NovelToon NovelToon
Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Teen
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Azalea sangat menyukai novel, terkadang dia selalu ingin mengubah jalan cerita jika alur atau endingnya tidaks sesuai dengan ekspektasinya. Terkadang dia juga ingin masuk ke dunia novel supaya bisa merasakan pengalaman menjadi tokoh utama, apalagi jika tokoh utama yang di deskripsikan di kelilingi oleh pria-pria tampan. Dan keinginan Azalea menjadi kenyataan, seperti sebuah mimpi dia masuk ke dalam salah satu novel yang dia baca. Sayangnya tokoh yang dia perankan adalah gadis cantik yang malang. Akankah Azalea mampu menjalani kehidupan barunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35

Malam itu rumah megah milik keluarga Mahardika kembali terasa sesak bagi Nayla.

Bukan karena banyak orang di dalamnya. Justru sebaliknya, rumah itu terlalu sunyi sampai suara dentingan sendok yang beradu dengan piring saja terdengar begitu jelas. Keheningan di meja makan seperti sesuatu yang memaksa siapa pun untuk berhati-hati saat bernapas.

Nayla duduk di ujung meja dengan kepala sedikit menunduk. Rambut panjangnya yang masih sedikit basah sehabis mandi menutupi sebagian wajah pucatnya. Di hadapannya terdapat makanan mewah yang bahkan tidak disentuh sejak lima menit lalu.

Sedangkan di sisi lain meja, Bagus duduk dengan tatapan tajam yang seperti biasa selalu berhasil membuat suasana makin dingin.

Jevan dan Devan juga ada di sana.

Namun sama seperti biasanya, kedua kakak laki-lakinya memilih diam. Mereka tidak benar-benar membela Nayla, tapi juga tidak sepenuhnya ikut menghancurkannya. Sikap itu justru lebih melelahkan.

Karena diam mereka terasa seperti persetujuan.

“Kamu nggak makan?” tanya Bagus dingin.

Nayla mengangkat wajahnya pelan. “Nggak lapar.”

“Sikap kamu makin hari makin nggak sopan.”

Nayla tersenyum tipis.

Bukan senyum bahagia.

Lebih tepatnya senyum lelah.

Sudah bertahun-tahun dia mencoba menjadi anak yang Bagus inginkan. Menjadi pintar, penurut, tidak membantah, bahkan rela menekan emosinya sendiri. Tapi pada akhirnya apa?

Tetap salah.

Tetap dianggap noda.

Tetap dianggap anak pembawa malu.

“Kalau cuma mau diam dan pasang muka kayak gitu, nggak usah duduk di meja makan,” ujar Bagus lagi.

Nayla mengepalkan tangan di bawah meja.

Sabar.

Dia harus sabar.

Setidaknya sampai semuanya jelas.

Setidaknya sampai Bagus benar-benar menepati janjinya tentang identitas ayah kandungnya.

Karena hanya itu alasan Nayla masih bertahan di rumah ini.

“Maaf,” ucap Nayla lirih.

Bagus mendecih pelan. “Maaf terus. Prestasi kamu mulai turun satu tingkat aja sekarang.”

Nayla yang sejak tadi memainkan sendok akhirnya menoleh. “Pa, Nayla capek. Dari sekolah juga—”

“Saya nggak tanya kamu.”

Kalimat dingin itu langsung membuat Nayla diam kembali. Nayla menunduk lagi. Dadanya terasa sesak. Rumah ini memang tidak pernah memberinya ruang untuk bernapas.

“Papa udah keluar banyak uang buat hidup kamu,” lanjut Bagus tanpa rasa bersalah. “Jangan mulai bertingkah.”

Nayla terkekeh pelan, kalimat itu lucu sekali. Keluar banyak uang?

Padahal selama ini yang mereka lakukan hanya menuntut.

“Kenapa ketawa?” suara Bagus mulai meninggi.

Nayla buru-buru menggeleng. “Nggak kenapa-kenapa.”

“Jangan kurang ajar sama saya.”

Lagi.

Selalu begitu.

Kalau Nayla diam salah.

Kalau bicara salah.

Kalau menangis dianggap drama.

Kalau tertawa dianggap menantang.

Perlahan gadis itu menarik napas panjang lalu berdiri dari kursinya.

“aku udah selesai.”

Baru dua langkah berjalan meninggalkan meja makan, suara Bagus kembali terdengar.

“Nggak sopan.”

Nayla memejamkan mata sesaat.

Biasanya dia akan berhenti lalu meminta maaf.

Biasanya dia akan menahan semuanya.

Tapi malam itu rasanya berbeda.

Dia lelah.

Benar-benar lelah.

Tanpa menjawab apa pun Nayla melanjutkan langkah menuju kamarnya.

Brak!

Pintu kamar tertutup sedikit keras.

Nayla menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang lalu menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.

Sunyi.

Terlalu sunyi.

Tangannya bergerak mengambil ponsel di samping bantal.

Puluhan notifikasi memenuhi layar.

Dan hampir semuanya berasal dari satu nama.

Endra.

Napas Nayla tercekat sesaat.

Cowok itu terus menghubunginya sejak tadi sore.

Pesan terakhirnya bahkan baru masuk lima menit lalu.

Nay, please angkat telepon gue.

Nayla tertawa hambar.

Lucu.

Setelah semua yang terjadi Endra masih berani menghubunginya.

Masih berani bersikap seolah semuanya bisa diperbaiki.

Padahal yang hancur bukan barang. Melainkan hati seseorang. Dan hati yang sudah retak tidak akan pernah kembali utuh.

Tanpa berpikir panjang Nayla memblokir nomor Endra.

Selesai.

Setidaknya malam ini dia tidak mau mendengar apa pun tentang cowok itu. Nayla meletakkan ponselnya kasar lalu memejamkan mata. Namun bukannya tenang, ucapan Bagus tadi justru kembali terngiang.

“Saya hanya nggak mau ada berita buruk tentang keluarga saya.”

“Siapa lagi yang akan saya banggakan prestasinya?”

“Kamu tenang saja, saya juga nggak akan lama-lama nampung kamu di rumah ini.”

Kalimat terakhir itu paling menyakitkan.

Nampung.

Seolah Nayla hanya beban.

Bukan keluarga.

Padahal kalau boleh jujur, Nayla sendiri juga sudah muak tinggal di rumah ini.

Muak dengan tatapan merendahkan.

Muak dengan tuntutan.

Muak dengan semua orang yang seolah menunggunya gagal.

Tapi dia bertahan.

Karena rasa penasaran tentang siapa ayah kandungnya jauh lebih besar daripada harga dirinya sendiri.

Air mata Nayla akhirnya jatuh tanpa izin.

Satu.

Lalu dua.

Dan semakin lama semakin deras.

“Aku capek...” bisiknya lirih.

Namun tidak ada yang mendengar.

---

Keesokan paginya Nayla berangkat sekolah lebih awal dari biasanya.

Dia malas bertemu Bagus lebih lama di rumah.

Udara pagi terasa dingin saat Nayla turun dari mobil.

Beberapa siswa menoleh ketika melihatnya berjalan memasuki gerbang sekolah, tapi Nayla memilih mengabaikan semuanya.

Hari ini dia hanya ingin menjalani sekolah dengan tenang.

Kalau bisa tanpa drama.

Sayangnya harapan memang sering tidak sesuai kenyataan.

Baru saja Nayla membuka loker, suara yang sangat dikenalnya terdengar dari belakang.

“Nayla.”

Tubuh gadis itu menegang sesaat.

Dia tahu suara itu.

Dan dia juga tahu siapa pemiliknya.

Endra.

Nayla memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya menoleh datar.

Cowok itu berdiri beberapa langkah darinya dengan wajah lelah. Rambutnya sedikit berantakan, seolah dia tidak tidur semalaman.

Namun Nayla tidak peduli.

“Apa?” tanyanya dingin.

Endra mendekat perlahan. “Lo ngeblok gue?”

“Harusnya lo bersyukur cuma diblok.”

“Nay—”

“Gue males ribut pagi-pagi.”

Nayla hendak pergi, namun Endra buru-buru menahan lengannya.

Refleks Nayla langsung menarik kasar tangannya.

“Jangan sentuh gue.”

Tatapan Endra berubah terluka.

“Nayla gue cuma mau jelasin.”

“Jelasin apa?” Nayla tertawa sinis. “Kalau lo sebenarnya sayang sama gue tapi tunangan sama cewek lain?”

“Itu nggak kayak yang lo pikir.”

“Bosen, Endra.”

Untuk pertama kalinya Nayla benar-benar terlihat dingin.

Dan itu membuat Endra panik.

Biasanya sekeras apa pun Nayla marah, gadis itu tetap mau mendengarkan.

Tapi sekarang?

Tatapan Nayla kosong.

Seolah perasaannya benar-benar habis.

“Gue nggak ada hubungan apa-apa sama Tamara,” ucap Endra cepat.

“Terus?”

“Papa gue yang maksa.”

Nayla mengangguk pelan.

“Terus?”

Endra terdiam.

Karena memang tidak ada pembelaan lain.

Pada akhirnya dia tetap membiarkan semuanya terjadi.

Dan itu cukup untuk menghancurkan Nayla.

“Kalau lo selesai ngomongnya, minggir.”

“Nayla please.”

“Capek tau nggak sih?” suara Nayla mulai bergetar. “Semua orang nyakitin gue terus. Di rumah gue nggak dianggap, di sekolah gue dihina, sekarang lo juga ikut-ikutan.”

“Nggak, Nay—”

“Lo tahu apa yang paling lucu?” Nayla menatap Endra tajam. “Gue masih berharap lo beda dari mereka.”

Kalimat itu membuat Endra membeku.

Sementara Nayla langsung pergi meninggalkannya.

Dadanya sesak.

Tapi dia tidak boleh menangis di depan Endra.

Tidak lagi.

---

Jam istirahat tiba.

Koridor sekolah mulai ramai oleh siswa yang berjalan menuju kantin.

Nayla yang sejak tadi malas keluar kelas akhirnya memutuskan membeli minuman karena kepalanya mulai pusing.

Dia berjalan sendirian sambil memegangi tali tas.

Namun langkahnya terhenti ketika melihat seseorang berdiri di depan kelas.

Tamara.

Cewek itu menyilangkan tangan sambil menatap Nayla dari atas sampai bawah.

“Akhirnya keluar juga.”

Nayla menghela napas malas.

“Lo lagi?”

Tamara tersenyum miring. “Gue cuma mau ngingetin. Jangan deket-deket Endra lagi.”

“Gue nggak minat.”

“Siapa tahu masih berharap.”

Nayla tertawa kecil.

“Tenang aja. Cowok lo nggak semenarik itu.”

Wajah Tamara langsung berubah kesal.

“Mulut lo dijaga ya.”

“Kalau nggak?”

Tamara melangkah mendekat lalu mendorong bahu Nayla pelan.

“Jangan sok kuat.”

Nayla menatap bahunya sekilas sebelum kembali menatap Tamara datar. Jujur saja, dia sudah terlalu lelah untuk meladeni drama seperti ini.

“Udah selesai?” tanyanya.

“Lo pikir Endra bakal balik sama lo?”

Nayla tersenyum tipis.

“Kok lo yang lebih takut daripada gue?”

Kalimat itu sukses membuat Tamara terdiam sesaat. Dan Nayla memanfaatkan kesempatan itu untuk melangkah pergi.

Namun baru beberapa langkah—

“Dasar cewek nggak tahu diri!”

Bruk!

Dorongan keras dari belakang membuat tubuh Nayla sedikit oleng.

Beberapa siswa langsung menoleh.

Nayla memejamkan mata sejenak menahan emosi.

Sabar.

Dia tidak mau cari masalah.

“Nggak usah nyentuh gue,” katanya dingin tanpa menoleh.

Tamara justru tertawa sinis. “Kenapa? Mau nangis?”

Nayla membalikkan badan perlahan.

Tatapannya kali ini benar-benar dingin.

“Ada masalah apa sih sama gue?”

“Masalahnya lo masih ada di sekitar Endra.”

“Padahal dia yang ngejar gue.”

Wajah Tamara langsung memerah menahan marah.

Dan sebelum suasana makin buruk—

“Cukup!”

Suara berat itu membuat semua orang menoleh.

Endra berjalan cepat mendekati mereka dengan rahang mengeras.

“Tam, apaan sih?”

Cewek itu langsung berubah kesal. “Aku cuma ngobrol sama dia.”

“Dorong orang namanya ngobrol?”

“Dia yang mulai duluan!”

Nayla tertawa kecil mendengar itu.

Benar-benar melelahkan.

“Nggak usah ribut gara-gara gue,” ucap Nayla datar.

Lalu tanpa melihat Endra lagi dia berjalan meninggalkan kerumunan.

Namun baru sampai ujung koridor, langkahnya melambat. Kepalanya kembali pusing. Pandangan Nayla sedikit buram.

Sejak pagi dia memang belum makan.

Ditambah semalam menangis sampai hampir subuh.

Napasnya terasa berat.

“Nayla!”

Suara Endra kembali terdengar dari belakang.

Cowok itu mengejar Nayla sampai akhirnya berhasil menyamai langkahnya.

“Lo kenapa pucat banget?”

“Bukan urusan lo.”

“Lo sakit?”

Nayla berhenti berjalan lalu menatap Endra lelah.

“Endra... gue mohon jangan bikin gue makin capek.”

Kalimat itu terdengar pelan.

Tapi cukup untuk membuat dada Endra terasa nyeri.

Karena untuk pertama kalinya Nayla terlihat benar-benar hancur.

Bukan marah.

Bukan ngambek.

Tapi hancur.

Dan Endra tahu penyebabnya adalah dirinya sendiri.

“Ayo ke UKS,” ucap Endra pelan.

“Nggak usah.”

“Nayla.”

“Gue bilang nggak usah!”

Nada suara Nayla meninggi.

Beberapa siswa kembali menoleh.

Nayla langsung mengusap wajah frustrasi.

“Please... jangan baik sama gue kalau akhirnya lo bakal ninggalin gue lagi.”

Endra terdiam.

Kalimat itu seperti tamparan keras.

Karena Nayla benar.

Selama ini dia terus memberi harapan lalu menghancurkannya sendiri.

Cowok itu menundukkan kepala sesaat sebelum akhirnya berkata lirih

“Gue nggak pernah mau ninggalin lo.”

“Tapi lo lakuin.”

Sunyi.

Tidak ada yang mampu membantah kenyataan itu.

Nayla akhirnya melangkah pergi lagi.

Kali ini Endra tidak menahan.

Dia hanya diam menatap punggung gadis itu menjauh dengan perasaan kacau.

Dan untuk pertama kalinya, Endra mulai sadar kalau mungkin dia benar-benar akan kehilangan Nayla.

1
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!