NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Suami Kakakku

Menikah Dengan Suami Kakakku

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:11.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Ratna Wullandarrie

Warning,,,!!!! 21+, harap bijak mencari bacaan.!


Delia Larasaty, gadis cantik berusia 22 tahun itu tidak pernah menyangka jika dirinya akan menikah dengan kakak iparnya sendiri, atau lebih tepatnya menikah dengan suami kakaknya.

Dia adalah Bramantyo Sanjaya atau Bram. Pria dengan wajah tampan yang saat ini berusia 30 tahun tapi masih terlihat muda.
Anak tunggal dari Tuan Sanjaya, pemilik Sanjaya's Group. Salah satu perusahan terbesar dikota jakarta.

Bram menikah dengan Ditha Larasaty, kakak kandung Delia. Tapi 6 bulan yang lalu saat Ditha melahirkan, kondiri Ditha melemah hingga dia dinyatakan koma. Hingga saat ini Ditha belum juga sadar dari komanya.

Kedua orang tua Bram tidak tega melihat kondisi anaknya yang semakin tidak terawat dan terus berlalur dalam kesidihan karna tepukul atas kejadian yang menimpa istrinya. Maka dari itu kedua orang tua Bram meminta Bram untuk menikah dengan Delia, agar Bram tidak berlarut - larut dalam kesedihan karna terus memikirkan Ditha yang belum tentu akan bangun dari komanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Wullandarrie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28. Imbalan

Tidak terasa satu minggu berlalu, honey moon kami telah berakhir. Sepertinya ini bukan honey moon, tapi lebih tepatnya liburan. Karna tidak terjadi apapun antara aku dan mas Bram. Seperti yang terjadi saat sepasang suami istri pergi honey moon.

Hari ini Aku dan mas Bram akan kembali ke jakarta. Aku sudah sangat rindu pada Alea. Keponakanku sekaligus anak tiriku itu pasti semakin gembul sekarang.

"Sudah selesai.?" Tanya mas Bram saat aku sedang menutup koper. Aku mengangguk menjawab pertanyaanya.

"Apa tidak ada yang tertinggal.?"

"Tidak Ada." Jawabku. Aku berdiri, mengambil tas selempang kecil dan memakainya.

"Kamu yakin.?"

Pertanyaan mas Bram membuatku mengerutkan keningnya. Bukankah tadi sudah ku jawab tidak ada, kenapa masih bertanya seperti itu.

"Iya mas. Tidak ada yang tertinggal." Kataku yakin.

"Ada sayang,," Mas Bram bergeser ke belakangku, dia memelukku dari belakang.

Ulah mas Bram membuatku merinding, jantungku berdetak kencang.

"Kenangan kita tertinggal disini." Bisik mas Bram. Aku membuang muka, bisikan lembutnya membuat detak jantungku semakin bergemuruh.

"Apa yang mas Bram katakan. Tidak ada kenangan apapun disini."

"Apa kamu lupa dengan first kiss mu yang sudah aku ambil.?" Bisiknya lagi. Tangan mas Bram semakin menekan perutku yang rata, membuat tubuh kami semakin menempel tanpa celah.

Aku terkesiap mendengarnya, bagaimana mas Bram bisa tau jika itu ciuman pertamaku.

"Lepasin mas, kita harus ke bandara.!"

Aku berusahan mengalihkan pembicaraan. Rasanya sangat malu jika harus membahas hal seperti itu.

"Jangan mengalihkan topik pembicaraan, Delia." Seru mas Bram.

"Bagaimana jika kita buat kenangan lagi sebelum pulang ke jakarta." Mas Bram memutar badanku hingga kami berhadapan. Tangannya kembali memeluk pinggang rampingku.

Aku pasrah, ucapan mas Bram dan tatapan matanya membuatku bisa menebak apa yang akan mas Bram lakukan padaku.

Benar saja, mas Bram meraih tengkku sambil mendekatkan wajahnya. Secara reflek aku memejamkan mata. Ciuman panas di pagi hari terjadi. Tak hanya itu, tangan mas Bram menjelajahi kedua aset berhargaku. Menyusup kedalam baju yang aku kenakan.

Aku menahan dada mas Bram untuk menjauh. membuat mas Bram menghentikan aksinya dengan raut wajah yang terlihat kecewa.

"Sudah.! Kita bisa telat nanti." Kataku. Mas Bram mengehla nafas. Aku membenarkan bajuku yang tersingkap, sedangkan mas Bram merapikan kembali rambutku yang sempat acak - acakan. Setelah itu dia memberikan kecupan di keningku.

"Kita lanjutkan nanti di rumah." Ujar mas Bram.

Aku hanya menggeleng - gelengkan kepala.

Aku harap mas Bram tidak akan pernah meminta lebih dari ini. Membayangkannya saja sudah mebuatku takut. Dan lagi pula aku sudah bertekat untuk meminta cerai darinya. Aku tidak mau jika harus menyerahkan kehormatanku padanya.

...*******...

Tiga minggu berlalu sejak kepulangan Delia dan Bram dari Bali. Hubungan keduanya semakin intens meskipun sampai saat ini mereka belum melakukan ritual suami istri pada umumnya. Delia yang selalu menolak dengan alasan belum siap, lantas tidak membuat Bram memaksanya. Delia merasa bersyukur untuk hal itu. Dia berharap Ditha akan segera sadar sebelum dia tidak bisa lagi menghindari keinginan Bram yang ingin meminta haknya.

Pagi itu setelah membuat sarapan, dengan semangat Delia kembali ke kamarnya untuk mengerjakan tugas yang baru tiga minggu ini dia lakukan.

Membuka pintu kamar, Delia disugguhkan dengan pemandangan yang menyegarkan mata. Bram baru saja keluar dar kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk yang melilit di pinggangnnya. Dada bidang dan roti sobeknya dibiarkan terbuka hingga menggoda iman bagi kaum hawa yang melihatnya.

Delia menundukan pandangannya, meskipun sudah beberapa kali Delia melihat pahatan sempurna di tubuh Bram, tetap saja dia merasa malu dan risih. Tapi sikap malu Delia membuat Bram sering kali menggodanya.

Seperti yang saat ini akan dia lakukan, terlihat jelas dari seringai licik diwajah tampan yang terlihat segar dengan tetesan air dari rambutnya yang mengenai sisi - sisi wajahnya.

"Sayang ayo kemari, tolong bantu aku mengeringkan rambut." Bram berjalan kearah ranjang dan duduk disisi ranjang dengan santai.

Sambil mengatur nafasnya, Delia berjalan mendekati laki - laki tampan nan mempesona yang baru saja memanggilnya dengan mesra.

Baram menyerahkan handuk kecil di tangannya pada Delia. Dengan malas Delia terpaska mengambilnya.

Delia meletakan handuk itu di kepala Bram dan mulai mengeringkan rambutnya dengan gerakan khas orang yang sedang kesal. Dia tidak seperti sedang mengeringkan rambut, melainkan menggosoknya dengan sedikit kasar seperti sedang mencuci baju dengan tangan.

Bram mengulum senyum melihat raut tak bersahabat di wajah cantik Delia. Dia juga acuh, membiarkan Delia mengucek - kucek kepalanya secara asal.

"Apa ini tugas baru.?" Tanya Delia kesal. Dia menyebikkan bibirnya.

"Iya. Yang ini imbalannya lebih besar." Seru Bram.

Mendengar kata 'Imbalan' Sikap Delia langsung berubah seratus delapan puluh derajat.

Seketika gerakan tangan Delia melambat, kucekan kasar berubah menjadi usapan lembut. Dia seperti sedang mengusap - usap anak kucing yang menggemaskan.

"Kenapa mas Bram tidak bilang dari tadi." Ujar Delia polos.

Bram menahan ketawanya. Harusnya saat ini dia sudah tertawa terbahak - bahak. Namun dia masih ingin mengerjai Delia hingga puas sebelum menertawakannya.

"Aku ingin menilai seberapa bagus kinerjamu pada tugas baru ini." Tutur Bram.

"Jadi berapa imbalannya.?" Tanya Delia antusias. Dia menghentikan aktifitasnya, mundur dua langkah untuk bisa menatap wajah Bram lebih jelas. Dia menunggu Bram menyebutkan nominal untuk imbalan mengeringkan rambutnya.

"Hemmm,,," Bram nampak sedang berfikir.

Dipikiran Delia, Bram sedang menentukan imbalan yang pas untuknya. Namun yang sebenarnya Bram pikirkan adalah bagaimana cara membuat Delia semakin kesal.

"Tiga ratus ribu.!" Tegas Bram.

Mata Delia membulat sempurna. Matanya melirik ke atas, menerawang langit - langit kamar.

'Tiga ratus ribu.? Jika aku melakukannya setiap hari, maka total dalam satu bulan adalah 300.000 x 30 \= 9.000.000. Ya Ampun.!!! Se,,sembilan juta.." Gumam Delia dalam hati.

'Imbalan memasangkan dasi seratus ribu, aku mendapat 2,2 juta sebulan. Maka total keduanya,,,,'

"Wuaaahhhh sebelas jutaaa dua ratus ribu,,," Teriak Delia girang. Bahkan tanpa sadar dia melompat - lompat di depan Bram.

Bram menutup kuping dengan kedua tangannya.

"Delia pelankan suaramu.!" Seru Bram. Delia langsunh terdiam, dia menyenyir kuda.

"Apanya yang sebelas juta dua ratus ribu.?" Tanya Bram dengan menyipitkan matanya.

"Imbalan memasang dasi dan mengeringkan rambut selama satu bulan." Jawab Delia senang. Bram hanya menggeleng pelan, lagi - lagi dia harus menahan tawanya.

"Kalau begitu cepat keringkan rambutku."

Kata Bram. Delia mengangguk patuh.

"Siap Tuan.!!"

Bram menikmati usapan demi usapan lembut di kepalanya. Dia juga melingkarkan tangannya di pinggang Delia. Wajah Bram sejajar dengan gundukan menantang milik Delia. Bram menghirup aroma wangi dari tubuh Delia sambil menikmati pemandangan indah didepan matanya. Berkali - kali Bram harus menelan salivanya.

Sedangkan Delia sangat fokus dengan tugasnya, dia tidak mau melakukan kesalahan karna imbalannya yang besar. Hingga tidak menyadari jika Bram sedang menikmati posisinya dengan senyum penuh kemenangan.

"Selesi.!" Seru Delia.

"Sudah.?" Ujar Bram kecewa. Khayalan indahnya terpaksa harus di akhiri.

Delia mengangguk.

"Jangan lupa imbalannya." Kata Delia, dia tersenyum.

"Tidak ada imbalan kali ini.!" Tegas Bram.

"Kenapa begitu.?!" Protesnya. Delia berkacak pinggang.

"Imbalan kali ini untuk ganti rugi atas kecerobohanmu mengucek kasar kepalaku. Dan itu membuat kepala ku sakit. aku harus membeli obat untuk menghilangkan sakit dikepalaku ini." Jelas Bram.

"Mas Braaaammm...!!!" Teriakan Delian menggema. Dia merasa sudah dibodohi oleh Bram.

Bram terbahak - bahak, dia berlari kecil masuk ke dalam ruang ganti. Meninggalkan Delia yang tersungut - sungut. Dia menyesal sudah mengeringkan rambut Bram dengan lembut, namun tidak mendapat imbalan.

...****"****...

Haii para readers,,,, Makasih sudah mampir untuk membaca novel ini. Makasih juga untuk dukungan dan semangatnya yah.

Jangan lupa selalu tinggalkan Like dan Komennya disetiap bab, agar Author lebih semangat lagi😊

Beri Vote dan Rate jika berkenan😊🙏

Untuk yang mau kasih kritik dan saran boleh banget, selama mengunakan bahasa yang baik dan sopan tidak ada unsur menghina, Author akan terima dengan senang hati😊

Semoga novel ini bisa menghibur kalian semua.😊

1
Jane Hutagalung
kak. typo. bram keketiknya damar. sempat mikir dulu barusan. /Shame/
Jane Hutagalung
ehbuset ibunya ditha.. ikhlas bener anaknya punya madu
Jane Hutagalung
nah yakan.. tetiba aja di bab sebelum bab ini kepikiran gitu. hm, aku udh bisa buka lapak dukun nih kak 🤣🤣🤣
Jane Hutagalung
kok tiba2 kepikiran alea bukan anak bram ya? karena ada potongan tulisan ttg yang nungguin ditha koma bisa diizinin suster untuk wash lap in badan ditha.
aprilian tantu
👍❤❤❤❤❤
Uus Sumartini
pokoknya keren deh novel nya 👍👍👍💪💪💪❤❤❤
Uus Sumartini
cepet balikan dong ma kinan andranya biar Deon bahagia bersama kedua org tuanya thor
Uus Sumartini
😂😂😂 biaya udh buntung jd cemburuan.. tp sy suka Thor jd harmonis ma kinan
Uus Sumartini
saya paling ga suka tentang penghianat an... untuk itu Andra hrs bener 2 insyap ya Thor..
Uus Sumartini
Nah gitu jgn kalah ma uler keket lawan klo ada bibit pelakornya.. 👍💪💪❤😘. lanjutkan seru suka sy Thor
Uus Sumartini
wkwkwkwk suka deh klo udh ada rasa nanti nya ok Thor semangat.. lanjutkan ❤❤❤😘😘😘
Uus Sumartini
udh bagus ko thor sy suka cerita nya.. lanjutkan ❤❤❤😘💪💪💪👍👍👍
Uus Sumartini
klo aku sih setuju bgt kloDhita ma Damar soalnya udh ada anak... sy ga rela klo Bram pisah ma Delia Thor 👍👍👍💪💪💪❤❤❤😘😘😘
Uus Sumartini
seru lanjutkan❤❤❤
Uus Sumartini
hadeuhhh lega dehu dh kelar masalahnya
Uus Sumartini
jangan lma2 Thor aku sedih kasian Delia.. biarkan Delia Bahagia.. dhita kembali ma Damar aja cpt pulih ingatan nya thor
Uus Sumartini
deuh jd kesel deh klo begini kumaha ieu teh jd na atuh aya ayaa wae lah😇😇😇
Sweety_R🌽
damar sm kinan aj kak
Fida
Luar biasa
Mei Prw
luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!