Ini adalah cerita Gao Rui, murid sekte terkuat yang sekaligus salah satu pemilik Kelompok Dagang Harta Langit. Salah satu kelompok dagang besar dan paling berkembang di Kekaisaran Zhou...
Simak petualangannya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tantangan yang Tidak Disengaja
Gao Rui keluar dari penginapan bersama Bai Kai. Langkah mereka tidak terburu-buru. Bai Kai berjalan setengah langkah di belakang, posisinya selalu siap. Jelas terlihat bahwa ia memang ditugaskan khusus untuk mengawal Gao Rui oleh Lan Suya.
Sementara itu, Gao Rui sendiri… tidak memiliki tujuan. Ia hanya berjalan.
“Ke mana kita?” tanya Bai Kai akhirnya, suaranya tenang.
Gao Rui melirik sekilas, lalu mengangkat bahu.
“Entahlah,” jawabnya santai. “Aku hanya ingin melihat-lihat.”
Bai Kai tidak berkata apa-apa lagi. Baginya, selama Gao Rui bergerak… ia hanya perlu mengikuti dan memastikan keselamatannya.
Pagi di Kota Heifa terasa hidup. Matahari belum terlalu tinggi, udara masih segar, dan aktivitas kota sudah mulai ramai. Pedagang membuka lapak, aroma makanan hangat menyebar di udara, dan orang-orang berlalu lalang dengan berbagai kesibukan mereka.
Gao Rui menarik napas dalam-dalam.
“Tidak buruk,” gumamnya.
Menikmati Kota Heifa di pagi hari… ternyata tetap menyenangkan.
Mereka terus berjalan, menyusuri jalan utama, lalu berbelok ke beberapa jalur lain tanpa tujuan jelas. Gao Rui sesekali berhenti, memperhatikan sesuatu, lalu berjalan lagi. Bai Kai tetap diam, namun matanya terus bergerak, mengamati sekitar.
Hingga akhirnya… langkah Gao Rui melambat. Di depan mereka, terbentang sebuah area luas. Lantainya terbuat dari batu keras yang tersusun rapi, membentuk arena terbuka. Suara riuh terdengar bahkan sebelum mereka benar-benar mendekat.
Sorakan. Teriakan. Dan suara benturan.
“Hmm?” Gao Rui mengangkat alis.
Ia melangkah mendekat. Ternyata… sedang ada pertarungan. Dua pemuda berada di tengah arena, saling berhadapan. Gerakan mereka cepat, pukulan dan tendangan dilancarkan tanpa ragu. Walaupun masih terlihat belum sempurna… semangat mereka sangat jelas.
Di sekitar arena, orang-orang berkerumun. Banyak yang menonton, beberapa bahkan berteriak memberi dukungan. Suasana sangat ramai.
Gao Rui tersenyum tipis. Ia berhenti di pinggir kerumunan, lalu mulai menonton. Tatapannya fokus. Bukan sekadar melihat… tapi menilai.
Bai Kai berdiri di belakangnya. Diam. Posisi yang sama seperti biasa.
Beberapa saat… Gao Rui memperhatikan pertarungan itu tanpa berkata apa-apa. Lalu ia sedikit menoleh.
“Tempat apa ini?” tanyanya.
Bai Kai menjawab tanpa ragu.
“Tempat latihan,” katanya. “Milik Sekte Lembah Seribu Bayang.”
Gao Rui kembali menatap arena. Bai Kai melanjutkan penjelasannya.
“Kota Heifa berada di bawah perlindungan sekte itu,” katanya tenang. “Sebagai gantinya, mereka diberi area khusus di dalam kota. Tempat ini salah satunya.”
Ia sedikit menggerakkan dagunya ke arah arena.
“Biasanya digunakan untuk melatih murid-murid mereka.”
Gao Rui mengangguk pelan.
“Dan orang luar?” tanyanya lagi.
“Bisa,” jawab Bai Kai. “Tapi harus mendapat izin dari pihak sekte.”
Gao Rui mengeluarkan suara kecil, tanda mengerti. Tatapannya kembali fokus ke tengah arena.
Dua pemuda itu masih bertarung sengit. Keringat sudah membasahi tubuh mereka. Napas mulai berat… tapi tidak ada yang mau mundur. Dari usia… mereka jelas masih muda. Mungkin belum genap dua puluh tahun. Belasan akhir.
Gerakan mereka cukup rapi. Dasar yang mereka miliki tidak buruk. Bahkan bisa dibilang… cukup menjanjikan untuk ukuran usia mereka.
Namun… Mata Gao Rui sedikit menyipit. Ia bisa melihatnya dengan jelas. Aliran tenaga dalam mereka… masih dangkal. Pola serangan mereka masih terlalu lurus. Banyak celah yang terbuka. Celah yang, jika dimanfaatkan oleh seseorang di tingkat lebih tinggi… akan berakibat fatal.
“…terlalu lambat,” gumamnya pelan.
Bai Kai mendengarnya, tapi tidak menanggapi.
Gao Rui menyilangkan tangan di depan dada. Pertarungan di mata orang lain mungkin terlihat sengit… bahkan menegangkan. Namun baginya… kekuatan keduanya… jauh di bawah dirinya. Bahkan tanpa menggunakan seluruh kemampuannya… Gao Rui tahu ia bisa mengakhiri pertarungan itu dalam beberapa gerakan saja.
Namun anehnya… ia tidak meremehkan. Tatapannya tetap tenang. Mengamati. Seolah sedang belajar sesuatu.
Beberapa saat kemudian, salah satu pemuda berhasil mendorong lawannya mundur beberapa langkah. Sorakan penonton langsung membesar.
Gao Rui tersenyum tipis.
“Lumayan,” katanya pelan.
Bai Kai meliriknya.
“Kau tertarik?” tanyanya.
Gao Rui tidak langsung menjawab. Matanya masih tertuju ke arena. Angin pagi berhembus pelan, membawa debu tipis dari lantai batu. Suara sorakan terus terdengar. Namun di balik semua itu… ada sesuatu di mata Gao Rui. Sesuatu yang mulai bergerak. Ia akhirnya berkata,
“…mungkin.”
Latih tanding itu akhirnya berakhir. Salah satu dari mereka mundur setengah langkah, napasnya berat, sementara yang lain masih berdiri tegak walau bahunya naik turun menahan lelah. Tidak ada yang benar-benar kalah telak. Pertarungan itu… lebih seperti pengujian kemampuan.
Keduanya saling menatap sejenak, lalu secara bersamaan menangkupkan tangan di depan dada, memberi hormat.
Sorakan penonton langsung membuncah. Tepuk tangan menggema di seluruh arena. Beberapa bahkan bersiul kagum. Bagi orang-orang biasa, pertarungan seperti itu sudah lebih dari cukup untuk menghibur… bahkan menginspirasi.
Gao Rui menghela napas pelan.
“Sudah selesai,” gumamnya.
Ia berbalik, berniat pergi. Baginya, pertunjukkan itu memang cukup menarik… tapi tidak cukup untuk membuatnya bertahan lebih lama.
Namun....
“Mohon perhatian!”
Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari tengah arena. Gao Rui menghentikan langkahnya. Ia menoleh kembali.
Salah satu dari dua pemuda yang barusan bertarung melangkah maju. Wajahnya masih dipenuhi keringat, tapi sorot matanya tajam dan penuh keyakinan.
Ia menyapu pandangan ke arah para penonton.
“Sekte Lembah Seribu Bayang,” katanya lantang, “selalu hadir untuk masyarakat Kota Heifa!”
Suara itu menggema jelas. Para penonton langsung kembali bersorak.
“Kami tidak hanya menjaga kota ini,” lanjutnya, “tetapi juga hadir untuk membantu penduduknya berkembang!”
Sorakan semakin besar. Beberapa orang bahkan mengangguk-angguk setuju. Jelas… sekte itu memiliki reputasi yang sangat baik di kota ini.
Gao Rui tetap diam. Tatapannya kembali fokus. Pemuda itu melanjutkan, suaranya semakin bersemangat.
“Oleh karena itu, hari ini… kami ingin mengajak salah satu dari kalian untuk maju ke arena!”
Suasana tiba-tiba berubah. Kerumunan yang tadi riuh… perlahan menjadi lebih tenang.
“Siapa pun yang maju,” lanjutnya, “akan kami ajari kemampuan dari Sekte Lembah Seribu Bayang. Jika bakatnya cukup baik… bukan tidak mungkin ia bisa diterima menjadi bagian dari sekte kami!”
Kali ini… bukan hanya sorakan. Beberapa orang mulai saling pandang. Kesempatan seperti itu… jelas bukan hal biasa. Masuk sekte berarti masa depan yang jauh lebih cerah. Kekuatan, status, dan kehormatan.
Namun tidak ada yang maju. Orang-orang hanya berdiri. Diam dan ragu. Beberapa terlihat tergoda… tapi kaki mereka tidak bergerak. Aura para murid sekte di arena… cukup untuk membuat orang biasa berpikir dua kali.
Pemuda itu mengerutkan kening sedikit. Tatapannya mulai menyapu kerumunan. Mencari seseorang yang cocok. Seseorang yang… cukup muda. Cukup berani.
Dan matanya berhenti. Tertuju tepat pada satu orang, Gao Rui.
Pemuda itu memperhatikan dengan seksama. Di matanya, Gao Rui tampak seperti bocah belasan tahun awal. Tubuhnya tidak besar, tapi tidak juga lemah. Dan yang paling mencolok… dua pedang di pinggangnya.
“Menarik…” gumamnya pelan.
Tanpa ragu, ia mengangkat tangan dan menunjuk.
“Kau!”
Suasana langsung berubah. Semua pandangan mengikuti arah tunjukannya. Dan berhenti pada Gao Rui.
“…?”
Gao Rui sedikit mengangkat alis. Untuk pertama kalinya sejak tadi… ekspresi terkejut muncul di wajahnya.
“Aku?” tanyanya singkat.
Para penonton langsung bereaksi.
“Iya! Naiklah!”
“Itu kesempatan besar!”
“Belajar dari murid inti Sekte Seribu Bayang bukan hal mudah!”
Suara-suara itu datang bertubi-tubi. Beberapa bahkan mulai mendorong orang-orang di sekitar Gao Rui agar memberinya jalan ke depan.
Gao Rui diam sejenak. Angin pagi kembali berhembus pelan, menggerakkan ujung rambutnya.
Di sampingnya, Bai Kai menyipitkan mata sedikit. Tatapannya beralih dari arena… ke Gao Rui. Namun ia tidak berkata apa-apa. Keputusan… sepenuhnya ada di tangan Gao Rui.
Sementara itu, di tengah arena, pemuda tadi tersenyum tipis.
“Bagaimana?” katanya lantang. “Apa kau berani maju?”
Seluruh arena kini menunggu satu hal. Jawaban dari Gao Rui.