NovelToon NovelToon
Simpul Mati Amora Gayana

Simpul Mati Amora Gayana

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Salma.Z

Amora (23) mengira takdirnya hanya sebatas membungkus es teh manis dan beradu urat dengan kuli panggul di pasar pelabuhan yang becek. Di balik tabiatnya yang ramai, dia tidak pernah tahu bahwa dirinya adalah darah daging Dinasti Klan—pemilik kasta tertinggi yang sengaja dilesapkan ke lumpur kemiskinan akibat tragedi belasan tahun lalu. Yang dia tahu, hidup kasarnya selalu aman karena dijaga oleh Hamdan (29), pria berkemeja hitam yang dingin laksana es.Namun, ketenangan itu koyak saat Gavin Raka (33), miliarder asal Swiss, datang membawa kepingan silsilah yang hilang. Amora diseret paksa masuk ke dunia elite yang penuh manipulasi finansial internasional, fitnah hubungan sedarah, hingga cakar fisik dari saingan cintanya, Elif Azra Karaca.Saat gurita dana rahasia Hamdan bergerak dingin meruntuhkan bursa efek Eropa murni demi melindunginya, seuntai anyaman gelang rumput kering di tangan Amora perlahan mulai mengoyak kabut amnesia bawah sadarnya. Dan tepat ketika rahasia malam kebakaran itu robek seutuhnya, sebuah bayangan dari masa lalu bersiap bangkit untuk meruntuhkan seluruh takhta kekuasaan dunia kelas atas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Dansa di Atas Bayang-Bayang Masa Lalu

Malam di atas kapal The Aurora kian larut, namun keintiman yang tercipta di antara mereka seolah mampu menghentikan laju waktu. Setelah momen emosional bertukar cerita tentang gelang rumput tua itu, Hamdan menuntun Amora menuju bagian tertinggi dari dek kapal. Di titik tertinggi ini, angin laut bertiup jauh lebih tenang. Udara malam hanya menyisakan bisikan lembut ombak yang bersahutan, seakan ikut menjaga privasi dua jiwa yang baru saja bertaut kembali.

Hamdan berdiri bersandar di pagar pembatas kapal. Tatapannya lurus menembus kejauhan, menatap pekatnya kegelapan samudera yang selama belasan tahun ini menyimpan begitu banyak rahasia kelam.

"Malam kebakaran itu..." Hamdan membuka suara. Nada bicaranya terdengar berat, ada sedikit serak yang menahan luapan emosi lawas. "Ibuku, Layla... dia yang sebenarnya menerobos kobaran api malam itu. Dia yang menolongku, kamu, dan juga ibumu, Saphira, keluar dari rumah yang hampir runtuh."

Amora melangkah mendekat. Ia refleks menggenggam lengan Hamdan yang kokoh, mencoba mencerna fakta baru ini dengan jantung yang berdebar. "Kalau Ibu Layla yang menyelamatkan kita semua... kenapa selama ini dia memisahkan aku dari ibuku, Bang?"

Hamdan menghela napas panjang, gurat penyesalan terlihat jelas di wajahnya di bawah temaram bulan. "Karena kesalahpahaman besar, Amora. Ibuku mengira Saphira terlibat dalam konspirasi yang menyebabkan ayahku terbunuh malam itu. Kebencian itu membutakan matanya. Dia menyembunyikan Saphira dalam sangkar emas agar ibumu tidak bisa bergerak, sekaligus mengancamku untuk diam selama tujuh belas tahun ini demi keselamatanmu. Aku hidup dalam dilema yang menyiksa; membiarkan ibumu terkurung oleh kebencian ibuku, atau membuka suara tapi harus mempertaruhkan nyawamu di tangan musuh Klan."

Amora tertegun, napasnya sempat tertahan di dada. Ia baru menyadari bahwa benang kusut di masa lalu mereka ternyata berakar dari kesalahpahaman mendalam seorang ibu yang terluka, dan setiap tindakan Hamdan—bahkan diamnya—adalah bentuk perlindungan sunyi yang menyakitkan.

"Ibuku berpikir dengan mengambil seluruh harta kalian adalah biaya yang harus dibayar atas terbunuhnya ayahku."

Deg. 

Amora merasakan kesedihan saat mendengar kenyataan pahit itu.

Hamdan memutar tubuhnya. Ia menatap Amora dengan binar mata yang kini sepenuhnya telanjang, jujur, tanpa ada lagi topeng yang menutupi perasaan. Ia mengulurkan tangan kanannya ke depan dada, sebuah undangan bisu yang begitu hangat bagi Amora untuk mendekat.

"Cukup soal masa lalu kita yang kelam," bisik Hamdan, menyunggingkan senyum tipis. "Malam ini, di tengah samudera ini, aku cuma mau jadi Hamdan yang berdansa sama 'Mawar'-nya."

Tanpa alunan musik instrumen ataupun orkestra mewah, mereka memulai langkah. Hanya berpatokan pada irama detak jantung yang saling beradu cepat dan senandung angin laut, Hamdan menarik pinggang Amora dengan lembut agar semakin mendekat. Satu tangan Amora bertumpu nyaman di bahu Hamdan, sementara jemari mereka yang lain saling tertaut erat, mengunci satu sama lain.

Mereka bergerak perlahan di bawah siraman cahaya rembulan yang keperakan. Gerakan mereka begitu indah, mengalir begitu saja seolah jiwa mereka sudah melatih koreografi ini selama belasan tahun perpisahan. Hamdan menatap Amora dengan tatapan yang begitu memuja, jenis tatapan yang seketika membuat Amora merasa seolah-olah dirinyalah satu-satunya wanita yang tersisa di semesta ini.

Saat gerakan dansa mereka perlahan melambat, Hamdan menghentikan langkah kakinya. Ia menundukkan kepala, mengikis jarak hingga embusan napasnya yang hangat menerpa permukaan kulit wajah Amora.

"Amora... terima kasih ya, karena nggak pernah menyerah sama aku. Meskipun... aku sempat jadi pria yang paling menyebalkan di hidup kamu," gumam Hamdan.

Amora tidak membalas dengan untaian kata. Ia memilih sedikit berjinjit, lalu dengan lembut mendaratkan sebuah kecupan tulus di dagu Hamdan yang kokoh, seolah ingin menghapus semua ketegangan yang selama ini mengunci pria itu.

Mendapat perlakuan manis itu, Hamdan tertegun sejenak sebelum akhirnya tersenyum dalam. Ia balas menunduk, lalu mengecup kedua pipi Amora secara bergantian dengan sangat lembut—merasakan kembali kehangatan kulit gadis itu yang sempat hilang dari hidupnya. Terakhir, Hamdan mendaratkan kecupan yang lama dan dalam di kening Amora. Sebuah kecupan yang tidak membawa riak nafsu, melainkan sebuah simbol perlindungan, rasa syukur yang meluap, dan janji suci untuk tidak akan pernah membiarkan "Mawar"-nya terluka lagi.

Kecupan di kening itu berakhir dengan sangat khidmat, menyisakan deru napas pendek yang saling bersahutan di tengah kesunyian samudera. Hamdan tidak langsung menjauhkan tubuhnya. Ia tetap menempelkan keningnya pada kening Amora, membiarkan jemarinya bergerak naik mengusap tengkuk gadis itu dengan gerakan protektif yang terasa begitu manis sekaligus menenangkan.

"Dulu, aku cuma bisa memimpikan momen kayak gini, Amora," bisik Hamdan. Suaranya kini terdengar jauh lebih ringan, seolah beban seberat berton-ton yang ia pikul selama tujuh belas tahun ini baru saja luruh dan tenggelam ke dasar laut paling dalam. "Melihat kamu berdiri di sini, dengan kamu yang udah kembali... rasanya tugasku hampir selesai."

Amora menggeleng pelan. Ia menatap lekat sepasang mata cokelat gelap milik Hamdan yang saat ini memantulkan kerlip cahaya bintang di langit.

"Tugas Abang justru baru aja dimulai," sanggah Amora lembut namun penuh penekanan. "Bukan lagi sebagai pelindung yang terus bersembunyi di balik bayangan, tapi sebagai pria yang bakal berjalan di sampingku."

Amora meraba tekstur kasar gelang rumput kering di pergelangan tangannya, lalu beralih menyentuh liontin kalung mawar pemberian Hamdan. "Aku nggak mau Abang memikul semuanya sendirian lagi. Kalau dunia mencoba memisahkan kita lagi, biarkan mereka berhadapan sama aku juga. Aku bukan lagi Amora yang lemah, Bang."

Hamdan tersenyum. Sebuah senyuman bangga yang tulus, yang seketika membuat persona kaku si "kulkas dua pintu" benar-benar runtuh tak berbekas. Ia kembali merangkul pinggang Amora, lalu menuntun gadis itu untuk duduk di kursi dek, menikmati cakrawala malam di mana warna langit mulai bergradasi menjadi ungu gelap, pertanda fajar akan segera menyingsing.

"Setelah pelayaran ini usai," ucap Hamdan dengan nada bicara yang berubah serius namun sarat akan harapan, "aku bakal bawa kamu pulang ke daratan dengan status yang baru. Nggak bakal ada lagi orang yang berani sebut kamu saudaraku. Aku bakal pastikan semua orang tahu kalau kamu adalah masa depanku."

Namun, di tengah kedamaian yang baru saja mengecap rasa tenang itu, ponsel satelit yang tergeletak di atas meja makan mendadak bergetar hebat. Hamdan mengernyitkan dahi. Ia mengulurkan tangan meraih perangkat hitam tersebut, lalu membaca sebaris pesan singkat yang baru saja masuk dari Farid.

Seketika itu juga, gurat wajah Hamdan yang semula melembut langsung mengeras. Matanya yang tadinya penuh dengan binar kasih berubah menjadi setajam elang dalam hitungan detik.

"Ada apa, Bang?" tanya Amora, seketika bisa merasakan perubahan aura intimidatif dari pria di sampingnya.

Hamdan menatap Amora dengan tatapan yang kembali siaga. "Ibuku... dia baru aja mengumumkan secara sepihak di depan media. Malam ini, bakal ada perjamuan besar buat merayakan pertunanganku sama putri dari keluarga bangsawan Turki, rekan bisnis lama kakekku."

Amora sempat tertegun mendengarnya, namun kali ini tidak ada air mata yang jatuh. Ia langsung berdiri dengan anggun, menatap balik Hamdan dengan sepasang mata yang menyala oleh keberanian. "Sepertinya ibu Abang mau coba bermain api, di saat kita lagi menikmati tenangnya air ya, Bang."

Hamdan ikut berdiri, lalu menggenggam tangan Amora dengan jepitan yang sangat erat. "Dia pikir dia bisa mengatur hidupku sekali lagi. Dia salah besar. Kita bakal segera balik ke daratan, Amora. Dan malam ini, dunia nggak bakal melihat pesta pertunangan yang udah dia rencanakan, tapi mereka semua bakal menyaksikan kemunculan kembali pewaris sejati dari Dinasti Klan."

Hamdan mematikan ponsel satelitnya dengan satu gerakan pelan. Ia memandang hamparan laut luas yang kini mulai memantulkan semburat warna jingga di ufuk timur. Fajar hampir tiba, dan kedamaian semu di atas kapal The Aurora harus segera diselesaikan oleh realitas yang rupanya belum mau menyerah di daratan sana.

"Wanita pilihan Ibuku namanya Elif Hadi. Dia putri dari salah satu menteri di Turki," Hamdan menjelaskan situasi tanpa perlu diminta. Suaranya kembali terdengar dingin dan berwibawa, namun kali ini radar dingin itu bukan untuk menjauhkan Amora, melainkan untuk menyusun strategi. "Ibu pikir dengan mengikat aku ke Turki, dia bisa meredam skandal kita sekaligus mengubur hak waris Klan buat selamanya."

Amora melangkah maju satu tapak, berdiri tepat di hadapan Hamdan. Sama sekali tidak ada raut gentar di wajah cantiknya. Justru, ada kilatan api di matanya yang selama ini tersembunyi sebagai bara sunyi.

"Dia mau mengganti 'Mawar' ini dengan bunga lain yang dirasa lebih gampang buat dia kendalikan, kan?" Amora menyentuh perban di telapak tangan Hamdan yang luka-lukanya mulai mengering. "Selama ini Abang selalu jadi perisai buat aku. Abang selalu menolongku, sementara aku cuma bisa bersembunyi dengan aman di balik dinding mansion. Tapi buat malam ini... biarkan aku yang berdiri di depan, Bang. Biarkan aku yang tunjukin ke Ibu Abang dan wanita pilihan itu, kalau kasta dan kehormatan Klan nggak bakal bisa dibeli pakai perjodohan mana pun."

Hamdan menatap Amora dengan binar takjub yang tak bisa disembunyikan. Perkembangan mental dan kedewasaan gadis ini tumbuh begitu pesat di tengah hantaman badai. Ia meraih tangan Amora, lalu mengecup punggung tangannya dengan lembut, seolah sedang mengucap sumpah setia.

"Aku nggak bakal biarkan kamu sendirian, Amora. Kita bakal datang ke perjamuan itu bukan sebagai terdakwa yang disidang, tapi sebagai penguasa yang mengambil alih."

Hamdan memutar tubuhnya, lalu berseru tegas ke arah interkom yang terpasang di dinding dek. "Farid!"

"Ya, Tuan?" sahut suara di seberang sana dengan sigap.

"Putar haluan kapal sekarang. Kita kembali ke dermaga pribadi detik ini juga. Hubungi desainer terbaik di kota, bilang ke mereka kalau Amora Gayana Klan butuh gaun yang paling cantik untuk menghancurkan pesta malam ini."

Kapal pesiar mewah itu pun segera berputar arah, membelah ombak samudera dengan kecepatan penuh menuju daratan. Di bawah siraman sinar matahari pagi yang mulai membasuh permukaan laut, Amora dan Hamdan berdiri berdampingan di anjungan kapal.

To be continued...

1
Wawan
Salam kenal buat Amora 😍
Yu
Semangat!
Yu
Luarbiasa
Rabi Salim
Semangat author nulisnya!!!!
Iki Riat
Lanjut kak. Semangat nulisnya!!
Tisa
Asyiknya... 🤩🤩
Naura
Hamdan 😍
Andy Rajasa
kelanjutannya mana?
Salma.Z: ditunggu aja kak
total 1 replies
Guntur
Cinta yang posesif
Reni
Semangat kak!! lanjutkan ceritanya...
Nayla
Berdebar-debar saat membaca. Cerita yang menggebu-gebu.
Hana Unil
Next...lanjut
Hana Unil
Hmmm...
Hana Unil
Lanjut kak..lanjut🙏
Rara Lani
Ceritanya bagus hanya saja masih sedikit peminatnya. Tetap semangat author. Lanjutkan!
Salma.Z: Terima kasih
total 1 replies
Sari
Semangat!! Lanjutkan!
Ika Yani
Cinta yang dramatis...
Cantika
Alurnya bikin gemes🤭
Andy Rajasa
Amora dan Hamdan punya chemistry yang bisa buat diriku meleleh 😍
udin sini
Cintanya mewah, tapi lukanya lebih mahal. Semoga saja happy ending.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!