Rencana pernikahan Amaia dengan putra kedua keluarga Tedjakusuma berakhir sangat jauh dari impian indahnya. Pembatalan pernikahan dan menghilangnya sang calon suami membuat Amaia merasa sangat kecewa. Sementara di sisi lain, Widitama si putra tertua mengajukan diri untuk menggantikan sang adik sebagai suami untuk Amaia.
Amaia yang selama ini hanya menganggap Widitama sebagai kakak, harus pura-pura menerima pernikahan untuk mencari tahu kebenaran tentang pembatalan pernikahannya. Satu rahasia besar yang Amaia lewatkan adalah Widitama sudah lama mencintainya. Bisakah Amaia mengungkap kebenaran dan menerima perasaan Widitama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yourladysan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perdebatan Lagi
"Mai, astaga lo masih di sini?" Cassie datang dari arah pintu perpustakaan. Begitu melihat Amaia, ia menarik napas dan menggeleng miris melihat keadaan sang sahabat.
Untung perpustakaan sedang tidak begitu ramai menjelang sore begini. Hanya ada segelintir mahasiswa yang sibuk mengerjakan kegiatan masing-masing. Mereka terlalu fokus pada layar laptop atau lembar demi lembar halaman buku di depannya. Sehingga tak terlalu memperhatikan Amaia yang duduk di pojok ruangan.
Amaia mengikat cepol longgar rambutnya. Sehingga beberapa helai anak rambut mencuat keluar dan dibelai angin sore. Sepasang mata Amaia dilindungi kacamata berbingkai tipis saat fokus pada layar laptop dan proposal skripsi yang sudah di-print.
"Udah sore, nih. Bentar lagi perpusnya tutup. Lo udah kayak di rumah sendiri tau nggak," komentar Cassie setengah berbisik. Takut menganggu pengunjung yang lain.
"Oh ya?" Amaia mengangkat wajah dan menyipit saat silau mentari sore sedikit menerpa wajahnya. "Astaga, aku nggak sadar udah jam segini. Terlalu asyik belajar. Bentar lagi kan aku seminar."
Cassie terkekeh. "Ya udah, yuk! Jangan dipaksain terus. Mau pulang bareng nggak? Kamu dijemput?"
"Nggak. Aku pulang bareng kamu aja. Nebeng sampai rumah mamaku. Nggak keberatan, kan?"
"Rumah Tante Atika?" Cassie terheran-heran sementara Amaia memasukkan proposal skripsi, buku, serta laptopnya ke tas tansel. "Tumben. Biasanya juga suami lo yang mantep itu pasti nyuruh sopir jemput ke kampus."
Ketika Cassie menyebut nama Widitama, Amaia menghela napas berat. Hari baru telah tiba, tetapi kejadian semalam masih membekas dalam benaknya. Bahkan rasa kesal itu datang lagi. Untung Widitama tidak cerewet memintanya segera pulang. Amaia senang ponselnya tentram tanpa ada notifikasi dari Widitama.
"Nggak usah bahas Mas Widi. Kita langsung pulang aja, yuk!" ajak Amaia setelah memakai ranselnya.
"Apa, nih? Bertengkar ala suami-istri?" Cassie terkekeh setelah menggandeng temannya keluar.
"Nggak, nggak, cuma lagi nggak pengen mendistraksi pikiranku dari hal lain, selain seminar," jawab Amaia.
"Yah, lagian kalau lo ada masalah sama Mas Widi juga, gue nggak akan maksa lo cerita. Masalah rumah tangga itu ya, itu urusan privasi."
Amaia senang mendengar jawaban Cassie yang sangat mengerti dirinya. Keduanya memilih berbincang tentang hal lain; seminar proposal, jalan-jalan, dan cerita tentang Cassie yang belakangan sibuk mengisi waktu luang dengan mencoba kerja paruh waktu. Padahal orang tuanya cukup berada, tapi Cassie tipikal anak yang suka mencari tantangan dan berusaha sendiri.
Hari ini Amaia cukup bersyukur karena Widitama tidak menugaskan sopir ke kampus untuk menjemputnya. Pria itu sepertinya paham bahwa Amaia sedang ingin menata pikiran.
Atau dia cuma nggak mau repot-repot meladeni aku yang mungkin di mata dia, terlalu berlebihan dan kekanak-kanakan.
Sepanjang perjalanan pulang, Amaia tak banyak bicara. Namun, sesuatu mengusik pikirannya tatkala motor Cassie kian mendekati area perumahan.
"Cas, aku boleh tanya sesuatu?" tanya Amaia.
"Apa, Mai? Kayaknya penting banget, deh."
"Itu, waktu kamu lihat Kak Rakha dengan perempuan lain di rumah sakit, apa kamu beneran langsung kepikiran mau ngasih tau aku?"
Cassie mengangguk seraya mengarahkan motor memasuki perumahan. "Iya. Sebenernya gue mau make sure kalau itu bukan lo. Tapi kalau dilihat lebih teliti lagi, dari postur tubuh, jelas-jelas itu bukan lo, Mai. Makanya aku langsung mau chat," jawab Cassie.
"Padahal kamu tau lebih dulu, tapi kamu tetap nggak ngasih tau karena aku akan pergi liburan."
"Ya, gimana, ya?" Motor Cassie berhenti di depan rumah Atika. Keduanya dikejutkan dengan mobil yang terparkir di halaman depan. Namun, Amaia lebih tertarik pada ucapan sahabatnya. "Saat itu lo lagi bahagia. Apalagi lo belakangan sering berantem sama Kak Rakha. Jadi, waktu lo excited liburan ke Jepang berdua dia, gue mengurungkan niat. Gue nggak mau ngerusak kebahagiaan lo dan gue rasa, kalau gue tetap ngasih tau ... maaf, tapi lo mungkin nggak bakal langsung percaya."
"Oh ya, kenapa kamu mikir aku nggak bakal langsung percaya?"
Cassie menggaruk lehernya sendiri, tampak sungkan untuk mengatakannya. Namun, Amaia tetap menunggu dan berharap Cassie memberikan jawaban.
"Em, karena saat itu lo kelihatan bahagia dan tulus banget sama dia. Gue tau lo sesayang dan secinta itu sama Kak Rakha, jadi satu hal kecil bakal sulit lo terima bahwa itulah fakta yang terjadi. Saat itu juga gue ngerasa, hal-hal baik tentang Kak Rakha udah bikin lo percaya ke dia sepenuhnya," tutur Cassie.
Jawaban yang seketika membuat Amaia tertegun. Semalam ia juga mendengar hal yang kurang lebih sama dengan penuturan ibunya. Amaia tahu dirinya boleh kecewa atas sesuatu yang penting, yang tidak segera dirinya ketahui. Namun, apakah boleh terlalu lama meladeni rasa kecewa itu? Sementara ada hal yang lebih penting menunggunya? Yaitu kebenaran tentang kematian Erwin yang masih menyimpan rahasia. Lalu balas dendamnya pada keluarga Tedjakusuma.
"Mai!" tegur Cassie seraya mengguncang kedua pundak sahabatnya yang sejak tadi sudah berdiri di depan motor. "Lo kepikiran apa? Lo marah karena gue nggak ngasih tau dari awal?"
Amaia menggeleng seraya memamerkan seulas senyum. "Makasih banyak, Cass. Sekarang aku tahu kalau orang yang kupikir sangat peduli, ternyata sebaliknya." Senyum kecewa terlihat jelas di bibir Amaia.
"It's okay, gue ngerti lo pasti kecewa karena kenapa lo nggak tau hal itu duluan? Bukannya sekarang yang penting adalah lo bisa bebas dari cowok brengsek kayak Rakha-Rakha itu? Lo deserve dapet yang lebih baik, tulus, setia, ganteng, mantep pokoknya kayak Widitama." Cassie tergelak pelak melihat Amaia cemberut setelah nama Widitama disebut. "Kenapa, sih? Lo kayak sebel mulu sama suami lo sendiri. Gue jadi nggak yakin kalian beneran menikah. Jangan-jangan kayak di film-film, cuma nikah paksa?"
"Kebanyakan nonton sinetron! Udah, udah, nanti aku cerita kapan-kapan. Sekarang ada banyak hal yang harus aku urus dan maaf, aku belum bisa cerita ke kamu," kata Amaia.
Cassie menggeleng. "Lo nggak perlu minta maaf, Mai. Cerita atau nggak, semua keputusan ada di tangan lo. Tapi satu hal yang harus lo tau, gue bakal bantu kalau lo butuh bantuan. Oke?"
Senyum lebar Amaia terlukis saat mengangguk untuk menjawab ucapan sahabatnya. Pembicaraan dengan Cassie berakhir begitu saja setelah gadis itu berpamitan pulang. Amaia masih berdiri di tempat sampai Cassie dan motornya menghilang dari pandang.
Ia melangkah memasuki halaman rumah. Ada mobil yang biasa dikendarai oleh Edgar, itu berarti Widitama pasti datang. Apa pria itu datang menjemputnya?
"Mas Edgar, ngapain di sini?" tanya Amaia setelah melihat Edgar duduk menyantap secangkir teh di teras belakang.
"Menunggu Pak Widi. Sedang bicara dengan Bu Atika di ruangan beliau." Edgar berdiri saat melihat nona mudanya. "Tadinya saya ingin menjemput kamu, tapi Pak Widi bilang tidak usah. Apa kamu akan ikut pulang malam ini?"
"Nggak. Aku masih mau menata pikiranku." Sejujurnya Amaia senang karena bisa tinggal dengan ibunya selama beberapa hari. "Aku masuk dulu."
"Semalam saya pikir kamu ikut Pak Widi pulang karena katanya ingin menjemputmu kemark. Soalnya Pak Widi gelisah sekali, tak tenang, dan katanya ingin menyeret kamu pulang," kata Edgar.
"Gelisah? Tak tenang?" Amaia ingin tertawa mendengarnya. Mana mungkin pria bermulut pedas itu bersikap demikian? "Jangan ngaco, Mas Edgar. Bukannya dia senang kalau aku nggak ada? Nggak ada istrinya yang bodoh ini? Atau jangan-jangan dia gelisah karena nggak ada yang bisa diejek dan dicap bodoh lagi karena aku nggak ada?"
Ucapan Amaia membuat Edgar kehilangan kata-kata.
"Lagian semalam Mas Widi nggak ke sini. Mas Edgar salah dengar kali," ucap Amaia, lalu bergegas meninggalkan Edgar.
...*****...
Pintu kamar diketuk saat Amaia hendak memakai sheet mask. Ia sengaja ingin tidur lebih cepat karena terlalu lelah menghabiskan waktu dengan belajar di perpustakaan. Selain itu, dia memang sengaja ingin menghindar Widitama.
Namun, begitu Amaia membuka pintu kamar, sang suami berdiri di sana sambil menenteng jas hitamnya. Kali ini dia tak mengenakan kacamata. Raut wajah tegas itu masih sama; menyebalkan di mata Amaia.
"Ada apa? Kalau cuma mau nyuruh aku pulang, nggak bisa. Aku masih butuh waktu," kata Amaia.
"Bagus kalau kamu sedang belajar menebak isi pikiran orang. Tapi kamu salah besar. Saya ke sini cuma ingin bicara dengan Bu Atika," jawab Widitama tak kalah menjengkelkan.
Terus kenapa muncul di depan aku, hah?!
Amaia mendengkus. "Ngomong apa sama mamaku? Ah, apa hal-hal yang nggak sepatutnya diketahui oleh orang bodoh sepertiku?"
"Ini menyangkut rencana kita. Kalau kamu tau, berhenti meladeni perasaan kekanak-kanakan kamu itu, Mai Kecil. Bukan saatnya larut dalam rasa kecewa."
"Oh! Jadi sekarang perasaanku nggak penting? Rasa marah dan kecewa atas sikap kalian, itu kekanak-kanakan? Kamu nggak punya hati banget, sih, ngomong kayak gitu! Kenapa kamu selalu menyepelekan orang lain, Mas Widi?" Emosi Amaia terpancing lagi untuk yang ke sekian kali.
Dia berjalan keluar dari kamar dan berdiri di pembatas tangga lantai dua. Sementara Widitama berdiri di belakangnya. Amaia tak tahu apa yang dipikirkan lelaki itu. Apa baginya sulit sekali mengerti perasaan dan emosi orang lain? Kenapa dia hanya peduli pada rencana itu?
"Suka-suka kamu mau berpikir seperti apa, tapi kalau kamu tetap ingin melanjutkan rencana, berhenti bersikap seperti ini," ucap Widitama.
"Seperti ini bagaimana?" Amaia berbalik. Dia melangkah lebih dekat dengan suaminya. Tampak tak begitu takut saat mendongak sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Dari matanya terpancar sorot kekesalan yang nyata. "Kekanak-kanakan? Bodoh? Begitu, ya?"
Amaia agak kaget melihat Widitama tak bisa menjawab. Namun, ia senang karena pria itu bisa juga terlihat kehabisan kata-kata.
"Dengar ya, Mas Widi, rencana bisa tetap dilanjutkan walaupun aku di sini dan nggak pulang ke tempat kamu. Sikapku bisa berubah, tergantung bagaimana kamu bersikap. Kamu pikir aku bisa seenaknya diatur-atur? Lagian kalau aku nggak ada di rumah, kamu kan senang nggak ada orang bodoh di sekitarmu," cetus Amaia.
"Kamu sepertinya lupa satu hal, Mai Kecil ...." Widitama memangkas jarak mereka. "Kamu nggak berhak memutuskan segala sesuatunya. Saya yang berhak ...."
"Kata siapa aku nggak berhak?" Amaia menantangnya. Lagi-lagi dia melihat Widitama terkejut meskipun cuma beberapa saat. "Karena ini juga menyangkut mendiang papa dan juga kamu melibatkan mamaku, aku berhak, Mas Widi. Aku patuh pada kamu dan ikut rencanamu bukan berarti aku nggak bisa menyuarakan pendapat atau keinginanku, kan?"
Widitama terlihat tenang seperti biasa. Bahkan seringainya masih terlihat tak berubah. Menyebalkan.
"Baiklah, sepertinya kamu semakin pintar saja, Mai Kecil." Jemari kanan Widitama terangkat mengelus pelan helai rambut Amaia. Dia mencondongkan tubuh dan berbisik, "Keberhasilan seorang guru juga dilihat dari murid yang bisa melampaui gurunya. Saya nggak sabar melihat kamu lebih pintar dari saya."
Sialan! Amaia tak menganggap itu sebuah pujian. Sembari terkekeh pelan, Widitama mundur dan berlalu meninggalkannya.
"Saya tunggu kamu di rumah, Istri saya Tercinta!" seru Widitama saat menuruni anak tangga tanpa menoleh sedikitpun ke belakang.
Ya, Tuhan! Dosa apa aku di masa lalu dapet suami kayak dia? Padahal dulu pas masih kecil, dia nggak senyebelin ini! Apa itu suami romantis? Nggak ada! Sama sekali nggak ada!
Eh? Tapi kenapa juga Amaia memikirkan kata 'romantis' saat membayangkan wajah Widitama?