NovelToon NovelToon
Ratu dari Empat Bintang

Ratu dari Empat Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Satu wanita banyak pria
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Felicia Winarko bukan gadis biasa.

Di kehidupan sebelumnya, dia adalah komandan pangkalan militer di dunia pasca-apokalips. Dingin, kalkulatif, dan tidak kenal takut.

Sekarang? Dia terbangun di dunia komik Mary Sue sebagai yatim piatu yang dibully di sekolah elit paling bergengsi.

Misinya: Buat empat pewaris konglomerat jatuh cinta padanya — cinta sejati, bukan sekadar tertarik.

Nathan Salim, sang ketua OSIS yang sempurna di luar tapi rapuh di dalam.
Calvin Tanuwijaya, pelukis jenius yang memanggilnya "Ci" dengan tatapan berbahaya.
Jayden Hartono, pewaris temperamental dengan tindik bibir dan hati selembut anak anjing.
Sebastian Widjaja, si jenius germaphobe yang sentuhan Felicia bisa menyembuhkan.

Empat pria. Empat bintang yang harus dinyalakan. Satu perempuan yang menolak memilih.

"Kenapa harus pilih satu? Mereka semua milikku."

Tapi di balik permainan cinta yang dia kendalikan dengan sempurna, dunia ini menyimpan rahasia yang bisa membunuh mereka semua...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 26 - Kamar di Lantai Satu

Untuk pertama kalinya, tugas mudah itu terasa seperti pintu yang kalau dibuka mungkin tidak bisa ditutup lagi.

Sri masih memikirkan kalimat itu ketika iring-iringan mobil keluarga berhenti di halaman depan kediaman Tanuwijaya.

Rumah itu besar dengan cara yang membuat orang lupa suara sendiri. Gerbang tinggi, halaman simetris, lantai marmer yang dipoles sampai memantulkan lampu kristal. Biasanya, ketika keluarga besar pulang, para ART berdiri rapi dan menunduk seperlunya. Hari ini, semua orang berdiri lebih kaku.

Karena gadis di kursi roda itu datang.

Felicia Winarko duduk dengan bahu kiri ditahan penyangga, wajah masih pucat karena obat dan pusing, tetapi matanya melihat rumah besar itu seperti melihat arena kosong. Tidak kagum. Tidak takut. Tidak tersentuh.

Di belakangnya, Nathan membawa berkas medis dan laporan keamanan. Sebastian membawa tas obat yang sudah disusun ulang berdasarkan jam minum. Jayden turun dari mobil seperti masih berharap ada penyerang tambahan. Calvin berjalan paling dekat dengan kursi roda, satu tangan di pegangan, senyumnya lembut tetapi matanya terus memindai wajah para staf.

Hendrick berdiri di ambang pintu utama. "Feli, mulai hari ini kamu tinggal di sini dulu. Keamanan rumah sudah diperketat."

Felicia mengangkat mata. "Aku belum bilang setuju."

Mama Wenny yang berdiri di samping Hendrick menarik napas pelan. "Kamar lantai satu sudah disiapkan. Dekat taman dalam, tidak perlu naik tangga. Kalau kamu tidak nyaman, kita bisa ubah apa pun."

Felicia menatapnya sebentar.

Setidaknya wanita ini belajar lebih cepat daripada suaminya.

"Lihat dulu," kata Felicia.

Calvin mendorong kursi roda masuk.

Di sisi lain halaman, Hana dan Ningrum turun dari mobil berbeda. Mereka tidak diundang sebagai tamu keluarga, tetapi Felicia menyuruh sopir membawa mereka setelah insiden rumah sakit. Keduanya berdiri canggung di antara pot tanaman mahal.

"Kami beneran boleh masuk?" bisik Hana.

"Kalau sudah masuk halaman, jangan pura-pura cuma lewat lagi," jawab Felicia tanpa menoleh.

Hana langsung menutup mulut.

Ningrum memeluk kantong buah yang akhirnya ikut terbawa ke rumah Tanuwijaya. "Kami harus melakukan apa?"

"Kalian punya ponsel."

Keduanya mengangguk.

"Pantau video rumah sakit. Simpan yang asli, catat akun yang memotong konteks, jangan berkomentar pakai emosi."

Hana berkedip. "Itu... tugas?"

"Kamu minta berguna."

Hana menegakkan badan. "Siap."

Ningrum mengangguk begitu serius sampai Jayden tertawa.

"Lucu," katanya. "Pengikut baru dikasih tugas admin."

"Pengikut yang panik saat krisis hanya menambah pekerjaan," kata Felicia. "Mulai dari yang bisa dilakukan."

Ningrum menerima kalimat itu seperti penghargaan.

Sri melihat semuanya dari sisi tangga servis.

Ia tahu kamar lantai satu seharusnya sudah disiapkan. Mama Wenny sendiri memberi instruksi sebelum berangkat ke rumah sakit. Seprai baru, kursi dekat jendela, meja obat, lampu yang bisa diredupkan, kamar mandi tanpa ambang tinggi.

Namun Tante Lina datang satu jam kemudian.

"Kamar lantai dua lebih pantas untuk tamu baru," katanya sambil menatap Sri. "Yang lantai satu terlalu dekat area keluarga inti. Pindahkan barangnya."

Sri tahu itu salah.

Pasien dengan bahu cedera dan gegar ringan tidak seharusnya dipaksa naik turun tangga. Tetapi amplop uang di sakunya terasa panas, dan Tante Lina menatapnya seperti orang yang bisa menghapus pekerjaannya hanya dengan satu telepon.

Jadi Sri memindahkan sebagian barang.

Tidak semua.

Ia meninggalkan meja obat di lantai satu.

Pilihan kecil. Pengecut. Tetapi tetap pilihan.

Ketika rombongan sampai di depan lorong kamar, kepala pelayan berkata, "Kamar tamu di lantai dua sudah siap."

Udara langsung berhenti.

Mama Wenny menoleh. "Lantai dua?"

Hendrick mengerutkan kening. "Saya minta lantai satu."

Kepala pelayan tampak bingung. "Tante Lina memberi instruksi perubahan."

Calvin tertawa pelan. "Cepat sekali."

Jayden mengangkat alis. "Mereka mau pasien gegar ringan naik tangga? Kreatif."

Sebastian berkata datar, "Itu buruk secara medis."

Nathan sudah membuka ponsel. "Saya akan mencatat sebagai upaya mengabaikan instruksi dokter."

Felicia melihat ke arah tangga servis.

Sri menahan napas.

Mata Felicia berhenti tepat padanya.

Tidak mungkin. Sri berdiri di balik setengah dinding, cukup jauh, cukup menunduk. Tetapi gadis itu tetap melihatnya, seolah semua orang di rumah besar ini punya tali yang ujungnya sudah berada di tangan Felicia.

"Kamu," kata Felicia.

Kepala pelayan menoleh ke Sri. "Sri."

Sri melangkah maju dengan kaki dingin. "Iya, Nona."

"Siapa yang memindahkan kamar?"

Kerongkongannya kering. "Saya... menerima instruksi dari Tante Lina."

"Dan kamu tahu instruksi itu salah."

Sri tidak berani mengangkat mata.

"Jawab," kata Felicia.

"Iya."

Satu kata itu cukup membuat kepala pelayan memucat.

Tante Lina tidak ada di ruangan, tetapi bayangannya terasa seperti pintu yang tertutup keras di belakang semua staf.

Felicia bersandar di kursi roda. "Kenapa tetap dilakukan?"

Sri menggenggam ujung celemek. Amplop di sakunya seperti batu.

"Karena saya takut kehilangan pekerjaan."

Tidak ada pembelaan. Tidak ada alasan panjang. Hanya kalimat telanjang.

Felicia menatapnya beberapa detik.

"Lebih baik daripada bohong."

Sri mengangkat mata tanpa sadar.

"Kamar lantai satu masih bisa dipakai?"

"Bisa," jawab Sri cepat. "Saya tidak memindahkan meja obat dan alat mandi. Seprai juga sudah siap. Saya hanya..."

Ia berhenti.

"Setengah patuh," kata Felicia.

Wajah Sri panas. "Iya."

Calvin tersenyum. "Ci, boleh aku marah?"

"Tidak perlu."

Felicia menunjuk lorong lantai satu. "Ke sana."

Kepala pelayan langsung memberi instruksi. Dalam lima menit, seluruh staf bergerak seperti rumah itu baru saja mengingat siapa pemilik napas di dalamnya. Kamar lantai satu dibuka. Seprai putih, tirai tipis menghadap taman dalam, meja obat dekat ranjang, kursi untuk pendamping, bel kecil di sisi tempat tidur.

Felicia memeriksa semua dengan sekali pandang.

"Lumayan."

Mama Wenny terlihat lega, tetapi tidak berlebihan. "Kalau ada yang kurang, bilang."

"Aku akan menyuruh orang."

Hendrick tampak ingin bicara, tetapi Nathan menyerahkan daftar obat sebelum ia sempat masuk ke mode menyesal. "Dosis malam pukul delapan. Dokter meminta pembatasan pengunjung. Saya sarankan hanya dua orang di kamar dalam satu waktu."

Jayden langsung menunjuk dirinya. "Gue satu."

Calvin berkata manis, "Ini rumahku."

Sebastian mengangkat tablet kecil. "Aku yang paling paham pemantauan gejala."

Nathan menutup map. "Aku yang memegang dokumen medis."

Felicia menatap empat pria itu. "Undian tidak berlaku untuk giliran perawat."

Keempatnya diam.

Hana yang berdiri di pintu hampir tertawa, lalu menutup mulut karena ingat statusnya masih trainee.

"Hari ini," kata Felicia, "Nathan urus dokumen. Sebastian urus obat. Calvin urus rumah. Jayden urus orang yang terlalu dekat pintu. Hana dan Ningrum urus video."

Jayden menyeringai. "Akhirnya kerjaan gue jelas."

Ningrum mencatat sungguhan di ponsel.

Hana berbisik, "Kamu catat juga?"

"Biar tidak salah."

Felicia mendengarnya dan membiarkan.

Lima menit kemudian, dua gadis itu duduk di kursi dekat taman dalam dengan ponsel masing-masing. Hana yang tadinya sok santai ternyata cepat membaca pola komentar. Ia menemukan tiga akun anonim yang menyebar potongan video seolah Felicia menyerang Om Charles tanpa sebab.

"Ini akun baru semua," kata Hana, suaranya masih gemetar tetapi jarinya bergerak cepat. "Postingannya cuma tentang kamu."

Ningrum menyimpan tautan asli, tangkapan layar, dan waktu unggah ke folder bersama yang Nathan buat dalam hitungan detik.

"Jangan balas," kata Nathan tanpa menoleh dari dokumen.

"Aku tahu," jawab Hana, lalu menambahkan lebih pelan, "Sekarang tahu."

Ningrum mengirim file pertama ke Nathan dan Sebastian. "Aku juga menemukan video lengkap dari sisi lobi. Ada penyerang yang mengeluarkan pisau dulu."

Sebastian memeriksa. "Berguna."

Satu kata dari Sebastian membuat Ningrum hampir menjatuhkan ponsel.

Felicia menatap mereka dari ranjang. Hana mencoba terlihat biasa saja, tetapi punggungnya lebih tegak. Ningrum duduk seperti petugas administrasi yang baru dilantik.

Ternyata beberapa orang memang cukup diberi pekerjaan agar berhenti menjadi beban.

Sri berdiri di samping lemari, memegang nampan air hangat. Ia seharusnya keluar setelah meletakkan nampan. Namun ketika melihat Sebastian menyusun obat, ia teringat pesan kedua dari Tante Lina yang belum ia buka di ponsel: perhatikan obatnya.

Perut Sri terasa jatuh.

Felicia melihat bayangan wajahnya di cermin lemari. "Ada lagi?"

Sri hampir menjatuhkan nampan.

"Nona..."

"Felicia," potong Felicia.

Sri menelan ludah. "Felicia. Kalau nanti ada minuman atau obat yang dikirim dari dapur utama tanpa lewat Tuan Sebastian, sebaiknya jangan diminum."

Ruangan itu langsung sunyi.

Sebastian menoleh sangat pelan.

Nathan menurunkan map.

Jayden berkata, "Siapa yang nyuruh?"

Sri menggeleng cepat. "Saya belum tahu akan dikirim apa. Saya hanya... tadi ada pesan. Saya belum membukanya. Tapi saya tahu arahnya."

Felicia menatapnya.

Sri mengambil amplop uang dari saku celemek dan meletakkannya di meja.

"Saya terima ini," katanya dengan suara hampir habis. "Tapi saya belum melakukan semuanya."

Nathan langsung memotret amplop tanpa menyentuhnya. Sebastian mengambil sarung tangan tipis dari tas obat dan meletakkannya di samping meja.

"Jangan dibuka dulu," kata Sebastian. "Kalau nanti perlu, sidik jari dan jumlah uangnya dicatat."

Jayden tertawa tanpa humor. "Rumah ini seru juga. Baru masuk udah ada hadiah racun."

Calvin tersenyum kecil. "Selamat datang di keluarga besar, Ci."

Felicia memandang amplop itu, lalu kembali ke Sri.

"Belum," ulangnya. "Kata yang menarik."

Sri menunduk dalam.

Di ponsel Sri, pesan Tante Lina akhirnya muncul di layar yang masih menyala.

Malam ini, campurkan saja ke susu hangatnya. Tidak perlu banyak. Cukup buat dia terlihat tidak stabil.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!