Di Benua Tianxu, setiap orang terlahir dengan kemampuan menyerap Qi untuk berkultivasi. Namun Xiao Yun, bocah yatim dari Desa Kabut, lahir tanpa memiliki Qi sedikit pun dan hidup sebagai bahan hinaan seluruh desa.
Setelah kakek angkatnya meninggal, Xiao Yun bertahan hidup seorang diri dengan mencari tanaman obat di Hutan Terlarang. Hingga suatu hari, sebuah kecelakaan membawanya ke Lembah Iblis — tempat ia bertemu roh petapa kuno bernama Luo Hai.
Tanpa disadari siapa pun, di dalam tubuh Xiao Yun tersegel kekuatan kuno bernama Nadi Kekosongan, kekuatan terlarang yang bahkan ditakuti langit.
Dari bocah tanpa Qi yang dipandang sampah, Xiao Yun memulai perjalanan untuk mengguncang dunia kultivasi.
{ Update setiap hari }
Mohon dukungannya 👍🏻⭐🔁
Terima kasih 🙏🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.22 — Hari Pertama Perjalanan
Beberapa hari telah berlalu sejak Xiao Yun meninggalkan Desa Kabut dan memulai perjalanan pertamanya sebagai seorang pengembara. Jalan setapak yang dahulu begitu akrab di bawah telapak kakinya kini telah lama tertinggal di belakang, sementara deretan pegunungan yang mengelilingi desa kecil tempat ia dibesarkan sudah tidak lagi tampak di cakrawala. Setiap langkah membawanya semakin jauh dari kehidupan yang selama lima tahun menjadi dunianya, dan semakin dekat menuju wilayah-wilayah asing yang hanya pernah ia dengar melalui cerita sang kakek serta penjelasan Luo Hai. Meskipun seluruh pemandangan di hadapannya terasa baru dan belum pernah dijelajahi, tidak sedikit pun rasa gentar tumbuh di dalam hati bocah itu. Sebaliknya, semakin jauh ia melangkah, rasa penasarannya terhadap luasnya Benua Tianxu justru semakin besar, seolah setiap bukit, sungai, dan hutan yang dilewatinya menyimpan kisah yang menunggu untuk ditemukan.
Pagi itu, matahari baru saja muncul dari balik pegunungan di ufuk timur. Cahaya keemasan perlahan menyelinap menembus sela-sela dedaunan, membentuk berkas-berkas sinar yang jatuh di sepanjang jalur kecil yang sedang dilalui Xiao Yun. Udara pegunungan masih terasa sejuk, sementara embun yang menempel di rerumputan memantulkan cahaya matahari hingga tampak berkilauan. Xiao Yun berjalan dengan langkah yang tenang namun mantap. Tas perjalanan sederhana menggantung di pundaknya, berisi pakaian dan sedikit perbekalan yang masih tersisa. Pisau Naga Kuno tetap tergantung di pinggangnya seperti biasa, sedangkan liontin batu giok yang diwariskan sang kakek berayun pelan di depan dadanya mengikuti irama langkahnya. Hembusan angin pagi membawa aroma tanah yang lembap bercampur harum rerumputan liar, menciptakan suasana yang damai sekaligus menyegarkan.
"Benua Tianxu ternyata jauh lebih besar daripada yang kubayangkan," gumam Xiao Yun sambil memandang deretan bukit yang seolah tidak memiliki ujung.
Di sampingnya, Luo Hai melayang dengan kedua tangan tersembunyi di balik lengan jubahnya. Roh tua itu tersenyum tipis sebelum menjawab dengan nada tenang, "Apa yang kau lihat sekarang bahkan belum bisa disebut sebagai dunia yang sesungguhnya."
"Wilayah ini hanyalah bagian kecil dari pinggiran Benua Tianxu."
"Semakin jauh kau melangkah, semakin kau akan memahami betapa luasnya dunia yang selama ini hanya kau dengar dari cerita."
Xiao Yun terdiam mendengar penjelasan tersebut. Selama hidupnya, Desa Kabut sudah terasa begitu besar baginya, sedangkan Hutan Terlarang yang dahulu dianggap sebagai tempat paling berbahaya ternyata hanyalah sebagian kecil dari wilayah yang jauh lebih luas. Kini, setelah meninggalkan desa, setiap hari ia menemukan pemandangan baru yang membuat cara pandangnya terhadap dunia terus berubah.
Perjalanan beberapa hari terakhir secara perlahan membentuk kebiasaan hidup yang sama sekali berbeda dari masa kecilnya. Saat matahari bersinar terang, ia terus berjalan menyusuri jalan-jalan pegunungan, melintasi sungai, lembah, dan hutan. Ketika malam tiba, ia akan mencari tempat yang cukup aman untuk beristirahat, terkadang berlindung di bawah pohon tua yang rindang, terkadang memanfaatkan gua kecil yang kosong sebagai tempat bermalam. Meskipun kehidupan seperti itu jauh lebih sederhana dan melelahkan dibandingkan tinggal di Desa Kabut, Xiao Yun justru menikmati semuanya. Baginya, setiap hari selalu menghadirkan pengalaman baru yang membuat dunianya semakin luas.
Namun perjalanan itu sama sekali tidak bisa disebut sebagai liburan.
Luo Hai tidak pernah memberikan kesempatan kepada muridnya untuk bermalas-malasan. Justru setelah memperoleh Warisan Altar Pertama, latihan Xiao Yun menjadi jauh lebih berat daripada sebelumnya. Setiap hari sebelum matahari terbit, ia sudah dibangunkan untuk memulai latihan fisik. Xiao Yun harus berlari mengelilingi bukit berbatu, membawa batu besar di punggungnya, melatih keseimbangan di atas batang pohon, kemudian melanjutkan latihan Seni Penempaan Tubuh Kekosongan hingga seluruh ototnya terasa nyeri. Pada hari-hari pertama, tubuhnya hampir tidak mampu mengikuti seluruh latihan tersebut. Namun sedikit demi sedikit, perubahan yang dibawa Warisan Altar Pertama mulai terlihat. Rasa lelah datang lebih lambat, napasnya menjadi lebih stabil, sementara kekuatan fisiknya terus meningkat tanpa ia sadari.
Pada suatu pagi, setelah menyelesaikan latihan, Xiao Yun duduk di tepi sebuah sungai kecil yang mengalir jernih di antara bebatuan. Napasnya masih terdengar berat, sementara keringat membasahi seluruh pakaiannya. Ia mencuci wajah dengan air sungai yang dingin hingga rasa lelah di tubuhnya sedikit berkurang.
Luo Hai melayang beberapa langkah di atas permukaan air sambil memandang muridnya.
"Bagaimana rasanya?" tanyanya.
Xiao Yun perlahan mengepalkan tangan. Ia dapat merasakan tenaga yang mengalir di setiap ototnya jauh lebih kuat dibandingkan beberapa minggu sebelumnya. Bahkan genggamannya terasa lebih mantap dan stabil.
"Lebih kuat," jawabnya jujur.
Luo Hai menganggukkan kepala dengan puas.
"Itu memang wajar."
"Warisan Altar Pertama tidak hanya memberikan pemahaman kepadamu, tetapi juga terus menyempurnakan tubuhmu secara perlahan."
"Namun jangan cepat merasa puas."
"Kekuatanmu saat ini mungkin cukup baik dibandingkan anak-anak seusiamu, tetapi di dunia luar masih banyak kultivator yang dapat mengalahkan mu hanya dengan satu gerakan."
Xiao Yun mengangguk tanpa membantah. Kata-kata gurunya selalu ia simpan baik-baik di dalam hati. Ia memahami bahwa perjalanan menuju Pegunungan Tulang Naga baru saja dimulai, sedangkan lawan yang akan dihadapinya di masa depan jauh lebih berbahaya daripada binatang buas di sekitar Desa Kabut.
Setelah beristirahat sejenak, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju utara.
Semakin jauh mereka berjalan, pemandangan di sekitar terus berubah. Mereka melintasi sungai besar dengan arus yang deras, melewati tebing batu yang menjulang tinggi hingga menutupi sebagian langit, serta menyusuri hamparan hutan yang tampak tidak memiliki batas. Xiao Yun terus memandang ke segala arah dengan rasa kagum yang semakin besar. Setiap wilayah memiliki bentuk alam yang berbeda, seolah Benua Tianxu tidak pernah kehabisan keajaiban untuk diperlihatkan kepada para pengembara.
Menjelang sore, warna langit perlahan berubah menjadi jingga keemasan. Saat itulah sebuah hutan yang jauh lebih besar dibandingkan hutan-hutan sebelumnya muncul di hadapan mereka.
Pepohonan di sana menjulang tinggi hingga puluhan meter, dengan batang berwarna gelap yang tampak kokoh seperti pilar raksasa. Di sela-sela pepohonan berdiri batu-batu hitam berukuran besar dengan bentuk yang aneh. Ada yang menyerupai menara, ada pula yang terlihat seperti kepala binatang buas yang sedang mengaum ke arah langit. Bayangan pepohonan dan batu-batu tersebut menciptakan suasana yang sunyi sekaligus dipenuhi misteri.
Xiao Yun tanpa sadar menghentikan langkahnya.
"Tempat apa ini, Guru?" tanyanya.
Luo Hai mengamati kawasan hutan itu beberapa saat sebelum menjawab dengan tenang.
"Ini adalah Hutan Batu Hitam."
"Kawasan ini cukup dikenal oleh para pemburu dan pengembara di wilayah sekitar."
Tatapan Xiao Yun kembali menyapu pepohonan yang menjulang tinggi.
"Hutan ini terasa berbeda."
"Tentu saja berbeda," jawab Luo Hai. "Di dalamnya hidup cukup banyak Hewan Iblis Tingkat Rendah."
"Mereka memang tidak terlalu kuat bagi para kultivator berpengalaman, tetapi cukup berbahaya bagi orang biasa."
Mata Xiao Yun langsung berbinar.
"Hewan iblis?"
Luo Hai menganggukkan kepala.
"Hewan iblis bukan hanya menjadi ancaman, tetapi juga merupakan sumber daya yang sangat berharga."
"Taring mereka dapat dijual kepada pandai besi, kulitnya digunakan untuk membuat perlengkapan, sedangkan beberapa bagian tubuh tertentu bahkan menjadi bahan utama berbagai ramuan."
"Semakin tinggi tingkat hewan iblis, semakin tinggi pula nilainya."
Xiao Yun langsung tertarik.
"Jadi kita bisa mendapatkan uang dari memburu mereka?"
"Tentu saja," jawab Luo Hai. "Seorang kultivator tidak mungkin selamanya bergantung kepada orang lain."
"Batu Roh, senjata, pil obat, hingga berbagai sumber daya kultivasi membutuhkan biaya yang tidak sedikit."
"Karena itu, setiap kultivator harus belajar memperoleh semua kebutuhannya melalui kemampuan sendiri."
Penjelasan tersebut membuat Xiao Yun memahami kenyataan baru yang akan dihadapinya. Selama ini kehidupannya di Desa Kabut sangat sederhana. Namun setelah memasuki dunia kultivasi, ia mulai menyadari bahwa kekuatan dan sumber daya saling berkaitan.
Mereka kemudian memasuki bagian luar Hutan Batu Hitam.
Suasana di dalamnya jauh lebih tenang dibandingkan wilayah luar. Cahaya matahari hanya mampu menembus sebagian kecil sela-sela dedaunan, membuat sebagian besar kawasan hutan dipenuhi bayangan. Xiao Yun memperlambat langkah sambil memperhatikan keadaan di sekitarnya dengan lebih saksama.
Tiba-tiba pandangannya berhenti pada sesuatu yang terdapat di atas tanah.
"Aneh..."
Ia segera berjongkok.
Di hadapannya terlihat sebuah jejak kaki yang jauh lebih besar daripada telapak tangannya. Bentuknya jelas bukan milik manusia, tetapi juga tidak menyerupai binatang liar biasa. Bekas injakan itu masih tampak jelas di atas tanah yang lembap, sementara beberapa helai rumput di sekitarnya masih rebah seolah baru saja terinjak.
Luo Hai ikut melayang mendekat. Setelah melihat jejak tersebut, senyum tipis muncul di wajahnya.
"Sepertinya keberuntungan mu cukup baik."
Xiao Yun mengangkat kepala.
"Apa maksud Guru?"
Roh tua itu menunjuk ke arah kedalaman hutan.
"Pemilik jejak itu kemungkinan besar adalah seekor Hewan Iblis Tingkat Rendah."
Jantung Xiao Yun langsung berdegup sedikit lebih cepat.
"Buruan pertamamu."
Tanpa sadar, tangannya menggenggam gagang Pisau Naga Kuno yang tergantung di pinggang. Meskipun ia pernah bertarung melawan Hewan Iblis sebelumnya, kali ini perasaannya benar-benar berbeda. Pertarungan ini bukan lagi sekadar bertahan hidup, melainkan langkah pertama sebagai seorang kultivator pengembara yang harus memperoleh sumber dayanya sendiri.
Dengan penuh kewaspadaan, Xiao Yun mulai mengikuti jejak tersebut menuju bagian hutan yang lebih dalam. Selama berjalan, ia berusaha mengingat semua pelajaran yang pernah diajarkan Luo Hai.
Namun beberapa langkah kemudian, suara sang guru kembali terdengar.
"Jangan hanya memperhatikan jejak di tanah."
Xiao Yun segera menoleh.
"Apa maksud Guru?"
Luo Hai menunjuk ke arah sebuah pohon besar yang berada tidak jauh dari mereka.
"Lihat batang pohon itu."
Xiao Yun mengikuti arah yang ditunjuk. Pada permukaan batang pohon tampak bekas gesekan panjang yang masih baru. Kulit pohon terkikis, meninggalkan goresan kasar yang jelas bukan disebabkan oleh manusia.
"Kemudian lihat semak di sebelahnya."
Daun-daunnya patah dan sebagian ranting kecil masih menggantung.
"Bekas-bekas itu belum lama terbentuk," lanjut Luo Hai. "Pemburu yang baik tidak hanya mengikuti jejak kaki. Ia membaca seluruh lingkungan."
"Jejak di tanah, ranting yang patah, bau yang tertinggal di udara, bahkan arah angin dapat memberi tahu ke mana mangsanya bergerak."
Mata Xiao Yun perlahan berbinar.
Untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa berburu ternyata jauh lebih rumit daripada sekadar mengejar mangsa. Seorang pemburu harus memahami kebiasaan lawannya, memperhatikan setiap perubahan kecil di lingkungan, dan menyusun langkah berikutnya dengan tenang.
Mereka terus bergerak perlahan selama beberapa menit.
Tiba-tiba Luo Hai mengangkat satu tangan sebagai isyarat.
"Berhenti."
Xiao Yun langsung menghentikan langkahnya dan berjongkok di balik sebuah batu besar. Napasnya diperlambat, sementara tatapannya mengikuti arah yang ditunjukkan oleh gurunya.
Di balik beberapa batu hitam raksasa yang menjulang di depan sana, seekor makhluk berukuran besar sedang mengais tanah dengan kedua cakarnya, sama sekali belum menyadari bahwa sepasang mata kini sedang mengamatinya dari balik bayangan pepohonan.
...BERSAMBUNG...
Yun ada kaitannya sama tokoh sblm nya nggak sih?