Bercerita mengenai Alisya dan semua sahabatnya, berjuang melawan para zombie yang tiba-tiba saja menggegerkan kampus mereka, mereka berhasil keluar dari kampus tapi tidak sedikit pula yang menjadi monster itu (zombie). Apakah kami bisa menemukan tempat yang aman, melewati setiap rintangan dan juga konflik asmara? Penasaran dengan cerita selanjutnya. Ayo ikuti terus novelku yang berjudul "A World Full Of Zombies" 😄👍
Dan dukung aku dengan cara LIKE, VOTE dan FOLLOW ya teman-teman 😊
Terimakasih 😊👍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon umi Dila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Belajar Menggunakan Pistol HK USP Tactical 45 Suppressed.
Ketika aku sudah berada di depan tenda Fadli terlihat dia sedang duduk didalam tenda sambil mengutak-atik pistol.
"Apa yang sedang kau lakukan?" sahutku yang masih berdiri didepan pintu tendanya.
Fadli berhenti mengutak-atik pistol dan melihat kearah ku sambil tersenyum manis, "ayo masuk, Alisya." Aku pun masuk kedalam tenda dan duduk di depannya sambil meletakkan nampan yang berisikan 2 piring lengkap dengan makanannya.
"Apa yang kau lakukan?" tanyaku lagi sambil memegang pistol yang sudah di utak-atik.
"Aku hanya belajar mengutak-atik pistol, oya apakah ini untukku?" ucap Fadli yang meraih piring berada di depanku.
"Iya," jawabku singkat, terlihat pipinya sangat dekat dengan wajahku.
Fadli mengambil 2 piring dan memberikan 1 untukku sambil tersenyum manis, "ayok kita makan." Aku membalas senyumannya dan meraih piring dari tangannya.
Terlihat Fadli menikmati makanannya dengan sangat lahapnya dan aku melihat mor, peluru, dan barang-barang lainya yang berserakan dihadapan kami. Dulu ketika bermain game online aku paling suka membunuh zombie menggunakan pistol dan senjata api lainnya, sepertinya kalau aku menggunakan senjata itu didunia nyata tentu terasa lebih seru lagi.
Aku akan meminta Fadli untuk mengajariku menggunakan pistol. Batinku.
Aku melihat kearah Fadli yang sedang menghabiskan sarapan paginya dan berkata, "sepertinya mengunakan pistol untuk membunuh zombie itu sangatlah seru, aku ingin belajar memakainya. Apakah kau mau mengajariku, Fadli?"
Fadli melihat ke arahku dan berkata, "baiklah, aku akan menjadi gurumu dan mengajarimu sampai kau mahir."
Mendengar perkataan Fadli membuatku sangat bergembira dan berkata, "benarkah kau akan mengajariku?" Fadli melihatku dan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Aku langsung bersemangat dan memakan makanan ku dengan sangat lahapnya, senyuman tidak lepas dari bibir.
Fadli yang mengetahui kegembiraanku langsung berkata, "persiapkanlah dirimu, Alisya. Besok kita akan belajar menembak."
Aku melihat kearah Fadli sambil tersenyum manis dan terlihat dibelakangnya terdapat senjata api M-16 Assault Rifle, dan itu adalah salah satu senjata favoritku.
Dengan mulut yang masih penuh oleh makanan aku terus berbicara kepada Fadli dengan serius, "apakah itu senjata api M-16 Assault Rifle? Aku ingin sekali menggunakannya, kau harus mengajariku ya."
Terdengar suara tawa kecil dari Fadli dan aku langsung melihat kearahnya dengan keheranan, Fadli memberikan isyarat kepadaku sambil melihat kearah bibirku, aku semakin tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi. Fadli tersenyum manis dan mulai mendekati ku sedangkan tangan kanannya menyentuh lembut bibirku, terlihat tatapan penuh kasih sayang dan sentuhan hangat membuatku menjadi deg-degan ketika berada didekatnya.
"Sudah, nodanya sudah hilang," ucapnya yang masih menyentuh bibirku.
Mendengar perkataan Fadli membuatku mengingat mengenai Nia yang sangat memperdulikan Fikri disaat itu, terlihat mereka berdua saling memandang satu sama lain dan terhanyut didalam tatapan masing-masing itu sangat membuat hatiku terluka.
Ada apa denganku, apa yang sedang aku pikirkan saat ini. Batinku sedih.
Tidak terasa tiba-tiba saja air mataku mengalir dan mengenai tangan Fadli, "mengapa kau menangis, Alisya. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Fadli dengan keheranan.
Suara Fadli telah membuyarkan lamunanku, aku melihat kearahnya dan berkata, "tidak ada apa-apa. Aku hanya bahagia karena kau ada disini bersamaku."
Maafkan aku Fadli, aku tidak mengatakan sejujurnya. Lagi pula itu bukanlah sesuatu hal yang penting. Batinku.
Fadli tersenyum sambil menghapus air mataku, kami berdua saling memandang satu sama lain tanpa menoleh sedikitpun hingga akhirnya tatapan kami semakin dalam.
Terlihat sepasang mata yang bening dan wajah mulai memerah padam, kini kedua tangannya menyentuh pipiku dengan lembutnya sehingga wajahnya pun semakin mendekatiku hingga aku bisa merasakan deru nafasnya yang hangat menerpa kulit wajahku.
Seketika aku bisa merasakan panas yang menjalar di area pipiku disetai jantung yang berdetak kencang.
Ada apa ini, mengapa jantungku berdetak sangat kencang?. Batinku.
Kini wajahnya pun semakin mendekat dan mulai menutup mata, tanpa terasa akupun terhanyut didalam tatapannya dan mulai menutup mata sambil menunggu kehangatan itu tiba.
Tapi di tengah-tengah hasrat ini aku mengingat dengan keputusan yang telahku ambil di waktu itu, dengan sangat cepat tanganku menyentuh dadanya sambil berkata, "aku haus." Terasa jatung Fadli berdetak kencang dan aku mulai membuka mata dengan sangat perlahan, ternyata jarak kami sudah sangat dekat sekitar 5 cm.
Dan dengan perlahan Fadli mulai menjauh dariku duduk ditempat sebelumnya sambil melihat sekeliling untuk mencari dimana dia meletakan botol minumannya dan berkata, "dimana botol minumannya kayaknya aku meletakkan disekitar sini, deh." Fadli terus mencari botol minumannya, melihat kekanan dan kekiri tanpa menoleh kebelakang, padahal botol minum itu ada tepat dibelakangnya, aku yang menyadari hal itu hanya tersenyum melihatnya tanpa berbicara satu katapun.
Ternyata kebiasaannya tidak berubah sedikitpun, dari dulu Fadli akan seperti ini kalau sedang deg-degan padahal barang yang dicarinya berada didekatnya. Batinku.
Aku jadi tidak tega melihat Fadli menjadi kebingungan seperti itu dengan senyuman yang masih melekat di bibirku aku berkata sambil menunjuk kearah belakangnnya, "Fadli, botol minumannya ada di belakangmu."
"Dimana, aku tidak melihatnya?" jawabnya polos dan melihat ke arahku.
"Itu, diantara tas ransel dan selimut tebal," jelas ku kepadanya sambil bangkit dari tempat dudukku dan mulai berjalan kearahnya, tapi langkahku tiba-tiba saja terpeleset gara-gara menginjak barang-barang yang masih berserakan di tengah-tengah kami, dan Bruk...!! Aku terjatuh kearah Fadli dan kami tergeletak di atas ambal.
Aneh, mengapa aku tidak merasa sakit padahal telah terjatuh gara-gara menginjak barang-barang yang masih berserakan di tengah-tengah kami. Batinku heran.
Dengan mata yang masih terpejam aku merasakan nafas yang beradu dengan nafasku dan daging yang empuk juga lembab berada di bibirku, aku pun membuka mata secara perlahan dan terlihat sepasang mata berada di hadapanku tanpa jarak sedikitpun yang menatapku dengan penuh cinta, kini aku dan Fadli telah berciuman tanpa tidak di sengaja.
Jantungku berdetak sangat cepat, aliran darah di tubuhku seakan mendidih, dan rasanya mataku ingin copot ketika melihat sepasang mata itu terlalu dekat dengan pandanganku. Dengan sangat cepat aku bangkit dari atas tubuh Fadli dan duduk ditempat sebelumnya dan termasuk dengan Fadli, dia duduk kembali ditempat duduk sebelumnya.
Kami berdua tersipu malu ketika sesekali melirik satu sama lain sambil tersenyum, aku meremas tanganku yang masih bergetar dan terasa dingin.
Fadli mengambil botol minuman dan menyodorkan kearahku sambil berkata dengan suara lembut, "ini minumnya, Alisya."
Aku meraih botol minuman dari tangan Fadli dan berkata, "terimakasih, Fadli."
Kami berdua tiada henti-hentinya melirik satu sama lain dan terseyum manis.
"Aku, pergi dulu ya. Ibu, sudah menungguku di pos dapur." Ucapku yang tersipu malu.
"Baiklah. Besok jangan lupa ya, Alisya." Jawab Fadli yang tersenyum ke arahku, aku membalas senyumannya dan keluar dari tenda.
Sepanjang perjalanan menuju pos dapur bibirku tiada henti-hentinya tersenyum mengingat kejadian barusan dan melewati setiap tenda yang ada, dan menyapa setiap orang yang ku lewati.
Sesampainya di pos dapur terlihat Nita, Indah, Nasywa, dan Nia, yang sedang menyusun makanan dengan anggota petugas pos dapur lainya. Aku menghampiri ke-empat sahabatku yang sedang merapikan dan mencatat stok kebutuhan yang sudah terpakai dan yang masih ada sambil menyapa mereka, "Hay, we..."
Mereka melihatku sambil berkata, "Hay, Alisya." Aku berdiri diantara mereka sambil ikut menyusun ikan kaleng di rak.
* * *
Dimalam hari yang senyap tanpa terdengar suara apapun karena kami semua sudah masuk kedalam tenda masing-masing, didalam tenda aku dan ibu hanya diam dan asyik mengerjakan aktivitas masing-masing terlihat ibu sedang melihat catatan stok kebutuhan yang duduk didekat ku, sedangkan aku lagi memegang senjata tajam (pisau gerigi) sambil merebahkan tubuh di atas selimut tebal.
Aku melirik ibu yang masih sibuk melihat catatan stok kebutuhan dan berkata, "ibu, kalau Alisya belajar menembak boleh ngak Bu?"
Ibu masih melihat catatan dan berkata, "boleh, malahan itu sangat bagus. Emang adek mau belajar sama siapa?"
Aku bangkit dan duduk di atas selimut tebal sambil berkata lagi, "sama, Fadli. Boleh Bu?"
Ibu mengambil pulpen dan mulai mencatat sambil berkata, "boleh dong, tapi ingat jangan jauh-jauh iya."
"Ibu," ucapku yang mulai canggung.
"Iya, sayang." Jawab ibu melirikku dan melanjutkan pekerjaannya lagi.
Aku meletakkan pisau gerigi itu kedalam kantung tas ransel yang berada di samping ku sambil berkata, "ibu masih ingat, mengenai keputusan yang Alisya ambil untuk mencoba tidak pacaran lagi?" Aku melihat kearah ibu yang sedang menganggukkan kepalanya, "kalau misalnya suatu hari nanti Alisya mau pacaran lagi, apa ibu akan marah?" tanyaku kepada ibu yang semakin canggung.
Ibu menutup bukunya dan melihat kearahku sambil tersenyum, "kenapa, adek bertanyak seperti itu?"
Aku melihat kesana-kemari dan berkata, "Alisya..., Alisya cuma..."
Ibu membelai rambutku dengan kasih sayang sambil berkata, "ibu sangat menghargai keputusan yang adek ambil untuk mencoba tidak pacaran lagi, dan ibu sangat senang dengan keputusan yang adik ambil disaat itu. Karena hal tersebut abang Rasyid pun mengikuti jejak adek untuk tidak lagi pacaran, dia sampai memutuskan pacarnya yang sangat dia cintai dari masa kuliah dulu. Tapi sekiranya nanti adek bakal pacaran lagi, ibu tidak akan marah karena adek sudah berusaha keras sampai sejauh ini. Dan ibu juga tahu apa yang sedang adek rasakan saat ini bingung mau pilih yang mana, karena hati dan pikiran adek berlawanan. Ibu sangat percaya kalau adik bisa mengambil keputusan yang tepat."
Mendengar perkataan ibu membuatku sangat lega dan memeluknya dengan sangat erat sambil berkata, "terimakasih ya, Bu."
Ibu membalas pelukanku sambil mengelus rambutku dan berkata, "emang siapa orangnya, Fikri atau Fadli?"
Aku sangat terkejut mendengar perkataan ibu barusan yang mampu membuatku melepaskan pelukannya, dan berkata dengan sangat gugupnya, "engg--ak, enggak ada kok! Bukan mereka." Sebelumnya didalam tenda tidak terasa panas tapi keringat Ku terus saja bercucuran.
Ibu kok bisa tahu iya?. Batinku menerka-nerka.
Ibu tersenyum melihatku sambil berkata lagi, "tentu dong ibu bisa tahu... Terus bagaimana, Alisya pilih Fikri atau Fadli?"
Aku tersipu malu sambil memeluk ibu dengan sangat erat dan berkata, "ibuu...." Ibu membalas pelukanku sambil tertawa kecil.
* * *
Keesokan Harinya.
Hari ini cuaca sangat mendukung sekali tidak panas dan tidak mendung, hari yang sangat sejuk dan cerah. Aku dan semua sahabat cewekku lagi duduk di bangku memanjang yang terbuat dari kayu, kami bercerita sambil menikmati siang hari sedangkan semua sahabat cowokku masih didalam tenda mereka masing-masing yang lagi beristirahat, anak-anak kecil berlarian kesana-kemari membuat halaman perkemahan menjadi ramai oleh tawa kecil dari mereka, sedangkan yang lain lagi asyik melakukan aktivitas mereka masing-masing.
Walaupun dunia ini sudah dipenuhi oleh wabah zombie tapi kami para cewek tetap membicarakan soal shopping di mall, seperti alat make up, baju, tas, sapatu, dan semua keperluan kami. Walaupun saat-saat itu tidak bisa kami rasakan lagi seperti dulu tapi membicarakannya saja membuat rindu di hati dapat terobati, kami terus tertawa terbahak-bahak walaupun terkadang berdebat soal harga barang tersebut.
"Kau ngak tahu, Dea. Kalau harganya itu adalah 100.000 rb!" ucap Nasywa yang sangat kokoh dengan perkataannya.
"Sok tahu kau, harganya itu 120.000 rb." jawab Dea yang merasa jawabannya betul.
"Ngak loh, bandal kali kau." Balas Nasywa lagi.
Melihat mereka berdua bertekak dan tidak mau mengalah dan merasa benar membuat kami semakin tertawa terbahak-bahak "WKWKWKW." Mereka berdua memang selalu saja bertengkar walaupun itu hanyalah masalah yang sangat sepeleh sekalipun, padahal mereka itu adalah sahabatan sejak SMP sampai kuliah, mungkin saja bertengkaran mereka itu adalah ciri khas dari persahabatan mereka.
Dea.
"Sudah-sudah, kalian jangan bertekak lagi. Jawaban kalian itu sama-sama salah, jawaban yang tepat adalah 130.000 rb untuk satu lipstik." Jelas ku kepada mereka berdua.
"Oalah sudah salah bertekak pula itu," balas Nita sambil tertawa-tawa.
"Emanglah kalian berdua," jawab Intan.
"Mel, bagai mana dengan keadaan mereka semua apa sudah mulai membaik? (petugas pengambilan stok kebutuhan)." tanya Indah kepada Amel.
"Alhamdulillah, luka mereka sudah mengering." Jawab Amel kepada kami semua.
"Aku sudah rindu berkumpul bersama mereka, kapan iya kita bisa bersama lagi?" tanya Nasywa kepada kami semua.
"Kalau lebih bagusnya sih, besok we." Jawab Kirana kepada kami semua.
"Baguslah kalau begitu," jawab Nia kepada kami semua.
Ditengah-tengah perbincangan kami terlihat Fadli berjalan kearah kami yang sedang duduk di bangku kayu yang memanjang dan berdiri diujung meja sambil berkata, "Hay, semuanya?"
"Hay, Fadli." Jawab mereka semua dengan serentak kecuali aku.
"Kalian mau pergi sekarang?" tanya Amel kepada Fadli.
"Iya, Mel." Jawab Fadli sambil tersenyum.
"Ayo kita pergi," ajak Nasywa dengan sangat bersemangat, Dea yang berada dihadapannya dengan cepat lansung menginjak kaki Nasywa, "aduh... Sakit tahu!! Kau kok menginjak kakiku, Dea?" tanya Nasywa kesal, terlihat semua orang pada melihat Nasywa seperti sedang memberi kode.
"Mana ada aku injak kaki kau, kan!!" jawab Dea melihat Nasywa sambil tersenyum dengan merapatkan giginya.
"Oiya... Aku ada urusan, maaf ya aku kayaknya nga bisa ikut deh." Ucap Nasywa sambil tersenyum menahan rasa sakitnya.
"Tapi yang lain bisa, kan?" tanyaku kepada mereka semua.
"Aku mau bantuin mamaku untuk mengecek kondisi mereka, iya kan we?" jelas Kirana kepada mereka semua.
"Iya, iya..." Jawab mereka semua dengan serentak.
"Tapikan, ngak semua dari kalian yang petugas kesehatan!" jelasku kepada mereka semua, terlihat mereka semua saling melihat satu sama lain.
"Tapikan lebih mudah kalau dikerjakan bersama-sama, iyakan we?" jelas Indah kepada mereka semua.
"Iya." Jawab mereka serentak.
"Kalau gitu aku juga ikut membatu saja lah, lagi pula Fadli masih sakit dan butuh istirahat." Balas ku kepada mereka semua.
Amel yang berada didekat Fadli langsung berdiri disampingnya sambil berkata, "kalau Fadli sudah sembuh jadi ngak papa pergi, iya kan Fadli?" Sebelum Fadli berbicara Kirana langsung berkata.
"Sudahlah, Alisya. Ayo kau pergi sana," jelas Kirana sambil menarik tanganku untuk berdiri dari bangku, mereka semua pun ikut membatu Kirana dan membawaku kehadapan Fadli.
"Ayo sana pergi." balas Intan kepadaku.
"Tapi..." Jawabku kepada mereka semua.
"Sudah ngak usah menolak," jawab mereka serentak dan menolak tubuhku kehadapan Fadli, dengan sangat cepat Fadli menangkap tubuku dan melingkarkan tangannya ke pinggangku. "Cie...." Ucap mereka semua dengan serentak, aku yang berada didalam pelukan Fadli pun mendorong tubuhnya pelan.
"Ya uda kami pergi dulu ya," balas Fadli kepada mereka semua sambil tersenyum.
"Oke, hati-hati ya we...." Jawab mereka semua dengan serentak sambil tersenyum manis dan melambaikan tangan.
Aku dan Fadli pun berjalan kearah pepohonan dan akan mencari tempat yang cocok untuk belajar menembak dan jauh dari perkemahan.
Ada apa dengan mereka? Sebelumnya mereka semua sangat bersemangat untuk belajar menembak, tapi sekarang malah membatalkan di detik-detik terakhir. Apa jangan-jangan, mereka lagi mengerjai ku? Awas aja kalain ya...!!. Batinku.
* * *
Setelah berjalan sekitar 15 menit lamanya barulah kami menemukan tempat yang cocok untuk belajar menembak, terlihat tanah yang datar dipenuhi oleh daun-daun mengering berwarna kecoklatan, berdiri di tengah-tengah pepohonan yang tinggi dan rindang, belum lagi terdengar suara burung berkicau, bahkan terasa angin sejuk.
Fadli meletakkan tas ransel yang berisi, cemilan, beberapa botol minuman mineral, dan cat semprot berwarna putih diletakan di atas tanah tepatnya di belakang kami, Fadli pun mengambil pistol HK USP Tactical 45 suppressed dan tidak lupa pula menggunakan peredam suara mengambil didalam tas ranselnya.
Fadli bangkit dari tempatnya dan berdiri disebelah ku sambil menyodorkan pistol HK USP Tactical 45 suppressed, aku mengambilnya dari tangan Fadli. Aku terus memperhatikan pistol tersebut dan terlihat Fadli sedang membuat tanda bulat menggunakan cat semprot berwarna putih di beberapa pohon berjarak 5 meter dari tempatku berada, setelah sudah selesai barulah Fadli berjalan ke arahku dan berhenti tepat di sebelah kananku.
"Baiklah mari kita mulai belajar menembak perhatikan aku terlebih dahulu, oke!" jelas Fadli kepadaku dengan berdiri tegak dan memegang pistol dengan gagahnya.
Fadli membidik kearah pohon yang berjarak 5 meter dari tempat kami berada dan mulai menembak mengenai tengah-tengah bulatan tersebut dengan sangat sempurna.
"Ayo sekarang giliranmu, Alisya." Ajak Fadli yang tersenyum ke arahku, Fadli meletakkan pistolnya kedalam sarung pistol yang berada di paha sebelah kanan.
Aku mulai mengarahkan pistol itu kedepan dan dengan percaya diri kutarik pelatuknya dan akhirnya peluru tidak keluar dari dalam pistol, "ini kok ngak bisa sih, apakau sudah mengisi pelurunya Fadli?" tanyaku yang kebingungan sambil melihat-lihat pistol yang ada di genggamanku.
Fadli tersenyum melihatku dan berkata, "apakah sudah kau kokang terlebih dahulu pistol itu?"
"Oiya, aku sampai lupa karena saking semangatnya." Jawabku yang tertawa kecil, pistol pun mulai ku kokang dan kembali mengarahkan kedepan dengan sangat percaya diri.
Akan ku tembak dibagian tengah bulatan itu dengan sempurna, karena di game online aku sangatlah mahir kalau masalah menembak. Batinku dengan sangat percaya diri.
Dengan senyum yang terus menlekat di bibirku aku menekan pelatuk kearah bulatan di pepohonan dan pelurunya meleset entah kemana, "kok ngak kena sih!" ucapku dengan sangat lemas.
"Kau harus membidiknya dengan sangat fokus dan lihat dibagian arah bidiknya." Jelas Fadli.
Dengan menarik nafas yang sangat kasar aku pun berkata, "tapi aku sudah fokus melihat kearah bulatan itu, tapi mengapa sih pelurunya sampai meleset."
Fadli mengelus kepalaku dengan lembutnya sambil tersenyum manis, aku melihat kearahnya dengan raut wajah kecewa, "kan sudah ku kaatakan, aku akan mengajarimu sampai kau mahir. Jadi tersenyumlah dan tetap semangat itu suatu hal yang biasa untuk penembak pemula, aku pun demikian sering meleset beberapakali tapi aku terus berusaha sampai bisa menembak dengan sempurna." Jelas Fadli yang menyemangati diriku, Fadli mengambil pistol yang ada di genggamanku dan berkata, "kau harus fokus melihat dibagian tiang kecil di ujung pistol ini, bukan pada targetnya."
"Pada tiang kecil ini?" tanyaku yang melihat kearah tiang kecil tersebut dari tangan Fadli.
"Ya sudah aku akan menjelaskan dan menunjukkannya kepadamu secara rinci dan kau harus memperhatikanku, ya." Jelas Fadli kepadaku, aku pun mengangguk pertanda mengiyakan perintahnya. "Terlebih dahulu kau harus mengokangnya, melihat mengunakan satu mata, pistol memiliki pembidik depan dan belakang sedangkan posisi pembidik depan harus berada ditengah diantara dua titik pembidik belakang, fokuskan mata pada pembidik depan walaupun nantinya target terlihat sedikit kabur tapi itu akan menjadi latar belakang dari pembidik, lihat titik sasaran yang akan ditembakkan, konsentrasi lah yang cukup, genggam pistol dan angkat hingga posisinya dekat dengan wajah lengan Kanan harus lurus sedangkan siku kiri sedikit menekuk, jari telunjuk harus berada diluar bagian pengaman pelatuk, tekan pelatuk lurus kebelakan."
Terimakasih ya sudah meluangkan waktunya untuk membaca novel Thor 👍😄, kritik dan saran sangat diperlukan agar Thor lebih semangat lagi up episode terbaru. janagan lupa LIKE, VOTE dan FOLLOW ya teman-teman 😁😉
Terimakasih 😊
dan InsyaAllah, sekarang sudah mulai aktif lagi nulis😁
do'a kan ya... semoga saja Alisya bisa nulis novel yang baik 🙏🥰
boom like untuk karya terbaikmu
semangat trs menulisnya^^
Akan Ku Pantau Selalu Hehee,😉