NovelToon NovelToon
Arunika Di Kala Senja

Arunika Di Kala Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu
Popularitas:386
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Arunika hidup dengan trauma masa lalu yang membuatnya menjadi pribadi dingin dan tertutup. Setelah kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil, ia diasuh oleh kakek dan neneknya di sebuah penginapan tua di desa wisata yang dipenuhi pohon damar. Aroma lilin dari getah damar selalu menjadi tempat ternyaman bagi Arunika, hingga kehadiran seseorang dari masa lalunya perlahan mengusik hidup yang selama ini terasa tenang. Di saat yang sama, seorang pemuda yang telah menemaninya sejak kecil masih setia berada di sisinya. Lalu, siapakah yang akhirnya akan dipilih Arunika?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melipat Kenangan yang Tak Lagi Utuh

Melipat Kenangan Yang Tak Lagi Utuh

Malam di penginapan kayu itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Bukan karena embun yang merayap turun, melainkan karena keheningan yang mencekam setelah sebuah rahasia besar baru saja terkoyak.

Di sudut teras, di atas lantai kayu yang permukaannya halus namun terasa begitu membekukan, Arunika duduk bersimpuh. Bahunya berguncang hebat, isak tangisnya pecah tertahan oleh telapak tangan. Suara tangis itu merambat di antara serat-serat kayu penginapan, seolah dinding-dinding kayu damar itu ikut merasakan guncangan batin sang pemilik.

Bagaimana mungkin? Pertanyaan itu terus berputar seperti kaset rusak di kepala Ika. Senja—pria yang belakangan ini mengisi hari-harinya dengan kelembutan ternyata adalah sosok yang sama dengan monster dari masa lalunya.

Sosok yang dulu membuat masa sekolahnya seperti neraka, yang memimpin sorakan ejekan hingga Ika harus dikucilkan dan akhirnya memutuskan untuk melarikan diri ke penginapan sunyi ini demi mencari sisa-sisa harga diri yang hancur.

"Ika... sudah. Jangan terus disiksa dirimu seperti itu."

Suara itu datang dari sampingnya. Arkala. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Arkala duduk bersila di samping Ika. Ia mengerti bahwa saat ini Ika tidak butuh kata-kata puitis atau janji-janji kosong. Arkala hanya sedikit menggeser posisinya, memberikan bahunya yang kokoh agar Ika bisa bersandar.

Tanpa ragu, Ika menjatuhkan kepalanya di bahu Arkala. Ia mencari perlindungan di sana. Tangisnya makin menjadi, membasahi kain kemeja Arkala, sementara tangan Arkala tetap diam di pangkuannya sendiri—sebuah bentuk penghormatan agar dukungan itu tidak terasa intim, melainkan murni sebagai pilar penguat.

"Kenapa harus dia, Kal? Kenapa takdir sejahat ini mempermainkan aku?" bisik Ika di sela isaknya.

Arkala hanya menghela napas panjang, membiarkan angin malam menyapu rambut Ika. "Aku di sini, Ika. Kamu tidak sendirian lagi."

Di sisi lain penginapan, di dalam sebuah ruangan yang remang, pemandangan kontras terjadi. Senja sedang bertarung dengan badai di dalam kepalanya. Sejak konfrontasi itu, potongan-potongan gambar mulai bermunculan di benaknya.

Kabut hitam yang selama bertahun-tahun menutupi memorinya mulai tersingkap paksa. Ia melihat wajah seorang gadis kecil yang menangis tersedu di pojok kelas, dan ia melihat tangannya sendiri yang sedang menunjuk gadis itu sambil tertawa.

"Argh!" Senja mengerang, mencengkeram kepalanya kuat-kanan. Rasa sakit itu seperti ribuan jarum yang ditusukkan sekaligus. Tekanan di otaknya begitu hebat hingga keseimbangannya goyah. Ia terhuyung, kakinya lemas, dan dalam sekejap ia jatuh terduduk di lantai kayu dengan dentuman yang cukup keras.

Kakek, yang sejak tadi mengawasi dari balik pintu, segera berlari menghampiri. Dengan tangan keriputnya yang masih kuat, Kakek memapah tubuh Senja yang pias ke atas kursi panjang.

"Senja, kamu kenapa nak? Ayo coba Napas perlahan," ucap Kakek tenang. Ia mengambil segelas air putih dari atas meja kayu dan memberikannya pada Senja yang gemetar. Senja meneguk air itu dengan rakus, meski matanya masih tampak kosong dan penuh ketakutan.

Setelah memastikan napas Senja kembali teratur, Kakek bangkit berdiri. Ia melangkah keluar menuju teras, tempat di mana Ika masih bersandar lesu di bahu Arkala.

"Ika, coba dengarkan Kakek sebentar," suara Kakek terdengar begitu bijak, membawa aura ketenangan yang hanya dimiliki oleh mereka yang sudah makan asam garam kehidupan. Kakek duduk di kursi rotan di hadapan mereka berdua.

Ika mengangkat wajahnya yang sembab. Matanya merah, menunjukkan betapa lelahnya ia secara emosional.

"Kakek tahu luka itu sangat dalam," Kakek memulai, matanya menatap kejauhan. "Kakek masih ingat betapa hancurnya kamu saat kita pertama kali pindah ke sini. Kamu kehilangan kepercayaan diri, kamu takut bertemu orang, semua karena perbuatan teman-temanmu di masa lalu—terutama karena perbuatan Senja. Kakek juga sempat kecewa saat tahu siapa dia sebenarnya."

Kakek terdiam sejenak, lalu menatap Ika dengan tulus. "Tapi Ika, lihatlah dia sekarang. Tadi dia benar-benar terpuruk di dalam sana. Dia merasa sangat bersalah. Kakek dulu juga tidak tahu kalau Senja ini adalah orang yang sama yang telah membully mu di masa lalu, tapi setelah melihatnya selama ini... dia sepertinya sudah menjadi pribadi yang berbeda."

"Tapi Kek! Tidak bisa begitu saja dong!" Arkala menyela dengan nada yang mulai meninggi. Ia tidak tahan melihat Ika menderita. "Si Senja itu sudah bikin Ika trauma bertahun-tahun. Masa cuma karena dia pusing dan minta maaf, kita harus lupa semua penderitaan Ika?"

Kakek menggeleng pelan. "Bukan melupakan, Arkala. Tapi memaafkan agar hati Ika sendiri tidak busuk oleh kebencian. Kejadian itu sudah lama sekali. Dia adalah masa lalu yang pahit, tapi jangan biarkan perbuatan dia di masa lalu meracuni masa depan kalian."

Ika terdiam. Ia meresapi kata-kata kakeknya. Benar, selama beberapa bulan terakhir, ia merasa hidupnya jauh lebih tenang. Ia bahkan sudah mulai jarang memikirkan kenangan buruk di sekolah dulu. Apakah ia harus kembali masuk ke lubang trauma itu hanya karena mengetahui identitas asli Senja?

"Sudah, Kal... tidak apa-apa," Ika berkata dengan suara yang lebih stabil. Ia menyeka sisa air matanya dengan punggung tangan. "Kakek benar. Ini sudah terlalu lama. Aku sudah lelah menangis hanya untuk hal yang sudah lewat bertahun-tahun lalu. Aku sudah baik-baik saja sekarang."

Ika berdiri, menatap Arkala dan Kakek bergantian. "Tolong, tinggalkan aku sendiri dulu. Aku ingin merenung di kamar. Aku butuh waktu untuk bicara dengan diriku sendiri."

Arkala ingin membantah, namun melihat ketegasan di mata Ika, ia hanya bisa mengangguk pasrah. Keduanya pun berlalu, meninggalkan Ika dalam kesunyian yang hanya ditemani aroma kayu penginapan yang menenangkan.

Keesokan paginya, sinar matahari menerobos masuk melalui celah-celah jendela kayu, menciptakan garis-garis cahaya di atas lantai. Ika keluar dari kamarnya dengan wajah yang lebih segar, meski matanya masih sedikit bengkak. Di selasar, ia menemukan Senja yang sudah berdiri menunggunya. Pria itu tampak pucat, seolah ia tidak tidur sepanjang malam.

"Ika... boleh kita bicara?" tanya Senja ragu.

Ika mengangguk pelan. Mereka berdiri di selasar yang menghadap ke halaman luas.

"Aku ingin jujur tentang segalanya," Senja memulai, suaranya bergetar. "Dulu aku pernah mengalami kecelakaan hebat. Sebuah kecelakaan mobil yang membuat kepalaku terluka parah. Sejak saat itu, separuh ingatanku hilang. Aku lupa tentang banyak hal di masa kecilku, termasuk... termasuk tentang kamu dan semua kejahatan yang aku lakukan padamu.

Senja menarik napas dalam, mencoba menahan rasa sakit yang kembali berdenyut di pelipisnya. "Tadi malam, aku berusaha keras menarik kembali potongan-potongan itu. Aku ingin tahu kenapa kamu begitu terluka. Tapi kepalaku seolah ingin pecah. Aku jatuh terduduk di lantai, tidak berdaya, sampai Kakek datang menolongku."

Mendengar hal itu, pertahanan Ika luruh seketika. Rasa marahnya menguap, digantikan oleh naluri empati yang selama ini menjadi jati dirinya. "Beneran? Kamu sampai jatuh? Tapi sekarang kamu sudah tidak apa-apa, kan? Masih pusing tidak?"

Ika refleks melangkah maju, tangannya hampir terangkat untuk mengecek dahi Senja, namun ia menahannya di udara. Wajahnya menunjukkan kepanikan yang jujur.

Senja tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca melihat perhatian Ika yang tulus. "Aku sudah lebih baik, Ika. Tenang saja. Tapi hatiku yang tidak tenang. Aku merasa sangat bodoh. Bagaimana mungkin aku bisa seenaknya melupakan hal yang begitu besar bagimu? Aku sangat benci diriku yang dulu.

Aku tidak menyangka aku pernah menjadi monster yang tega membully orang lain. Aku benar-benar minta maaf, Ika. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku ingin menjadi orang baik. Aku tidak tahu bahwa orang baik yang aku coba bangun sekarang ternyata punya utang besar padamu."

Ika menatap Senja lama. Ia melihat kejujuran yang telanjang di sana. "Iya, tidak apa-apa... aku sudah memaafkanmu, Senja. Aku sadar, menyimpan benci itu lebih melelahkan daripada melepaskannya. Aku juga minta maaf ya karena kemarin aku sempat sangat kecewa padamu tanpa mau mendengar penjelasanmu dulu."

Ika tersenyum kecil, sebuah senyuman yang mulai tulus. "Dan jangan khawatirkan Arkala. Aku sudah bicara padanya semalam. Dia memang sedikit keras kepala kalau menyangkut aku, tapi dia orang yang baik. Aku sudah membujuknya agar kita semua bisa baik-baik saja."

Tepat saat itu, Arkala muncul dari balik pintu kayu penginapan. Ia melipat kedua tangannya di dada, wajahnya masih menunjukkan ekspresi kaku, namun tidak lagi menyimpan api amarah seperti kemarin.

"Gue juga... maaf ya," gumam Arkala, agak canggung. "Gue sempat emosi kemarin sampai marah-marah nggak jelas sama lo. Jujur ya, Senja, perbuatan lo dulu itu benar-benar nggak banget. Kalau lo bukan teman Ika sekarang, mungkin sudah gue hajar."

Arkala melirik Ika, lalu kembali menatap Senja dengan tajam. "Tapi karena Ika sudah maafin lo, ya sudah. Gue juga maafin. Tapi awas saja lo ya, kalau berani macam-macam atau bikin Ika nangis lagi, lo urusan sama gue!"

Senja tertawa kecil di tengah harunya. Ia mengangguk mantap. "Terima kasih, Kal. Gue terima semua teguran lo. Gue benar-benar menyesal, dan lo bebas hukum gue gimanapun itu. Gue bakal pastikan Ika selalu bahagia di penginapan ini."

Kakek muncul dari arah dapur, membawa nampan berisi teh hangat. Ia tersenyum melihat ketiga anak muda itu sudah berdiri berdampingan tanpa ada lagi sekat benci.

"Nah, begitulah seharusnya," ucap Kakek riang. "Yang lalu biarlah berlalu. Kayu yang sudah retak bisa diperbaiki, tapi pohon yang baru harus terus tumbuh. Mari minum teh dulu."

Di bawah naungan atap kayu yang hangat, di tengah aroma teh dan kedamaian yang baru saja ditemukan kembali, mereka semua menyadari satu hal: bahwa luka masa lalu tidak harus menjadi akhir dari segalanya.

Terkadang, ia hanya jalan panjang yang harus ditempuh untuk menemukan arti dari sebuah maaf yang sesungguhnya. Ika menarik napas lega, merasa bebannya selama ini benar-benar telah terbang bersama angin pagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!