"Kultivasi energiku memang kembali jadi kecoa, tapi dengan fisik dewa ini... jika ada master yang mencoba meninjuku, tangannya sendiri yang akan patah menjadi tebu!"
Seratus tahun disiksa dan dibuang ke kolam darah Gunung Ming akibat konspirasi kejam di masa lalunya, Lin Ling akhirnya berhasil bangkit. Melalui ritual terlarang yang membakar habis basis kultivasi Nascent Soul-nya, ia melebur esensi Ular Purba Mahayana dan Kristal Dao Agung untuk menciptakan sebilah wadah kedewaan baru.
Namun, takdir bercanda dengannya. Tubuh barunya menjelma menjadi monster dengan kekuatan fisik murni ranah Mahayana Lapisan 1, tetapi dantian spiritualnya kosong melompati segala bentuk Qi. Karena bakatnya terkunci di Akar Spiritual Kelas Menengah, Lin Ling terpaksa harus merangkak kembali dari dasar bumi—ranah Body Tempering lapisan pertama.
Trauma masa lalu? Dendam yang meledak-ledak? Tidak ada waktu untuk itu! Lin Ling yang baru telah menjelma menjadi sosok Immortal yang bebas, konyol, super santai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pencari Dao Sejati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nilai Lima Belas Perak
Pagi musim dingin itu masih diselimuti kegelapan yang pekat saat Lin Ling sudah terjaga lebih dulu. Hawa dingin merayap masuk dari sela-sela dinding kayu gubuk, namun bocah delapan tahun itu telah berdiri di halaman tanah yang tertutup lapisan salju tipis.
Di sudut halaman, sepuluh ikat Kayu Batu Gunung tersusun sangat rapi.
Uap putih tebal terus-menerus menguar dari mulut Lin Ling yang membeku, sementara kedua tangan mungilnya yang memerah akibat dingin sibuk menarik dan mengikat tali jerami di sekitar potongan kayu keras tersebut. Gerakannya konstan, efisien, dan tanpa keluhan.
Tak jauh dari sana, Nenek tua berdiri diam di ambang pintu gubuk, memperhatikan punggung kecil Lin Ling.
Tatapan matanya dipenuhi kabut kekhawatiran yang mendalam. Anak seusia Xiao Yu—nama penyamaran Lin Ling—seharusnya masih mendengkur di balik selimut hangat atau bermain batu di halaman saat musim dingin mencekam seperti ini. Namun sekarang, tubuh sekecil itu justru harus bangun sebelum fajar demi memotong kayu sekeras besi dan memikirkan cara mencari uang.
Jari tua Nenek yang keriput perlahan mencengkeram lengan bajunya sendiri yang penuh tambalan. Dadanya terasa sesak oleh rasa bersalah karena tidak mampu memberikan kehidupan yang layak.
Namun di balik rasa khawatir itu, ada juga secercah perasaan bangga yang sulit dijelaskan. Setidaknya, anak ini tidak lagi menatap dunia dengan sepasang mata yang kosong dan hampa seperti saat pertama kali dia temukan di tepi pasar.
"Xiao Yu..." panggil Nenek dengan suara parau yang pelan.
Lin Ling menghentikan gerakan tangannya, lalu mengangkat kepala. Rambut putihnya yang panjang tampak kontras di bawah temaram fajar.
"Kalau terlalu lelah, kita bisa menjual lebih sedikit saja hari ini," ucap Nenek lembut.
Lin Ling menggeleng kecil, wajahnya tetap datar tanpa ekspresi. "Musim dingin baru saja dimulai, Nenek."
Suaranya tenang, namun mengandung kedewasaan yang mengejutkan. Jika mereka hanya mengandalkan sisa uang yang ada sekarang, cepat atau lambat kayu bakar dan persediaan makanan di gubuk mereka tetap akan habis sebelum badai salju terbesar datang.
Melihat jawaban yang begitu tegas dari sang bocah, Nenek tua itu akhirnya hanya bisa menghela napas kecil. Dia berjalan mendekat dengan langkah goyah, lalu dengan tangan rentanya yang sedingin es, dia merapikan syal kain rami yang melilit leher Lin Ling dengan hati-hati.
"Hati-hati di jalan, Nak."
Lin Ling sedikit terdiam. Sentuhan hangat yang tulus itu sempat membuat jantungnya berdesir asing. Beberapa detik kemudian, dia akhirnya mengangguk pelan. "...Mn."
Lin Ling memanggul keranjang bambu besar yang sarat akan beban Kayu Batu Gunung menuju area karavan di jalan utama desa.
Suasana di sana jauh lebih ramai dan riuh dibanding hari-hari biasanya. Suara riuh rendah teriakan para pedagang bersahutan dengan derit roda kereta kuda dan ringkikan yang berseliweran (Didengar). Beberapa pengelana dan pemburu bertubuh kekar tampak berkumpul di dekat beberapa titik api unggun besar untuk menghangatkan tubuh mereka yang membeku.
Lin Ling menarik napas kecil, menyesuaikan posisi berdirinya di tepi jalur karavan sebelum akhirnya membuka mulut.
"Kayu bakar dijual."
Suara kecilnya memang tidak terlalu keras dan hampir tenggelam oleh kebisingan pasar. Namun, fitur wajahnya yang bersih, rambut putihnya yang unik, serta jubah merah tua lusuh yang dikenakannya tetap berhasil menarik perhatian beberapa orang di sekitar.
Tak lama kemudian, seorang pedagang paruh baya dengan mantel bulu tebal berjalan mendekat. Dia membungkuk, mengambil salah satu potongan kayu dari keranjang Lin Ling, lalu menimbangnya dengan dahi berkerut.
"Berapa harganya, Bocah?"
Lin Ling terdiam sesaat. Jujur saja, dia sendiri masih meraba-raba nominal mata uang di wilayah ini. Dua koin perak untuk satu ikat kayu jelas bukan harga yang murah bagi manusia fana biasa. Namun tadi malam, saat menguping percakapan para pedagang di kedai, dia tahu bahwa Kayu Batu Gunung murni sangat dicari dan langka saat musim dingin ekstrem.
Setelah berpikir selama beberapa detik, Lin Ling akhirnya tetap menjawab dengan nada datar, "Dua perak untuk satu ikat."
Pedagang paruh baya itu langsung mengangkat alisnya tinggi-tinggi. "Semahal itu? Kau mencoba merampokku di pagi buta, ya?"
Beberapa pengawal dan pedagang lain di sekitar juga mulai menoleh, memandang Lin Ling dengan tatapan meremehkan. Mengira bocah kecil ini hanya asal sebut harga karena tidak mengerti nilai uang.
Namun, ekspresi Lin Ling tetap setenang air di dalam sumur tua.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk berdebat, dia mengambil satu potong kayu dari keranjangnya, lalu melemparkannya dengan tepat ke dalam kobaran api unggun terdekat.
WUSS!
Begitu kayu itu menyentuh bara, api unggun yang semula bergoyang lemah seketika menyala jauh lebih terang, memancarkan gelombang hawa panas yang sangat stabil dan merata ke sekeliling tanpa mengeluarkan asap hitam yang menyesakkan dada. Keunggulan Kayu Batu Gunung murni langsung terbukti dalam hitungan detik.
Suasana di sekitar area karavan itu langsung berubah senyap sebelum akhirnya pecah oleh seruan kaget.
"Kualitas murni... Kayu Batu Gunung dari pedalaman?!"
"Sulit sekali menemukan serat kayu sepadat ini di musim dingin!"
"Bara dari kayu ini bisa bertahan semalaman penuh tanpa perlu sering diganti!"
Para pedagang yang awalnya memandang sebelah mata kini segera bergerak maju, saling berdesakan mendekati keranjang Lin Ling dengan mata berbinar serakah.
"Aku beli satu ikat! Ini dua koin peraknya!"
"Minggir kau! Berikan dua ikat untukku, aku bayar empat koin perak!"
Keramaian kecil langsung terbentuk, mengepung sosok mungil Lin Ling yang tetap berdiri diam di tengah kepungan orang-orang dewasa yang berebut.
Namun, tepat saat situasi mulai memanas—
KLIP... KLOP... KLIP... KLOP...
Suara derap kaki kuda yang teratur dan tenang terdengar dari arah jalan utama, seketika memotong kegaduhan di pasar. Sebuah kereta kuda kayu berukir mewah dengan kain penutup sutra biru berhenti tidak jauh dari area karavan.
Tirai kereta terbuka perlahan, menampilkan sosok pemuda berpakaian mahal yang melangkah turun. Itu adalah Tuan Muda Kedua dari Klan Huang, Huang Shi.
Tatapannya yang malas awalnya hanya menyapu kerumunan manusia fana dengan pandangan acuh tak acuh. Namun, saat sepasang matanya yang tajam menangkap sosok Lin Ling, langkah kakinya mendadak berhenti.
Gadis kecil—atau setidaknya yang dia kira sebagai gadis kecil—berpakaian merah tua itu berdiri dengan sangat tenang di tengah kerumunan yang kasar dan berisik. Wajah Lin Ling yang pucat, bersih, dan memancarkan aura dingin yang terasing membuat sosoknya tampak luar biasa mencolok.
Huang Shi sedikit mengangkat alisnya, ketertarikan samar melintas di matanya. "Menarik."
Dia melangkah maju, membuat para pedagang fana buru-buru mundur ke samping untuk memberikan jalan sambil menundukkan kepala penuh ketakutan. Huang Shi membungkuk sedikit, mengambil sepotong kayu dari keranjang Lin Ling dengan jarinya yang bersih tanpa noda.
"Kayu Batu Gunung dengan kepadatan tinggi...?" sudut bibir Huang Shi sedikit terangkat, menatap lurus ke sepasang manik mata hitam Lin Ling. "Kau yang memotong dan menjual ini semua sendiri?"
Lin Ling mengangguk kecil, tubuhnya tetap tegap tanpa menunjukkan tanda-tanda ketakutan yang biasa diperlihatkan manusia fana saat berhadapan dengan kultivator.
Huang Shi kembali melirik wajah pucat Lin Ling selama beberapa detik, menikmati ketenangan yang tidak biasa dari bocah di depannya, sebelum akhirnya berkata dengan nada santai namun penuh penekanan yang mutlak.
"Aku ambil seluruh isi keranjangmu."
Kerumunan pedagang di sekitar langsung terdiam seribu bahasa, tidak ada yang berani membantah keinginan sang penguasa wilayah.
"Ini lima belas koin perak untukmu," lanjut Huang Shi, melemparkan sebuah kantong kain kecil yang bergemerincing ke arah Lin Ling.
Beberapa pedagang fana di sekitar langsung membelalakkan mata mereka karena terkejut. Lima belas koin perak! Jumlah itu jauh lebih tinggi dari harga normal yang diminta Lin Ling, dan setara dengan biaya hidup orang desa selama berbulan-bulan.
Namun bagi seorang tuan muda dari klan kultivasi seperti Huang Shi, uang sebanyak itu bahkan tidak layak untuk dipikirkan sekilas pun. Dia hanya tertarik pada keunikan bocah berbaju merah tua ini.
Lin Ling menangkap kantong uang itu dengan tangan kirinya. Berat kantong itu terasa nyata di telapak tangannya. Lima belas perak... jumlah ini jauh melampaui perkiraannya sendiri dan cukup untuk membeli persediaan makanan yang melimpah bagi Nenek.
Lin Ling menundukkan kepalanya sedikit sebagai formalitas, lalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi membelah kerumunan, meninggalkan Huang Shi yang masih berdiri diam menatap punggung kecilnya dengan senyuman misterius.
Saat Lin Ling kembali ke sudut timur desa, langit musim dingin sudah mulai menggelap, berubah menjadi warna ungu keabu-abuan yang pekat.
Salju tipis mulai menempel di bahu dan rambut putihnya, sementara langkah kaki kecilnya meninggalkan jejak-jejak dalam yang memanjang di atas jalanan bersalju yang sepi. Keranjang di punggungnya kini telah kosong melompong, namun kantong uang kecil yang dia sembunyikan di dalam lengan jubah merah tuanya terasa jauh lebih berat dan berharga dibanding tumpukan kayu yang dibawanya tadi pagi.
Angin dingin terus berembus kencang di jalanan desa yang mulai gelap, menusuk kulitnya yang ringkih.
Namun entah mengapa, langkah kaki Lin Ling terasa jauh lebih ringan dari biasanya. Tatapannya tanpa sadar bergerak ke arah ujung jalan, di mana sebuah gubuk kayu kecil berdiri.
Dari sela-sela dinding kayu gubuk yang renggang, seberkas cahaya kuning hangat dari tungku api tampak menyemburat samar di tengah kegelapan sore musim dingin yang membeku.
Melihat kilatan cahaya hangat itu, dada Lin Ling yang selama ini dingin dan mati tiba-tiba terasa sedikit hangat. Sebuah perasaan asing yang bahkan sulit dia definisikan sendiri menggunakan logika taktisnya.
Sejak hari di mana dia dikhianati dan dibuang dari Istana Giok Emas Klan Lin... ini adalah pertama kalinya bagi Lin Ling memiliki sebuah tempat yang terasa seperti tujuan nyata untuk kembali.
Begitu dia mendorong pintu kayu dan melangkah masuk, gelombang hawa hangat dari tungku tanah liat langsung menyelimuti tubuhnya yang kaku akibat udara luar.
Nenek tua yang sedang berlutut menambahkan sisa serpihan kayu ke dalam api segera menoleh. "Xiao Yu, kau sudah pul—"
Suara Nenek mendadak terhenti di tenggorokan.
Sepasang matanya yang keruh membelalak sempurna saat melihat Lin Ling melangkah mendekat dan meletakkan sebuah kantong kain tebal di atas meja kayu berkaki tiga. KLING... Suara benturan koin perak yang padat terdengar sangat jelas dari dalam ruangan yang sunyi itu.
Nenek tua itu bangkit dengan tubuh gemetar, menatap kantong uang itu lalu beralih menatap Lin Ling dengan ekspresi ketakutan dan tidak percaya yang bercampur aduk.
" Xiao Yu... dari... dari mana kau mendapatkan uang sebanyak ini?!" suaranya bergetar hebat.
Lin Ling melepaskan syal kain rami dari lehernya dengan gerakan tenang sebelum menjawab, "Aku menjual seluruh Kayu Batu Gunung di area karavan tadi."
Namun, ekspresi wajah Nenek justru semakin berubah menjadi tegang. Jari-jari rentanya tanpa sadar mencengkeram ujung pakaian raminya sendiri dengan sangat erat, menatap Lin Ling dengan pandangan yang dipenuhi kecemasan yang mendalam.
"Xiao Yu..." suaranya mengecil, tercekat oleh rasa takut. "Kau... kau tidak melakukan sesuatu yang berbahaya atau melanggar hukum di luar sana, kan? Katakan pada Nenek!"
Bagi orang biasa yang hidup di garis kemiskinan desa seperti dirinya, lima belas koin perak adalah jumlah yang terlalu fantastis dan bisa memicu petaka jika didapatkan secara tidak wajar.
Melihat reaksi panik yang begitu tulus dari wanita tua di depannya, Lin Ling sedikit terdiam. Kebenciannya pada manusia sempat membuatnya lupa bahwa orang fana di tingkat bawah selalu hidup dalam ketakutan terhadap hukum klan besar.
Dia menggelengkan kepalanya kecil untuk menenangkan Nenek. "Tidak, Nenek. Itu murni hasil penjualan kayu. Kayu yang kupotong memiliki kualitas murni, dan kebetulan seorang tuan muda dari klan besar membeli seluruh isinya tanpa menawar."
Baru setelah mendengar penjelasan lengkap dan melihat tatapan mata Lin Ling yang jernih, napas Nenek tua itu akhirnya berembus lega. Dia perlahan duduk kembali di dekat tungku, namun ekspresi wajahnya justru berubah menjadi sangat rumit.
Tatapannya bergerak lesu ke arah kantong uang di atas meja. "Kayu dengan kualitas terlalu bagus... uang yang terlalu banyak..." gumamnya pelan, suaranya terdengar layu.
Alis Lin Ling sedikit bergerak, menangkap ada nada yang tidak beres. "Nenek?"
Nenek tua itu menghela napas panjang, menatap Lin Ling dengan pandangan mata yang melembut namun terasa sangat serius. "Xiao Yu, di dunia ini... terkadang menjadi terlalu menonjol atau memiliki sesuatu yang terlalu berharga bukanlah sebuah keberuntungan bagi orang seperti kita."
Dia menjeda kalimatnya, menatap bayangan api yang menari di dinding gubuk. "Orang-orang di sekitar kita akan merasa iri. Dan kita..." suaranya melemah hingga hampir menyerupai bisikan, "kita tidak memiliki kekuatan atau latar belakang apa pun untuk melindungi semua itu jika seseorang berniat merebutnya."
Ruangan kecil itu tiba-tiba jatuh ke dalam kesunyian yang mencekam.
Api di tungku terus menyala, memancarkan cahaya kemerahan yang bergerak samar di atas dinding kayu tua yang lapuk. Lin Ling menatar nyala api itu dalam diam, meresapi setiap perkataan Nenek.
Beberapa saat kemudian, dia akhirnya membuka mulut pelan. "...Aku mengerti, Nenek."
Namun, jauh di dalam lubuk hatinya yang paling gelap, Lin Ling justru memetik kesimpulan dan pemahaman yang jauh lebih radikal dari nasihat Nenek: Di dunia yang kejam ini, tanpa adanya kekuatan mutlak, bahkan keinginan untuk menjalani kehidupan yang damai dan sederhana seperti sekarang pun bisa direbut dan dihancurkan oleh orang lain kapan saja. Hasratnya untuk memulihkan meridian dan mencari jalan kultivasi justru semakin membara akibat peringatan tersebut.
Tak lama kemudian, setelah menenangkan Nenek, Lin Ling mengambil beberapa koin perak dari kantong dan melangkah keluar menuju pasar malam desa untuk membeli persediaan makanan yang sesungguhnya.
Malam telah sepenuhnya turun menyelimuti bumi, sementara salju tipis masih turun dengan ritme perlahan di sepanjang jalan utama pasar. Meskipun dingin, suasana pasar malam tetap terasa ramai karena banyak karavan dagang luar yang memilih untuk beristirahat di desa sebelum melanjutkan perjalanan panjang mereka menembus pegunungan besok pagi.
Aroma kuah sup hangat yang gurih, wangi daging panggang yang berlemak, dan bau menyengat dari arak gandum yang murah bercampur menjadi satu di udara malam, menciptakan atmosfer yang pekat.
Lin Ling menghentikan langkah kecilnya di depan sebuah kios daging, menyerahkan dua koin perak kepada sang pedagang. "Tolong berikan potongan daging segar, setengah bagian saja."
Pedagang bertubuh gempal itu tersenyum sangat ramah melihat koin perak yang berkilau, dengan cekatan mulai memotong bagian daging terbaik menggunakan pisau besarnya.
Namun, tepat saat transaksi sedang berlangsung—
"Benar! Aku berani bersumpah demi nyawaku! Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri!"
Sebuah suara teriakan gaduh dan kasar tiba-tiba meledak dari arah kedai arak terbuka yang terletak tidak jauh dari kios daging.
Seorang pemburu gunung bertubuh besar sedang berbicara dengan nada tinggi sambil menghentakkan mangkuk arak kayunya ke atas meja hingga isinya terciprat. Wajah pria itu memerah padam, entah akibat pengaruh arak atau karena ketakutan yang teramat sangat yang belum hilang dari wajahnya.
"Sesosok ular hijau raksasa... tubuhnya sebesar rumah bangunan klan, muncul di area gunung utara!" pria itu berteriak dengan mata membelalak lebar.
"Katanya beberapa pemburu dari kelompok lain bahkan tidak sempat melarikan diri atau berteriak sebelum ditelan bulat-bulat!"
"Sisiknya sangat besar dan keras! Pohon-pohon kuno langsung roboh dan tanah terbelah menjadi parit saat monster itu melintas!"
Suasana di sekitar kedai dan kios pasar malam langsung berubah menjadi riuh dan dipenuhi bisikan panik. Beberapa pedagang luar tampak terkejut, sementara para penduduk lokal mulai berbicara dengan suara bergetar penuh ketakutan. Keberadaan Binatang Iblis (Monster Beast) tingkat tinggi di dekat pemukiman adalah bencana besar bagi manusia fana.
Lin Ling yang sedang berdiri di dekat kios daging langsung sedikit menyipitkan sepasang manik mata hitamnya.
Gunung utara... area perbukitan batu terisolasi... Bukankah itu adalah wilayah yang sama tempat dirinya mencari dan memotong Kayu Batu Gunung tadi pagi?
Angin musim dingin kembali berembus kencang melewati pasar yang ramai, menerbangkan butiran salju tipis dan membuyarkan uap hangat dari kedai-kedai. Tatapan mata Lin Ling perlahan berubah menjadi sangat dalam dan dingin, menatap ke arah kegelapan gunung utara yang menjulang sunyi di balik batas desa. Sebuah bahaya besar tampaknya sedang merayap mendekat.