"Apa salah kalo aku cinta ke mas?" tanya Nerrisha suaranya parau hampir tak terdengar
Nick tertunduk dan menghela nafasnya panjang dan menjawab dengan suara lirih.
"Nerrisha, dengar baik-baik. Jarak diantara kita terpaut jauh. Kamu tahu jurang di depan sana? Itu, anggap saja itu adalah kita..." ucap Nicholas lembut
"Seperti itulah jarak usia diantara kita. Saya gak mau dengar teman-temanmu memanggilmu dengan sebutan sugar babby. Maaf saya gak pantas buat kamu..." ucapnya kemudian yang berlalu begitu saja dari hadapan Nerrisha yang masih berdiri mematung terpaku memandang jurang di seberang sana
*****
Nerrisha dan Nicholas awalnya hanya sebatas saling sapa biasa saja. Namun seiring berjalannya waktu disetiap pertemuan-pertemuan kecil yang terjadi di keluarga Adiwangsa kerap menjadi saksi bisu perasaan keduanya.
Namun usia mereka terpaut 10 tahun jauhnya sehingga Nerrisha kerap disebut teman-temannya dengan sebutan sugar babby.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yogitha Ratnajyoti , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Keberanian
...*Dua minggu kemudian. Gedung Arjuna, Kuningan. Ruang Tunggu HR.*...
Nerrisha duduk tegak di kursi biru. Blazer hitam, celana bahan, flat shoes. Di pangkuannya, map berisi CV, portofolio analisis sistem koperasi kampus, dan sertifikat bootcamp SQL yang ia selesaikan dalam sepuluh hari. Tangannya dingin, tetapi tidak gemetar.
Dari lima lamaran, tiga memanggil wawancara. Hari ini yang pertama. Management Trainee di sebuah perusahaan fintech nasional.
“Saudari Nerrisha Adiwangsa,” panggil petugas HR.
Nerrisha berdiri, menarik napas. Sebelum masuk, ia membuka ponsel. Satu pesan belum dibaca sejak subuh, dari Nicholas.
"Semoga alam semesta memberkatimu. Kamu gak perlu jadi sempurna. Kamu hanya perlu jadi dirimu. Mas tunggu cerita di Taman Suropati Sabtu depan..."
Ia tersenyum, mematikan layar, lalu melangkah masuk.
***********
...*Pada waktu yang sama. Proyek BSD, Site Office.*...
Nicholas menandatangani final handover tahap satu. Direktur klien menjabat tangannya erat.
“Luar biasa, Pak Nicholas. Dua minggu lebih cepat, zero complaint. Theodore Group memang beda...”
Nicholas mengangguk sopan. “Terima kasih, Pak. Ini kerjasama tim...”
Setelah klien pergi, Damar menyodorkan tablet.
“Tuan, email dari Pak Adinatha. Beliau minta laporan progres Nona Nerrisha...”
Nicholas mengernyit. “Papa minta apa?”
“Laporan progres lamaran dan magang, Tuan. Divisi Business Development sudah diminta memantau perusahaan yang Nona lamar. Kalau ada yang menerima, kita akan tawarkan proyek pilot system untuk portofolionya. Tanpa atas nama Tuan...”
Nicholas menatap Damar lama. Dadanya hangat. Tembok itu tidak hanya retak. Ia mulai membukakan pintu, diam-diam.
“Sampaikan ke Papa,” ucap Nicholas pelan,
“Terima kasih. Tapi jangan sampai Nerrisha tahu. Biarkan dia merasa dia dapat karena kemampuannya sendiri...”
Damar mengangguk. “Siap, Tuan.”
*************
...*Malam hari. Rumah Adiwangsa.*...
Nerrisha sampai rumah pukul delapan. Mama Shanty langsung menyambut di ruang makan.
“Bagaimana, Nak?”
Nerrisha melepas blazer, meletakkannya di sandaran kursi.
“User dan HRD senang dengan portofolio. Katanya minggu depan pengumuman. Kalau lolos, langsung offering...”
Pak Chakra keluar dari ruang baca, koran masih di tangan.
“Mereka tanya soal umur?”
Nerrisha mengangguk. “Tanya, Pa. Nerrisha jawab jujur. Lulus umur delapan belas, cumlaude, belum ada pengalaman kerja. Tapi Nerrisha tunjukkan project yang sudah Nerrisha kerjakan di kampus. End-to-end dari analisis sampai testing...”
Pak Chakra duduk. Ia menatap putrinya lama.
“Dan mereka bilang apa?”
“HRDnya bilang, ‘Umur bukan masalah kalau logikanya jalan.’” Nerrisha tersenyum tipis.
“Nerrisha ingat kata Mas Nicholas. Jangan jual umur. Tapi jual lah kemampuanmu...”
Untuk pertama kali, sudut bibir Pak Chakra terangkat. Samar, tetapi nyata.
“Bagus. Kalau begitu buktikan. Jangan cuma di omongan saja...”
Mama Shanty menuang teh untuk suaminya, lalu berbisik, “Anak kita sudah besar, Pa. Dan dia gak besar sendirian...”
Pak Chakra tidak menjawab. Ia hanya menyesap tehnya, menatap drawing tablet yang tergeletak di meja makan. Di layarnya, ada sketsa flow aplikasi keuangan yang sedang Nerrisha rancang untuk latihan.
... ************...
...*Sabtu pagi. Taman Suropati, pukul 07.00.*...
Nerrisha datang membawa tumbler dan satu buku catatan. Nicholas sudah menunggu, dengan dua paper cup kopi dan kantong kertas berisi roti cokelat.
“Selamat pagi, future system analyst,” sapa Nicholas. Lima belas menit mereka masih pegang teguh.
Nerrisha tertawa kecil, duduk. “Belum tentu keterima, Mas...”
“Keterima atau enggak, kamu sudah berani datang saja,” jawab Nicholas.
“Itu point yang terpenting...”
Nerrisha membuka buku catatannya.
“Mas, Nerrisha mau cerita. Tadi user tanya, ‘Kalau dikasih project sulit dan deadline mepet, mau mundur?’ Nerrisha jawab,'Saya sudah biasa begadang tiga hari untuk fixing bug skripsi. Deadline bukan musuh, dia itu seperti sebuah pengingat...’”
Nicholas mengangguk bangga. “Lalu?”
“Usernya ketawa. Katanya, ‘Saya suka jawaban jujur.’” Nerrisha menutup bukunya.
“Mas, terima kasih. Karena Mas, Nerrisha berani jujur tanpa takut dianggap kecil...”
Nicholas tidak menyentuh tangan Nerrisha. Ia hanya menyodorkan roti cokelat.
“Makan. Otak butuh gula setelah dipakai berpikir...”
Mereka menghabiskan lima belas menit dengan cerita tentang ERD, user requirement, dan bagaimana Pak Chakra akhirnya bertanya, “Kapan pengumumannya?”
Saat berpisah, Nerrisha berbisik, “Mas, tembok di rumah Nerrisha sudah gak setinggi dulu lagi. Papa mulai tanya, bukan ngelarang...”
Nicholas tersenyum. “Dan tembok di rumah Mas, sudah diam-diam mengirim proyek untuk portofolio calon trainee bernama Nerrisha Aurelia Adiwangsa...”
Nerrisha terbelalak. “Mas! Katanya jangan—”
“Sst...” Nicholas meletakkan jari di bibirnya sendiri.
“Mas juga baru tahu. Dan Mas minta mereka rahasiakan. Jadi anggap saja rezeki dari Tuhan. Tugas Risha hanya satu: kerjakan dengan baik kalau nanti datang...”
Nerrisha menahan air mata. “Baik, Mas...”
... **********...
...*Senin pagi. Email masuk.*...
Subject: Offering Management Trainee IT Business Analyst
Kepada Yth. Saudari Nerrisha Aurelia Adiwangsa, S.Kom.
Selamat. Anda diterima...
Nerrisha membaca email itu tiga kali. Tangannya gemetar. Ia menoleh ke bingkai ijazah di dinding kamar, lalu ke drawing tablet pemberian Nicholas.
Ia mengambil ponsel, mengetik: "[Mas, Nerrisha keterima...]"
Balasan langsung masuk: "[Syukurlah. Mas bangga. Taman Suropati Sabtu depan, cerita lengkapnya. Sekarang traktir Mama Shanty dan Pak Chakra makan siang. Itu prioritas...]"
Nerrisha tertawa, air matanya jatuh. Ia berlari ke ruang tengah.
“Pa, Ma! Nerrisha keterima!”
Mama Shanty memeluknya erat. Pak Chakra berdiri, menatap putrinya. Ia tidak memeluk. Ia hanya menepuk bahu Nerrisha, satu kali, berat dan tulus.
“Bagus,” katanya dengan suara yang bergetar.
“Jangan kecewakan orang yang sudah percaya sama kamu. Termasuk…yang menunggu kamu di taman setiap Sabtu pagi...”
Untuk pertama kali, nama Nicholas tidak disebut dengan nada keberatan.
Di luar, langit Bintaro cerah. Jembatan itu belum selesai. Tetapi bata-bata kejujuran, kerja keras, dan kesabaran telah tersusun rapi. Dan dua tembok di kedua sisi, kini mulai menurunkan egonya, batu demi batu.
...*Hari pertama kerja. Gedung Sinergi Fintech, lantai 21.*...
Nerrisha turun dari lift tepat pukul 07.45 wib. Blazer navy, celana bahan hitam, sling bag cokelat, dan ID card yang masih kosong fotonya. Di tangannya, tumbler merah berisi kopi hitam dari Mama Shanty.
Ruang kerja terbuka. Deretan meja, dual monitor, dan papan sprint yang penuh sticky notes. Ia ditempatkan di tim Business Analyst bersama dua MT lain dan satu Lead bernama Kak Rania.
“Selamat datang, Nerisha,” sapa Kak Rania ramah.
Perempuan tiga puluh tahun itu tersenyum ramah. “Langsung ya. Project kita minggu ini: revamp alur on boarding nasabah. Kamu pegang requirement gathering dari tim Compliance. Bisa?”
Nerrisha mengangguk. Jantungnya berdebar, namun suaranya tegas. “Siap, Kak.”
Pukul sepuluh, ponselnya bergetar. Pesan dari Nicholas.
"[Bagaimana hari pertama? Jangan lupa makan siang. Mas gak boleh telepon kamu pas jam kerja, jadi Mas titip lewat chat ini saja...]"
Nerrisha tersenyum, membalas singkat saat break: "[Nervous, tapi seru, Mas. Usernya galak-galak, tapi baik. Doakan Nerrisha ya...]"
...**********...
...*Malam hari. Ruang makan Adiwangsa.*...
Pak Chakra pulang lebih cepat. Di meja sudah tersedia ayam bumbu rujak buatan Mama Shanty.
Nerrisha datang dari kamar, masih mengenakan pajamas dan rambut diikat asal. Wajahnya lelah, namun matanya hidup.
“Duduk,” kata Pak Chakra. Ia tidak biasa menunggu di meja makan.
Nerrisha duduk, sedikit gugup.
"Maaf, Pa. Nerrisha baru selesai summary hasil interview dengan tim Compliance. Besok mau dipresentasikan...”
Pak Chakra menyendok nasi untuk dirinya sendiri, lalu menunjuk piring Nerrisha.
“Makan dulu. Kerja itu penting. Makan juga penting...”
Mama Shanty menahan senyum. Sudah seminggu ini suaminya bertanya setiap malam, “Anak itu pulang jam berapa?”
“Nerrisha,” Pak Chakra membuka suara setelah beberapa suap.
“Tadi Mama cerita, kamu gak cerita soal dia lagi...”
Sendok Nerrisha berhenti di udara tiba-tiba. “Dia…Mas Nicholas, Pa?”
Pak Chakra mengangguk. “Iya. Kalian masih ke taman itu?”
“Setiap Sabtu, Pa. Lima belas menit. Enggak lebih.” Nerrisha menatap ayahnya, jujur.
“Mas Nicholas yang minta begitu. Katanya, biar Nerrisha fokus kerja dulu...”
Pak Chakra terdiam. Lalu ia berkata, “Besok Sabtu, ajak dia makan siang di sini. Mama kamu mau masak khusus. Papa mau tanya langsung, kenapa dia betah menunggu anak ingusan yang baru kerja seminggu ini...”
Mama Shanty terbelalak. Nerrisha hampir menjatuhkan sendok.
“Pa…serius?”
“Papa gak pernah main-main kalau soal makan siang,” jawab Pak Chakra datar. Namun sudut matanya melunak.
“Sampaikan saja. Kalau dia berani datang, berarti dia memang laki-laki sejati. Kalau tidak, selesai sudah riwayat dia...”
...********...
...*Sabtu pagi. Taman Suropati, pukul 07.00.*...
Nerrisha datang lebih cepat lima menit. Wajahnya cerah, tetapi tegang.
Nicholas sudah menunggu dengan dua paper cup kopi. Ia melihat raut itu, langsung bertanya, “Ada apa?”
Nerrisha menggigit bibir bawahnya.
“Mas…Papa ngundang Mas makan siang di rumah. Hari ini. Jam dua belas nanti...”
Nicholas terdiam. Kopi di tangannya tidak diminum. Lima belas menit mereka habis hanya untuk saling menatap.
“Papa bilang apa?” tanyanya akhirnya.
“Papa mau tanya kenapa Mas betah menunggu Nerrisha.” Nerrisha menunduk.
"Mas takut?”
Nicholas meletakkan kopinya, lalu tertawa kecil. Bukan tawa mengejek, tawa lega.
“Takut? Mas sudah setahun menyiapkan jawaban untuk pertanyaan itu, Ner. Sejak malam di Karang Bolong...”
Ia berdiri, merapikan kemejanya. “Pulang. Ganti baju. Mas jemput jam sebelas. Kita hadapi bersama...”
Nerrisha ikut berdiri. “Mas enggak marah aku baru bilang sekarang?”
“Marah?” Nicholas menggeleng. Ia menatap Nerrisha lemas.
“Mas justru berterima kasih. Sebab undangan itu artinya tembok Papa kamu sudah berubah jadi pintu. Tinggal Mas yang harus pantas untuk mengetuknya dengan sopan...”
...********...
...*Pukul 12.00. Kediaman Keluarga Adiwangsa.*...
Nicholas datang mengenakan batik lengan panjang berwarna indigo. Rambutnya rapi, sepatunya bersih. Di tangannya, ia membawa satu keranjang buah dan satu kotak kue brownies buatan mama Ningrum.
Mama Shanty membukakan pintu. “Masuk, Nak Nicholas...”
Di ruang makan, Pak Chakra sudah duduk di kepala meja. Tidak ada koran. Tidak ada wajah dingin lagi. Hanya tatap mata seorang ayah yang ingin tahu banyak hal.
Nicholas menyalami Pak Chakra, lalu Mama Shanty. Ia duduk dengan punggung tegak.
Makan siang berjalan hening selama sepuluh menit. Hanya suara sendok dan piring.
Setelah teh melati disajikan, Pak Chakra meletakkan cangkirnya. “Nicholas...”
“Ya, Om,” jawab Nicholas tenang.
“Seminggu lalu anak saya pulang kerja jam delapan malam. Matanya merah, tapi dia senyum. Katanya, ‘Usernya galak, Pa, tapi Nerrisha bisa jawab.’” Pak Chakra menatap Nicholas tajam. “Kamu yang ajari dia begitu?”
“Saya tidak mengajarinya, Om,” jawab Nicholas.
“Saya hanya mengingatkan bahwa cumlaude tidak ada artinya kalau tidak berani bicara. Selebihnya, Nerrisha yang berjuang sendiri...”
Pak Chakra bersandar. “Lalu kenapa kamu masih di sini? Kamu sudah tiga puluh enam tahun. Banyak perempuan seumuran, sudah bekerja, tidak perlu kamu tunggu sampai Nerisha sukses...”
Nicholas menaruh kedua tangan di atas meja, terbuka.
“Sebab saya tidak mencari perempuan yang tidak perlu saya tunggu, Om. Saya mencari perempuan yang membuat saya ingin menunggu, bahkan sampai berapa puluh abad lagi sekalipun...”
Ruangan hening. Mama Shanty menahan napas. Nerrisha meremas ujung dressnya di bawah meja.
“Saya keluar dari seminari karena saya tahu saya tidak dipanggil untuk hidup tanpa cinta,” lanjut Nicholas. Suaranya pelan, tetapi jelas.
“Tapi satu tahun di sana mengajari saya, cinta yang benar itu sabar, tidak memaksa, dan tidak mengambil sebelum waktunya. Nerrisha baru mulai bekerja. Dunianya baru dibuka. Saya tidak akan menjadi orang yang menutupnya kembali...”
Pak Chakra menatap Nicholas lama. Lalu ia menoleh pada Nerrisha. “Kamu dengar itu, Ner?”
Nerrisha mengangguk, matanya berkaca. “Dengar, Pa...”
Pak Chakra menghela napas. Ia mengambil potongan brownies, memakannya setengah, lalu berkata, “Kalau begitu, tuntaskan dulu traineemu satu tahun. Buktikan omonganmu hari ini bukan sekadar manis di meja makan. Setelah itu, baru datang lagi ke rumah ini. Bawa Papa kamu sekalian. Kita bicara sebagai kepala keluarga...”
Nicholas berdiri, menunduk dalam. “Terima kasih, Om. Saya pegang kata-kata Om...”
Pak Chakra melambaikan tangan. “Sudah. Habiskan browniesnya. Mamamu Ningrum memang jago bikin kue sejak dulu...” pujinya
...********...
...*Sore hari. Mobil Nicholas, di depan gerbang mansion Adiwangsa.*...
Nerrisha belum mau turun. “Mas…”
Nicholas memutar tubuh, menatapnya. “Ya?”
“Papa gak bilang iya. Tapi Papa juga gak bilang tidak.” Nerrisha tersenyum, air matanya jatuh.
“Ini pertama kali Papa bicara ‘setelah itu’ untuk kita...”
Nicholas menghapus air mata itu dengan ibu jarinya. “Itu karena kamu hebat, Ner. Bukan karena Mas...”
“Karena kita, Mas.” Nerrisha menggenggam tangan Nicholas sebentar, lalu melepasnya.
“Satu tahun. Nerrisha janji gak akan sia-siakan...”
Nicholas mengangguk. “Dan Mas janji, satu tahun dari sekarang, Mas akan datang dengan Papa mas. Tidak dengan tangan kosong. Tapi dengan kepala tegak...”
Mobil melaju meninggalkan gerbang. Di teras, Pak Chakra masih berdiri, menatap punggung mobil itu sampai hilang di tikungan.
Mama Shanty mendekat, menyandarkan kepala di bahu suaminya. “Temboknya sudah jadi pintu, Pa?”
Pak Chakra mengangguk. “Iya. Tapi pintunya masih papa yang pegang kunci. Biar dia buktikan dulu, dia pantas kita beri anak kuncinya atau tidak...”
Di jalanan Jakarta, dua manusia yang terpaut sepuluh tahun tidak lagi berjalan di tempat. Mereka melangkah, pelan, pasti, menuju satu tahun yang akan menentukan. Apakah jembatan itu benar-benar berdiri dengan kokoh, atau hanya angan yang kemudian roboh sebelum sampai.
BERSAMBUNG!!! ⭐🌟🌠
Lanjut thor penasaran jadinya bakal gimana nasib si nerris