Nara tak pernah membayangkan hidupnya berubah jauh. Dari gadis yang diremehkan karena nilai akademik, kini ia menjadi istri pria mapan yang usianya terpaut jauh darinya.
Arkan, sosok dingin dan misterius, justru memanjakan Nara tanpa syarat. Namun menikah bukan akhir perjuangan, kelas sosial, tekanan keluarga, dan mimpi Nara yang belum selesai menjadi ujian terbesar.
Apakah Nara hanya akan menjadi istri yang dimanja, atau perempuan yang tetap berdiri dengan mimpinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Setelah negosiasi kecil di kamar hotel, Arkan benar-benar menepati janjinya. Hari ini bukan tentang mengurung diri di balik pintu suite mewah, melainkan tentang membawa Nara keluar, melihat dunia yang dulu hanya bisa Nara saksikan lewat layar ponsel.
Arkan memilih membawa Nara pergi ke Kyoto. Kota yang sering disebut sebagai kota paling romantis di Jepang.
Saat kereta melaju meninggalkan hiruk-pikuk Tokyo, Nara duduk di samping jendela, menatap pemandangan yang berubah perlahan. Bangunan modern berganti dengan rumah-rumah tradisional, pepohonan yang mulai berbunga, dan langit biru yang bersih.
“Ini beneran ya…” gumam Nara pelan.
Arkan menoleh ke arah istrinya, “Apa?” tanya Arkan.
“Aku di Jepang." Nada suara Nara terdengar seperti anak kecil yang baru pertama kali diajak ke taman bermain.
Arkan tersenyum tanpa sadar. Melihat Nara seperti saat ini, jujur, polos, penuh takjub, memberi Arkan kebahagiaan yang sulit dijelaskan.
Sesampainya di Kyoto, mereka berjalan menyusuri distrik tua Gion. Jalanan berbatu, rumah kayu tradisional, dan lentera-lentera yang tergantung rapi menciptakan suasana seperti di dalam drama.
Nara beberapa kali berhenti hanya untuk memotret.
“Cantik banget…” bisik Nara.
Angin musim semi berembus lembut, membuat rambut Nara tergerai sedikit berantakan. Nara tertawa saat hampir terpeleset di jalan batu, dan Arkan refleks menarik tangannya.
“Pelan-pelan,” tegur Arkan lembut.
Nara menatap suaminya sambil tersenyum lebar. “Aku cuma nggak nyangka aja.” kata Nara.
“Kenapa?” tanya Arkan.
“Dulu aku mikir, keluar negeri itu cuma buat orang-orang tertentu. Bukan buat aku.”
Arkan berhenti berjalan. Ia menatap istrinya dengan lebih serius.
“Kamu pantas ada di mana pun kamu mau.”
Kalimat Arkan sederhana. Tapi cukup membuat mata Nara berkaca-kaca.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju tepian Sungai Kamogawa. Airnya jernih, mengalir tenang. Beberapa pasangan duduk berdampingan, menikmati suasana.
Arkan mengajak Nara duduk di tepi sungai. Untuk beberapa menit, mereka hanya diam.
Nara memandangi air yang mengalir, lalu tiba-tiba tertawa kecil sendiri.
“Aku inget waktu kecil,” kata Nara. “Aku pernah bilang ke Ibu, suatu hari aku mau naik pesawat. Ibu cuma ketawa. Katanya, yang penting sekolah dulu yang rajin.”
Arkan ikut tersenyum. “Sekarang bukan cuma naik pesawat,” lanjut Nara pelan, “tapi sampai ke Jepang.”
Nara menoleh pada Arkan. “Kadang aku takut semua ini cuma mimpi.”
Arkan mengangkat tangan Nara, mengecup punggungnya pelan. “Kalau mimpi, jangan bangun.”
Nara tertawa lepas. Tawa itu jernih. Tanpa beban. Tanpa cemas. Melihat hal itu membuat Arkan tenang, bukan tanpa alasan, tapi karena melihat istrinya bahagia.
Mereka lalu berjalan menuju kuil tua dengan gerbang torii merah yang berjajar panjang, Fushimi Inari Taisha. Nara mendongak, menatap deretan gerbang yang seolah tak berujung.
“Kayak lorong waktu,” kata Nara takjub.
Mereka menaiki beberapa anak tangga. Nara sempat terengah, lalu tertawa sendiri karena merasa tidak fit.
Arkan menawarkan berhenti, tapi Nara menggeleng. “Aku mau sampai atas.”
Semangatnya sederhana, tapi nyata. Dan Arkan sadar satu hal, Nara mungkin bukan perempuan yang terbiasa dengan kemewahan. Tapi ia adalah perempuan yang tahu bagaimana menikmati hal kecil dengan sepenuh hati.
Saat matahari mulai condong, cahaya keemasan menyinari kota Kyoto. Mereka berdiri di sebuah jembatan kecil, menghadap langit yang perlahan berubah warna.
Nara bersandar pada bahu Arkan. “Terima kasih,” ucapnya pelan.
“Untuk apa?” tanya Arkan.
“Untuk bawa aku sejauh ini.” jawab Nara.
Arkan menoleh sedikit, menatap wajah Nara yang kini terlihat damai.
“Bukan aku yang bawa kamu ke sini,” jawab Arkan pelan. “Kamu yang bawa dirimu sendiri. Aku cuma nemenin.”
Nara tersenyum, lalu tanpa sadar tertawa lagi karena sekumpulan burung terbang rendah di atas sungai.
Tawa Nara. Arkan menyimpannya dalam-dalam.
Karena di tengah segala intrik yang mungkin menunggu mereka di tanah air, di tengah rencana dan strategi yang ia siapkan menghadapi Karina, momen ini adalah alasan sebenarnya ia menikah. Bukan untuk gengsi. Bukan untuk pencapaian. Tapi untuk melihat perempuan yang Arkan cintai berdiri di negeri asing, menatap langit baru, dan berkata dengan mata berbinar, “Aku nggak pernah nyangka bisa sampai sini.”
Dan Arkan tahu, perjalanan mereka bukan hanya tentang Jepang. Tapi tentang membuktikan bahwa kebahagiaan tidak mengenal asal-usul, selama mereka berjalan berdampingan.
Setelah Kyoto, Arkan belum merasa cukup. Ia menyadari sesuatu selama melihat Nara tertawa di bawah langit kota tua itu, istrinya tidak membutuhkan kemewahan untuk bahagia. Ia hanya butuh pengalaman yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Dan Arkan ingin memberinya lebih. Dari Kyoto, mereka melanjutkan perjalanan ke Osaka.
Berbeda dengan suasana klasik Kyoto, Osaka terasa lebih hidup dan ceria. Lampu-lampu neon di Dotonbori menyala terang saat malam tiba, papan reklame raksasa berkelip warna-warni, dan aroma makanan memenuhi udara.
Nara berdiri terpaku di depan papan ikonik Glico Man yang menyala terang.
“Ini yang sering ada di drama!” seru Nara antusias.
Arkan tertawa melihatnya hampir melompat kecil karena terlalu senang.
Mereka mencoba takoyaki khas Osaka. Kali ini, Nara lebih berani. Ia meniup pelan makanan panas itu sebelum memasukkannya ke mulut.
Ekspresinya berubah. “Enak!” kata Nara dengan mata membulat.
Arkan ikut tersenyum puas. “Akhirnya cocok juga.” kata Arkan yang dari kemarin lidah Nara seperti kurang cocok dengan makanan Jepang.
Arkan dan Nara menikmati malam di Osaka, mereka berjalan tanpa tujuan jelas. Hanya menyusuri sungai, berhenti di toko kecil, masuk ke mesin foto otomatis dan tertawa saat hasilnya terlalu imut untuk ukuran mereka.
Nara bahkan menarik Arkan masuk ke toko pernak-pernik lucu.
“Kita beli ini buat Ibu,” kata Nara sambil mengangkat gantungan kunci berbentuk karakter kartun.
Arkan menurut saja. Selama Nara tersenyum lebar, ia merasa semua biaya, semua tenaga, semua rencana sepadan.
Dari Osaka, Arkan membawa Nara ke Hakone. Kota yang lebih tenang. Dengan pemandangan Gunung Fuji yang berdiri anggun dari kejauhan.
Mereka menginap di ryokan tradisional dengan kamar beralas tatami. Nara tampak kikuk memakai yukata, tapi Arkan membantu merapikannya.
“Kamu cantik,” ucap Arkan pelan.
Nara tersipu. “Bohong.”
“Serius.” jawab Arkan.
Sore hari di Hakone mereka berendam di onsen privat yang menghadap pegunungan. Kabut tipis menggantung di udara, suasana hening, hanya suara alam yang terdengar.
Nara bersandar di tepian kayu, wajahnya terlihat jauh lebih santai dibanding hari pertama mereka tiba di Jepang.
“Aku nggak pernah sebahagia ini,” kata Nara pelan.
Arkan menatap istrinya lama. Arkan tidak menjawab dengan kata-kata.
Hanya mendekat dan menggenggam tangan Nara di bawah air hangat.
Perjalanan itu bukan tentang destinasi lagi. Bukan soal foto atau gengsi. Tapi tentang membangun kenangan yang kelak, saat badai datang, bisa mereka kenang sebagai alasan untuk tetap bertahan.
Malamnya, kembali di kamar ryokan, hujan turun pelan di luar. Lampu redup menciptakan suasana hangat.
Nara duduk bersila di atas futon, menata foto-foto hari itu di ponselnya. Sesekali ia tertawa sendiri melihat ekspresi konyol Arkan di mesin foto Osaka.
Arkan memperhatikannya dari seberang kamar.
“Bagaimana dari kemarin? bahagia?” tanya Arkan pelan.
Nara mengangguk mantap. “Banget.” jawab Nara yang memang bahagia, karena dari ke Kyoto, Arkan benar-benar memanjakan Nara.
Arkan tersenyum tipis. “Kalau gitu,” kata Arkan sambil mendekat perlahan, “sekarang giliranku yang mau dibahagiakan.”
Nara menatap Arkan pura-pura bingung. “Maksudnya?”
Arkan duduk di depan Nara, jarak mereka hanya sejengkal.
“Kamu sudah keliling Jepang. Sekarang…” suara Arkan merendah lembut, “…aku cuma mau kamu.” kata Arkan.
Nada suaranya bukan memaksa. Bukan juga liar. Lebih seperti permintaan hangat dari seorang suami yang mencintai istrinya.
Wajah Nara memerah pelan. Ia terdiam beberapa detik, lalu tersenyum kecil, senyum yang kali ini bukan karena pemandangan indah atau papan reklame neon. Melainkan karena ia tahu, di balik semua perjalanan ini, di balik semua usaha Arkan membuatnya bahagia, ada cinta yang tulus.
Dan malam itu, di bawah suara hujan Jepang yang jatuh pelan, Nara memutuskan untuk membalas cinta suaminya dengan caranya sendiri. Tanpa paksaan. Tanpa keluhan. Hanya dua hati yang sama-sama ingin membahagiakan.