🤣🤣gak kasihan sama sherkan🤣🤣
Yuyun Yunita
fix ini sdh dari awal sherkan cinta sama violet
Yuyun Yunita
aduh sherkan knp bicara bgt...
suatu hari nnti kamu akan punyak anak bagaimana kl anak gadis mu dinikahi pria tanpa seizinmu🤣
Yuyun Yunita
oke mak
Siti Aisah
masih penasaran.. 🤔
Miss Typo
gregetan bgt deh knpa gak ngomong sm Sherkan sih Violet, semoga aja Sherkan tau. awas aja Arga kalau ngomong yg gak²
Ayudya
violet kamu harus bilang ma sherkan kalau kamu di undang ma kakek satria
wiliss
Lanjut kan kak🙏
Maria Kibtiyah
kenapa violet gak cerita ke serkhan.. mak embun untuk bara masih ku pavorite loh siapa tau mau di lanjut🤭
Siti Aisah
sherkan sudah pakai hati dgn alasan butuh perlindungan😜
wiliss
Lanjut kk🙏
Miss Typo
aku hanya pembaca, disini Violet yg berhadapan dgn Sherkan, tapi knpa jantungku ikut jedag jedug 🤣
vj'z tri
selanjutnya kita akan sering bertemu papa 🤣🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
wo ai ni mas bos 🎉🎉🎉🎉🎉
vj'z tri
hoba hoba akhirnya di kenalin juga sama pamer ya suami akoh 🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ suami akoh pasti seneng liat ekspresi muka violet saat ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!