Namanya Felicia. Hidupnya biasa-biasa saja — sampai dia terbangun di tubuh orang lain, di sebuah mansion yang lebih besar dari kampusnya, dengan cincin pernikahan di jari manisnya.
Suaminya? Kevin Surya — pewaris nomor tiga Surya Group, salah satu konglomerat terbesar di Indonesia. Wajah tampan yang tersembunyi di balik bekas luka. Tatapan sedingin freezer. Mulut yang tidak pernah mengucapkan lebih dari dua kalimat sekaligus.
Pernikahan mereka adalah kontrak. Tiga tahun. Tidak ada cinta, tidak ada harapan, tidak ada masa depan.
Tapi Felicia punya senjata rahasia — Sistem Kepo, AI misterius yang bersarang di otaknya dan memberinya informasi, obat-obatan ajaib, dan misi-misi gila.
Misi utama: Bantu Kevin Surya merebut kendali Surya Group. Deadline: 3 tahun. Gagal = konsekuensi fatal.
Dan Kevin? Dia punya rahasia sendiri.
Dia bisa membaca pikiran Felicia. Setiap. Kata. Yang. Dia. Pikirkan.
Termasuk saat Felicia berpikir:
"Abs-nya... ada berapa ya? Satu, dua, tiga— YA TUHAN DIA LIHAT AKU MENGHITUNG"
"Pasti gay. Pasti. Tidak mungkin cowok setampan ini straight."
"Kalau aku lempar Bola ke dia, dia bakal teriak kayak cewek tidak ya?"
"Kenapa... pelukan cowok ini sehangat ini..."
Di antara intrik mertua jahat (Madam Liem yang ingin menyingkirkan Kevin), adik tiri bermuka dua (Stella yang ingin mencuri segalanya), dan musuh dari luar negeri yang mengincar kehancuran keluarga Surya — Felicia harus bertahan, melawan, dan... jatuh cinta?
Padahal ini cuma kontrak. Kan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31: Charity Gala Dimulai
Kevin memberi Felicia kunci keuangan.
Keesokan malamnya, seluruh Jakarta seolah datang untuk melihat apakah kunci itu pantas berada di tangannya.
Surya Group Charity Gala diadakan di ballroom hotel yang sama megahnya dengan perang keluarga mereka. Tema resminya pendidikan dan masa depan generasi muda. Tema tidak resminya jauh lebih ramai: rumor Felicia, video Brandon, proyek Kevin, dan pertanyaan apakah istri kontrak itu benar-benar sedang menguasai Kevin Surya.
Felicia berdiri di depan cermin The Residence dengan gaun champagne sederhana. Tidak terlalu mencolok, tapi potongannya bersih. Di tangan kanannya, cincin akses dari Kevin berkilau halus. Di meja, tablet financial dashboard sudah masuk tas kecilnya.
Rina duduk di sofa, menatapnya dari atas ke bawah. "Kamu terlihat seperti orang yang bisa menghancurkan seseorang sambil mengucapkan terima kasih."
"Itu pujian?"
"Tentu."
Jason, yang dilarang masuk kamar tapi tetap berdiri di ambang pintu, mengangguk. "Setuju. Vibe-nya lembut tapi berbahaya."
Kevin muncul di belakang Jason. "Kenapa kamu di sini?"
"Memberi dukungan moral."
"Tidak diminta."
"Justru dukungan moral terbaik adalah yang tidak diminta."
Rina melempar bantal kecil. Jason menangkapnya dengan bangga.
Felicia tertawa, lalu melihat Kevin lewat cermin.
Ia memakai setelan hitam, dasi gelap, dan wajah yang lebih dingin dari biasanya. Namun matanya berhenti pada Felicia sedikit lebih lama.
"Berlebihan?" tanya Felicia.
"Tidak."
"Kurang?"
"Tidak."
"Kalau begitu bagus?"
Kevin diam.
Rina langsung berkata, "Dia bilang bagus."
Jason menambahkan, "Dalam bahasa Kevin, dua 'tidak' sama dengan wow."
Kevin menatap mereka berdua. "Keluar."
Mereka keluar sambil tertawa.
Felicia mengambil tasnya. "Mas Kevin gugup?"
"Tidak."
"Wajahmu bilang iya."
Kevin menatapnya.
Felicia tersenyum kecil. "Saya belajar dari yang terbaik."
Di mobil, Adi menjelaskan daftar tamu. Hendrik akan membuka acara. Madam Liem menjadi tuan rumah pendamping. Brandon hadir meski belum pulih sepenuhnya dari viral rooftop. Stella hadir bersama Linda sebagai perwakilan keluarga Santoso. Beberapa media bisnis dan socialite influencers juga diundang.
"Akun anonim masih aktif," kata Adi. "Mereka menunggu momen malam ini."
Felicia menatap keluar jendela. "Bagus. Berarti mereka juga akan melihat jawaban kita."
Kevin menoleh. "Kamu sudah siap?"
"Belum sepenuhnya."
"Bagus."
Felicia meliriknya. "Kenapa kamu selalu bilang bagus kalau saya takut?"
"Karena kamu tetap maju."
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Ballroom sudah penuh ketika mereka tiba. Lampu gantung memantul pada meja bundar, bunga putih, dan backdrop Surya Foundation. Di sisi ruangan ada panggung kecil, layar LED, dan area pameran proposal beasiswa. Setiap detail tampak indah, tapi Felicia bisa merasakan tatapan mengukur di balik senyum para tamu.
"Itu dia."
"Felicia Santoso."
"Yang live skincare itu?"
"Katanya istri kontrak."
"Tapi Kevin gandeng dia."
Kevin memang menawarkan lengannya.
Felicia menatap lengan itu, lalu menatap wajahnya.
"Mas Kevin yakin?"
"Kamu tim Foundation."
"Bukan karena rumor?"
"Karena kamu istriku."
Jawaban itu terlalu tenang.
Dan terlalu keras efeknya pada jantung Felicia.
Ia menyelipkan tangan ke lengan Kevin.
*Baik. Kalau mereka ingin melihat drama, kita kasih mereka postur suami istri paling mahal malam ini.*
Kevin menahan senyum.
Mereka masuk bersama.
Efeknya langsung terasa. Kamera bergerak. Beberapa tamu menoleh. Madam Liem, yang berdiri di dekat Hendrik, menegang sepersekian detik sebelum memasang senyum tuan rumah.
Stella berdiri tidak jauh dari area pameran, memakai gaun biru pucat. Wajahnya lembut, matanya berkabut, sempurna untuk peran adik yang terluka.
Linda menyentuh punggung Stella. "Ingat. Jangan agresif."
Stella mengangguk.
Brandon berdiri di dekat bar mocktail, wajahnya jauh lebih rapi daripada reputasinya. Begitu melihat Felicia menggandeng lengan Kevin, rahangnya mengeras.
Hendrik menyambut mereka. "Felicia, kamu siap untuk bagian Foundation?"
"Siap, Pak Hendrik."
"Bagus. Malam ini banyak mata."
"Saya tahu."
Hendrik menatapnya, lalu berkata lebih pelan, "Jangan biarkan mereka membuatmu kehilangan arah."
Felicia terkejut. "Terima kasih."
Madam Liem mendekat dengan senyum elegan. "Felicia, Mama senang kamu datang. Malam ini acara penting. Jangan sampai isu pribadi mengganggu tujuan amal kita."
"Tentu, Mama. Justru karena penting, saya akan fokus pada anak-anak penerima manfaat."
*Bukan pada nenek sihir yang pakai gaun emerald.*
Kevin menunduk sedikit.
Madam Liem menatapnya sekilas, curiga, tapi tidak menemukan alasan.
Acara dimulai dengan sambutan Hendrik. Ia bicara tentang pendidikan, peluang, dan generasi baru. Setelah itu, MC menjelaskan bahwa malam ini akan ada tiga bagian: showcase program scholarship, charity auction, dan sesi interaktif singkat dari perwakilan keluarga.
Felicia membuka tablet. Ia siap untuk bagian data Foundation.
Namun Stella bergerak lebih dulu.
Saat MC menyebut "perwakilan keluarga muda", Stella mengangkat tangan dengan senyum malu.
"Maaf," katanya lembut. "Karena ini acara amal, Stella ingin mempersembahkan piano singkat untuk membuka hati para donatur. Dulu Kak Cia juga sering bermain musik di rumah. Mungkin setelah itu Kak Cia bisa ikut? Akan indah kalau dua saudari Santoso mendukung pendidikan bersama."
Ballroom langsung berbisik.
Felicia menatap Stella.
Piano.
Ingatan tubuh lama memberi jawaban pahit: Felicia lama pernah belajar, tapi berhenti karena setiap latihan dibandingkan dengan Stella sampai ia takut menyentuh tuts.
*Oh. Jadi ini jebakan manis. Dia ingin aku terlihat kalah di panggung amal.*
Kevin menegang.
Rina yang berada di meja samping hampir berdiri, tapi Jason menahannya.
Madam Liem tersenyum seolah itu ide spontan yang mengharukan.
"Ide yang manis," katanya.
MC, yang jelas tidak siap, melihat ke arah Hendrik. Hendrik menatap Felicia.
Semua mata menunggu.
Felicia menutup tablet perlahan.
Ia tersenyum.
"Tentu, Stella. Untuk pendidikan, saya ikut."
Di kepalanya, Si Kepo langsung bersiul.
***"Host, panggung pertama Charity Gala terbuka."***
Felicia berdiri, masih menggandeng lengan Kevin sebelum melepaskannya.
*Piano boleh. Tapi malam ini, aku tidak akan bermain dengan aturan Stella.*