"Gue sudah menepati janji untuk nikahin lo, dan lo juga harus menepati janji untuk tidak mengatakan apapun pada siapapun tentang kita di sekolah. paham!" ucap pria bernama Arga
Argantara antariksa Grahana namanya. sosok paling tampan dan populer di SMA Cakrawala. karna insiden malam itu membuat Arga harus menikahi teman kelasnya yang bernama Freya Dinata Frankie, biasa di panggil dengan sebutan Reya. anak keempat dari tuan Pramandika Frankie.
Akankah Freya bisa meluluhkan hati pria itu? ikuti yok
Slow up
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Mia Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Arga pada Freya
Malam itu, cahaya bulan masuk menembus jendela besar di kamar utama, menciptakan siluet yang tenang. Arga masih setia dalam posisinya, berlutut di depan Freya seolah sedang memuja satu-satunya dunianya yang tersisa.
"Terimakasih sudah memberikan aku kesempatan kedua, Re. dan maaf atas apa yang sudah aku lakukan selama ini" ucap Arga lembut sambil terus mengusap perut Freya yang membuncit.
"Ini kesempatan terakhir yang aku berikan untuk kami, Ga. semoga kedepannya kita akan selalu seperti ini." Freya menatap Arga
Ruang Keluarga- Sebuah Kunjungan Tak Terduga
Keesokan paginya, bel rumah berbunyi saat Arga baru saja selesai menyiapkan sarapan bubur ayam kesukaan Freya. Ia mengerutkan kening—tidak biasanya ada tamu sepagi ini. Saat membuka pintu, ia mendapati Dirly berdiri di sana dengan sebuah kotak kayu kecil di tangannya.
"Gue bilang jangan ke sini kalau cuma mau belain Alice," suara Arga dingin, tangannya masih memegang gagang pintu dengan kuat.
Dirly menggeleng pelan. "Gue ke sini sebagai laki-laki, Ga. Bukan sebagai kakaknya Alice." Ia menyodorkan kotak itu. "Ini jurnal catatan pelajaran dan tugas-tugas selama Freya absen. Gue yang rangkum sendiri. Dan... ini surat permintaan maaf pribadi dari nyokap gue buat Freya."
Arga terdiam, menatap kotak itu dengan ragu.
"Nyokap terpukul banget, Ga. Dia nggak tahu Alice bisa senekad itu. Dia nggak minta laporan polisi dicabut, dia cuma mau Freya tahu kalau kami sekeluarga malu," lanjut Dirly dengan nada tulus yang jarang ia tunjukkan.
Arga mengambil kotak itu. "Gue bakal kasih ke Freya. Tapi soal maaf... itu hak dia. Jangan harap gue bakal luluh cuma karena ini."
"Gue paham," Dirly berbalik, namun langkahnya terhenti. "Satu lagi, Ga. Hati-hati sama pengacara bokap gue. Dia licin. Dia mungkin nggak bisa nyerang lo secara hukum, tapi dia bakal coba nyerang reputasi Freya di media sosial."
Arga kembali ke kamar dengan wajah yang lebih tegang. Ia menemukan Freya sedang mencoba berdiri dari tempat tidur untuk meraih segelas air.
"Re! Kan aku bilang panggil aku kalau butuh apa-apa," Arga berlari kecil, langsung memapah pinggang Freya dengan posesif.
"Aku cuma mau minum, Arga. Aku bukan porselen yang gampang pecah," protes Freya sambil tertawa kecil, meski ia tetap menyandarkan kepalanya di bahu kokoh suaminya.
Arga mendudukkannya kembali, lalu menyerahkan kotak dari Dirly. Freya membukanya perlahan. Matanya berkaca-kaca melihat catatan rapi yang dibuatkan Dirly—sebuah pengakuan tak langsung bahwa masih ada orang yang peduli padanya di sekolah itu.
"Dia minta maaf?" tanya Freya lirih.
"Dia malu, Re. Seluruh kota tahu sekarang," jawab Arga. Ia kemudian mengambil ponselnya yang terus bergetar. Layar menunjukkan sebuah notifikasi dari grup angkatan sekolah. Seseorang telah mengunggah foto pernikahan siri mereka yang diambil secara diam-diam.
Komentarnya mulai liar.
"Pantesan Arga berubah, ternyata 'kecelakaan'?"
"Cewek pendiam ternyata suhu juga ya."
Arga merasakan darahnya mendidih. Ia hampir saja membanting ponsel itu sebelum tangan dingin Freya menyentuh punggung tangannya.
"Biarkan saja, Arga. Mereka nggak tahu rasanya hampir kehilangan detak jantung di dalam sini," Freya mengarahkan tangan Arga ke perutnya yang masih datar namun terasa hangat. "Jangan kotori tanganmu lagi buat orang-orang yang nggak penting."
Meja Kerja: Rencana Masa Depan
Malamnya, saat Freya sudah terlelap, Arga duduk di meja kerja ayahnya di ruang bawah. Di depannya tersebar laporan keuangan perusahaan properti keluarga dan berkas pendaftaran universitas jalur cepat.
Raiden masuk tanpa mengetuk, membawa dua cangkir kopi hitam.
"Alice sudah resmi masuk pusat rehabilitasi remaja hari ini. Ayahnya? Kasus korupsinya naik ke penyidikan. Mereka habis, Ga," lapor Raiden datar.
"Belum cukup, bang, Rai," gumam Arga tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop. "Cari tahu siapa yang menyebarkan foto pernikahan kami di grup angkatan tadi siang. Aku mau orang itu dikeluarkan besok pagi. Tanpa ampun."
Raiden tersenyum tipis, sedikit ngeri melihat sisi gelap Arga yang bangkit demi melindungi keluarganya. "Sudah gue duga Lo bakal minta itu. Sedang diproses."
"Dan soal bisnis Papa..." Arga mendongak, matanya tajam. "Aku ambil alih proyek pembangunan di sektor utara. Aku butuh uang lebih banyak, bang,Rai. Aku mau Freya dan anakku punya segalanya tanpa perlu bergantung pada siapa pun."
Dua minggu berlalu. Freya sudah diperbolehkan duduk di taman belakang tanpa bantuan. Arga sedang berlutut di rumput, mencoba merakit sebuah ayunan bayi yang ia beli secara daring—meskipun instruksinya membuat cowok paling populer di sekolah itu berkeringat dingin.
"Arga, bautnya terbalik," tegur Freya dari kursinya sambil menahan tawa.
"Hah? Masa sih? Perasaan udah bener," Arga menggaruk kepalanya yang tidak gatal, wajahnya cemong karena oli dan debu.
Freya mendekat, berlutut di sampingnya meski Arga sempat memprotes. Ia membantu Arga memutar baut yang benar. Di bawah sinar matahari sore yang hangat, keduanya tertawa bersama. Tidak ada lagi Arga sang "Bad Boy" atau Freya si "Gadis Pendiam". Yang ada hanyalah dua jiwa yang sedang belajar dewasa lebih cepat dari usianya.
"Re," panggil Arga tiba-tiba.
"Ya?"
"Makasih ya, sudah bertahan buat aku. Aku janji, mulai sekarang, setiap langkah yang aku ambil... itu untuk kalian."
Freya menyandarkan kepalanya di bahu Arga, melihat ke arah masa depan yang dulunya gelap, namun kini mulai berpendar terang.
suasana sore yang hangat di taman itu tiba-tiba terasa membeku bagi Arga. Saat Freya menyandarkan kepala di bahunya, ingatan Arga justru terlempar jauh ke belakang, ke sebuah memori kelam yang menjadi awal dari segalanya—sebuah malam yang ingin ia hapus, namun sekaligus menjadi alasan mengapa ia kini begitu memuja perempuan di sampingnya.
Lampu koridor sekolah sudah temaram, namun teriakan dari ponsel di genggaman Arga masih terdengar memekakkan telinga. Ia berjalan sempoyongan, satu tangannya memegang botol minuman keras yang isinya tinggal separuh.
"Kamu itu sampah, Arga! Balapan liar, tawuran, motor-motor tidak berguna itu! Apa kamu mau jadi gelandangan?! Kalau bukan karena nama besar Papa, kamu sudah membusuk di sel penjara!" Suara bariton sang ayah di seberang telepon meledak-ledak.
"Persetan sama nama besar Papa! Aku nggak pernah minta jadi anakmu!" Arga berteriak balik sebelum membanting ponselnya ke dinding hingga hancur berkeping-keping.
Napasnya memburu, dadanya sesak oleh amarah dan alkohol yang mulai membakar syaraf-syaraf logikanya. Ia butuh tempat gelap untuk bersembunyi dari dunia yang menuntutnya menjadi sempurna. Dengan kasar, ia menendang pintu perpustakaan yang tak terkunci rapat.
Di sudut ruangan, di antara rak buku biologi yang remang-remang, Freya sedang duduk di lantai. Ia sedang merapikan setumpuk jurnal tugas. Mendengar suara gaduh, Freya tersentak. Jantungnya berdegup kencang saat melihat Arga—laki-laki yang selama ini ia perhatikan dari jauh, laki-laki yang fotonya ia simpan diam-diam di galeri ponselnya—masuk dengan keadaan kacau.
"Arga? Kamu... kamu kenapa?" suara Freya mencicit, penuh kekhawatiran yang tulus.
Arga melangkah maju, bayangannya yang tinggi besar menyelimuti sosok Freya. Pandangannya kabur, merah karena alkohol dan air mata amarah yang tertahan. Di matanya yang tidak fokus, siluet gadis berambut panjang di depannya perlahan berubah menjadi sosok Alice, kekasihnya yang selalu ia jadikan pelarian.
"Alice... lo di sini?" racau Arga parau. Ia mencengkeram bahu Freya dengan kasar, menyeretnya hingga punggung gadis itu membentur rak buku.
"Aku bukan Alice, Arga... aku Freya," bisik Freya gemetar. Meski ketakutan, ada bagian dari dirinya yang egois, yang merasa beruntung bisa sedekat ini dengan Arga—walau dalam situasi yang salah.
"Jangan bohong! Cuma lo yang tahu gue bakal lari ke sini kalau lagi berantem sama bokap!" Arga membentak, aromanya alkoholnya menusuk indra penciuman Freya. "Kenapa lo diem aja? Sini, bantu gue lupain si tua bangka itu!"
"Arga, sadar! Ini salah!" Freya mencoba mendorong dada bidang Arga, namun tenaganya tidak sebanding.
Dalam kabut mabuk yang tebal, Arga tidak lagi mendengar suara Freya. Ia hanya melihat "Alice" yang sedang menenangkannya. Ia membungkam bibir Freya dengan paksa. Freya sempat berontak, namun rasa cintanya yang salah jalan membuatnya sempat tertegun sesaat—sebuah keraguan yang dimanfaatkan Arga untuk mengunci kedua tangannya di atas kepala.
Malam itu, di atas lantai perpustakaan yang dingin, Arga merenggut paksa segala yang dimiliki Freya. Ia melakukannya sambil terus menggumamkan nama "Alice", sementara Freya hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan air matanya jatuh dalam diam, menerima kehancurannya dari tangan laki-laki yang paling ia cintai di seluruh dunia.
Kembali ke Masa Kini
Matahari sore mulai terbenam di taman belakang rumah mereka. Arga tersentak, tangannya yang memegang obeng terasa kaku. Memori tentang bagaimana ia salah mengenali Freya malam itu selalu menjadi duri yang paling tajam di hatinya.
Ia menatap Freya yang sedang mengelus perutnya dengan lembut. Perempuan ini tidak pernah bercerita bahwa malam itu ia sebenarnya mengenal Arga, sementara Arga bahkan tidak tahu siapa nama gadis yang ia hancurkan sampai pagi harinya saat ia terbangun dalam keadaan telanjang di sampingnya.
"Ga? Kenapa bengong lagi? Bautnya jatuh tuh," Freya menyentuh lengan Arga, membuyarkan sisa-sisa memori kelam itu.
Arga segera menggenggam tangan Freya, mencium telapak tangannya dengan durasi yang lama, seolah sedang memohon ampun untuk setiap tetes air mata yang jatuh di perpustakaan waktu itu.
"Re... kalau waktu itu aku nggak mabuk, apa kamu tetap bakal cinta sama aku?" tanya Arga lirih, suaranya mengandung kecemasan yang mendalam.
Freya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyimpan rahasia tentang cintanya yang sudah ada jauh sebelum malam itu terjadi. "Aku sudah memaafkanmu bahkan sebelum kamu meminta, Ga. Sekarang, fokuslah jadi ayah yang baik untuk anak kita."
freya punya keluarga baru setelah sah jadi istri arga