Nadine dijadikan jaminan oleh ayahnya kepada seorang mucikari…namun takdirnya ternyata jauh lebih kejam dari yang ia bayangkan. Pria pertama yang datang bukan orang sembarangan.
Ia adalah pewaris TX internasional, tampan, kaya raya, dan berhati dingin. Dalam hitungan detik, Nadine terikat dalam sebuah kontrak sebagai istri bayaran.
Akankah ia melawan… atau tenggelam selamanya dalam jebakan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meongming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 : Kehilangan kendali
Leon masih menatapnya dingin, “Kamu baru saja mengabaikan panggilanku… Apa kamu lupa batas tiga kali dering?”
Nadine memalingkan wajah. Suaranya pelan.
“Aku mau mengangkat… tapi kamu keburu mematikan ponselnya.”
Leon terdiam sejenak, lalu membalikkan badan, “Cepat masuk.”
Tanpa menunggu jawaban, ia pergi begitu saja, meninggalkan Nadine di taman dengan pikiran yang kacau.
“Apaan sih sikapnya itu,” gerutu Nadine.
Sepuluh menit kemudian, Nadine membuka pintu kamar dengan hati-hati. Ia berhenti sejenak di ambang pintu dan melihat Leon duduk di sisi ranjang, matanya terpaku pada layar ponsel. Ia tidak menyapa, bahkan tidak menoleh, seolah kehadiran Nadine tak berarti apa-apa di ruangan itu.
Nadine melangkah ke sofa dan duduk perlahan. Leon tetap tenang, jemarinya sibuk menggeser layar ponsel. Ia tidak menoleh sedikit pun. Nadine menelan ludah, menahan diri untuk menegur. Namun matanya terus menatap ke arahnya, menunggu perhatian yang tak kunjung datang.
Tuh kan benar, dia orang aneh… Hampir saja aku percaya perkataan anak buahnya, batin Nadine.
“Ehem!”
Leon tidak menoleh dan terus menggulir layar ponselnya. Nadine mengerutkan dahi, kesal.
Tetap tidak menoleh juga? batin Nadine.
Ia menarik napas panjang,
“MAAF… AKU MAU BICARA!” teriaknya.
Leon akhirnya melirik sedikit. Tatapannya dingin , “Bicara saja. Tidak perlu teriak-teriak.”
“Kenapa kamu tiba-tiba mau memindahkan Anna ke rumah sakit lain?!” Suara Nadine meninggi.
Leon menghela napas, menutup ponselnya perlahan, lalu menatap Nadine dengan pandangan sedingin es.
“Dia butuh perawatan yang lebih baik,” ucapnya singkat.
“Kenapa kamu ikut campur? Kamu kan bukan bagian dari urusanku. Kenapa tiba-tiba mengambil keputusan sebesar itu tanpa bilang aku sama sekali?!”
Leon tersenyum sinis, “Setelah semua yang terjadi, kamu masih saja jadi orang yang sama… tidak berubah.” Nada suaranya jengkel.
Nadine menatapnya tajam,
“Apa maksudmu?!”
Leon menghela napas panjang, lalu mengalihkan pandangan, “Ah… sudahlah. Aku mau tidur. Buang-buang waktu berdebat denganmu.”
Ia meletakkan ponselnya dan membaringkan diri di ranjang, membelakangi Nadine.
Nadine menahan amarah , " Yah. Aku juga malas bicara denganmu," gumamnya pelan setengah kesal.
Ia menarik selimut dan merebahkan diri di sofa, mencoba menenangkan diri meski gelisah masih menyelip di dadanya.
...----------------...
Leon terbangun saat alarm berbunyi. Ia menoleh ke arah sofa yang kosong. Selimut terlipat rapi. Nadine sudah tidak ada di sana, Leon duduk sejenak, berpikir. Tumben sekali ia bangun lebih awal dari biasanya. Nadine biasanya tidur pulas, nyaris tak terganggu apa pun.
Lima belas menit kemudian, Leon sudah berpakaian rapi dan menuruni tangga. Di meja makan, sarapan telah tersaji, tetapi Nadine tidak terlihat. Leon mengerutkan dahi, heran. Ke mana istri palsunya pagi-pagi begini?
“Selamat pagi, Tuan,” sapa pelayan.
Leon mengangguk singkat. Matanya menyapu ruangan, masih mencari sosok yang sejak tadi mengganggu pikirannya.
“Ke mana Nadine?” tanyanya.
“Oh, Nyonya pamit keluar sejak pagi. Katanya akan menghadiri acara charity perusahaan di yayasan anak-anak,” jawab pelayan itu.
Leon memejamkan mata sejenak, lalu menghela napas. Ia sendiri hampir lupa bahwa hari ini memang ada acara itu.
Leon memejamkan mata sejenak, lalu menghela napas. Ia sendiri sempat lupa bahwa hari ini memang jadwal acara amal rutin perusahaan. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia langsung bergegas pergi.
“Loh, Tuan, sarapannya?” panggil pelayan.
Leon mengabaikannya. Ia membuka ponsel sambil terus berjalan hingga tiba di halaman depan. Sopir pribadinya sudah menunggu.
“Kenapa dia pergi sendiri?” tanya Leon dengan nada jengkel.
“Oh? Nyonya bilang… katanya Tuan yang memintanya berangkat lebih dulu,” jawab sopir itu, terdengar bingung.
“Dasar,” gumam Leon pelan.
Ia langsung masuk ke dalam mobil. Sopir buru-buru menyusul. Ia tahu betul suasana hati bosnya sedang berantakan gara-gara istri palsunya.
Mobil Leon baru saja berhenti. Dari balik jendela, ia melihat Nadine berdiri di area yayasan, tersenyum santai dan ramah. Seolah tidak ada seorang pun yang dibuatnya kesal karena pergi tanpa izin.
“Tuan, tadi...” suara sopir baru saja terdengar.
BRUK!
Pintu mobil terbuka kasar. Leon keluar tanpa mendengarkan kelanjutannya dan langsung melangkah menuju Nadine.
Sopir hanya terdiam, lalu menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. Ia tahu betul rahasia hubungan keduanya dan pagi ini jelas bukan pagi yang tenang bagi Tuannya.
“Wah, Tuan Leon sudah datang,” sapa seorang wanita paruh baya.
Mendengar itu, Nadine menoleh sekilas. Wajah Leon sama sekali tidak terlihat ramah saat pandangannya bertemu dengannya. Nadine segera memalingkan wajah dan kembali berbincang dengan para relawan, seolah tidak terjadi apa-apa.
Leon sudah berdiri di depan, tersenyum ramah dan menyalami wanita paruh baya itu, pemilik yayasan binaan perusahaannya.
“Nyonya Nadine ini, loh… dari pagi sudah datang dan membantu persiapan,” ucap wanita itu dengan nada kagum.
Leon membalas dengan senyum tipis. Matanya kembali tertuju pada Nadine, tajam dan dingin.
Nadine yang membelakanginya merasakan tengkuknya sedikit meremang. Ia tahu Leon pasti kesal. Namun alih-alih takut, Nadine justru membiarkannya. Ia sengaja membuat suaminya semakin jengkel.
Acara segera dimulai. Leon berdiri di depan anak-anak yayasan, berjongkok sesekali, menyapa mereka dengan senyum yang terlihat hangat. Tangan-tangan kecil itu menyambutnya antusias. Tepuk tangan terdengar, kamera sesekali berbunyi.
Nadine berdiri tak jauh, membantu para relawan, sesekali menunduk dan tersenyum pada anak-anak. Sikapnya tenang dan profesional, seolah ini benar-benar hanya pekerjaan.
Saat acara sedikit lengang, Leon melangkah mendekat. Ia berdiri di sisi Nadine, mencondongkan tubuhnya sedikit.
“Kita perlu bicara,” ucapnya pelan.
Nadine tak menoleh. Tangannya tetap sibuk merapikan kotak donasi.
“Nanti saja, aku sedang bekerja.”
Leon terdiam. Senyum masih terpasang di wajahnya, tetapi tatapannya mengeras. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa ditolak di tempat yang tak bisa ia kuasai.
Seorang anak kecil, kira-kira berusia empat tahun, sejak tadi menatap mereka berdua. Ia lalu mendekat dan menarik pelan ujung baju Nadine.
Nadine menunduk dan tersenyum,
“Iya, kenapa?”
Anak itu melirik ke arah Leon, lalu kembali menatap Nadine, “Kak, itu beneran suami kakak?”
Leon menoleh.
Nadine tersenyum canggung. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit dan berbisik, “Iya… orang itu suami kakak.”
Leon tetap diam.
Anak itu kembali menatap Leon tanpa takut, lalu bertanya polos, “Kok kakak mau sih?”
Leon memandang anak itu.
“Kenapa memangnya?” tanya Nadine pelan.
Anak itu menjawab jujur tanpa ragu, “Soalnya orangnya serem.”
Deg.
Leon berdehem, mencoba bersikap biasa setelah “di-roasting” anak kecil itu. Ia lalu menatap balik anak itu tanpa ragu, ekspresinya datar, nyaris seperti anak kecil yang tersinggung karena dikatain.
“Tuh kan, serem!” teriak anak itu sambil langsung lari menjauh.
Nadine menoleh cepat. “Kamu kenapa sih?! Dia kan cuma anak kecil.”
“Anak kecil itu harus diajarkan sopan santun,”
jawab Leon dingin, jelas tak mau mengalah.
Nadine menggeleng pelan, setengah tak percaya. Sulit baginya memahami bagaimana seorang pria dewasa bisa tersinggung hanya karena ucapan polos seorang anak kecil.
Ia tak berkata apa-apa lagi. Sekilas melirik Leon, lalu berbalik dan kembali ke tengah anak-anak yayasan, seakan tak peduli dengan suasana hati Leon yang sedang buruk.