NovelToon NovelToon
Wasiat Terakhir Ibu

Wasiat Terakhir Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dokter / Romansa
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yehppee

🍀AYO, MAMPIR 🍀
Galang Langit jatmika sama sekali tidak mengenal sosok Hanum Sekar Salsabila.

Tapi di ranjang kematian ibunya, ia di paksa mengucap ijab Kabul untuk menikahi gadis itu.

"Nikahi Sekar, jaga gadis itu untuk ibu."

Pernikahan tanpa cinta, masa lalu yang datang, dan rumah tangga yang semakin terasa hambar.

Tapi bagaimana kalau wasiat itu justru jadi jalan satu-satunya untuk menyembuhkan hati mereka berdua yang penuh luka?


Yuk, cari jawabannya di sini 🍀

°°°°°°°°

Jangan lupa subscribe, like, vote, dan komen🫶

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25. Titipan Untuk Dokter Galang (2)

Lampu ruang operasi akhirnya padam hampir mendekati pukul sebelas siang.

Galang keluar dari ruang operasi dengan langkah lelah namun tetap tegap. Masker hijau yang sejak tadi menutupi wajahnya di tarik turun ke dagu, memperlihatkan garis rahang tegas yang mulai menegang karena kurang tidur.

Operasi berlangsung lebih lama dari perkiraan.

Pasien pendarahan otak tadi sempat mengalami penurunan tekanan darah drastis di tengah tindakan. Situasinya cukup menegangkan bahkan dokter yang sudah bertahun-tahun seperti Galang.

Begitu keluar, seorang perawat langsung menyerahkan laporan lanjutan.

"Pasien sudah dipindahkan ke ICU, Dok."

Galang mengangguk pendek.

"Observasi ketat dalam dua jam."

"Baik, Dok."

Tak jauh dari nurse station, dokter Arif sedang berdiri sambil membuka hasil CT scan terbaru di tablet. Jas putihnya sedikit kusut, tanda ia pun belum berhenti bekerja sejak pagi.

Melihat Galang mendekat, Arif langsung bicara.

"Pendarahannya lebih luas dari dugaan awal."

"Hm."

"Tapi respon pupilnya mulai membaik."

Galang mengambil tablet itu sekilas lalu mengembalikannya lagi.

"Kalau dua belas jam pertama lewat, peluangnya naik."

Arif mengangguk setuju.

Mereka berdua kemudian berdiri di nurse station sambil membahas kondisi pasien lain. Dua dokter itu akhir-akhir ini memang cukup sering bekerja bersama di kasus bedah saraf besar.

Namun lucunya...

Tak satupun dari mereka sadar kalau ada satu perempuan yang diam-diam menghubungkan hidup keduanya.

Saat pembicaraan masih berlangsung, tiba-tiba terdengar suara langkah cepat mendekat.

"Wih, akhirnya keluar juga Lang!"

Dokter Ardi datang sambil membawa tote bag kain besar ditangannya. Wajahnya penuh senyum jahil seperti biasa.

Melisa yang berjalan dibelakangnya langsung mengernyit curiga.

"Tuh kan bener, dari tadi senyum-senyum sendiri." Ucap Melisa seraya menatap wajah Ardi.

Dan Ardi malam tersenyum makin lebar.

"Ini ada titipan buat dokter Galang."

Galang menoleh.

Begitu melihat tote bag itu, alisnya sedikit bergerak.

Ia mengenali tas tersebut....

"Itu..."

Ardi menyerahkannya sambil masih senyum-senyum penuh arti.

"Nih."

Galang menerima tote bag itu perlahan. Saat membukanya, isi di dalam langsung membuatnya terdiam sesaat.

Beberapa wadah tersusun rapi.

Satu botol air mineral.

Dompet hitam miliknya dan sarung abu tua yang tertinggal di rumah. Tatapan Galang langsung berubah sedikit.

"Yang nganterin ini mana?"

Ardi bersandar santai di nurse station.

"Gak tahu, kayanya udah pulang."

"Kapan datangnya?"

"Tadi pagi, pas aku visit."

Galang mengangguk kecil sambil masih melihat isi tas. Entah kenapa dadanya terasa aneh.

Sakar sampai datang ke rumah sakit hanya untuk mengantarkan semua ini?

Ardi lalu melanjutkan dengan nada sengaja dibuat santai.

"Tapi yang nganter cantik sih."

Galang berhenti membuka wadah makan.

Ardi belum selesai.

"Soft spoken banget. Kaya bidadari."

Melisa langsung memutar bola mata. "Lebay."

"Serius," Ardi malah semakin semangat. "Senyumnya manis banget lagi."

Kalimat itu sukses membuat rahang Galang mengeras tipis. Tatapannya perlahan naik ke arah Ardi.

Senyumannya manis?

Entah kenapa otaknya langsung memvisualisasikan Sekar tersenyum sopan pada Ardi tadi pagi.

Pada pria lain.

Padahal biasanya gadis itu pemalu sekali. Galang mendadak tidak suka membayangkannya.

Sementara Ardi belum sadar kalau temannya mulai kesal sendiri.

"Itu sepupu kamu, ya?" tanyanya santai. "Mirip dikit sama kamu."

Galang diam beberapa detik.

Belum sempat menjawab, Ardi tiba-tiba nyeletuk lagi.

"Kenalin dong."

Melisa yang sejak tadi memperhatikan langsung mendekat cepat.

"Apaan kenalin?"

Ardi refleks salah tingkah.

"Ya gak papa kali. Iya kan, Lang? Dia jomblo gak?"

"Heh dokter Ardi," Melisa menyipit curiga. "Pantesan tadi senyum-senyum sendiri di lobby ternyata ketemu cewek cantik."

"Bukan gitu."

"Oh jadi emang cantik?"

Ardi malah tertawa kecil.

"Sumpah cantik."

Arif yang sedari tadi hanya memperhatikan akhirnya ikut tersenyum samar melihat keributan itu.

"Jarang-jarang Ardi tertarik sama orang secepat ini." Seru Melisa.

"Ya gimana..." Ardi mengangkat bahu. "Auranya tuh kalem banget, nih dok Arif! Pasti kalau ketemu sepupunya Galang barusan juga dokter bakalan tertarik."

Galang langsung menutup tote bag sedikit lebih keras dari seharusnya.

"Auranya?" tanya Galang seraya tersenyum semirik.

Ardi akhirnya sadar Galang bicara dengan nada datar khasnya. Namun entah kenapa terasa dingin.

"Ya...biasa aja sih."

Melisa makin heboh.

"Eh jangan-jangan dokter Ardi jatuh cinta pada pandangan pertama."

"Apaan sih," ucapnya seraya melirik Galang yang terlihat tidak suka.

Beberapa perawat yang berada di nurse station mulai ikut tertawa kecil mendengar mereka.

Di tengah keributan itu, salah satu suster senior tiba-tiba melihat wadah makanan dalam tote bag.

"Oh, makanan datang?"

Tanpa jawaban, ia langsung membuka salah satu wadah.

"Astaga..."

Semua orang langsung menoleh. Di dalamnya ada sandwich yang di potong rapi. Wadah lain berisi nasi hangat, sayur sop ayam dengan aroma sedap langsung menyebar.

Ada juga potong buah mangga, kiwi, buah naga, dan yogurt rasa blueberry yang tersusun cantik.

Lalu suster itu membuka bagian lain dan menemukan sarung serta dompet.

"Loh?"

Melisa langsung menunjuk Ardi.

"Itu punya dokter Ardi ya?"

"Lah bukan!"

Ardi cepat-cepat meluruskan.

"Itu punya dokter Galang. Barusan sepupunya datang nganterin."

"Sepupu?" salah satu perawat mengulang sambil melirik Galang dan Ardi bergantian.

Galang mulai merasa kepalanya pening sendiri, ia paling tidak suka kehidupan pribadinya jadi bahan obrolan.

Akhirnya tanpa banyak bicara, ia mengambil beberapa wadah makan.

Ia memilih wadah berisi nasi, lalu sop ayam dalam stainless, wadah potong buah mangga, Yogurt blueberry, dan botol air mineral. Sisanya tetap ia tinggalkan di atas meja.

"Ya itu, makan aja bareng-bareng." Ucap Galang santai.

Semua langsung bersorak kecil.

"Seriusan Dok?"

"Hm."

Galang memasukkan kembali wadah pilihannya ke tote bag.

"Kalau udah habis, tempat makannya di simpan. Nanti saya ambil lagi."

"Siap dokter!"

Perawat-perawat langsung antusias membuka makanan yang di tinggalkan oleh Galang.

"Sandwichnya enak banget kelihatannya."

"Buahnya di potong lucu ih."

"Ini yang bikin ini pasti orangnya telaten banget."

Galang memilih pergi sebelum obrolan makin jauh. Namun beberapa langkah,

"Eh tapi..."

Salah satu suster muda tiba-tiba nyeletuk sambil melirik punggung Galang.

"Jangan-jangan itu bukan sekadar sepupu."

Ardi spontan tertawa.

"Mana mungkin."

"Kenapa emang dok?"

Ardi menggeleng santai.

"Galang itu susah banget deket sama perempuan."

Arif diam mendengarkan.

"Dia bukan tipe yang buka hati sembarang," lanjut Ardi, "apalagi setelah kejadian dulu."

Suasana sempat hening sebentar.

Beberapa orang disana memang tahu sedikit tentang masa lalu Galang yang membuatnya menutup diri terlalu lama.

Karena itu bagi Ardi...

Kemungkinan perempuan tadi adalah seseorang yang spesial bagi Galang terasa hampir mustahil.

Sementara di sisi lain koridor, Galang menuju ruangannya sambil membawa tote bag erat. Tatapannya jatuh pada wadah sop ayam hangat di tangannya.

Ponsel di dalam saku baju scrubnya bergetar, Galang merogoh ponsel tersebut dan menatap layarnya.

Pesan baru belum ia baca, dari Hanum Sekar Salsabila.

[ Kalau operasi sudah selesai, usahakan perut A Galang di isi dulu ]

Galang menelan ludahnya, ada rasa hangat yang menjalar pada dadanya. Namun tembok tinggi yang ia buat sendiri membuat ia kembali menyimpan ponsel ke dalam sakunya kembali tanpa membalas pesan dari perempuan yang saat ini sudah bergelar istri untuknya.

🍁🍁🍁🍁

Halo👋

Apa kabar???

Jangan pelit-pelit like dong, gratis kok🥹

Bersambung...

1
Gemuruh riuh
kiw, mulai ada rasa nih
Gemuruh riuh
awas aja kalo tiba-tiba jadi asing
Gemuruh riuh
cie cie 🤭
Gemuruh riuh
yu Galang Pepet terus istrimu! jangan sampe di ambil mantan nya😭
Gemuruh riuh
cie cie mulai gombal, pasti di ajarin Ardi nih🤣🤭
Gemuruh riuh
ah baru aja mau gosip🤣
Gemuruh riuh
Ardi ini tipe rusuh banget 🤭
Gemuruh riuh
iya sih rata-rata kenapa ya suka padanya kapan hamil, seolah pertanyaan itu tuh udah biasa
Gemuruh riuh
waduh 😲
Gemuruh riuh
Galang berantem yuk🫵
Gemuruh riuh
Bu Dian ini tipe tetangga kalau nurunin kulkas langsung kepanasan
Gemuruh riuh
nih orang blak-blakan banget 😭🤣
Alia Chans
Jleb😯😯
falea sezi
lanjut bkin cerai aja dah laki. bloon bgt dikira istrimu g ada yg suka apa
falea sezi
istrimu di gondol pebinor kapok lu lang😒 jd suami cuek bgt🤣 arif uda siap tuh nrima janda mu🤣
falea sezi
🤣kampret di prank
falea sezi
😍 ganteng amat dokternya aduhh
🍀 YEHPPEE 🍀: silahkan di pilih kak😁
total 1 replies
Gemuruh riuh
ih Galang jahat banget mulutmu! awas aja nanti-nanti nelen ludah sendiri
Gemuruh riuh
wkwkwkw teh Emi lucu nih, jangan sampe Sekar satu circle sama teh emi🤣
Gemuruh riuh
Jangan-jangan Sekar putus sama dokter Arif gara-gara milih nikah sama Galang ya???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!