NovelToon NovelToon
Royal Bride

Royal Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Setara untuk segala bibit, bebet, bobot dan kedudukan adalah aturan tak tertulis namun paten dalam pernikahan para bangsawan.

Kerajaan memiliki aturan ketat soal pernikahan, selain harus setara maka hubungan pernikahan harusnya memiliki keuntungan untuk kerajaan. Seperti memperkuat wilayah kerajaan atau membangun relasi yang lebih luas.

Tapi apa jadinya, jika pangeran mahkota memilih calon istrinya sendiri demi memperkuat kekuatan kedudukannya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

A Wedding Beneath Glass

Setelah fitting pakaian dan diskusi panjang mengenai jamuan pernikahan selesai, para pelayan mulai merapikan contoh kain, katalog dekorasi, serta dokumen-dokumen kerajaan yang sejak siang tadi memenuhi ruang tamu kecil mansion.

Madam Elish masih membahas beberapa catatan terakhir mengenai venue ketika Lilly tiba-tiba mengangkat pandangannya.

“Kalau begitu…”

Ia berhenti sesaat sebelum melanjutkan pelan,

“Bolehkah saya melihat tempatnya langsung?”

Madam Elish tampak sedikit terkejut.

“Venue pernikahannya, Lady?”

Lilly mengangguk kecil.

“Saya hanya penasaran bagaimana suasananya.”

Tatapannya bergerak sekilas pada Noah yang sejak tadi lebih banyak diam sambil membaca beberapa dokumen.

“Karena akan sulit membayangkannya hanya dari gambar.”

Keheningan kecil muncul sesaat.

“Aku hanya ingin melihatnya langsung.”

Noah akhirnya menutup dokumen di tangannya perlahan. Tatapannya beralih pada Lilly yang kini memandang Madam Elish dengan ekspresi seperti anak kecil yang sedang meminta sesuatu.

“Kita bisa pergi sore ini.”

Jawaban singkat itu justru membuat mata Lilly sedikit melebar.

“Benarkah?”

Noah mengangguk tenang.

Sore itu, mobil pribadi Putra Mahkota meninggalkan mansion menuju area utara ibu kota.

Langit musim gugur perlahan berubah keemasan di atas jalanan kota yang mulai dipenuhi cahaya senja.

Lilly duduk di dekat jendela sambil memperhatikan suasana luar dengan rasa penasaran kecil.

Tatapannya bergerak mengikuti toko-toko kecil di pinggir jalan.

Para penjual bunga.

Toko pastry.

Serta beberapa restoran yang mulai ramai menjelang malam.

Sesekali matanya bahkan berhenti cukup lama pada kios makanan kecil yang mengeluarkan aroma hangat ke jalanan.

Noah memperhatikannya sekilas dari seberang kursi.

“Kalau kau terus melihat seperti itu…”

Lilly langsung menoleh cepat.

“…orang akan mengira Putri Mahkota masa depan tidak pernah diberi makan.”

Lilly menahan ekspresinya selama beberapa detik sebelum akhirnya berdeham kecil dan buru-buru menutup tirai jendela mobil.

“Saya hanya melihat.”

Morgan yang duduk di depan sampai harus memalingkan wajah demi menyembunyikan reaksinya.

Mobil hitam itu perlahan meninggalkan pusat kota utama.

Bangunan-bangunan tinggi mulai berkurang, digantikan jalan luas dengan deretan pepohonan musim gugur di sisinya.

Dan beberapa menit kemudian—

mata Lilly sedikit melebar saat melihat bangunan besar di depan mereka.

Beberapa staf venue segera membungkuk menyambut kedatangan rombongan kerajaan.

Tempat itu tampak seperti penginapan mewah bergaya klasik tanpa bangunan tinggi yang menjulang. Deretan kamar paviliun berdiri terpisah di antara taman-taman kecil yang tertata rapi.

Seorang manajer venue segera menghampiri dan mengantar mereka menuju area taman di sisi kanan.

Di sana, sebuah rumah kaca besar berdiri di tengah hamparan bunga musim gugur.

Dinding kacanya memantulkan cahaya senja dengan lembut, sementara jalur batu kecil membelah taman menuju bangunan utama.

Tidak ada ballroom megah.

Tidak ada kesan istana yang terasa menekan.

Tempat itu justru tampak hangat.

Elegan.

Dan menurut Lilly—

sangat mirip dengan bayangan pernikahan yang diam-diam selama ini ia simpan di kepalanya.

“…Cantik sekali.”

Suaranya terdengar nyaris seperti gumaman kecil.

Aroma bunga dan rumput basah bercampur samar bersama angin sore yang dingin.

Sementara Madam Elish mulai menjelaskan berbagai detail venue dengan profesional.

“Rumah kaca utama biasanya digunakan untuk jamuan malam.”

Perhatiannya bergerak pada bangunan kaca besar di depan mereka.

“Sedangkan area taman luar lebih sering dipakai untuk resepsi musim semi.”

Namun Lilly nyaris tidak benar-benar mendengarnya.

Perhatiannya sudah lebih dulu sibuk menyusuri taman.

Dahlia musim gugur.

Mawar krem.

Hydrangea berwarna lembut.

Dan cahaya senja yang jatuh di antara kaca-kaca tinggi rumah kaca membuat seluruh tempat itu tampak hampir seperti lukisan.

Langkah Lilly bergerak perlahan memasuki rumah kaca utama.

Dan suasana di dalamnya terasa bahkan lebih indah.

Lampu gantung kecil berwarna emas menggantung di antara rangka besi hitam.

Tanaman rambat menjalar lembut di beberapa sisi.

Sementara meja-meja panjang telah disusun sebagai contoh tata letak jamuan pernikahan.

Lilly berhenti di tengah ruangan selama beberapa detik.

Membayangkan tempat itu dipenuhi cahaya malam.

Musik lembut.

Dan orang-orang yang datang untuk merayakan pernikahan mereka.

Madam Elish membuka beberapa dokumen di tangannya.

“Untuk dekorasi bunga, pihak venue merekomendasikan warna putih klasik dan silver kerajaan.”

Lilly menoleh pelan.

Tatapannya kembali bergerak mengelilingi rumah kaca itu sebelum akhirnya menggeleng kecil.

“Kurasa warna hangat akan lebih cocok.”

Madam Elish tampak sedikit terkejut.

“Warna hangat, Lady?”

Lilly mengangguk pelan.

“Karena tempat ini sudah cukup indah dengan cahaya musim gugurnya sendiri.”

Tatapannya jatuh pada taman bunga di luar kaca besar.

“Kalau terlalu banyak putih… tempat ini justru akan terasa dingin.”

Keheningan kecil jatuh sesaat.

Lalu Madam Elish mulai mencatat cepat.

“Champagne, peach, ivory…”

“Dan sedikit merah tua.”

Lilly menambahkan pelan.

“Mungkin mawar musim gugur.”

Madam Elish kembali menulis.

Sementara beberapa staf venue mulai saling berbicara pelan, membayangkan perubahan dekorasi tersebut.

Noah sendiri sejak tadi hanya berdiri tidak jauh dari Lilly sambil memperhatikan semuanya dalam diam.

Tatapannya sesekali jatuh pada Lilly yang tampak jauh lebih hidup dibanding biasanya.

Dan untuk pertama kalinya—

ia melihat bagaimana gadis itu benar-benar memiliki antusiasme terhadap pernikahan mereka.

Tak lama kemudian mereka berpindah menuju area contoh tata letak jamuan.

Beberapa meja panjang telah dihias dengan berbagai pilihan susunan bunga dan perlengkapan makan formal kerajaan.

Lilly memperhatikan semuanya satu per satu dengan serius.

“Kalau meja terlalu penuh bunga…”

Jemarinya bergerak kecil menunjuk bagian tengah meja.

“…para tamu akan sulit berbicara satu sama lain.”

Madam Elish langsung mencatat lagi.

“Jadi susunan rendah lebih baik?”

Lilly mengangguk.

“Dan cahaya lilin akan terasa lebih hangat dibanding lampu kristal besar.”

Beberapa staf venue tampak cukup terkejut mendengar perhatian Lilly pada detail-detail kecil itu.

Mereka saling bertukar pandangan samar.

Namun Noah sendiri terlihat sama sekali tidak heran.

Karena perlahan ia mulai memahami satu hal—

Lilly membayangkan pernikahan mereka bukan sebagai acara kerajaan.

Melainkan sebagai tempat di mana orang-orang yang datang bisa merasa nyaman.

Tak lama kemudian pembicaraan bergeser pada area jamuan makanan.

Beberapa contoh menu telah disusun rapi di atas meja panjang.

Madam Elish mulai menjelaskan rekomendasi resmi kerajaan satu per satu.

Namun Lilly justru melangkah mendekat dengan penuh perhatian.

“Kalau makanan berat semuanya disajikan bersamaan…”

Tatapannya bergerak pada susunan menu di atas meja.

“…para tamu akan cepat merasa lelah.”

Madam Elish kembali menoleh dengan alis sedikit terangkat.

Dan Lilly melanjutkan pelan,

“Mungkin appetizer bisa dibuat lebih ringan.”

Tangannya menunjuk salah satu contoh hidangan kecil.

“Seafood hangat atau sesuatu yang segar.”

Ia berpikir sejenak sebelum menambahkan,

“Scallop butter herb mungkin cocok.”

Madam Elish kembali mencatat cepat.

Lalu Lilly berpindah pada bagian sup.

“Untuk musim gugur…”

Tatapannya turun sesaat, memikirkan sesuatu.

“…roasted pumpkin velouté akan terasa lebih lembut.”

Kini bahkan beberapa staf dapur venue mulai ikut mendengarkan dengan serius.

Sementara Noah tetap diam di belakangnya sambil memperhatikan Lilly yang berbicara jauh lebih banyak dibanding biasanya.

Dan untuk pertama kalinya—

persiapan pernikahan itu benar-benar terasa seperti pernikahan mereka sendiri.

Bukan sekadar acara kerajaan yang sedang diatur untuk mereka.

Lilly akhirnya berhenti bicara ketika menyadari semua orang tengah memandanginya.

Ia tampak sedikit malu.

Rona tipis muncul di wajahnya.

“Aku terlalu banyak memberi masukan?”

Madam Elish langsung menggeleng cepat.

“Tidak sama sekali, Lady.”

Senyum kecil akhirnya muncul di wajah wanita itu.

“Justru jauh lebih mudah memahami suasana seperti apa yang Anda inginkan.”

Lilly terdiam sesaat sebelum kembali melihat rumah kaca yang perlahan dipenuhi cahaya senja keemasan.

Dan tanpa sadar—

sudut bibirnya perlahan terangkat kecil.

Karena untuk pertama kalinya—

ia benar-benar mulai menantikan hari pernikahan itu.

1
dysa
AAA NOAH MANIS BANGET😍😍
Ana Dww: Noah adalah impian para gadis 👻
total 1 replies
dysa
😍
dysa
Semangat up teruss ya kaaaa❤️❤️❤️
Ana Dww: Terimakasih untuk dukungannya kak ❣️❣️❣️
total 1 replies
Ana Dww
🤭🤭🤭
dysa
asbun bangt noah😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!