NovelToon NovelToon
BOSS GALAK ITU CALON SUAMIKU

BOSS GALAK ITU CALON SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Eunoia Fashion

Selama tiga tahun bekerja di perusahaan advertising ternama milik keluarga Mahardika Group, hidup Naura Azzahra nyaris seperti neraka. Semua gara-gara atasannya: Arkan Mahendra, direktur muda yang tampan, perfeksionis, dingin, dan hobi menghancurkan harga diri karyawan dengan satu tatapan.
Naura sudah berkali-kali berniat resign. Namun gaji besar dan cicilan rumah membuatnya bertahan.
Sampai malam presentasi besar itu datang.
Di depan seluruh direksi, Arkan tanpa ampun mengkritik konsep Naura habis-habisan. Bukan cuma mempermalukannya, pria itu juga menyebut Naura “tidak cukup kompeten untuk berada di perusahaan ini.”
Malu bercampur marah membuat Naura meledak.
Untuk pertama kalinya, ia membalas semua omongan Arkan—bahkan menyebut pria itu manusia paling menyebalkan yang mungkin akan mati sendirian karena tak punya hati.
Lalu ia resign malam itu juga.
Naura merasa hidupnya akhirnya tenang… sampai ibunya memaksanya datang ke acara makan malam keluarga seminggu kemudian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eunoia Fashion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Sofa ergonomis berlapis busa memori medis yang dijanjikan Arkan benar-benar mendarat di ruang kerja Divisi Pemasaran tepat jam empat sore. Ukurannya sangat luar biasa besar, berwarna abu-abu mewah, dan dilengkapi dengan fitur pijat otomatis serta penghangat punggung. Kehadiran benda raksasa itu sukses membuat seluruh stafku berhenti mengetik dan menatapku dengan pandangan penuh selidik yang amat sangat tidak nyaman.

"Bu Naura," bisik Rini, matanya berbinar-binar iri saat ia mengelus permukaan sofa tersebut. "Ini beneran fasilitas dinas dari Pak CEO? Kok kesannya... fungsional banget ya? Maksud saya, apakah ini bagian dari strategi peningkatan produktivitas kerja atau... peningkatan kenyamanan pasca-kegiatan lembur?"

Wajahku seketika terasa terbakar. Sialan kau, Arkan Mahendra! Gengsiku yang sudah kupertahankan setengah mati di depan anak buah langsung runtuh akibat kepeduliannya yang terlalu spesifik ini.

"Ini... ini murni karena Pak CEO sangat peduli pada kesehatan tulang belakang seluruh kepala divisi!" jawabku dengan suara agak meninggi, berusaha keras terdengar profesional meski dadaku berdebar tak karuan. "Jangan banyak bertanya. Kembali ke meja kalian dan selesaikan laporan bulanan!"

Tepat saat para staf bubar sambil berbisik-bisik usil, pintu ruanganku diketuk. Hadi melangkah masuk dengan gaya kaku andalannya, membawa sebuah kantong kertas dari toko obat terkenal.

"Selamat sore, Bu Naura," sapa Hadi, membungkuk formal. "Pak Arkan menitipkan ini untuk Ibu. Beliau berpesan bahwa jika koyo herbal berteknologi nano ini tidak mampu meredakan rasa pegal di pinggang Ibu akibat... kejadian tidak terduga semalam, beliau sendiri yang akan turun tangan untuk mengoleskan balsem otot cair pada jam istirahat nanti."

Aku langsung menyambar kantong kertas itu sebelum Hadi menyelesaikan kalimat terkutuknya. "Katakan pada bosmu, Hadi, pinggangku sangat sehat! Dan kalau dia berani membahas soal balsem otot lagi di depan umum, aku akan memastikan seluruh kopi espresonya di kantor ini diganti dengan air rebusan pare selama satu bulan penuh!"

Hadi menelan ludah, buru-buru mencatat ancamanku di *tablet*-nya. "Pesan diterima dengan sangat baik, Ibu Pimpinan. Saya akan segera menyampaikannya demi keselamatan pencernaan Pak CEO."

Setelah Hadi keluar, aku mengempaskan tubuhku ke sofa baru tersebut. Sialnya, sofa ini memang luar biasa nyaman. Sembari menikmati pijatan otomatis di punggungku, pikiranku kembali melayang pada Valerie. Instingku mengatakan bahwa kedatangan wanita itu dengan air mata buayanya tadi pagi bukanlah sebuah kebetulan biasa. Ada sesuatu yang sedang bergerak di bawah permukaan, dan aku harus tetap waspada.

****

Sementara itu, di sebuah restoran Jepang tersembunyi yang terletak beberapa blok dari gedung Mahardika Group, atmosfer yang sangat berbeda sedang tercipta. Di dalam sebuah ruangan privat bernuansa kayu, Dimas Mahendra sedang menuangkan teh hijau ke dalam cangkir milik Valerie.

Dimas mengenakan setelan jas terbaiknya, mencoba mempertahankan wibawa seorang pangeran Mahardika yang terbuang. Di depannya, Valerie sudah menghapus air mata dramatisnya tadi pagi. Wajahnya kini terlihat segar, angkuh, dan penuh kalkulasi.

"Akting yang sangat memukau tadi pagi, Valerie," puji Dimas dengan senyum miringnya yang sok tahu. "Aku hampir saja percaya kalau kamu benar-benar jatuh miskin dan rela menjadi tukang fotokopi di bawah kaki Naura."

Valerie mendengus anggun, menyesap teh hijaunya dengan gerakan elegan yang sangat kontradiktif dengan status 'miskin' yang ia klaim beberapa jam lalu. "Jangan meremehkan kemampuanku, Dimas. Menundukkan kepala selama beberapa menit demi bisa menyusup ke dalam benteng musuh adalah investasi kecil. Naura itu tipe wanita yang merasa sok pahlawan jika melihat saingannya jatuh. Aku memanfaatkan kesombongannya."

Dimas tertawa rendah, menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. "Kita sudah saling mengenal sejak kamu masih berpacaran dengan Arkan dulu. Aku tahu persis seberapa besar ambisimu. Itulah sebabnya aku menunggumu di lobi. Aku tahu kita memiliki tujuan yang sejalan."

Valerie menatap Dimas dengan tatapan menyelidik. "Jadi, apa rencana besarmu, Dimas? Aku tidak mau mengambil risiko bekerja di gudang berdebu tanpa hasil yang sepadan."

Dimas condong ke depan, suaranya mengecil namun penuh penekanan. "Arkan sangat protektif pada Naura, dan divisi pemasaran saat ini adalah jantung dari proyek digital baru kita. Aku butuh kamu menggunakan posisimu sebagai asisten logistik untuk menyabotase pengiriman barang sampel atau memanipulasi data inventaris. Begitu terjadi kekacauan besar, aku akan menggerakkan Dewan Komisaris untuk melengserkan Arkan dari posisi CEO atas tuduhan ketidakmampuan mengendalikan risiko internal."

Valerie mendengarkan dengan saksama, namun di dalam kepalanya, sebuah alur pemikiran yang jauh lebih licik sedang berputar lambat.

*Dimas benar-benar bodoh,* batin Valerie dengan senyum meremehkan yang disembunyikan di balik cangkir tehnya. *Jika aku membiarkan Dimas merebut posisi CEO dari Arkan, Mahardika Group pasti akan bangkrut dalam waktu tiga bulan di bawah kepemimpinannya yang tidak kompeten itu. Lagipula, apa gunanya aku menghancurkan Arkan? Pria yang kuinginkan adalah Arkan Mahendra yang kaya raya, berkuasa, dan menjabat sebagai CEO tertinggi! Aku hanya ingin menyingkirkan Naura dari sisinya dan mengambil alih posisinya sebagai Nyonya CEO.*

Meskipun memiliki niat terselubung, Valerie tahu ia membutuhkan koneksi dan sumber daya milik Dimas untuk mengacaukan rumah tangga Arkan. Jadi, ia memutuskan untuk bermain peran sebagai sekutu yang patuh.

"Aku setuju dengan rencanamu untuk mengacaukan sistem pemasaran," ucap Valerie dengan nada manis yang dibuat-buat. "Tapi aku punya satu syarat mutlak, Dimas."

"Apa itu?"

"Kamu harus membantuku menghancurkan hubungan Arkan dan Naura. Aku ingin mereka bercerai. Buat jebakan atau skandal yang membuat Naura berpikir Arkan berselingkuh darinya, atau sebaliknya. Aku ingin pernikahan mereka hancur berkeping-keping terlebih dahulu."

Dimas tersenyum lebar, menganggap syarat itu sebagai keuntungan baginya. "Menghancurkan pernikahan mereka? Itu adalah bonus terbesar, Valerie. Arkan yang sedang patah hati dan kehilangan fokus adalah sasaran empuk yang sangat mudah digulingkan. Anggap saja kesepakatan kita sah."

Kedua rubah berwajah polos itu saling melempar senyum penuh kemenangan, tanpa menyadari bahwa mereka berdua sebenarnya sedang mencoba saling memanfaatkan di dalam sebuah komedi konspirasi yang sangat rapuh.

***

Malam harinya di apartemen, ketegangan korporat itu mencair menjadi sebuah komedi romantis yang jauh lebih intim. Aku sedang duduk di meja makan, mencoba fokus memeriksa dokumen anggaran pemasaran yang dikirim oleh Hadi, ketika Arkan tiba-tiba muncul dari ruang kerjanya.

Ia sudah menanggalkan kemeja kerjanya, kini hanya mengenakan kaus oblong putih polos yang pas di tubuhnya dan celana kain santai. Rambutnya yang sedikit basah setelah mandi membuat penampilannya terlihat sepuluh tahun lebih muda dan seratus kali lebih berbahaya untuk pertahanan gengsiku.

Tanpa mengeluarkan suara, Arkan berjalan ke belakang kursiku. Tangan besarnya tiba-tiba mendarat di bahuku, memijat otot leherku yang tegang dengan tekanan yang sangat pas dan nyaman.

"Bagaimana sofa barunya, Naura?" tanya Arkan dengan suara bariton rendahnya yang bergetar di dekat telingaku. "Apakah busa memori medisnya berhasil memberikan kenyamanan optimal?"

Aku menahan napas sejenak, mencoba menepis sensasi menggelitik yang menjalar ke seluruh tubuhku. "Sofanya terlalu besar, Arkan. Seluruh stafku mengira aku sedang membuka praktik terapi pijat di dalam kantor."

Arkan terkekeh pelan, kecupan singkat mendarat di puncak kepalaku. "Biarkan saja mereka berpikir begitu. Yang penting istriku tidak mengeluh pegal lagi seperti tadi pagi."

"Arkan! Berhenti membahas kejadian tadi pagi!" aku berbalik, menatapnya dengan mata melotot dan wajah yang pasti sudah memerah.

Arkan tidak mundur. Ia justru menarik kursi di sebelahku, duduk dengan postur santai, lalu mengambil alih salah satu dokumen dari tanganku.

"Kamu tahu kan kalau Valerie tadi pagi itu hanya berakting?" tanyaku serius, mencoba mengalihkan pembicaraan kembali ke jalur yang aman bagi kesehatan jantungku.

"Tentu saja aku tahu," jawab Arkan dingin, matanya berkilat tajam saat menyebut nama mantan kekasihnya itu. "Air mata Valerie memiliki kadar keaslian yang sama dengan laporan keuangan palsu milik Dimas kemarin. Sangat rendah. Itulah sebabnya aku sudah memerintahkan Hadi untuk memasang perangkat pelacak GPS tersembunyi pada ID *card* karyawan milik Valerie yang baru."

Aku terbelalak. "Kamu memasang GPS di kartu namanya?"

"Bukan hanya GPS," Arkan tersenyum miring, sebuah seringaian tsundere yang sangat menawan. "Kartu itu juga dilengkapi dengan sensor frekuensi audio jarak dekat. Setiap kali dia berada dalam radius lima meter dari Dimas atau mencoba mendekati ruang data divisimu, ponselku akan menerima notifikasi darurat. Aku tidak akan membiarkan sepotong sampah pun mengotori area kerja istriku."

Aku menatap suamiku dengan kombinasi antara rasa kagum dan ngeri. Pria ini jika sudah dalam mode posesif berlapis gengsi, tindakan pengawasannya bisa mengalahkan badan intelijen negara.

"Jadi," aku mencondongkan tubuhku ke depan, menatapnya dengan senyum menggoda. "Semua pengawasan ketat ini murni karena kamu ingin melindungi aset perusahaan, Pak CEO?"

Arkan terdiam sejenak. Rahangnya mengeras, berusaha keras mempertahankan benteng arogansinya yang mulai retak di bawah tatapan mataku. Ia memalingkan wajahnya sedikit, berdehem kaku.

"Tentu saja," jawab Arkan dengan nada ketus yang sangat dibuat-buat. "Kerugian di divisimu akan mempengaruhi laporan laba rugi konsolidasi Mahardika Group. Sebagai pimpinan tertinggi, aku harus melakukan mitigasi risiko secara total. Ini masalah bisnis, Naura."

"Oh, masalah bisnis ya?" aku tertawa kecil, bangkit dari kursiku dan berjalan mendekatinya. Aku membungkuk sedikit, menatap wajahnya yang kini mulai merona halus karena gengsi yang tersudut. "Lalu bagaimana dengan ciuman-ciuman di luar kontrak kerja kemarin? Apakah itu juga termasuk dalam strategi mitigasi risiko bisnis?"

Arkan menelan ludah. Mata gelapnya menatapku dengan intensitas yang mendadak meningkat drastis. Dalam satu gerakan refleks yang sangat cepat, lengan kekarnya melingkar di pinggangku, menarikku hingga aku terduduk dengan nyaman di atas pangkuannya.

"Itu," bisik Arkan, suaranya memberat saat tangannya merapikan anak rambut yang menghalangi wajahku, "adalah bentuk akuisisi saham pengendali, Naura. Dan malam ini, aku berniat untuk menambah porsi kepemilikanku tanpa batas waktu."

Sebelum aku sempat mengeluarkan argumen gengsiku yang biasa, Arkan sudah menundukkan kepalanya, membungkam bibirku dengan ciuman yang mendalam, manis, dan sarat akan perasaan posesif yang luar biasa besar. Tanganku dengan otomatis mengalung di lehernya, membalas ciumannya dengan kehangatan yang sama, melupakan sejenak tentang dokumen anggaran dan konspirasi dua rubah di luar sana.

1
Kristina Sambas
alur cerita lucu, menarik, tapi aneh kenapa yg baca nya dikit yaa
pokonya terus semangat author
Eunoia Fashion: Terimakasih ya 🥰🙏
total 1 replies
Maya Sari
Semangat💪
Eunoia Fashion: Terimakasih 🥰
total 1 replies
Read_Forever👄
bagus kak novelnya, semangat sampai tamat
Eunoia Fashion: terimakasih 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!