Safa adalah gadis cantik nan penurut yang tampaknya selalu dimusuhi takdir. Sejak kecil, ia tak pernah mencecap manisnya kasih sayang keluarga, bahkan dari ibunya sendiri. Kesalahan di masa lalu yang bukan kehendaknya membuat Safa dilabeli sebagai "anak pembawa sial" dan dibenci seumur hidup. Puncaknya, ia dipaksa menikah dengan seorang kakek demi menyelamatkan bisnis keluarga yang nyaris bangkrut.
Namun, kenyataan tak seburuk dugaannya. Sang kakek ternyata hanya perantara, ia mencarikan istri untuk cucu laki-lakinya yang bertemperamen kaku, cuek, dan dingin. Di rumah barunya, Safa yang terbiasa disisihkan justru mulai merasakan hangatnya kasih sayang dari keluarga sang suami yang memperlakukannya dengan sangat baik. Sayangnya, benteng es di hati suaminya sendiri tetap tak tergoyahkan.
Mampukah Safa memenangkan hati pria yang menikahinya hanya karena amanah sang kakek? Ataukah pernikahan "titipan" ini akan hancur dan berakhir dengan perceraian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Pengakuan Arlan
Flashback On.
Malam itu di bawah remang lampu jalan, Dimas berhenti. Ia menurunkan Riana tepat di depan rumah.
Angin berhembus cukup kencang pertanda hujan akan turun. Dimas tak berniat mampir karena ia hanya menggunakan motor sport favoritnya.
"Kamu yakin gak mau mampir?" Riana menawarkan sekali lagi.
Dimas menggeleng di balik helemnya. "Gak, emang kamu gak liat ini mau ujan. Udah masuk sana!"
Riana mengangguk dan berlari menuju rumahnya.
Hubungan mereka memang sedang tidak baik-baik saja. Riana yang super oper protektif selalu saja menuduh Dimas main wanita.
Hari ini mereka pun sempat bertengkar hingga Dimas memutuskan mengantar Riana lebih cepat.
Ia hanya menatap dalam diam. Ia ingin segera mengakhiri hubungan tak sehat ini.
Tetesan demi tetesan mulai membasahi tubuhnya. Matanya menatap bayangan samar di kegelapan.
Seorang gadis tengah berjalan mendekat. Pakaian putih dengan jilbab biru muda yang cerah. Wajahnya terlihat berseri dan damai. Sorot matanya tampak indah bercahaya. Ia tertegun sejenak.
"Kak, ini mau ujan loh. Cepat pergi, nanti keujanan loh," tegur Safa sambil berlari kecil sambil melewatinya.
Dimas tersentak. Ia menatap gadis itu masuk ke dalam halaman rumah Riana. Sejak saat itu Dimas selalu memperhatikan Safa, dan mencari tahu tentangnya.
Sayangnya, ia terlalu terburu-buru. Ia ceroboh karena mengutarakan isi hatinya saat hubungannya dengan Riana belum berakhir.
Flashback Off.
"Safa aku serius. Mas akan menerimamu, walau kamu pernah menikah dengan kakek tua itu." Dimas mencoba meyakinkan Safa.
Kali ini ia tak ingin kehilangan gadis itu lagi. Ia akan mendapatkan hati Safa.
Safa mundur beberapa langkah. "Maaf Mas. Aku kan sudah bilang, walaupun aku bercerai, aku gak akan mau denganmu."
"Kenapa, Safa. Kenapa?"
"Karena mbak Riana menyukaimu. Aku gak mau berurusan dengannya. Aku capek selalu di tuduh merebut kekasihnya, jadi aku mohon cukup. Pura-pura saja tidak mengenalku," tutur Safa. Ia berjalan melewati Dimas berniat kembali ke rombongan.
Namun, Dimas meraih pergelangan tangan Safa. "Tunggu, Safa."
Safa tersentak saat tangannya di pegang. Ia mencoba menariknya paksa namun, Dimas tetap tak berniat melepaskan.
"Lepas, Mas. Jangan macam-maca loh kamu!" ancam Safa sambil terus melawan.
"Tolong dengarkan aku dulu, Safa. Aku gak akan ngapa-ngapain kamu, kok. Aku tulus padamu," ucapnya dengan binar mata memohon.
Tap!
Sebuah tangan kokoh memegang tangan Dimas kuat. Mereka tersentak dan menoleh.
"Mas Arlan," ucap Safa lirih.
Dimas terkejut. Sontak ia melepas genggamannya dan mundur beberapa langkah.
"Apa kau tidak dengar. Istriku memintamu melepas tanganmu itu. Jadi menjauhla dari pada kau menyesal," ancam Arlan dengan nada dingin menusuk.
Tubuh Dimas bergetar tak percaya. Mana mungkin Safa istri bosnya. Ia tahu sendiri jika Safa menikah dengan seorang kakek tua.
"Mana ... mungkin? Ini pasti bercanda," gumamnya nyaris ambruk. Dimas segera bersandar di dinding dengan nafas terengah.
Arlan merengkuh pundak Safa. Ia memberikan rasa aman saat Safa terlihat tertekan.
Lagi-lagi dia datang di waktu yang paling Safa butuhkan.
"Apa gak papa Mas bilang kalau aku istrinya. Ini masih di lingkungan kantor," gumamnya lirih.
Arlan menatap ke arah sang istrinya. Tatapannya seolah mengatakan jika dia milikku.
"Dia istriku. Aku tidak mengumumkannya karena aku gak mau buat dia gak nyaman karena pasti akan banyak yang membucarakannta. Jadi bukan berarti, kau bisa mendekatinya. Paham!"
Sorot matanya berubah tajam saat kembali menatap Dimas.
Dimas menunduk. Pupus sudah harapnya. Jika itu Arlan maka Safa sudah mendapatkan semuanya. Mana mungkin ia mau dengannya.
Ia hanya bisa mengepalkan kedua tangan dengan putus asa.
"Ayo, sayang kita pulang. Aku lihat kamu lelah, aku akan siapkan air hangat untukmu mandi," ucap Arlan sambil membimbing Safa meninggalkan area itu.
Safa hanya mengikuti sang suami. Ia masih syok saat Arlan memanggilnya sayang.
Kini di dalam hatinya sedang berbunga-bunga. Ia baru pertama merasakan hal semanis itu dengan lelaki halalnya.
"Maaf ya, kalau aku lancang panggil kamu sayang. Aku cuma mau buat dia menjauh darimu, soalnya aku liat kamu gak suka dekat dengannya."
Rona bahagia seketika berubah saat kata-kata itu terucap. Jadi Arlan hanya sengaja agar Dimas menjauh, bukan karena ia cemburu.
Safa mencoba tersenyum, walau tak sampai ke mata. "Santai saja, Mas. Suami istri biasanya kan memang sering manggil seperti itu."
"Ha ... ha ... iya juga." Arlan berusaha tertawa meski tawanya malah terdengar aneh.
Arlan mengajak Safa menuju mobil yang sudah terparkir.
"Loh kok kesini?" protes Safa.
Arlan membuka pintu mobil. "Masuklah. Kita pulang saja. Aku lihat kamu tidak nyaman ada di sana. Nanti aku akan kabari mereka."
Safa mengangguk dan masuk ke dalam mobil, lalu di susul Arlan.
"Jalan, Pak!" perintahnya pada sopir.
Pedal gas di injak. Mobil segera melesat membelah jalanan malam. Kaca mobil diturunkan. Safa membiarkan angin malam menerpa wajahnya, menikmati udara malam yang dingin.
Tak ingin melihat sang istri masuk angin, Arlan mendekatkan tubuhnya dan menekan tombol kaca. Kaca perlahan naik dan menutup.
Safa nyaris kehabisan nafas saat leher sang suami tapat di depan mata. Ia bisa melihat jelas garis jakun yang menonjol kokoh hingga mampu membuat nafasnya tercekat.
Dada bidangnya sempat menyentuh pundaknya hingga membuat jantung Safa berdetak tak karuan. Aroma meskulin bercampur keringat itu, entah mengapa begitu memikat seolah memberi aroma khas tersendiri.
Safa segera menghala nafas saat Arlan kembali ke kursinya.
"Jangan buka lebar-lebar. Nanti kalau kamu masuk angin, gimana?" tutur Arlan yang kembali fokus ke layar ponselnya.
Safa menatapnya ragu. "Mas. Apa gak papa kalau orang kantor tau aku istrimu?"
Layar ponsel dimatikan. Arlan memfokuskan dirinya ke sang istri. "Yang gak mau aku mengumumkan, kan kamu. Aku gak masalah kalau mereka tau. Aku setuju karena aku menurutimu."
"Kamu kan bilang gak mau jadi pusat perhatian, karena ingin benar-benar belajar sunguh-sungguh. Tapi kalau kamu berubah pikiran, besok aku akan umumkan kalau kamu istriku," ungkap Arlan. Tatapannya terlihat jelas tanpa rasa ragu.
Namun, Safa semakin bingung dengan perasaan sang suami. Untuk apa dia mengungkapkan. Apa di dalam hatinya ada dirinya. Atau itu di lakukan hanya untuk menyenangkan kakek.
Ingin sekali ia menanyakan apa aku ada di dalam sana. Namun, lidahnya terasa kelu.
"Tapi, apa gak papa? Bagaimana dengan wanita yang mas Arlan suka. Bagaimana kalau dia kecewa?" ucap Safa nyaris berbisik.
Dengan helaan nafas ia melanjutkan. "Kalau ada wanita yang Mas suka, aku gak papa kok. Gak usah diumumkan, Mas. Nanti aku akan coba kasih penjelasan ke kakek, kalau kita memang gak cocok."
Arlan tak terkejut dengan perkataan Safa. Ia hanya memejamkan mata sejenak.
Perlahan ia membuka mata, melirik ke arah sang istri. "Apa kamu yakin bisa meyakinkan kakek akan hal itu?"
Pandangan mereka saling bertemu. Menatap intens seolah waktu berhenti berputar.