NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Alyra

Suami Dadakan Untuk Alyra

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Hamil di luar nikah
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lylia Yuu

“Kau itu memang benalu! Mengganggu dan menempel seperti parasit. Gagal mendapatkan kakaknya, sekarang adiknya yang kau incar? Dasar wanita sampah!”

Hidup Alyra hancur hanya dalam satu malam. Semua bermula saat ia memergoki lelaki yang begitu dicintainya tengah bercumbu dengan wanita lain. Alyra memilih pergi, tetapi pria itu tak terima ditinggalkan. Dalam amarah dan ego yang membabi buta, ia merenggut paksa kehormatan Alyra sehingga gadis itu hamil.

Sejak saat itu, hidup Alyra berubah menjadi mimpi buruk. Alih-alih bertanggung jawab, mantan kekasihnya justru menikahi wanita simpanannya. Sementara Alyra, yang menanggung malu seorang diri, dipaksa menerima keputusan dua keluarga untuk menikah dengan adik dari pria yang telah menghancurkan hidupnya.

Bisakah Alyra bertahan dalam ikatan tanpa dasar cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lylia Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SDUA 28

Taksi yang mengantar Alyra akhirnya tiba di sebuah bangunan besar berlantai dua, dengan halaman yang cukup luas, dihiasi bermacam bunga-bunga yang berbaris rapi di sekitar taman.

Cahaya remang keemasan dari lampu pelataran menciptakan kesan hangat, selaras dengan plakat nama gedung yang terpampang megah di pintu gerbang menjulang — Rumah Rehabilitasi Jiwa Atmaja Group.

Alyra membuka pintu mobil, turun perlahan, gerimis masih bergemericik malam itu.

“Terima kasih, ya, Pak.” Alyra menunduk hormat dan dibalas dengan anggukan ramah dari sang sopir.

Setelah taksi itu pergi, kini Alyra beralih menatap nanar bangunan luas yang tampak tenang, tempat ia tumbuh dan dibesarkan penuh kasih sayang dari sang oma.

Ia mengusap pipi bersimbah air mata, lalu melangkah dengan mantap, bibir pucatnya bergetar, berusaha mengembalikan senyum palsunya.

“Assalamualaikum ….” Ia mengucap salam begitu memasuki pintu utama, dan langsung disambut oleh petugas resepsionis yang memang sudah cukup mengenal Alyra.

“Alyra—” Suster Okta langsung menutup mulut guna menahan suara yang nyaris keluar dengan keras. Sangking terkejutnya dengan kedatangan tamu tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Ia berlari kecil menghampiri Alyra. “Kenapa nggak ngabarin dulu kalau mau datang?” bisiknya, sengaja suara ditekan pelan, sebab para pasien sudah memasuki jam istirahat.

Benar saja, Alyra tiba di sana saat waktu menunjukan hampir pukul sepuluh malam.

“Maaf, Sus. Sengaja nggak ngabarin, mau bikin kejutan buat kalian,” sahutnya dengan nada bercanda.

Okta menatap penuh curiga, meski bibirnya mengulas senyum samar. Matanya memicing, menelisik penampilan sang tamu yang terlihat memprihatinkan.

Wajah sembab, rambut basah, bibir telah pucat membiru. Hanya mengenakan pakaian santai, celana baggy jeans panjang, kaos pendek yang dilapisi cardigan tipis.

Tanpa segan ia mengulurkan tangan, menyentuh dahi, memeriksa suhu tubuh.

Perempuan berusia lebih tua dari Alyra itu mengerutkan keningnya. “Kamu datang sendiri? Di mana suamimu?”

“Itu ….”

“Ayo, kita keringkan dulu rambut basahmu ini.” Suster Okta menarik lengan Alyra, membawanya menuju ruang rehat pengunjung — sebuah ruangan khusus yang disediakan bagi keluarga pasien yang datang menjenguk.

Langkah mereka bergema pelan di lorong berdinding putih gading. Aroma obat-obatan samar bercampur wangi kopi hangat dari pantry kecil di sudut ruangan mengudara, menyentuh perlahan indera penciuman.

Begitu pintu dibuka, hawa hangat langsung menyambut, sangat berbeda dengan dinginnya gerimis malam di luar.

Alyra duduk perlahan di sofa panjang berlapis kulit sintetis cokelat tua. Ujung rambutnya masih meneteskan air, membasahi sedikit bahu cardigan yang ia kenakan.

Suster Okta mengambil handuk bersih dari lemari kecil, lalu mengusap rambut wanita itu dengan gerakan lembut dan penuh perhatian.

“Istirahatlah dulu di kamar staf malam ini. Oma Puspa lagi keluar mengurus hal penting, mungkin akan kembali besok pagi,” gumamnya pelan, enggan bertanya lebih lanjut.

“Terima kasih, Suster.” Alyra tersenyum tipis, tetapi sorot matanya tetap kosong. Tatapannya lurus ke jendela kaca besar di samping ruangan, memperhatikan titik-titik air hujan yang terus berlomba jatuh di permukaan kaca.

‘Apa dia … sudah melihat berita itu?’ Benaknya mengembara entah ke mana.

.

.

Sementara di luar gedung, hampir satu jam lebih mobil mercy yang dikendarai Erlan berhenti tepat di depan gerbang.

Tak langsung masuk, juga enggan untuk berlalu.

“Kenapa di sini? Apa yang dia lakukan di rumah sakit jiwa ini?”

Erlan menggenggam erat stir kemudi, tatapan tak lepas dari plakat nama gedung yang terpampang dengan tegas. Tempat yang selalu berputar di kepala, namun tak bisa lagi dikunjunginya, sebab larangan keras dari seorang Dirham.

"Bila Papa tahu aku datang lagi ke tempat ini ... apa yang akan dia lakukan?"

Netranya tampak bergetar, seakan menyembunyikan gelisah yang tak bisa ditutupi. Ia kembali terdiam, seolah mempersiapkan diri untuk segera mengambil langkah.

Akhirnya ia menarik napas panjang. “Aku harus masuk, aku harus melihat langsung keadaan istriku.”

Ia kembali menginjak gas, menekan klakson, pintu besi menjulang itu terbuka secara otomatis.

Kaca mobil diturunkan sedikit, ia mengulurkan tangan memegang kartu identitas, menyodorkan pada petugas yang berjaga di dekat pintu gerbang.

Rumah rehabilitasi ini adalah yayasan dengan penjagaan ketat. Setiap pengunjung wajib memverifikasi identitas sebelum memasuki area dalam demi menjaga keamanan dan privasi para pasien.

Setelah semua data milik Erlan terverifikasi aman, petugas mengizinkannya untuk memarkir kendaraan pada tempat yang telah disediakan.

Sosok tampan masih berpakaian formal itu turun dari mobil, melangkah dengan tegas, mengesampingkan segala cemas, hanya satu nama yang menjadi prioritasnya saat ini — Alyra.

“Apa ada pengunjung yang baru datang atas nama Alyra?” Begitu masuk melalui pintu utama, ia segera bertanya dengan nada datar pada staf resepsionis.

“Nona Alyra?” Staf resepsionis balik memastikan.

“Iya, benar,” sahut Erlan singkat.

“Anda mengenal Alyra?” Dari arah lain, suara terdengar dengan intonasi rendah. “Siapa Anda?” Suster Okta menatap penasaran.

Yang ditanya segera menoleh, memandang datar, namun alisnya mengerut samar. ‘Suster itu ….’ Wajah yang cukup familiar bagi Erlan.

“Anda siapa? Kenapa bisa kenal Alyra?” Suster Okta masih terus bertanya.

“Saya—”

“Pak Erlan?” Alyra muncul dari lorong, menatap tak percaya pada sosok berpenampilan tak kalah memprihatinkan.

Rambut dan pakaian keduanya sama basah dan lembab.

“Kenapa kamu di sini?” Alyra melangkah mendekat, menuntut penjelasan dari sang suami.

“Kamu mencariku? Tau dari mana kalau aku di sini?” lanjutnya menyerbu dengan pertanyaan beruntun.

Erlan tak langsung menjawab, isi kepalanya sibuk bekerja, menyusun alasan untuk berkelit.

‘Nggak mungkin juga aku bilang kalau selama ini ada seseorang yang mengikutinya diam-diam.’

“Aku ….”

*

*

Bersambung.

1
partini
jajat sekali kalian,,tapi orang selalu berhasil wehhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!