NovelToon NovelToon
The Predator’S Possession

The Predator’S Possession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Callalily

Benedict Franklin, pemilik Equinox Ventures dan pemimpin organisasi Veto, adalah pria yang hanya percaya pada angka dan kekuasaan. Baginya, emosi adalah kelemahan, dan tatapan matanya mampu meruntuhkan siapapun dalam hitungan detik. Namun, hidupnya yang penuh kendali berubah saat ia bertemu dengan Zara Clarance Harrison. Bagi Zara, hidupnya sudah cukup indah hanya dengan aroma tepung dan manisnya gula di toko kue kecil miliknya. Namun, dunianya yang tenang, hancur dalam semalam ketika ayahnya, David Harrison, menggunakan dirinya sebagai jaminan hutang kepada Benedict Franklin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Callalily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27

“Tembak saja, Franklin! lepaskan pelurumu! kita lihat siapa yang lebih cepat, pistolmu atau pisauku di leher jalang ini!” bentaknya dengan tawa sumbang yang dipaksakan.

Tepat pada saat itu, suara langkah kaki berat yang tergesa-gesa terdengar mendekat dari arah depan toko. Luca akhirnya tiba bersama tim alfa yang bersenjata lengkap. Mereka langsung merangsek masuk ke area dapur, mengacungkan senjata dan seketika mengepung sudut ruangan tersebut.

Melihat kedatangan tim alfa, preman itu semakin terpojok. Nyawanya benar-benar di ujung tanduk. Rasa panik yang luar biasa menguasai otaknya, memicu nekat yang tak terkendali. Dengab gerakan yang sangat tiba-tiba dan tak terduga, tangan preman itu menyentak. Ia mengiriskan mata pisau belatinya ke leher Zara.

SREETT!

Meskipun guratan itu tidak terlalu dalam, tajamnya belati langsung merobek kulit leher Zara. Cairan merah seketika merembes keluar. Zara mengerang kesakitan, matanya terpejam erat menahan perih yang menyengat, sementara air matanya kian deras.

“Mundur! Mundur bajingan!” teriak si preman histeris, cengkeramannya pada tubuh Zara semakin mengerat hingga gadis itu kesulitan bernapas.

“Biarkan aku keluar dari sini, atau…. belati ini akan masuk sedalam-dalamnya ke lehernya! aku tidak main-main!”

Melihat darah yang mengalir di leher Zara dan mendengar erangan kesakitannya, mata Benedict semakin menggelap. Jantungnya berdegup kencang. Ia segera menurunkan pistolnya.

“Mundur,” perintah Benedict dengan suara rendah, ditunjukkan kepada anak buahnya.

Luca sempat tertegun ragu. “Tapi, Tuan—“

“Aku bilang mundur! biarkan dia keluar!” bentak Benedict, suaranya menggelegar.

Luca dan seluruh tim alfa pun perlahan menurunkan senjata mereka. Mereka melangkah mundur dengan teratur, membuka barisan dan memberikan celah jalan yang lebar dari dapur menuju pintu keluar toko.

“Bagus” ucap preman itu dengan napas memburu.

Dengan kaki yang terasa sangat lemas, Zara mengikuti tarikan kasar sang preman. Saat tubuhnya diseret tepat melewati Benedict yang berdiri mematung, Zara mendongak sedikit.

Di antara rasa perih di leher dan air mata yang mengaburkan pandangannya, Zara menatap Benedict.

Benedict melihatnya. Ia menangkap tatapan penuh ketakutan itu. Cengkeramannya pada pistol di samping tubuhnya mengeras hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gejolak untuk menerkam dan mencabik-cabik preman itu sekarang juga.

Si preman terus maju hingga akhirnya sampai di ambang pintu toko. Matanya melirik liar ke arah mobil sedan yang terparkir diluar.

“Kunci mobil! lempar kunci mobil ke sini!” teriak si preman. “Aku butuh mobil untuk pergi dari sini! Cepat, atau jalang ini mati!”

Benedict tidak mengalihkan pandangannya dari Zara. Tanpa menoleh, ia memberi anggukan kepada Luca.

Luca yang memahami kode tersebut langsung meraba saku jasnya, menarik keluar sebuah kunci mobil, lalu melemparkannya ke arah trotoar. Kunci itu jatuh berdenting tepat beberapa langkah di depan kaki si preman.

“Bagus,” seringai si preman puas.

Dengan gerakan cepat dan waspada, ia merunduk sedikit tanpa melepaskan pisaunya dari leher Zara, merenggut kunci itu dari lantai, lalu menekan tombol unlock. Lampu mobil sedan hitam terdekat berkedip.

Tanpa membuang waktu, si preman membuka pintu belakang mobil tersebut dengan kasar. Ia tidak melepaskan Zara setelah mendapatkan keinginannya, preman itu justru mendorong paksa tubuh Zara ke kursi belakang.

“TUAN!” pekik Zara ketakutan saat tubuhnya dihempaskan ke dalam mobil.

BRAMM!

Pintu mobil dibanting menutup dari dalam. Si preman langsung menginjak pedal gas dalam-dalam, dan membawa mobil itu dengan kecepatan tinggi.

“Aktifkan sistem protokol 2,” perintah Benedict.

Luca dengan sigap mengeluarkan sebuah perangkat kendali khusus berbentuk tablet kecil. Jemarinya bergerak secepat kilat diatas layar. Sebagai mobil operasional tim alfa, mobil sedan itu telah dimodifikasi dengan sistem keamanan internal tingkat tinggi yang terhubung langsung ke jaringan pusat Equinox.

“Protokol dua aktif, Tuan” lapor Luca cepat. “Sistem speed limiter bekerja secara bertahap. Kecepatan maksimal mobil terkunci di angkat empat puluh mil per jam dan akan terus menurun. Pengunci pintu belakang juga sudah di bypass, preman itu tidak akan bisa membuka pintu atau menurunkan jendala dari dalam,”

Sebelum mengejar mobil sedan itu, Benedict memgambil perangkat komunikasi radio yang terhubung dengan frekuensi internal mobil sedan tersebut dari Luca. Ia mendekatkan bibirnya, menekan tombol bicara.

Luca dan tim alfa bergerak cepat mengejar mobil sedan yang membawa Zara, dan tetap berjaga melindungi mobil Benedict.

Sementara itu, di dalam mobil yang melaju tak tentu arah, suasana begitu mencekam. Preman itu terus mengumpat kasar sembari menginjak pedal gas dalam-dalam, namun ia menyadari ada yang aneh karena mesin mobil justru menderu tertahan dan kecepatannya perlahan melambat. Zara terkulai lemas di kursi belakang, mencengkeram lehernya yang perih.

Bzzzz….

Tiba-tiba, suara statis terdengar dari speaker audio mobil, disusul oleh suara bariton yang sangat familiar di telinga Zara.

“Zara, dengarkan aku.”

Zara tersentak, mendongakkan kepalanya yang terasa pening dengan sisa-sisa kekuatannya.

“Tetap di posisimu, merunduk, dan tundukkan kepalamu serendah mungkin di bawah kursi. Jangan melihat ke atas dan jangan bergerak sampai aku memintanya, kau paham?”

Zara mengangguk-anggukan kepalanya, air matanya semakin deras mengalir keluar. Mengabaikan rasa perih di lehernya, ia merosot turun dari kursi belakang, meringkuk di lantai mobil yang sempit, dan mendekap kepalanya erat-erat.

“Tutup matamu jika kau takut. Jangan mendengarkan apa pun selain suaraku. Aku ada tepat dibelakangmu.” lanjut Benedict.

“BAJINGAN! ARGHH FRANKLIN SIALAN” teriak si preman, memukul kemudi dengan frustrasi saat menyadari pedal gasnya sama sekali tidak berfungsi lagi.

Tidak lama kemudian, mobil tim alfa berhasil menyejajarkan posisi dengan mobil sedan yang dibawa kabur. Jendala mobil itu perlahan turun, menampilkan moncong senapan laras panjang milik penembak jitu tim alfa.

“Target terkunci, Tuan,” lapor Luca melalui interkom.

“Eksekusi!” perintah Benedict dingin. “Jangan sampai ada peluru yang melesat ke kursi belakang.”

“Diterima.”

DOR! DOR!

Dua tembakan beruntun berkaliber tinggi menggema di jalanan sepi itu, menghancurkan kaca depan sisi pengemudi. Peluru menembus tepat di dada dan kepala si preman dalam hitungan millidetik. Preman itu seketika tewas di tempat.

Zara memekik kaget, menutup telinganya rapat-rapat saat mendengar letusan dan pecahan kaca yang berhamburan di bagian depan. Sesuai perintah Benedict, ia tidak berani mendongak sedikit pun.

Luca langsung menekan tombol override pada tablet nya. Sistem speed limiter memaksa laju mobil menurun drastis dari empat puluh mil per jam, melambat perlahan, hingga akhirnya berhenti total dengan di tepi jalan tanpa ada benturan sama sekali.

KLIK.

Suara sistem pengunci pintu belakang otomatis terbuka dari luar. Pintu mobil itu ditarik paksa hingga terbuka lebar. Zara yang masih gemetar di lantai mobil perlahan membuka matanya, napasnya masih tersengal-sengal karena ketakutan.

Sebelum Zara sempat bergerak, sebuah bayangan tubuh yang besar langsung merunduk masuk ke dalam kabin mobil tersebut. Itu Benedict.

Benedict langsung merengkuh tubuh ringkih Zara, mengangkatnya dari lantai mobil, dan menarik gadis itu sepenuhnya ke dalam pelukannya.

“Tuan…..” tangis Zara pecah seketika.

Benedict mendekap erat gadis itu. Satu tangannya melingkar di punggung Zara, sementara tangan lainnya mendekap bagian belakang kepala gadis itu, menekan wajah Zara dengan lembut ke dada bidangnya.

Zara langsung mencengkeram erat jas hitam Benedict. Ia menangis terisak-isak disana, meluapkan seluruh rasa takutnya, tubuhnya masih bergetar hebat.

“Kau aman,” bisik Benedict tepat di dekat telinga Zara. “Aku disini. Tidak akan ada yang bisa menyentuhmu lagi.”

1
Lalat
lanjutt ka
Lalat
SERIUSS?? WHATTTTTT
Lalat
iyaya, jjr gw ga expect dia ngmng gt
Lalat
fix kekurangan darah
Lalat
lucuuu 😍
Lalat
blh jg tu
Lalat
lucuu
Lalat
Indonesian bisa di beli ga 🤭
lontong sayur
aku suka
lontong sayur
episode ini manis 🌚
lontong sayur
episode ini manis 🌚🌚🌚
lontong sayur
gemes 🐣
Erna Olivia
lanjut min
Nanda
sakit sih aku klo di posisi Zara
Mita Paramita
lanjut Thor 😘😘😘 bikin adegan romantis
Nanda
serem ya Benedict klo lagi mode gitu
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Mita Paramita
lanjut Thor bikin bennec bucin 🤣
Nanda
cuek tapi perhatian gitu yaa
Nanda
smngt thorr, pls up tiap hari
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!